NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utusan dari Langit

Aelora belum pernah melihat malaikat turun dari langit.

Dalam buku-buku Gereja Fajar, kedatangan mereka selalu digambarkan indah. Awan akan terbelah, bunga-bunga bermekaran, dan manusia berlutut karena cahaya suci memenuhi bumi.

Kenyataannya, bunga-bunga di halaman Istana Bulan Merah justru menutup kelopak.

Burung malam meninggalkan kandang dan bersembunyi di bawah atap. Patung-patung gargoyle menundukkan kepala, bukan untuk memberi hormat, melainkan melindungi mata.

Cahaya putih menggantung di atas halaman seperti matahari kedua.

Aelora berdiri di balik jendela lorong, memandang tiga sosok yang baru mendarat di antara barisan penjaga Nocthara. Mereka tidak turun menggunakan tangga cahaya atau kereta emas. Mereka hanya muncul dari lingkaran putih, seolah langit membuka lubang dan menjatuhkan mereka ke dunia bawah.

Kael berdiri di sebelahnya dengan satu tangan masih memegang pecahan cermin dari ruang bawah tanah.

“Apakah mereka semua punya sayap?” tanya Aelora.

“Biasanya.”

“Berapa banyak?”

“Bergantung pangkat.”

Sosok paling depan memiliki empat sayap. Dua terbuka lebar di belakang punggungnya, sedangkan dua lainnya terlipat rapat di pinggang seperti lapisan mantel. Ia seorang perempuan berambut keemasan yang dikepang panjang sampai pinggul. Pakaiannya putih, tetapi bukan gaun. Bentuknya menyerupai pakaian perang, lengkap dengan pelindung dada dan sabuk perak.

Dua malaikat lain berdiri di belakangnya.

Yang pertama membawa tongkat panjang dan gulungan-gulungan dokumen. Ia hanya memiliki dua sayap.

Yang kedua mengenakan topeng putih tanpa lubang mulut. Keenam sayapnya tertutup kain abu-abu, tetapi ujung bulunya masih terlihat.

Aelora menempelkan dahinya ke kaca.

“Yang bertopeng punya enam.”

“Aku bisa menghitung.”

“Seraphiel juga enam.”

“Ya.”

“Berarti dia sama kuat?”

“Jumlah sayap menunjukkan kedudukan dan kapasitas cahaya. Bukan jaminan bahwa seseorang tahu cara menggunakannya.”

Aelora menoleh. “Kau pernah menang melawan malaikat bersayap enam?”

“Pernah.”

“Berapa kali?”

“Cukup.”

“Apakah Seraphiel salah satunya?”

Kael memasukkan pecahan cermin ke saku mantel. “Kita sedang tidak membahas itu.”

“Itu berarti iya.”

Kael menatapnya, tetapi tidak membantah.

Di halaman, perempuan bersayap empat mengangkat kepala. Meskipun terpisah beberapa lantai dan kaca tebal, matanya langsung menemukan Aelora.

Cahaya di sekelilingnya berubah.

Tidak membesar, hanya bergeser halus seperti api yang ditiup angin.

“Aku rasa dia melihatku,” kata Aelora.

“Menjauh dari jendela.”

Kael menarik tirai sebelum Aelora sempat protes.

Lorong menjadi lebih gelap. Para penjaga yang menunggu di dekat tangga tampak tegang. Beberapa mengenakan pelindung mata dari kaca hitam. Salah seorang masih memegang tombak dengan tangan gemetar.

“Yang Mulia,” kata Komandan Daren, “mereka menolak menyerahkan senjata.”

“Berapa?”

“Perempuan di depan membawa pedang cahaya. Yang bertopeng tidak terlihat membawa apa pun, tapi saya lebih khawatir kepadanya.”

“Bagus. Berarti penilaianmu masih bekerja.”

Daren menunggu perintah.

Kael memandang Aelora. “Kau kembali ke kamar.”

“Tidak.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Aku sudah tahu akhirnya.”

