NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Lhooo, Abang sakit? Semalam masih telponan nggak Papa kayaknya, Pak. Terus Bang Rengga nya gimana sekarang, Pak?"

"Tadi sudah saya antar pulang, sekalian mau ketemu sama Pak Wandi."

"Ke rumah Mamanya?" tanyaku.

"Nggak, ke rumahnya sendiri. Nggak mau dia, saya antar ke rumah orang tua nya."

"Ooo, iya Pak. Terimakasih infonya. Nanti saya telpon Bang Rengga nya."

Tidak lama kemudian, Pak Sastra pamit keluar dengan Pak Wandi. Bertepatan dengan berakhirnya jam kantor. Segera ku telpon  Bang Rengga.

Tapi hingga panggilan ke tiga belum ada jawaban.

"Abang kenapa sih, tumben nggak ngangkat telpon. Biasanya gercep kalau aku telpon." ucapku lirih tapi ternyata masih bisa di dengar Nita.

"Kenapa Mbak Bon? Nggak di angkat sama Pak Rengga?" tanya Nita.

"Iya, apa tidur kali ya?"

"Coba telpon lagi. Kalau nggak diangkat langsung samperin aja. Kasihan banget anak orang sakit tapi terlantar." ucap Nita sambil bercanda.

"Iya, Mbak Bon. Mana kalau Sabtu yang biasa kerja di rumah dia kasih libur." ucapku.

Beberapa saat setelah aku telpon lagi akhirnya panggilan terhubung.

"Assalamu'alaikum, Abang kenapa? Sakit?" tanyaku.

"Waalaikum salam, nggak Yang. Cuma capek aja. Abang kurang tidur dari beberapa hari kemarin, nyelesain laporan buat Papa."

"Jangan dipaksain dong Bang, kalau capek ya buat istirahat. Terus kenapa Abang nggak pulang ke rumah Mama. Tadi Pak Sastra bilang Abang pulang ke rumah Abang sendiri. Kenapa nggak pulang ke rumah Mama aja?"

Bang Rengga tertawa, "Alhamdulillah, segitu khawatir nya kamu sama Abang, Yang. Kasihan Pak Sastra nya kalau Abang pulang ke rumah Mama, muternya jauh nanti. Kamu kesini dong, temenin Abang. Udah jam pulang kan ini?" tanya Abang Rengga.

"Iya, ini udah mau pulang. Abang mau dibawain apa? Belum makan kan pastinya?"

"Iya, Abang belum makan. Masakin Abang dong, Yang. Pengen soto kayak punya Ibu kapan hari, bisa kan?"

"Bisa, Bang. Ya udah aku mampir ke pasar dulu ya."

"Belanja pakai kartu Abang aja, Yang. Belanja di market deket kantor kamu itu aja biar cepet."

"Iya, sama di bawain apalagi?" tanyaku.

"Bawa cinta dan kasih sayang jangan lupa, biar Abang cepet sembuh!"

"Mulai gombal! Ya udah, aku belanja sebentar habis itu langsung ke tempat Abang," ucapku.

"Hati-hati dijalan, nggak usah ngebut." pesan Bang Rengga.

"Iya, assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam,"

*****

"Assalamu'alaikum, Bang." panggil ku saat sudah sampai di depan pintu rumah Bang Rengga.

Setelah menunggu beberapa saat, tapi tetap tidak ada jawaban akhirnya aku ambil ponsel yang ada di tas slempang milikku.

Tut....

Tut....

Tut....

"Assalamu'alaikum, Yang."

"Waalaikum salam. Bang, aku udah di depan pintu. Abang dimana?"

"Maaf, Abang ketiduran Yang. Kamu masuk aja, pintunya nggak Abang kunci kok. Puyeng banget kepala Abang, Yang. Nih lagi tiduran di sofa ruang tengah."

"Iya, Abang tunggu bentar ya. Aku ambil belanjaan dulu di motor."

"Heem... " jawab lelaki itu. Lalu sambungan telepon terputus.

Setelah mengambil belanjaan yang tadi kutinggal di motor, aku segara masuk.

"Bang," panggil ku saat melihat Bang Rengga yang tidur di atas sofa di ruang tengah.

Bang Rengga hanya diam, membuka mata sebentar kemudian memejamkan mata lagi.

"Yang, puyeng banget kepala Abang." keluh Bang Rengga.

Kuraba dahi lelaki tampan yang kini tampak pucat itu. "Abang demam, aku buatin teh hangat dulu ya," ucapku lalu segera beranjak ke dapur.

