NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sore itu, kamar Kanza Arumi tampak seperti medan perang pasca-badai.

Tas ranselnya tergeletak pasrah dengan ritsleting terbuka di dekat pintu, sementara pemiliknya sudah "tumbang" di atas kasur tanpa sempat melepas kaus kaki yang warnanya sudah mulai kusam akibat debu sekolah.

Hijab instannya melintir tak keruan, hampir mencekik lehernya sendiri akibat ditarik asal saat ia merebahkan diri tadi.

Kanza menatap hampa ke arah poster aktor drama China favoritnya yang tertempel di dinding, merasa hidupnya baru saja mengalami plot twist paling buruk yang sanggup mengalahkan naskah drama makjang manapun.

Tok! Tok!

Ketukan itu ritmis, tenang, dan memiliki otoritas yang halus, ciri khas Umi. Sebelum Kanza sempat memasang posisi pura-pura tidur yang meyakinkan, pintu kayu jati itu terbuka.

Umi masuk dengan keanggunan seorang guru ngaji senior, duduk di tepi kasur yang spreinya sudah berantakan layaknya kapal pecah.

Tangan Umi yang hangat mulai mengusap puncak kepala Kanza yang terbungkus hijab berantakan.

"Masih mau mogok makan gara-gara obrolan Abi semalam?" tanya Umi lembut, namun ada nada geli yang terselip di sana.

Kanza hanya meringkuk lebih dalam, memeluk bantal gulingnya seperti tameng pelindung dari serangan kenyataan.

"Umi... Kanza ini masih butuh asupan cilok dan es teh plastik tanpa beban pikiran. Masa tiba-tiba disuruh mikirin mahar? Emang Kanza sudah kelihatan kayak ibu-ibu apa?"

Umi terkekeh pelan. "Kanza, dengar. Yang datang ke Abi itu bukan sembarangan. Namanya Hanan Arkan. Keluarganya pemegang estafet pesantren besar. Beliau itu... paket lengkap yang Abi cari. Sudah mandiri, punya bisnis sendiri, usianya tujuh tahun di atas kamu. Matang, tenang, dan sangat santun."

Kanza langsung bangkit duduk, rambutnya yang mencuat liar dari balik hijab membuatnya tampak seperti singa kecil yang baru saja tersengat listrik.

"Tujuh tahun?! Umi, itu bukan kakak-adik namanya, itu jarak senior-junior yang terpaut satu masa jabatan presiden! Terus apa tadi? Anak Kiai? Wah, fiks... nanti kalau Kanza bangun telat sepuluh menit aja, bukan disiram air lagi, tapi diruqyah berjamaah satu komplek!"

Umi menahan tawa sambil menepuk kaki Kanza.

"Dia nyata, Kanza. Bukan karakter fiksi yang bisa kamu skip episodenya. Waktu ditanya Abi, dia menjawab dengan sangat mantap: 'Saya ingin menjaga dan membimbingnya'. Dia tidak datang untuk mengekang mimpimu, tapi untuk menjadi kompas."

"Kompas kalau arahnya ke kutub utara yang dingin gimana, Mi? Nanti Kanza dilarang dengerin lagu pop, terus disuruh hapus semua aplikasi drakor dan TikTok di HP? Hidup Kanza bakal jadi monokrom!" gumam Kanza ketus, meski jauh di lubuk hatinya, ada rasa penasaran yang mulai merayap pelan.

Hari penentuan itu tiba dengan suasana yang mencekam bagi Kanza. Rumahnya mendadak wangi pengharum ruangan aroma melati yang menusuk hidung, dan lantai ruang tamu sudah mengilap seperti cermin, mungkin saking licinnya, lalat pun bakal terpeleset di sana.

Kanza duduk di pojokan dengan wajah yang sengaja dibuat semuram mungkin, mengenakan gamis yang dipilihkan Umi dengan perasaan dongkol yang meluap-halu.

Lalu, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar.

Seorang pria turun dengan langkah yang sangat teratur. Tidak ada kesan terburu-buru, seolah setiap langkahnya sudah dihitung dengan rumus fisika.

Saat ia melangkah masuk, aroma parfum oud yang mewah namun menenangkan langsung menguasai ruangan, dengan telak mengalahkan bau opor ayam yang menyeruak dari dapur.

Pria itu mengenakan kemeja putih yang disetrika sangat licin, begitu sempurna hingga Kanza yakin semut pun akan mengalami dislokasi kaki jika mencoba berjalan di atas pundaknya.

“Assalamu’alaikum,” suaranya berat, bariton yang tertata rapi tanpa cela.

Kanza menoleh sekilas, lalu batinnya menjerit histeris.

