yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 8 Pak Tua
Tidak lama setelah Kesya keluar dari ruangan, seorang pria dengan baju putih dan juga senyum yang ramah datang dengan membawa sebuah papan dengan kertas di atasnya. Ia menghampiri Yovada dengan pelan dan kemudian berkata. “selama sore anak, bagaimana keadaannya sekarang? Apa sudah lebih baik sekarang?” Ucap Dokter itu dengan ramah dan lembut kepada Yovada.
“cukup baik dok, namun kenapa aku ada di sini? Aku tidak terkena penyakit infeksi lambung dok. Pasti ada kesalahan dalam proses pemasukan data kan dok?” Ucap Yovada kepada Doter dengan wajah serius dan tidak percaya dengan apa yang di katakan Kesya tadi kepadanya.
“Yovada, anak perempuan tadi tidak salah kok, kamu memang terkena infeksi lambung namun memang kamu tidak merasakannya. Mungkin banyak faktor dari kamu sudah sering menahan rasa sakit itu atau memang karena suatu virus yang membuatmu tidak merasakan sakit. Aku mau bertanya, apa tadi pagi kamu tidak sarapan?” Ucap pak dokter kepada Yovada dengan penasaran.
Yovada yang mendengar pertanyaan itu langsung terdiam dan ia mengingat-ingat apa yang ia makan tadi pagi. “seingatku.... tadi pagi.... oh... aku tidak makan apa pun sih. Aku langsung beres-beres dan kemudian pergi ke sekolah. Aku sering melakukannya terkadang.” Ucap Yovada dengan kebingungan dengan apa yang dokter tanyakan. Baginya sarapan bukanlah hal yang terlalu penting dan bisa di mulai dengan jam makan siang.
Dokter kemudian menulis sesuatu di kerta itu dan kemudian mengangguk sedikit seakan mengetahui kondisi Yovada. “baiklah aku mengerti. Kamu terkena maag sepertinya. Namun aman saja kok. Itu bukanlah hal yang buruk oke. Masih banyak hal yang lebih buruk di lakukan orang lain selain darimu sendiri. Baiklah... sebaiknya kamu di rawat inap di sini selama beberapa saat hingga kamu benar-benara sembuh total.” Ucap dokter kepada Yovada dengan tenang namun tatapannya begitu serius seakan ini adalah masalah yang cukup serius. Ia pergi meninggalkan Yovada di sana dan kemudian keluar dari ruangan itu.
Yovada yang melihat itu hanya terdiam dan juga kebingungan dengan sikap dokternya padanya tadi. Ia mengatakan bahwa ini bukanlah masalah yang serius namun ia melihat bahwa tatapannya seperti kebingungan dengan apa yang Yovada alami sekarang. Ia kembali berbaring dan kemudian mengangkat tangannya yang sedang di impuls tadi dan menggerakkan jari-jarinya perlahan dan ia merasakan rasa sakit ketika ingin menggerakkan jarinya. Ia kemudian menaruh kembali tangannya di sebelahnya dan kemudian melihat ke samping dan menatap seseorang yang sedang di rawat karena kakinya cedera namun cederanya seakan kakinya patah. Namun ia mulai mengabaikan sekitar dan kemudian mulai memejamkan matanya.
Malam pun tiba, Yovada terbangun dan ia ingin pergi ke kamar mandi untuk membuang air kecil. Ia turun dari kasurnya secara perlahan dan kemudian ia memegang tiang impuls dan menggunakan sebagai tongkat berjalan. Ia berjalan mandiri ke kamar mandi dan kemudian ia membuang air kecilnya. Ketika selesai, ia berjalan keluar dari kamar mandi dan kemudian ia mencuci mukanya di wastafel. Di sana ketika ia mengangkat wajahnya, ia melihat dirinya dengan wajah yang pucat, berbaju hijau, matanya merah karena baru bangun tidur, ia berpegang di sebuah tongkat yang membuatnya tetap sadar dan memiliki tenaga yang cukup. Ia menatapnya sedikit lebih lama dan kemudian ia berjalan keluar dari sana.
