NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Arga tidak langsung memberikan jawaban. Pedang Penjaga Langit masih tergenggam erat di tangannya, dengan ujung bilah yang sengaja diturunkan menghadap ke tanah, siap mengantisipasi gerakan apa pun.

Pria bernama Ren itu tetap berdiri dengan gestur yang sangat tenang, tanpa sedikit pun riak Qi yang mengancam. "Aku sudah mengatakannya, Anak Muda. Aku datang ke sini bukan untuk bertarung."

"Lalu, bagaimana bisa aku mempercayai ucapanmu begitu saja?" tanya Arga, matanya menyipit penuh selidik.

Ren tersenyum tipis, memaklumi kewaspadaan tersebut. "Jika niatku adalah merebut pedang legendaris di tanganmu itu, aku tidak akan sebodoh ini dengan menampakkan diri sendirian di hadapanmu."

Kalimat itu terdengar sangat masuk akal bagi Arga. Meski demikian, ia tetap tidak menurunkan kewaspadaannya barang sedikit pun.

Tiba-tiba, suara Guru Tian terdengar mengalun pelan di benaknya. "Dengarkan saja dulu apa yang ingin dia katakan, Arga."

Arga mengangguk samar di dalam hati. Ia lalu menatap Ren kembali. "Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Ujian Tujuh Sekte itu?"

Ren merogoh balik jubah abu-abunya dan mengeluarkan sebuah lencana giok indah berbentuk bintang berujung tujuh. "Setiap lima tahun sekali, tujuh sekte terbesar yang menguasai Benua Timur akan membuka sebuah ujian akbar secara bersamaan untuk menyaring murid-murid baru bertalenta. Dalam ujian ini, bukan hanya bakat kultivasi saja yang dinilai, melainkan juga keteguhan hati, kecerdasan strategi, dan besarnya kemauan."

Arga mengernyitkan dahi, merasa ada yang janggal. "Tapi, aku bukan berasal dari klan besar ataupun murid dari sekte naungan mana pun."

"Justru karena statusmu yang bebas itulah, kau memenuhi syarat mutlaknya," jawab Ren sembari menyimpan kembali lencana gioknya. "Siapa pun boleh mendaftarkan diri, asalkan usia mereka belum menginjak dua puluh lima tahun."

Di dalam liontin, Guru Tian tampak mengangguk-angguk pelan. "Pria itu benar. Di zamanku dulu, ujian aliansi tersebut memang sangat terkenal untuk menjaring jenius-jenius tersembunyi."

Ren melanjutkan penjelasannya dengan nada yang sedikit bersemangat. "Hadiah bagi peserta yang berhasil menduduki peringkat pertama bukan sekadar hak bebas untuk memilih sekte mana pun yang ia inginkan. Lebih dari itu, sang juara akan diberikan izin istimewa untuk memasuki Lembah Kitab Kuno selama tiga hari penuh."

Mendengar nama tempat itu, mata Guru Tian langsung berbinar cerah di alam kesadaran. "Arga! Kau harus ikut ujian ini! Kau wajib mengambil kesempatan ini!"

Arga sedikit terkejut dengan reaksi gurunya yang tidak biasa. "Senior begitu tertarik? Memangnya ada apa di sana?"

"Lembah Kitab Kuno adalah tempat penyimpanan arsip sejarah terbesar di benua ini. Di sana, kemungkinan besar masih tersimpan catatan kuno mengenai asal-usul Pedang Penjaga Langit... atau bahkan petunjuk tentang silsilah keluargamu!" seru Guru Tian penuh harap.

Arga mulai menimbang-nimbang keputusan tersebut di dalam benaknya. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal hatinya. "Dari sekian banyak orang, kenapa kau repot-repot memilih dan mengundangku secara langsung?"

Ren tersenyum penuh arti. "Semalam, aku menyaksikan sendiri seluruh pertarunganmu melawan para Penatua Sekte Bayangan Darah. Di saat kebanyakan orang di dunia ini hanya akan terfokus pada keagungan pedangmu, aku justru melihat sesuatu yang lain di dalam dirimu."

"Apa maksudmu?"

"Di tengah situasi hidup dan mati, kau berkali-kali memilih untuk pasang badan demi melindungi orang lain di sekitarmu," ujar Ren lembut. "Di dunia kultivasi yang egois ini, mempertahankan prinsip seperti itu jauh lebih sulit daripada sekadar memenangkan sebuah pertempuran."

Arga terdiam seketika, terenyak oleh perkataan pria itu. Di dalam liontin, Guru Tian pun tidak membantah. Sifat tulus dan protektif itulah yang sejak awal membuat sang guru sudi menerima Arga sebagai murid tunggalnya.

Ren kemudian mengeluarkan sebuah gulungan peta usang dan menyodorkannya ke arah Arga. "Tempat pelaksanaan ujian berada di Kota Bintang. Perjalanan dari hutan ini akan memakan waktu sekitar dua bulan."

"Dua bulan?" Arga terbelalak.

"Itu jika kau berjalan dengan santai," Ren tersenyum kecil. "Jadi, jika kau ingin tiba tepat waktu sebelum gerbang ujian ditutup... kau harus mulai berangkat hari ini."

Setelah menyerahkan peta tersebut ke tangan Arga, Ren menjauh beberapa langkah. "Aku tidak akan memaksamu. Datang atau tidak, semuanya mutlak berada di tanganmu sendiri."

Pria berjubah abu-abu itu kemudian berbalik. Dalam beberapa kedipan mata, sosoknya perlahan mengabur dan menghilang begitu saja di balik kabut tebal hutan, menyisakan kesunyian yang kembali menyelimuti lembah.

Arga perlahan membuka gulungan peta di tangannya. Matanya menyusuri setiap garis jalur perjalanan yang tertera di sana, hingga tiba-tiba, sebuah nama di sudut kanan bawah menarik seluruh perhatiannya.

Pegunungan Naga Hitam.

Jantung Arga berdegup kencang, matanya membelalak tidak percaya. Pegunungan mistis yang dicari-carinya itu ternyata berada di jalur yang sama persis menuju Kota Bintang!

Guru Tian tersenyum puas menyaksikan hal tersebut. "Lihat? Roda takdirmu sudah mulai bergerak, Arga. Kau bisa mengikuti Ujian Tujuh Sekte sekaligus menyelidiki jejak masa lalu ayahmu dalam satu perjalanan."

Arga menggulung kembali peta itu dengan erat, kilatan tekad yang membara kini terpancar jelas dari sepasang matanya. Ia mendongak, menatap lurus ke arah timur tempat matahari pagi mulai beranjak naik membelah ufuk.

Di sanalah Kota Bintang berada. Dan di sanalah, tirai dunia kultivasi yang sesungguhnya telah menanti untuk ia singkap.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!