"Astagfirullah, ini mah bukan calon suami! Ini vibe-nya kayak dosen penguji skripsi yang bakal nanyain revisi bab satu sampai lima lengkap dengan daftar pustakanya!"

Pria bernama Hanan itu duduk dengan adab yang sempurna. Punggungnya tegak, tangannya diletakkan di atas lutut, dan ini yang paling membuat Kanza syok: ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku kemejanya. Sebuah buku catatan! Di zaman serba digital ini!

“Perkenalkan, saya Hanan Arkan,” ucapnya sambil menatap Abi dengan hormat yang luar biasa.

“Maaf, saya mungkin terlihat terlalu serius bagi Kanza,” tambah Hanan tiba-tiba, seolah-olah ia memiliki kemampuan telepati untuk membaca pikiran Kanza yang sedang ricuh.

Matanya yang tenang kini beralih menatap Kanza sejenak, membuat gadis itu merasa seperti sedang diaudit oleh kantor pajak.

Kanza menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian remajanya.

“Oh, santai saja kok, Ustaz.”

Ruangan mendadak hening. Abi terbatuk kecil menutupi keterkejutannya, sementara Umi melotot tajam dari balik pintu dapur, isyarat maut agar Kanza menjaga lisan.

Hanan sedikit mengernyit, namun kemudian sebuah senyum tipis, sangat tipis namun tulus muncul di sudut bibirnya.

“Abang saja, saya rasa itu lebih baik untuk saat ini."

“Iya, Bang. Tapi kayaknya 'Ustaz' lebih pas deh,” sahut Kanza nekat, tidak mau kalah.

“Soalnya aura Anda itu... serius banget. Mirip Ustaz yang sedang ceramah di TV jam empat subuh. Tegas, terstruktur, dan bikin orang mau jaga jarak aman biar nggak kena kultum mendadak.”

Abi hampir menyemburkan tehnya, sementara Hanan justru terkekeh pelan.

Sebuah tawa yang ternyata terdengar sangat renyah, hangat, dan sama sekali tidak sekaku penampilannya.

Besoknya di sekolah, Kanza duduk di bangku taman belakang yang kayunya mulai rapuh dimakan usia.

Hijabnya sudah miring ke kanan karena ia terlalu banyak menggaruk kepala, dan wajahnya tampak seperti orang yang baru saja lolos dari interogasi intelijen negara tingkat tinggi.

Yuma datang membawa dua gelas es teh manis jumbo dengan es batu yang melimpah, seolah tahu sahabatnya sedang mengalami kekeringan jiwa.

"Nih, asupan gula buat calon Ibu Ustazah. Gimana? Orangnya beneran pakai surban setinggi tumpukan piring dan jenggot sepanjang pinggang?" goda Yuma.

Kanza menyeruput es tehnya sampai bunyi srettt terdengar nyaring dan menyedihkan.

"Lebih horor, Yum! Namanya Hanan Arkan, tapi gue resmi manggil dia Ustaz. Karena jujur ya, duduk di depan dia itu rasanya kayak lagi nungguin pengumuman kelulusan yang nilainya mepet KKM. Tegak banget! Wangi oud-nya bikin gue ngerasa harus langsung taubat nasuha saat itu juga."

Yuma tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang kaku.

"Jadi, gimana? Rencana kita kabur ke desa terpencil dan ganti nama jadi Romlah masih jalan?"

Kanza menatap sisa es batu di gelasnya dengan tatapan melankolis yang dalam.

"Kayaknya nggak bisa, Yum. Persembunyian di manapun bakal ketemu kalau lawannya modelan 'Uztad Kaku' kayak dia. Dia punya buku catatan, Yum! Buku catatan! Jangan-jangan semua kesalahan tata krama gue tadi malam langsung dicatat buat bahan evaluasi mingguan di depan Abi."

"Tapi ganteng nggak?" tanya Yuma penasaran, menyikut lengan Kanza.

Kanza terdiam sejenak. Bayangan wajah Hanan yang tenang, sorot matanya yang teduh, dan tawa renyahnya saat dipanggil "Ustaz" melintas sekilas.

"Ya... kalau di drakor sih, dia tipe pemeran utama yang bakal bikin penonton kena second lead syndrome saking sempurnanya. Tapi tetep aja, Yum! Gue belum siap kalau tiap sore diajak diskusi soal strategi pendidikan nasional daripada diskusi soal ending drama China!"

Kanza hanya bisa mendesah pasrah, menyadari bahwa hidupnya yang biasanya "setel kendor" kini harus berhadapan dengan seseorang yang "setel kencang".

Sebuah awal dari drama kehidupan baru yang naskahnya sama sekali tidak pernah ia tulis sendiri.

~~~NEXT~~~

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!