Tepat ketika ia keluar dari kamar mandi, ia melihat seorang kakek tua yang memarahi Aulia tadi siang sedang duduk di sebuah kursi roda yang menghadap ke sebuah jendela yang di sinari oleh cahaya bulan. Yovada yang melihat itu sebenarnya ingin langsung tidur namun dirinya sendiri sudah tidur dengan cukup dan ia juga merasa bosan. Akhirnya Yovada mencoba mendekati kakek itu untuk mengajaknya berbicara sesuatu. Walau Yovada sendiri tidak tahu harus berbicara apa kepadanya namun setidaknya ia sendiri sudah mencoba berusaha.
Ketika dirinya sendiri berdiri di sebelah kakek itu dan kemudian ia mulai mencoba membuka pembicaraan kepada kakek itu. Yovada melihatnya seperti sedang tenang dan terjatuh dari alam sadarnya dan memasuki dunia khayalannya. Yovada pun memberanikan dirinya dan kemudian berbicara kepadanya dengan pelan. “permisi kek, apa yang kakek lakukan di sini? Bukankah seharusnya kakek istirahat? Jika kakek tidak istirahat maka bagaimana kakek mau sembuh?” Ucap Yovada dengan pelan namun penuh perhatian kepada kakek itu.
Kakek itu seketika tersadar dan kemudian memalingkan wajahnya kepadanya, ia tersenyum kecil dengan tulus kepada Yovada. “oh... halo anak muda. Kakek sedang tidak bisa tidur sekarang. Kakek ingin tidur. Apa kakek membuatmu terbangun? Kakek minta maaf jika begitu.” Ucap kakek itu dengan suara yang serak dan juga pelan dan lemah. Kakek itu menatap Yovada dengan tatapan pelan dan renta.
Yovada yang melihat itu langsung panik dan merasa bersalah karena menegurnya tadi. “tidak kok kek, aku hanya terbangun karena aku ingin buang air kecil. Aku melihat kakek yang menatap jendela tadi, aku merasa kakek mungkin butuh seseorang yang bisa di ajak berbicara mungkin... atau aku hanya sok tahu jasa? Aku tidak tahu. Aku minta maaf jika itu membuat kakek terganggu.” Ucap Yovada kepada kakek tersebut dengan nada bersalah dan juga agak canggung kepadanya. Yovada yang melihat bahwa ia hanya mengganggu kakek itu langsung berjalan menjauh.
Namun sebelum ia menjauh, kakek itu tertawa dan kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan. “tidak, kamu tidak menggangguku sama sekali kok. Terima kasih sudah mau berbicara pada kakek, kakek merasa cukup terhibur tadi. Kakek sudah sering ke sini dan kakek selalu di rawat di sini karena mereka mengatakan mampu merawat kakek. Selama kakek di sini, kakek sendiri merasa bosan dan ingin rasanya kakek mau bertemu seseorang untuk di ajak berbicara, namun sangat sulit berbicara di sini. Mereka punya kepentingannya masing-masing.” Ucap kakek itu dengan pelan dan di akhiri oleh ketawa kecil yang tulus.
Yovada yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan kemudian mendekati kakek itu. Ia berjalan perlahan dan kemudian berbicara kepada kakek itu dengan pelan. “kakek sudah lama di sini? Memang kakek sakit apa? Di mana keluarga kakek atau teman-teman kakek?” tanya Yovada kepada kakek itu dengan penasaran. Ia tahu bahwa dirinya baru kenal namun itu salah satu pertanyaan yang terlintas di pikirannya.