“Kau baru saja hampir ditarik ke dalam cermin.”

“Dan sekarang mereka datang mencariku.”

“Itulah alasan kau tidak berada di ruang pertemuan.”

Aelora menggenggam bulu Seraphiel yang tadi diselipkan di dalam lengan bajunya. Pangkal hitamnya terasa hangat di kulit.

“Mereka meminta bertemu putri Seraphiel. Kalau aku tidak muncul, mereka akan tahu kau menyembunyikanku.”

“Aku memang menyembunyikanmu.”

“Kael.”

“Aelora.”

Daren memandang lurus ke depan. Dua penjaga lain tiba-tiba terlihat sangat tertarik pada dinding.

Aelora melipat tangan. “Aku harus mendengar apa yang mereka tahu tentang Ayah.”

“Mereka mungkin datang untuk mengambilmu.”

“Kalau begitu lebih baik aku melihat wajah mereka saat berbohong.”

“Kau tujuh tahun.”

“Aku tetap bisa melihat orang berbohong.”

“Kemarin kau percaya cermin yang memakai suara ayahmu.”

“Hanya sebentar.”

“Sebentar sudah cukup untuk membuatmu hampir kehilangan tubuh.”

Aelora menggigit bibir. Sulit membantah sesuatu yang memang baru terjadi.

Kael berjongkok agar sejajar dengannya.

“Kau boleh masuk setelah aku memastikan mereka tidak membawa pengikat jiwa, segel pemanggilan, atau perintah penahanan.”

“Berapa lama?”

“Tidak lama.”

“Semua orang selalu bilang begitu.”

“Aku akan mengirim Daren.”

“Daren tidak akan berani menyuruhmu cepat.”

Komandan itu tetap menatap dinding, tetapi salah satu alisnya bergerak.

Kael mengusap wajah.

“Sepuluh menit.”

“Lima.”

“Sepuluh.”

“Tujuh.”

“Delapan.”

Aelora berpikir sejenak. “Baik.”

Kael berdiri. “Dan kau menunggu di ruang samping bersama Eirna.”

“Aku tidak kabur.”

“Itu bukan janji.”

“Aku berjanji tidak masuk sebelum dipanggil.”

Kael melihat jari Aelora yang bersilangan di belakang Piko.

“Kedua tangan di depan.”

Aelora memindahkan tangannya dengan kesal.

“Aku berjanji.”

Ruang penerimaan kerajaan telah dipersiapkan dalam waktu kurang dari lima menit.

Tirai-tirai putih yang biasa digunakan untuk tamu Asteria diturunkan dan diganti dengan kain hitam. Semua benda suci dipindahkan. Rune penolak cahaya diaktifkan pada lantai dan langit-langit.

Kael duduk di kursi takhta sederhana, bukan takhta utama. Ia sengaja memilih ruangan kecil agar para utusan tidak memiliki cukup tempat untuk membuka sayap sepenuhnya.

Perempuan bersayap empat masuk lebih dulu.

Ia tidak membungkuk.

Kael juga tidak berdiri.

“Kepada Kael Vesperion, Raja Nocthara,” katanya. “Saya Elianor dari Pengadilan Sayap Ketiga.”

“Namaku tidak berubah sejak terakhir kali Elyrion mengirim ancaman.”

Elianor tidak menunjukkan rasa tersinggung. “Kami tidak datang membawa ancaman.”

“Pengawal bersayap enammu mengatakan hal berbeda.”

Sosok bertopeng berhenti di belakang Elianor. Keenam sayapnya bergerak sedikit, membuat udara ruangan terasa lebih panas.

“Dia tidak bicara,” kata Elianor.

“Justru itu yang mencurigakan.”

Malaikat pembawa dokumen melangkah maju. “Kami membawa surat pengakuan resmi dari Dewan Langit.”

Ia mengangkat gulungan, tetapi Daren segera menghalangi.

“Letakkan di meja.”

“Itu harus diterima langsung oleh Raja.”

