NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

***

Hujan lebat mengguyur perbukitan sejak lepas luhur, mengubah langit sore menjadi kelabu pekat tanpa celah. Air yang tumpah dari langit berderau keras, memukul-mukul atap sirap rumah joglo dan menciptakan tirai air yang tebal di sekeliling pendopo. Hawa dingin pegunungan merayap cepat, menyelinap melalui sela-sela dinding kayu jati yang kokoh, membuat lampu-lampu teplok di selasar bergetar gelisah.

Beberapa hari telah berlalu sejak Larasati pulih dari demamnya. Sesuai janjinya, gadis tujuh belas tahun itu mulai menenggelamkan diri dalam rutinitas baru sebagai seorang Nyai. Ia belajar berjalan dengan jarik wiru yang ketat, menghafal tata krama menyuguhkan wedang, hingga menghitung keluar-masuknya karung beras di lumbung. Namun, di tengah riuhnya rumah besar yang dihuni belasan abdi dalem itu, Larasati tetap merasa ada bagian dari rumah joglo ini yang menolak kehadirannya.

Sore itu, saat Baskoro belum juga kembali dari pertemuan para juragan tanah di kota kabupaten, Larasati berjalan menyusuri selasar belakang sendirian. Langkah kakinya yang beralaskan selop beludru terdengar lirih, nyaris teredam oleh gemuruh hujan di luar.

Langkah Larasati terhenti di ujung selasar yang paling gelap. Di sana, berdiri sebuah pintu kayu jati berukuran lebih kecil dari pintu lainnya, dengan ukiran kala makara yang tampak kusam dan menyeramkan. Pintu itu selalu dikunci rapat dengan gembok kuningan besar yang sudah menghitam dimakan usia. Selama ini, Mbok Sum maupun pelayan lain selalu memalingkan muka dan mempercepat langkah setiap kali melewati ruangan ini, seolah-olah ada kutukan yang menjaga ambangnya.

Didorong oleh rasa sepi yang menggigit dan rasa penasaran jiwa remajanya yang terlarang, Larasati melangkah mendekat. Ia berdiri tepat di depan pintu itu, menatap gembok kuningan yang dingin. Tangannya terulur perlahan, berniat menyentuh ukiran kayu yang berdebu.

"Apa yang sedang kamu cari di sini, Larasati?"

Sebuah suara bariton yang berat dan rendah tiba-tiba memecah keheningan dari arah belakang.

Larasati terkejut setengah mati. Tubuhnya refleks berbalik cepat hingga punggungnya membentur pintu jati. Di hadapannya, berdiri Raden Mas Baskoro. Pria empat puluh tahun itu entah sejak kapan sudah berada di sana, tanpa mengenakan payung atau pengawalan. Pakaian beskap hitamnya basah kuyup di bagian bahu karena tetesan air hujan, dan rambutnya yang mulai beruban di pelipis tampak lepek. Tatapan matanya yang tajam menembus kegelapan selasar, mengunci pergerakan istri kecilnya.

Jantung Larasati bertalu-talu bagai dideru lesung. Ketakutan lama seketika merayap naik ke tenggorokannya. "R-Raden Mas... nyuwun sewu. Kulo... kulo mboten bermaksud..." bisiknya gemetar, langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Ia bersiap jika suaminya akan meledak marah seperti kejadian di sungai dulu.

Namun, keheningan panjang justru membentang di antara mereka. Tidak ada bentakan, tidak ada cengkeraman kasar di rahangnya. Hanya terdengar suara helaan napas yang teramat panjang dan lelah dari dada bidang Baskoro.

Baskoro melangkah maju dua langkah. Tangannya yang besar bergerak merogoh balik kain jariknya, mengeluarkan sebuah kunci kuningan kuno yang tergantung pada seutas tali kulit. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melewati tubuh Larasati yang membeku, lalu memasukkan kunci itu ke dalam lubang gembok.

Klek. Sreeet...