Kakek itu menatap jendela itu kembali dengan bulan yang masih menyinari dirinya. Ia menatap dengan mata yang berkaca-kaca. “istri kakek sudah tiada beberapa tahun yang lalu. Ia salah satu yang membuat aku masih ingin bertahan sampai sekarang. Ia di rawat di rumah sakit ini juga bahkan aku masih ingat kamar mana yang terakhir kali ia gunakan sebelum ia meninggal karena penyakit yang belum pernah di temukan dan ia meninggal karena dirinya menyerah akan hal itu. Kakek memiliki 2 anak yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. Mereka anakku yang baik dan memilik pasangan yang baik pula, namun sayangnya mereka jarang menemuiku karena kesibukan mereka masing-masing. Mereka juga sudah punya anak dan salah satu yang paling peduli denganku adalah cucuk aku. Jika kamu bertanya temanku... aku sendiri tidak tahu apa mereka masih hidup atau tidak.” Ucap kakek itu sambil bercanda kepada Yovada namun air mata memang keluar dari mata kakek itu sambil menatap langit malam yang di penuhi bintang dan cahaya bulan yang indah.
Yovada yang melihat itu kemudian ikut memandang bulan itu dan kembali berbicara dengan kakek itu dengan perlahan. “kenapa kakek malah menatap langit malam? Apa ada sesuatu yang ada di langit untuk malam ini?” Tanya Yovada kepada si kakek dengan penasaran dan juga bingung. Ita sendiri tidak dapat mengerti kenapa langit malam itu di anggap sesuatu yang sangat istimewa oleh kakek itu.
Kakek itu tersenyum dan kemudian menjawabnya dengan tenang. “ada alasan kenapa aku menatap langit malam setiap aku terbangun. Ada kenangan dengan istriku dahulu ketika kami bertemu. Aku dan istriku di waktu muda suka sekali menatap bintang dan melihat benda langit lainnya. Kami memiliki kesukaan yang sama namun dengan alasan yang berbeda. Aku memiliki kesukaan menatap langit karena banyak hal yang tidak dapat di nikmati banyak orang dari mengamati bintang. Sedangkan ia memahami bahwa langit adalah perwujudan dari hidup. Bagaimana mana Tuhan menghias langit dengan berbeda di setiap saatnya namun semua itu malah membuatnya tetap indah. Baginya, perubahan bukanlah suatu keburukan namun adaptasi dengan harga yang mahal karena bisa tetap terlihat indah walaupun berbeda.” Ucap sang kakek sambil tersenyum. Wajahnya kembali tenang dan kemudian melanjutkan ceritanya dengan tenang.
“ia bukanlah orang yang aku pikir menyukai orang yang memiliki logika yang tinggi namun aku salah, ia malah semakin tertarik padaku. Kami sering berbicara dan berteman dekat bahkan orang tua kami sudah tahu tentang kami satu sama lain. Kami mengalami banyak masalah dan tantangan bahkan hubungan kami hampir hancur namun aku menolak hal itu terjadi. kami berbicara satu sama lain dari hati ke hati dan akhirnya kami memutuskan untuk bersama hingga ke pelamanan. Kami bersama satu atap dan kami masih melakukan kebiasaan kami dari mengamati bintang dan juga bersantai di lapangan sambi melihat langit biru di pagi hari. Masalah pasti datang namun kami tetap kuat dan memilih bersama dan hingga kami memiliki anak dan kami tua. Waktu berjalan cukup cepat dan setelah ia tiada... rasanya aku kehilangan jiwaku.” Ucap kakek itu dengan nada pelan dan penuh ke sedihan.
Yovada yang melihat itu hanya terdiam dan menunduk dengan perasaan bersalah karena memulai pembicaraan yang membuat kakek itu merasa sedih. Kakek itu menggerakkan kursi rodanya dan berkata pada Yovada untuk mendorongnya ke kasurnya untuk beristirahat. Yovada pun mendorongnya dan kemudian ia membantu pak tua itu untuk menaiki ranjangnya untuk beristirahat. Sebelum Yovada menjauh dari tempat itu, kakek itu memanggilnya dan kemudian menasihati Yovada dengan pelan dan lembut hingga ia menutup nasehatnya dengan mengucapkan suatu kalimat yang Yovada tidak dapat pahami.
“tiada yang lebih indah dari pada hidup dengan rumahmu sendiri”