“Kalau begitu bawa pulang.”

Malaikat tersebut memandang Elianor. Setelah mendapat anggukan, ia meletakkan gulungan di meja panjang di antara mereka.

Ahli rune Nocthara memeriksanya. Kristal yang digunakan bergetar, tetapi tidak pecah.

“Hanya segel pembaca,” katanya. “Tidak ada serangan.”

Kael tidak menyentuh surat tersebut.

“Kenapa kalian datang?”

Elianor memandangnya lurus-lurus. “Dua jam lalu, lonceng darah di Elyrion berbunyi. Nama Seraphiel muncul kembali dalam daftar garis hidup.”

“Seraphiel mati menurut catatan kalian.”

“Itulah yang kami percayai.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang kami tahu darahnya masih berjalan di dunia.”

Kael bersandar. “Kalian membutuhkan lonceng untuk memahami bahwa dia memiliki anak?”

“Keberadaan anak itu disembunyikan oleh segel tingkat tinggi. Bahkan dari kami.”

“Kalian mengejar Mirael sampai perbatasanku tujuh tahun lalu.”

Wajah Elianor tetap tenang, tetapi dua sayap bawahnya menegang.

“Saya tidak berada dalam rombongan itu.”

“Elyrion berada.”

“Perintah tersebut dikeluarkan oleh Pengadilan Sayap Pertama.”

“Perbedaan pengadilan tidak berarti apa-apa bagi orang yang hampir dibakar pasukan kalian.”

“Bagi kami, perbedaannya berarti pengkhianatan.”

Kael menyipitkan mata.

Elianor melanjutkan, “Tidak pernah ada keputusan sah untuk membunuh Mirael Arvand atau anaknya.”

“Perjanjian yang kalian paksa kutandatangani cukup sah untuk membakar tanganku.”

“Perjanjian itu tidak tercatat dalam Arsip Langit.”

Kael tidak bergerak.

“Jangan berbohong di istanaku.”

“Saya tidak berbohong.”

Elianor mengulurkan tangan. Sebuah lingkaran cahaya muncul di atas telapak tangannya, lalu membentuk salinan kitab besar. Halaman-halamannya terbuka sendiri.

“Setiap ikatan yang dibuat atas nama Elyrion meninggalkan bekas di sini. Tidak ada nama Kael Vesperion, Mirael Arvand, atau anak Seraphiel dalam catatan tujuh tahun lalu.”

“Berarti arsipmu dapat diubah.”

“Tidak oleh malaikat biasa.”

“Siapa yang bisa?”

Elianor melihat sosok bertopeng di belakangnya.

“Pemegang Takhta Matahari.”

Kael mengetukkan satu jari ke sandaran kursi. “Kalian punya terlalu banyak takhta.”

“Dan Nocthara punya terlalu banyak klan. Kita semua mewarisi kesalahan pendahulu.”

Kael tidak tertarik membahas kesamaan mereka.

“Kalau perjanjian itu palsu, lepaskan.”

Elianor terdiam.

“Itu tidak bisa dilakukan dari Elyrion.”

“Tentu.”

“Perjanjian tersebut memakai darah asli salah satu pemegang otoritas. Siapa pun yang membuatnya memalsukan catatan, bukan kekuatannya.”

“Jadi kalian datang tanpa kemampuan memperbaiki apa pun.”

“Kami datang untuk memastikan keselamatan anak Seraphiel.”

Kael tertawa pendek, tanpa humor.

“Dia aman sebelum kalian turun.”

“Apakah itu sebabnya jejak jiwanya terbuka melalui cermin terlarang?”

Ruangan langsung menjadi lebih dingin.

Daren memegang gagang pedangnya.

Kael berdiri perlahan. “Dari mana kau tahu?”

“Gelombangnya terasa sampai Elyrion.”

“Kalian mengawasi istana?”

“Tidak. Darah Seraphiel menyentuh Jalur Pantulan. Semua malaikat tinggi merasakannya.”