Gembok besar itu terbuka. Baskoro mendorong pintu jati kecil itu perlahan. Engselnya yang berkarat mengeluarkan suara derit panjang yang memekak telinga, seolah memprotes udara segar yang mencoba masuk setelah belasan tahun terkurung.

"Masuklah," ucap Baskoro datar, suaranya nyaris tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar di luar. "Daripada kamu terus mengintip seperti pencuri di rumahmu sendiri."

Larasati mendongak ragu, menatap punggung suaminya yang sudah melangkah masuk ke dalam kegelapan ruangan itu. Dengan meremas ujung kebayanya, Larasati memberanikan diri melangkah melewati ambang pintu.

Bau apek udara mati, debu tebal, dan sisa-sisa aroma wewangian kuno yang sudah kedaluwarsa langsung menyengat hidung. Kamar itu tidak luas. Cahaya dari luar selasar hanya mampu menerangi sebagian ruangan. Di sudut kamar, terdapat sebuah ranjang kayu kecil yang sederhana, sebuah meja tulis anak-anak yang kakinya sudah mulai keropos dimakan rayap, dan sebuah cambuk kuda berkepala perak yang tergantung di dinding.

Baskoro berjalan mendekati meja tulis kecil itu, mengusap debu tebal di permukaannya dengan jemarinya yang kasar.

"Ini bukan kamar mendiang istriku, jika itu yang kamu cemaskan," kata Baskoro tiba-tiba, memecah kesunyian tanpa menoleh ke arah Larasati. "Ini kamar masa kecilku. Tempat di mana aku dibentuk menjadi pria yang kamu benci saat ini."

Larasati tertegun. Ia melangkah perlahan mendekati ranjang kecil yang berdebu. "Kamar masa kecil Anda, Raden Mas? Tapi... kenapa ruangan ini dikunci begitu rapat?"

Baskoro membalikkan badannya, bersandar pada tepi meja yang rapuh. Di bawah temaram cahaya sore yang kelabu, wajah kaku juragan itu tampak lebih tua dan rapuh dari biasanya. "Karena di dalam ruangan inilah, mendiang ayahku—Raden Mas Wiryo—mengurungku setiap kali aku melakukan kesalahan kecil. Setiap kali aku gagal menghafal pembukuan tanah, atau ketika aku tersenyum di depan para abdi dalem."

Larasati membelalakkan matanya kecil. "Mengurung Anda?"

"Bukan hanya mengurung," Baskoro menoleh ke arah cambuk kuda yang tergantung di dinding, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman getir yang penuh luka. "Ayahku selalu berkata, seorang calon penguasa tanah tidak boleh memiliki hati yang lembek. Senyuman adalah kelemahan, dan air mata adalah aib bagi trah keluarga kami. Setiap kali aku menangis karena cambukan ini, waktu kurunganku akan ditambah satu hari lagi dalam kegelapan tanpa makanan."

Mendengar penuturan itu, dada Larasati berdesir hebat. Jiwa remajanya yang polos mendadak dihentakkan oleh kenyataan yang mengerikan. Dipandanginya cambuk perak di dinding, lalu beralih pada sosok Baskoro yang tinggi besar. Selama ini, ia hanya melihat Baskoro sebagai monster kaku yang kejam, penguasa tanpa hati yang membeli dirinya dengan surat utang. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik topeng besi yang menakutkan itu, terdapat seorang anak kecil yang jiwanya telah dihancurkan secara sistematis oleh tradisi feodal yang kejam.

"Raden Mas..." bisik Larasati, suaranya melembut, rasa takutnya perlahan menguap digantikan oleh rasa iba yang mendalam. "Apakah... apakah itu sebabnya Anda tidak pernah tersenyum?"

Baskoro terdiam cukup lama, matanya menatap abu debu di lantai. "Aku sudah lupa bagaimana cara melakukannya, Larasati. Bagiku, menunjukkan kelembutan berarti mengundang bahaya. Aku diajar untuk ditakuti, bukan untuk dicintai. Karena ketakutan adalah satu-satunya hal yang bisa membuat ratusan abdi dalem dan petani di bawah bukit ini tetap patuh."