Setelah membuat secangkir teh hangat dan juga roti yang sudah kuolesi dengan selai, aku segera kembali ke ruang tengah. Tempat dimana saat ini Bang Rengga sedang berbaring.

"Bang, diminum dulu. Habis itu makan roti ya. Biar ada isi perutnya. Kalau udah makan, baru minum obat." ucapku sambil membantunya bangun dan bersandar di sandaran sofa.

Kuambil teh yang ada diatas meja, ku sodorkan pada Bang Rengga agar dia mudah meminumnya. "Lemes banget Abang." ucapku setelah Bang Rengga selesai minum meski sedikit.

"Makan dikit ya, Bang. Habis itu minum obat, Abang istirahat, biar aku masakin. Ntar kalau udah selesai aku bangunin Abang."

Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Mual banget, Yang. Jauhin rotinya, langsung minum obat aja ya. Habis itu tolong kerokin punggung Abang sebentar." pintar Bang Rengga.

"Oke, terserah Abang." jawabku sambil membuka ujung kemasan paracetamol yang selalu ada dalam pouch yang aku simpan dalam tas.

Setelah minum obat, lelaki itu membuka kaos yang dia pakai. Seketika aku memalingkan pandangan karena malu. Baru kali ini aku melihat badan Bang Rengga. Dadanya yang bidang dan terlihat keras, lengannya yang berotot, juga perutnya yang lengkap dengan roti sobek. Membuat aku semakin menundukkan pandangan.

"Abang kenapa di lepas kaosnya, kan bisa di angkat aja yang belakang." ucapku.

"Abang yang nggak nyaman, Yang. Udah, kamu kerokin Abang sekarang ya, Abang juga nggak bakal macam-macam. Lagi teler gini, mana bisa macam-macam sama kamu. Abang nggak teler aja mikir berkali-kali kalau mau nakalin kamu."

"Hem..... " jawabku sambil mengambil minyak kayu putih yang juga selalu ada dalam pouch obat pribadi.

Beberapa saat, terlihat goresan merah hasil karyaku di punggung putih mulus Bang Rengga. Ku pijit beberapa saat punggung kekar lelaki di hadapanku ini agar sedikit rileks.

"Masya Allah, enak banget Yang. Jadi nggak sabar pengen buru-buru halalin kamu."

"Lagi sakit lho ini, udah ya gombalnya. Karena apa? Karena perut nggak bakal kenyang cuma makan gombalan dari Abang. Udah, sekarang pakai kaosnya. Aku masakin Abang dulu."

"Bentar dong, Yang. Abang sandaran dulu sebentar. Masih agak pusing ini."

"Kalau kayak gini terus, aku kapan masaknya, Abang kapan makannya." ucapku.

Lelaki itu bersandar sambil memeluk pinggang ku.

"Bang, jangan gini dong." protes ku.

"Abang ngapain?"

Terdengar pertanyaan dari sebuah suara yang aku hafal milik siapa. Mama sofie. Karena pintu depan sengaja aku biarkan terbuka untuk menghindari fitnah jadi kami tidak mendengar jika ada yang masuk.

Seketika kami menoleh. Aku segera bangun dari duduk dan menghampiri Mama Sofie. Setelah itu, kucium tangan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan selalu modis sesuai usianya.

"Abang sakit, Ma. Tadi Rani baru tahu waktu ketemu Pak Sastra di kantor." jawabku sambil berjalan di samping Mama Sofie yang menghampiri anak semata wayangnya ini.

"Bandel sih, dibilangin jangan di paksa kalau Abang lagi capek. Tadi pagi juga Mama udah bilang nggak usah ngantor."

"Anak sakit bukannya di sayang-sayang malah diomelin." jawab Beng Rengga sambil kembali berbaring di sofa panjang yang ada di ruang tengah.

"Mama udah feeling kamu bakal pulang ke sini, makanya Mama tengok kesini."

"Iya... Iya.. Makasih Mama masih perhatian banget sama Abang. Meski Abang udah gedhe." ucap Bang Rengga.

"Ma... Rani masak dulu sebentar ya." pamit ku.

"Yang, Mama bawa ke dapur sekalian. Berisik kalau disini. Abang nggak bisa tidur." adu Bang Rengga.

"Udah, Abang tidur aja. Biar di temenin sama Mama." jawabku.

"Mau masak apa, Ran?" tanya Mama Sofie.

"Masak soto, Ma. Tadi Abang request, pengen dimasakin soto." jawabku.

"Mama bantuin ya. Males Mama lihat bayi gedhe kayak Abang." ucap Mama sambil ikut melangkah di belakangku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!