Elianor melihat ke arah pintu samping.

Tempat Aelora menunggu.

“Dia mendengar kita, bukan?”

Kael tidak menjawab.

Di ruang kecil sebelah aula, Aelora menempelkan telinga pada dinding.

Eirna duduk tidak jauh darinya, berpura-pura membaca buku. Sejak awal tabib itu sudah tahu Aelora menguping, tetapi belum menghentikan.

“Mereka bilang perjanjiannya palsu,” bisik Aelora.

“Saya mendengar.”

“Berarti Kael tidak harus menyerahkanku.”

“Belum tentu. Perjanjian sihir tetap bekerja meski dibuat secara ilegal.”

“Itu tidak adil.”

“Sihir tidak mengenal adil. Hanya syarat dan akibat.”

Aelora menatap bulu di tangannya.

Dari aula, suara Elianor kembali terdengar.

“Kami meminta izin memeriksa identitasnya. Tidak lebih.”

Kael menjawab, “Tidak.”

“Pemeriksaan dilakukan tanpa darah.”

“Tidak.”

“Tanpa sentuhan.”

“Tidak.”

“Raja Kael—”

“Apakah bahasa Nocthara terlalu rumit?”

Elianor menarik napas.

“Kami perlu mengetahui apakah dia benar-benar anak Seraphiel atau wadah yang dibuat menggunakan darahnya.”

Aelora menoleh kepada Eirna. “Wadah?”

Tabib itu menutup bukunya.

“Tubuh buatan.”

“Aku tubuh buatan?”

“Tidak.”

“Kau menjawab terlalu cepat.”

“Karena saya sudah memeriksa tubuhmu. Kau manusia, meskipun garis darahmu tidak sepenuhnya manusia.”

Aelora kembali mendengarkan.

Elianor berkata, “Kalau dia anak yang asli, hukum Elyrion melindunginya.”

“Seperti melindungi ayahnya?”

Ada jeda.

Aelora merasakan jantungnya berdebar lebih cepat.

“Seraphiel masih hidup?” tanya Kael.

“Catatan kami menyatakan dia mati tujuh tahun lalu.”

“Itu bukan pertanyaanku.”

Elianor tidak menjawab.

Aelora sudah cukup.

Ia membuka pintu.

Eirna berdiri. “Aelora.”

“Aku berjanji menunggu sampai dipanggil. Aku tidak berjanji tetap menunggu kalau mereka berbohong.”

“Kael akan marah.”

“Dia sudah sering.”

Aelora berjalan masuk ke aula sebelum penjaga sempat mencegah.

Semua kepala berbalik kepadanya.

Elianor berhenti bernapas sesaat.

Malaikat pembawa dokumen langsung berlutut. Bahkan sosok bertopeng menurunkan kepala, meskipun tidak sampai berlutut.

Kael memandang Aelora dengan wajah datar.

“Delapan menit belum selesai.”

“Mereka terasa panjang.”

“Kembali.”

“Aku mau bertanya.”

“Aelora.”

Ia tidak mengalihkan pandangan dari Elianor.

“Apakah Seraphiel masih hidup?”

Perempuan bersayap empat itu memandang rambut putih Aelora, mata ungunya, lalu gelang Mirael di pergelangan tangannya.

Ekspresinya berubah.

Tidak banyak. Hanya sedikit rasa sedih di sekitar mata.

“Saya tidak tahu.”

“Jawaban itu sama dengan jawaban Kael.”

Kael mengangkat alis. “Kenapa aku ikut disalahkan?”

Aelora tidak memedulikannya.

“Aku melihat seseorang dirantai di bawah Katedral Fajar. Dia punya enam bekas sayap.”

Malaikat pembawa dokumen mengangkat kepala dengan cepat.

Elianor tetap diam.

Aelora melihat reaksinya.

“Kau tahu tempat itu.”

“Saya tahu Katedral Fajar.”

“Ruang Bawah Ketujuh?”

Sayap Elianor bergerak.