Baskoro melangkah mendekati Larasati, berhenti tepat di depan istrinya. Jarak usia dua puluh tiga tahun di antara mereka kini tidak lagi terasa seperti jurang pemisah, melainkan seperti waktu yang menceritakan luka lama.

"Malam itu... ketika aku membakar selendang hijau milikmu," suara Baskoro merendah, ada getaran samar yang ia coba sembunyikan di balik ketegasannya. "Aku melihat diriku sendiri pada dirimu. Aku melihat seorang anak remaja yang berontak karena dunianya direnggut secara paksa demi sebuah nama besar. Amarahku malam itu... sebenarnya adalah rasa takut yang teramat sangat."

Larasati mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya yang sedalam sumur tua. "Takut akan apa, Raden Mas?"

"Takut jika aku membiarkanmu tetap menggenggam kebebasanmu, kamu akan hancur oleh kekejaman aturan rumah ini. Aku bertindak kasar karena itulah satu-satunya cara yang diajarkan ayahku untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku," Baskoro mengulurkan tangannya yang besar dengan ragu-ragu, jemarinya yang kasar menyentuh pundak Larasati dengan kelembutan yang sangat kaku namun tulus. "Aku adalah pria yang kesepian di rumah yang megah ini, Larasati. Selama belasan tahun, tidak ada satu pun jiwa yang berani menatap mataku atau menentang perintahku. Hingga kamu datang dengan kepolosanmu."

Air mata yang sejak tadi ditahan Larasati akhirnya merembes di sudut matanya. Namun kali ini, itu bukan air mata ketakutan atau kebencian. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini adalah korban pertama dari tradisi kaku yang kini mengurung mereka berdua. Mereka sama-sama terpenjara di bawah atap joglo yang angkuh ini.

"Raden Mas..." Larasati memberanikan diri menyentuh punggung tangan Baskoro yang berada di pundaknya. Kulit pria itu terasa dingin karena tetesan air hujan. "Kulo... kulo memang merindukan masa lalu kulo. Kulo rindu bermain di sungai... rindu menjadi anak-anak. Tetapi kulo paham, waktu tidak bisa diputar kembali."

Baskoro menatap jemari kecil Larasati yang menyentuh tangannya. Ego kerasnya melunak sepenuhnya di kamar yang berdebu itu. "Apakah kamu masih membenciku?"

Larasati menggeleng pelan, seulas senyum tipis—senyuman tulus pertamanya untuk pria itu—terukir di bibirnya. "Mboten, Raden Mas. Kulo tidak membenci Anda lagi. Kulo hanya... kulo hanya ingin kita tidak saling menderita di rumah ini."

Baskoro tertegun menatap senyuman itu. Sesuatu yang beku di dalam dadanya selama puluhan tahun seolah retak dan mencair seketika. Ia tidak membalas senyuman itu, karena ia memang belum ingat caranya, namun cengkeraman kaku di bahu Larasati berubah menjadi sebuah usapan lembut yang menenangkan.

"Mari kita keluar," ucap Baskoro pelan, menarik tangannya kembali dengan canggung. "Kamar ini terlalu berdebu untukmu. Dan pakaianku harus segera diganti sebelum Mbok Sum histeris melihat juragannya masuk angin."

Larasati terkekeh kecil mendengar gurauan kaku suaminya—sebuah suara renyah yang sudah lama tidak terdengar di selasar belakang rumah joglo.

Saat mereka melangkah keluar dan Baskoro kembali mengunci gembok kuningan ruangan tersebut, Larasati menyadari satu hal. Rongga sunyi di ujung selasar itu tidak lagi terasa menyeramkan. Dinding kecanggungan di antara mereka belum sepenuhnya runtuh, namun sore itu, di bawah guyuran hujan lebat perbukitan, sekat tak kasat mata di antara pria empat puluh tahun dan gadis tujuh belas tahun itu telah menemukan celah pertamanya untuk mulai saling memahami.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!