"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.31 -Pertunangan
Tak terasa hari pertunangan Arden dan Nabella akhirnya tiba. Acara tersebut diadakan di kediaman Raharja secara meriah dengan mengusung konsep outdoor yang mewah.
Seluruh keluarga besar Narendra yang tadinya berdomisili di Jogja kini sudah berkumpul di Jakarta, termasuk Indah. Wanita itu sudah tidak sabar untuk bertemu Hanum demi menjelek-jelekkan Alyssa. Indah datang memboyong Anton dan anak bungsu mereka. Sementara anak pertamanya enggan ikut karena ada kegiatan kemah di sekolah.
Di antara semua anggota keluarga, hanya Alyssa yang sengaja tidak diberi tahu soal rencana pertunangan kilat ini. Maya mewanti-wanti Adrian agar membawa Alyssa datang tepat saat acara akan dimulai, tanpa membocorkan alasan pastinya.
Adrian yang bingung memilih menurut saja pada perintah sang ibu. Selama dua hari belakangan, Alyssa dan Adrian memang sama sekali tidak saling menegur sapa selama menumpang di rumah Tania.
Walau begitu, di depan Tania mereka berusaha keras berpura-pura baik-baik saja demi menjaga perasaan sang ibu. Bahkan, Adrian sama sekali tidak membalas satu pun pesan dari Hanum, meskipun istri keduanya itu terus menerornya dengan puluhan pesan teks dan pesan suara.
"Kita mau ke mana sebenarnya, Mas?" tanya Alyssa heran saat Adrian menyerahkan sebuah kotak besar berisi gaun mewah berwarna light periwinkle blue dan memintanya bersiap-siap.
"Ikut saja, ada acara keluarga yang harus kita hadiri," jawab Adrian singkat tanpa berani menatap mata istrinya lama-lama.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah siap dan melangkah turun dari mobil. Di antara deretan tamu yang nantinya hadir, penampilan Adrian dan Alyssa mendadak menyita perhatian siapa pun yang melihat. Pasangan suami-istri yang sebenarnya tengah dilanda jarak itu tampak begitu serasi secara visual, terbalut busana sarimbit elegan.
Alyssa terlihat begitu anggun memesona dalam balutan gaun panjang modern berbahan satin halus yang jatuh menyapu lantai. Potongan leher tipe square neck mengekspos garis leher dan tulang selangkanya secara pas, dibingkai lengan panjang dari bahan tile balon transparan yang memberi kesan manis dan mewah. Di bagian dada hingga pinggang, gaun itu dihiasi detail bordir bunga 3D serta payet mutiara yang berkilauan.
Aksen kerutan drape di bagian pinggang yang disatukan oleh brooch kristal semakin mempertegas bentuk tubuhnya yang jenjang, disempurnakan dengan rambut yang disanggul modern secara rapi.
Di sampingnya, Adrian tampil gagah dan karismatik memakai kemeja koko modern berlengan panjang dengan warna senada. Bagian dada kemejanya dihiasi bordir bermotif floral perak yang terkesan eksklusif, dipadukan dengan celana bahan berwarna putih gading off-white serta sepatu pantofel kulit berwarna cokelat gelap.
Siapa pun yang melihat mereka pasti akan mengira mereka adalah pasangan ideal yang sempurna dan penuh cinta. Namun di balik keserasian busana yang mereka kenakan, ada dingin yang teramat membeku di antara tautan jemari mereka yang enggan saling menggenggam.
Alyssa tidak melihat nama orang yang akan bertunangan malam ini. Namun, jauh di dalam hatinya ia bertanya-tanya, tumben sekali Adrian mengajaknya ke acara seperti ini? Biasanya, suaminya itu tak pernah mau membawanya ke forum publik. Meski diliputi tanda tanya, Alyssa memilih untuk tidak terlalu ambil pusing. Ia melangkah tenang dan melabuhkan tubuhnya di salah satu kursi pojok, menarik diri dari keramaian.
Sementara itu, di kamar utama, Nabella tengah dipoles oleh sahabatnya yang merupakan seorang makeup artist profesional. Saat sang ayah memberitahunya bahwa Arden datang untuk melamar, tanpa ragu sedikit pun ia langsung mengangguk setuju.
"Nah, sudah selesai! Kamu cantik sekali, Bel," puji sang sahabat penuh takjub.
"Iya dong, Nabella gitu!" kekehnya manja. Ia lantas berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang begitu memukau.
Nabella tampil begitu memesona dan glamor dalam balutan evening gown bernuansa deep purple. Gaun itu dipercantik ukiran payet serta bordiran emas di sekujur kainnya. Potongan off-shoulder-nya mengekspos bahu mulusnya dengan begitu elegan, dipadukan aksen high slit di bagian paha yang memberi kesan anggun sekaligus berani. Ekor gaun yang menjuntai indah di lantai semakin mempertegas statusnya sebagai calon pengantin dari keluarga terpandang.
Ini adalah gaun yang secara khusus buatan tangannya sendiri dalam waktu singkat, dan Nabella sangat bangga akan hal itu. Apalagi kemeja yang dikenakan Arden malam ini pun merupakan hasil rancangannya bersama tim.
Di sisi lain, Arden mendadak menjadi sosok yang patuh pada Maya. Entah bisikan atau ancaman apa yang dilemparkan Maya padanya tadi. Kini, lelaki itu menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin. Tak ada sedikit pun pendar kebahagiaan di sana untuk sebuah hari yang seharusnya sakral. Matanya redup dan hampa.
"Ayo, Arden. Semua orang sudah menunggu di luar," ajak Maya, diikuti Indah dan adik-adik Bagas lainnya.
Mereka melangkah keluar dari kamar tamu kediaman Raharja—kamar yang sengaja dipisah dari area utama Nabella.
Di sudut ruangan lain, saat acara akan dimulai, Alyssa hanya menyesap minumannya sedikit dan nyaris tak menyentuh makanan di piringnya. Hatinya mendadak gelisah tanpa alasan.
Begitu pembawa acara menyebutkan nama pasangan yang akan bertunangan, refleks Alyssa mengangkat kepala dan berdiri seketika. Muka bumi seolah runtuh di bawah pijakannya. Di atas panggung sana, terlihat Arden tengah melingkarkan cincin di jemari Nabella.
Dada Alyssa bergemuruh hebat, matanya seketika berkaca-kaca. Memori beberapa minggu lalu berputar begitu kejam—ia masih ingat betul bagaimana lelaki di depan sana pernah berjanji tak akan pernah menyakitinya.
"Kalian... sama saja," gumam Alyssa lirih, dengan cengkeraman tangan yang menguat pada gaunnya.
Pada detik itu juga, tatapan Alyssa beradu tepat dengan mata Arden. Lelaki itu tersentak, lalu dengan cepat memalingkan muka—tak sanggup menatap kehancuran di mata wanita yang pernah ia janjikan kebahagiaan.
Bersambung ...
mana sih Suami'y.,
wwooii Suami Indah yang gak Indah.,
bawa pulang noh istri durjana'mu itu
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : kali ini klo Kamu bikin ulah., mengganggu siapapun termasuk Alis., Aku akan mengembalikan Kamu sm Kakak'mu
KAMU BOLEH BALIK KE SINI KLO SUDAH BAWA SURAT CERAI
s' Han ini bebener ya...
astagaaaaaaaa...
Han : ko' nyalahin Aku Jum., ini semua gegara Otor lo., bukan Aku
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