Itu jawaban yang lebih jelas daripada kata-kata.

“Apa yang ada di sana?” tanya Aelora.

“Tidak ada yang seharusnya diketahui seorang anak.”

“Aku anak yang mungkin ayahnya dikurung di sana.”

Elianor memejamkan mata sebentar.

“Ruang Bawah Ketujuh dibangun untuk menyimpan benda atau makhluk yang tidak boleh terhubung dengan Elyrion.”

“Apakah Seraphiel ada di sana?”

“Saya tidak pernah masuk.”

“Siapa yang bisa?”

“Pemimpin Gereja Fajar dan pemegang kunci dari Pengadilan Sayap Pertama.”

Kael melangkah turun dari kursi takhta.

“Namanya.”

Elianor menatapnya. “Pemegang kunci saat ini bernama Asterion.”

Aelora merasa pernah mendengar nama itu, tetapi tidak ingat dari mana.

Kael tampak mengenalnya.

“Dia masih hidup?”

“Kenapa kau bertanya begitu?” Elianor balik bertanya.

“Karena aku membunuh Asterion dua belas tahun lalu.”

Keheningan jatuh di dalam aula.

Malaikat pembawa dokumen perlahan berdiri. “Itu tidak mungkin.”

“Aku melihat tubuhnya berubah menjadi abu.”

Elianor memandang sosok bertopeng.

“Buka penutup wajahmu,” perintahnya.

Malaikat bersayap enam tidak bergerak.

Kael membentuk bilah bayangan.

“Aku juga penasaran.”

Elianor menghadap pengawalnya sepenuhnya. “Penjaga Caelum. Lepaskan topeng.”

Sosok itu tetap diam.

Tangannya yang selama ini tersembunyi di bawah kain abu-abu keluar sedikit.

Pada jari manisnya terdapat cincin emas.

Lambangnya matahari yang terbelah dua.

Aelora mengenalinya.

“Itu dia.”

Semua orang menoleh kepadanya.

Aelora menunjuk cincin tersebut.

“Orang yang menerima aku dari Peniru memakai cincin seperti itu.”

Malaikat bertopeng mundur satu langkah.

Daren dan para penjaga Nocthara langsung mengangkat senjata.

Elianor merentangkan sayapnya, memotong jalan keluar.

“Siapa kau?”

Sosok itu tertawa dari balik topeng.

Suara yang keluar bukan satu suara.

Ada suara laki-laki, perempuan, tua, dan muda bercampur di dalamnya.

Sama seperti Peniru.

“Aku sudah mengatakan,” katanya sambil memandang Aelora, “dia lebih dekat daripada yang kalian kira.”

Tangannya terangkat.

Cincin matahari terbelah menyala.

Kael bergerak lebih cepat. Bayangannya menyambar seperti tombak, tetapi sosok bertopeng memecah tubuhnya menjadi ratusan bulu putih.

Bulu-bulu tersebut beterbangan ke seluruh ruangan.

Setiap helai yang menyentuh lantai berubah menjadi sosok bersayap enam.

Dalam hitungan detik, puluhan malaikat bertopeng mengelilingi aula.

“Ilusi!” seru Elianor.

“Bukan,” jawab Eirna dari pintu samping. “Setiap tubuh punya denyut sihir.”

Aelora mundur mendekati Kael.

Puluhan kepala bertopeng menoleh kepadanya bersamaan.

“Putri Seraphiel,” kata mereka dengan satu suara. “Gerbang sudah mengenali darahmu.”

Kael berdiri di depan Aelora.

“Sentuh dia dan aku akan merobek seluruh jalan menuju Elyrion.”

Semua sosok itu tertawa.

“Kau masih berpikir kami ingin membawanya ke Surga?”

Cincin-cincin mereka menyala bersamaan.

Di bawah kaki Aelora, simbol Gerbang Tiga Dunia mulai terbentuk.

“Tidak,” kata para peniru. “Kami hanya perlu dia membuka pintu dari sini.”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!