BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Semua kebohongan yang dilakukan Aditya, kini tersusun rapi di kepalanya. Semua masuk akal. Justru itulah yang membuat Kemuning semakin sakit hati.
Kemuning menutup matanya kuat-kuat. Air matanya jatuh semakin deras. Namun perlahan, tangis itu berubah. Bukan lagi tangis perempuan yang lemah, tetapi tangis yang penuh luka, yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia membuka matanya kembali. Tatapannya tidak lagi sama. Tidak lagi rapuh atau kosong. Di sana ada kemarahan dan kebencian. Ada luka yang terlalu dalam untuk dimaafkan.
“Aku sebodoh itu, ya,” ucap Kemuning dengan suaranya lirih, bergetar.
Selama ini Kemuning percaya. Dia bisa bertahan apapun yang terjadi.
Rupanya ia mencintai orang yang ternyata menghancurkannya dari dalam. Tangannya mengepal kuat. Foto di genggamannya terlipat tanpa ia sadari.
“Empat tahun …!” ulang wanita pelan.
Setiap detik terasa seperti penghinaan yang terus menamparnya. Dii detik itu juga, sesuatu dalam dirinya benar-benar berubah. Bukan lagi sekadar kecurigaan atau sekadar sakit hati, tetapi sebuah keputusan.
Perlahan Kemuning menghapus air matanya dengan kasar, seolah tidak ingin menyisakan kelemahan sedikit pun. “Aku tidak akan diam lagi,” bisiknya pelan. Suaranya rendah, namun dingin, sangat dingin.
Kemuning menatap foto itu sekali lagi. Lalu, tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Kalau kalian bisa menghancurkan hidupku pelan-pelan,” lanjutnya lirih.
Tangan Kemuning mencengkeram semua bukti itu erat-erat. Napasnya mulai teratur. Tatapannya tajam. “Maka sekarang giliran aku menghancurkan kalian.”
Di tempat lain, suasana yang sangat berbeda justru terasa hangat. Pemandangan yang bisa menusuk jika Kemuning melihatnya.
Di dalam sebuah mobil yang terparkir di pinggir hutan, Lavanya tertawa kecil dengan suara manja, tubuhnya menempel tanpa jarak di samping Aditya. Tangannya dengan percaya diri melingkar di lengan pria itu, seolah itu memang tempatnya. Jemarinya bahkan dengan santai memainkan jari-jari tangan Aditya. Sesekali tangan mereka saling menggenggamnya.
“Mas, kedua orang tuaku tanya terus kapan kita akan menikah,” rengek Lavanya pelan, bibirnya sedikit mengerucut, matanya menatap penuh tuntutan. Nada suaranya bukan lagi sekadar manja, tetapi juga penuh kepemilikan, seolah Aditya memang sudah menjadi miliknya sejak lama.
Aditya tersenyum tipis, santai, seolah semua ini adalah hal yang wajar. Tidak ada kegugupan, tidak ada rasa bersalah. Tangannya naik, menepuk lembut punggung tangan Lavanya, bahkan membiarkannya tetap melingkar erat.
“Sabar, ya, Sayang. Semua sudah sesuai dengan rencana kita, kok,” ucap Aditya ringan, seakan masalah yang mereka bicarakan hanyalah hal kecil yang bisa ditunda. “Tinggal sebentar lagi.”
Lavanya mendengus pelan, lalu semakin mendekat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Aditya dengan begitu nyaman, seperti itu adalah tempat yang sudah terlalu sering ia singgahi. Wangi parfum wanita itu bercampur dengan aroma tubuh Aditya, menciptakan keintiman yang seharusnya hanya dimiliki oleh suami dan istri.
“Jangan lama-lama, ya, Mas,” bisik Lavanya pelan, suaranya melembut namun penuh tekanan. Jemarinya kini berpindah, menggenggam tangan Aditya dan menautkannya dengan erat, seolah takut kehilangan. “Aku mau kamu sepenuhnya, Mas. Bukan cuma kayak gini terus.”
Kalimat itu maknanya jelas. Lavanya tidak mau lagi berbagi. Ia tidak mau lagi menjalani hubungan bersembunyi-sembunyi.
Aditya hanya tersenyum, tatapannya dalam, namun penuh perhitungan. Tangannya membalas genggaman itu, seolah memberi janji tanpa benar-benar mengucapkannya. Tidak ada penolakan dan tidak ada penegasan juga. Hanya senyum yang membuat Lavanya merasa menang, padahal mungkin ia sendiri sedang dipermainkan.
Di dalam keheningan itu, mereka terlihat seperti pasangan yang saling mencintai, tertawa pelan, saling menyentuh, saling menatap. Seolah tidak ada orang lain yang terluka di luar sana. Seolah tidak ada seorang istri yang setiap hari dihancurkan perasaannya secara perlahan.
Mereka tidak tahu di saat yang sama, di tempat yang jauh dari jangkauan mereka, seorang wanita yang selama ini mereka anggap lemah, bodoh, dan mudah ditipu, telah berubah.
Kemuning tidak lagi menangis dalam diam. Tidak lagi menunduk tanpa perlawanan. Luka yang mereka berikan, tidak menghancurkannya sepenuhnya. Justru membentuknya menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak lagi mudah dipatahkan. Dan ketika semuanya terungkap nanti, yang tersisa bukan hanya penyesalan, tetapi kehancuran yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang pernah ia rasakan.
Siang itu, Kemuning berdiri lama di depan kabinet dapur, jemarinya membuka satu per satu rak dengan gerakan pelan dan teratur, seperti yang sudah ia lakukan ratusan kali sebelumnya. Ia mencari tepung terigu untuk membuat gorengan, seperti permintaan Bu Ratih.
Semua terlihat biasa, wadah-wadah tertata rapi, aroma dapur yang familiar. Namun di balik itu, pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya masih tertinggal di kamar, pada kotak kecil itu, pada foto-foto yang terus berputar tanpa henti di kepalanya.
Tangan Kemuning bergerak naik, membuka rak paling atas. Ia berdiri sedikit berjinjit, matanya menyapu isi rak dengan cepat, sampai tiba-tiba gerakannya terhenti. Di sudut paling belakang, hampir tersembunyi di balik kaleng dan botol lain, ada sebuah botol kecil transparan berisi pil-pil putih.
Seketika itu juga, tubuh Kemuning seperti membeku. Jari-jarinya yang tadi bergerak luwes kini kaku di udara. Napasnya tertahan tanpa sadar, ia mengenali botol apa itu.
Perlahan, seolah takut menyentuh sesuatu yang bisa melukainya, Kemuning meraih botol itu. Tangannya gemetar halus saat menggenggamnya. Botol vitamin, begitu Aditya selalu menyebutnya.
Suara pria itu tiba-tiba terngiang jelas di telinganya, begitu dekat seolah berdiri tepat di belakangnya. “Ini bagus buat kesuburan kamu, Sayang. Jangan lupa diminum setiap hari.”
Nada suara pria itu lembut, penuh perhatian, bahkan terdengar tulus. Dulu, setiap kali mendengar itu, hati Kemuning selalu menghangat. Ia merasa diperhatikan, merasa tidak sendirian dalam perjuangan mereka memiliki anak. Namun, sekarang suara itu terasa seperti ejekan.
Kemuning menatap botol itu lama. Labelnya sederhana, hampir tidak mencolok, seperti sesuatu yang tidak penting. Justru kesederhanaan itu membuat hatinya semakin tidak tenang. Dadanya perlahan terasa sesak. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang selama ini mungkin sudah ia rasakan, tetapi selalu ia abaikan. Kini, perasaan itu muncul kembali, lebih kuat, lebih jelas, dan tidak bisa lagi ia tekan.
“Kenapa ...,” bisik wanita itu pelan, hampir tidak terdengar.
Selama ini, Kemuning tidak pernah curiga. Ia hanya menurut. Setiap hari, ia minum pil itu tanpa berpikir dua kali. Bahkan saat tubuhnya lelah, saat hatinya hancur karena hinaan, ia tetap meminumnya. Karena ia percaya apa yang diberikan oleh Aditya semua itu demi kebaikan dirinya.
Tangan Kemuning perlahan mengepal, menggenggam botol itu semakin erat, seolah ingin meremukkannya. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, tidak beraturan. Pikirannya tiba-tiba melompat pada satu kata yang membuat napasnya terasa tercekat—zat anti-ovulasi. Ucapan dokter itu kembali terdengar jelas di kepalanya. Dan kini botol ini ada di tangannya.
Kemuning menelan ludah dengan susah payah. Rasa dingin merayap perlahan dari tengkuk, turun ke punggung, membuat seluruh tubuhnya merinding.
“Tidak mungkin …,” kata Kemuning lirih, hampir seperti memohon agar semua ini tidak benar. Namun, hatinya justru berteriak sebaliknya, memaksanya untuk membuka mata.
Perlahan, dengan gerakan kaku, Kemuning menutup kembali pintu kabinet itu. Botol kecil itu masih berada dalam genggamannya, terasa begitu berat meski ukurannya tidak seberapa. Matanya menatap lurus ke depan, namun tidak benar-benar melihat apa pun. Pikirannya berputar cepat, menyusun potongan-potongan yang selama ini tidak pernah ia satukan.
Di tengah kekacauan itu, sebuah keputusan muncul tiba-tiba. Kemuning menarik napas dalam, meski dadanya masih terasa sesak. Jemarinya mencengkeram botol itu sedikit lebih kuat, seolah itu satu-satunya pegangan yang ia miliki saat ini.
“Aku harus tahu apa isi kandungan obat ini,” bisik wanita itu pelan, tetapi tegas.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus