NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28

Raina dan Richard baru menghentikan langkah ketika sudah berada di depan musala keluarga. Keduanya sama-sama menoleh ke belakang, memastikan Raymond tidak mengikuti mereka.

"Udah aman?" bisik Raina. Richard mengintip ke arah lorong.

"Aman." Raina mengembuskan napas lega.

"Ya ampun... hampir aja ketahuan." Richard mengangguk setuju.

"Aku baru pertama kali lihat Kak Raymond ngelihatin cewek sehalus itu."

"Terus bawain minuman hangat lagi."

"Iya." Raina tiba-tiba memegang dagunya.

"Richard."

"Hm?"

"Menurutmu... kita perlu kasih tahu Mama nggak?" Mata Richard langsung membulat.

"Jangan!"

"Lho, kenapa?"

"Kalau Mama tahu..." Keduanya saling berpandangan. Lalu, tanpa dikomando, mereka membayangkan reaksi Mama mereka.

Di dalam imajinasi mereka, diana berteriak histeris sambil memeluk Angela.

"Ya ampun! Calon menantu Mama akhirnya berhasil meluluhkan hati Raymond!" Edward yang sedang membaca koran langsung berdiri.

"Apa? Persiapkan aula! Kita rayakan hari bersejarah ini!" Bahkan Kakek Wijaya ikut tertawa sambil mengangkat tongkatnya.

"Akhirnya cucuku normal juga!"

---

"HAHAHAHA!"

Richard spontan tertawa sampai memegangi perut. Raina ikut menahan tawa.

"Jangan keras-keras!"

"Aku kebayang wajah Mama kalau tahu, Pasti langsung nyuruh dekorasi rumah."

"Terus bilang, 'Buruan tentukan tanggal nikah!' . Keduanya tertawa pelan agar tidak mengganggu orang lain. Namun, di tengah tawa itu, Suara berat seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang

"Tanggal nikah siapa?" Raina dan Richard sontak membeku.

Perlahan, bahkan sangat pelan, mereka menoleh. Edward Wijaya berdiri di sana dengan baju koko abu-abu dan peci hitam. Di sampingnya, Diana yang baru selesai mengenakan mukena menatap kedua anaknya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Wah, wah..." Diana menyipitkan mata. "Kalian berdua lagi ngomongin siapa, nih?"

"Nggak ada, Ma," jawab Raina cepat.

"Iya, Ma. Cuma bercanda," timpal Richard sambil tersenyum kaku. Diana menatap keduanya bergantian.

"Perasaan wajah kalian mencurigakan."

"Nggak kok."

"Iya." Edward hanya menggeleng kecil melihat tingkah kedua anaknya.

"Sudah, ayo salat dulu."

"Iya, Pa." Keduanya mengangguk cepat.

Namun, tepat saat mereka hendak masuk ke mushola, Diana kembali memanggil.

"Richard."

"I-iya, Ma?"

"Kamu kalau bohong, telinga kananmu suka merah." Refleks Richard memegang telinganya sendiri.

"Hah?" Melihat reaksi spontan itu, Diana langsung terkekeh.

"Ketahuan." Raina menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Ya Allah... Richard." Richard baru sadar dirinya baru saja menjebak diri sendiri.

"Mama ngerjain aku, ya?" Diana tertawa kecil sambil mengangguk.

"Iya." Edward sampai menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Sudahlah. Setelah salat baru cerita." Mendengar kalimat itu, Raina dan Richard kembali saling pandang.

Selesai salat?

Waduh...

Kalau sampai Mama benar-benar menginterogasi mereka, rasanya rahasia Raymond yang diam-diam membuatkan air jahe untuk Angela tidak akan bertahan sampai matahari terbit.

Salat Subuh berjamaah akhirnya selesai dilaksanakan. Suasana musala keluarga kembali tenang. Satu per satu anggota keluarga bangkit dari tempatnya, lalu saling bersalaman. Aroma sajadah yang masih bersih bercampur dengan harum kayu gaharu dari pengharum ruangan, menciptakan suasana pagi yang damai.

Raymond berdiri paling depan. Seperti biasa, wajahnya tetap tenang dan sulit ditebak. Ia menyalami ayah, ibu, kakek, lalu melangkah keluar menuju teras musala.

Di sisi lain, Raina dan Richard justru tampak gelisah. Keduanya saling melirik, lalu sama-sama mengembuskan napas pelan.

"Ra..." bisik Richard sambil menarik ujung lengan mukena kakaknya. "Kita aman, kan?"

Raina langsung melotot.

"Aman apanya? Gara-gara mulut Lo, sekarang Mama pasti penasaran."

"Hehe... tadi nggak sengaja." Richard nyengir kaku.

"Nggak sengaja dari mana? Mulut Lo itu nggak ada remnya." Belum sempat Richard membalas, Diana sudah berjalan menghampiri mereka sambil melipat mukena dengan senyum yang terlalu manis untuk diabaikan.

"Nah..." ucapnya lembut. Raina dan Richard langsung berdiri tegak. "Sekarang cerita."

Raina berusaha tersenyum polos.

"Cerita apa, Ma?" Diana mengangkat sebelah alis.

"Jangan pura-pura lupa." Richard langsung menoleh ke arah langit-langit musala, pura-pura mengagumi lampu gantung.

"Wah... lampunya bagus ya."

"Richard."

"Iya, Ma?"

"Itu lampu dari tiga tahun lalu."

"Oh..." Richard langsung menunduk malu.

Edward yang berdiri di samping istrinya sampai menggeleng kecil sambil menahan senyum.

"Dari tadi Daddy perhatikan," katanya tenang. "Kalian berdua seperti menyembunyikan sesuatu."

"Nggak kok, Dad," jawab Raina cepat sambil mengibas-ngibaskan tangan.

"Iya, nggak ada apa-apa." Diana menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Oh ya?" Kedua bersaudara itu mengangguk kompak.

"Iya."

"Lalu kenapa tadi Mama dengar ada yang ngomong soal tanggal nikah?" Seketika wajah Richard berubah panik. Raina refleks menginjak kaki adiknya.

"Aduh!" Richard meringis sambil mengusap kakinya.

"Makanya kalau ngomong dipikir dulu," desis Raina pelan. Edward terkekeh kecil.

"Daddy kasih kesempatan sekali lagi." Beliau menatap keduanya bergantian.

"Jujur." Richard menoleh ke arah Raina meminta izin. Raina menggeleng sekuat tenaga.

Jangan!

Richard mengangkat kedua bahunya seolah berkata, aku nggak kuat lagi.

"Oke..." katanya pasrah sambil mengangkat kedua tangan. "Tapi Mama jangan heboh."

Diana langsung mengangguk cepat.

"Iya, iya. Mama janji."

"Serius?"

"Serius." Richard menarik napas panjang.

"Tadi aku sama Kak Raina lihat..." Belum selesai berbicara, Raina buru-buru menutup mulut Richard dengan kedua telapak tangannya.

"Mmff... mmph!"

"Richard, diem!" bisiknya panik. Diana sampai memajukan tubuhnya karena semakin penasaran.

"Ya ampun, memang seheboh apa sih?"

Richard akhirnya berhasil melepaskan tangan kakaknya. Ia mengambil napas panjang sebelum berkata pelan,

"Kak Raymond..." Raina langsung memejamkan mata. "...masuk ke kamar kak Angela." Suasana mendadak hening, Diana berkedip beberapa kali. Edward yang semula santai kini ikut mengangkat wajahnya.

Bahkan Bu Sulastri, yang baru datang membawa termos air hangat, spontan menghentikan langkahnya.

"Hah?" Diana berseru pelan. "Raymond masuk ke kamar Angela?" Richard mengangguk mantap.

"Iya, Ma."

"Terus ngapain?" Richard tersenyum jahil.

"Ngebangunin Angela?" tebak Diana. Richard menggeleng.

"Nganterin sarapan?" tebak Edward.

"Juga bukan." Raina menepuk dahinya pelan.

"Richard, cepat selesaiin." Richard sengaja menggantung jawabannya beberapa detik, membuat Diana semakin penasaran.

"Lalu...?" desak Diana.

"Kak Raymond bawain Angela segelas air jahe hangat." Mata Diana langsung membulat.

"Air jahe?"

"Iya."

"Dibikinin Bi Rini?" Richard terkekeh kecil.

"Nah, itu dia yang bikin kami syok."

"Kenapa?"

"Soalnya..." Ia menunjuk pelan ke arah Raymond yang sedang berbincang santai dengan Kakek Wijaya di halaman.

"...yang bikin air jahenya itu Kak Raymond sendiri."

"APA?!" Diana spontan menutup mulutnya sendiri setelah sadar suaranya terlalu keras.

Edward sampai berdeham sambil menahan tawa.

"Santai, Man."

"Gimana Mama bisa santai?" bisik Diana heboh. "Raymond masuk dapur, lho! Itu lebih langka daripada gerhana matahari." Richard mengangguk penuh semangat.

"Makanya tadi aku bilang dunia hampir kiamat."

Plak!

Raina kembali menjitak kepala adiknya.

"Au!"

"Bisa nggak sih ngomong yang normal?"

"Aku cuma bercanda."

Bu Sulastri tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kakak beradik itu.

"Sejujurnya, Aku juga kaget, Diana. Aku sendiri tidak menyangka kalau anakmu sampai membuatkan Angela air jahe."

Diana langsung menggenggam kedua tangan sahabatnya dengan mata berbinar.

"lastri, menurut mu, ini pertanda baik, kan?"

Bu Sulastri tersenyum malu.

"Aku, tidak berani menyimpulkan, Di"

Sementara itu, Raymond yang merasa terus diperhatikan akhirnya menoleh ke arah mereka. Ia mengernyit pelan.

"Ada apa?" Semua orang langsung menggeleng kompak.

"Nggak ada!" jawab mereka hampir bersamaan. Raymond menyipitkan mata, jelas tidak percaya. Tatapannya kemudian beralih kepada Richard yang mendadak salah tingkah.

"Kamu." Richard refleks berdiri tegak.

"Iya, Kak?"

"Kamu ngomong apa lagi?" Richard tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Hehe... nggak ngomong apa-apa kok."

Raymond hanya menghela napas kecil. Meski tidak tahu apa yang sedang diributkan keluarganya, firasatnya mengatakan bahwa nama Angela pasti menjadi pusat pembicaraan pagi itu.

Raymond masih menatap Richard beberapa detik. Tatapannya tajam, tetapi tidak benar-benar mengintimidasi. Justru itu yang membuat Richard semakin gugup.

"Yakin nggak ngomong apa-apa?" tanya Raymond datar. Richard langsung mengangguk cepat.

"Yakin, Kak."

"Seratus persen?"

"Seribu persen." Raymond mengangkat sebelah alis.

"Kalau begitu, kenapa wajahmu kelihatan seperti habis ketahuan nyontek?"

"Eh..." Richard kehilangan kata-kata.

Raina yang berdiri di sampingnya langsung menyenggol siku adiknya.

"Makanya, lain kali jangan kepo." Richard meringis pelan.

"Bukannya kepo... cuma nggak sengaja lihat."

"Nggak sengaja lihat sampai ngintip dua kali?"

"Itu buat memastikan."

"Memastikan apa?"

"Kalau mataku masih normal." Raina memutar bola matanya malas.

"Alasan."

Melihat kedua adiknya kembali berdebat, Raymond hanya mengembuskan napas pelan. Ia terlalu mengenal sifat mereka. Kalau dibiarkan, perdebatan receh seperti itu bisa berlangsung sampai sarapan.

"Kalian berdua." Raina dan Richard langsung diam.

"Iya, Kak."

"Sudah selesai?"

"Sudah."

"Kalau sudah, bantu Bi Rini menyiapkan meja makan."

"Iya, Kak."

Keduanya menjawab serempak, tetapi baru melangkah dua langkah, Richard kembali menoleh.

"Kak..."

"Apa lagi?" Richard tersenyum usil.

"Air jahenya enak, nggak?" Raina refleks memukul pelan lengan adiknya.

"Richard!"

Raymond terdiam sejenak. Sorot matanya berubah datar, membuat Richard buru-buru mundur selangkah.

"Nanya aja kok serius amat..." Bukannya menjawab, Raymond justru melangkah mendekati Richard, Setiap langkahnya membuat Richard ikut mundur.

"K-kak... santai, Kak." Raymond berhenti tepat di depan adiknya.

"Kalau kamu masih banyak waktu buat ngurusin urusan orang lain," Ia menepuk pelan bahu Richard. "_berarti nanti pagi kamu yang bantu Pak Darto bersihin halaman depan."

Senyum Richard langsung menghilang.

"Hah? Aku ada kuliah pagi, kak," protes Richard.

"Sekalian cuci mobil."

"Lho, kok hukumannya nambah?"

"Masih mau protes?" Richard buru-buru menggeleng.

"Nggak, Kak."

"Bagus." Raymond berbalik meninggalkan mereka. Begitu sosok kakaknya menjauh, Richard langsung memasang wajah memelas.

"Kak Raina..."

"Hm?"

"Menurutmu ... aku tadi kebanyakan ngomong, ya?" Raina melipat kedua tangan di depan dada.

"Bukan kebanyakan."

"Lalu?"

"Kebangetan." Richard menghela napas panjang.

"Padahal aku cuma penasaran."

"Itulah penyakitmu."

"Tapi Kak Raymond memang berubah, kan?"

Raina tersenyum tipis sambil melirik ke arah Raymond yang berjalan menuju ruang makan.

"Iya."

"Banget."

"Selama ini aku belum pernah lihat dia perhatian sama perempuan." Richard mengangguk setuju.

"Jangan-jangan__." Raina sengajaenggantybg kalimatnya di udara, Raina menoleh.

"Apa lagi?" Richard menyeringai.

"Sebentar lagi kita manggil Angela..."Raina ikut mendekat. "...Kakak ipar."

Belum sempat mereka tertawa, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang.

"Kalau kalian nggak segera ke ruang makan, hukuman bersihin halamannya saya tambah."

Keduanya menoleh bersamaan.

Raymond berdiri di ambang pintu tanpa diketahui sejak kapan.

"Waduh!" Richard langsung menarik tangan Raina.

"Lari!"

Keduanya berlari menuju ruang makan sambil tertawa. Melihat tingkah adik-adiknya, Raymond hanya menggeleng kecil. Meski wajahnya masih tampak datar, sudut bibirnya sempat terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Diana. Wanita itu menyenggol pelan lengan Edward sambil berbisik penuh arti.

"Mas..."

"Hm?"

"Kamu lihat?"

"Lihat apa?"

"Raymond, barusan senyum." Diana tersenyum penuh kemenangan. Edward mengikuti arah pandang istrinya. Sesaat kemudian, ia ikut tersenyum tipis.

"Sepertinya... Tidak lama lagi, rumah ini memang akan segera kedatangan anggota keluarga baru." Diana menahan senyum lebarnya, sementara di lantai atas, Angela yang masih beristirahat sama sekali belum menyadari bahwa sejak pagi namanya terus menjadi bahan pembicaraan keluarga Wijaya.

Beberapa menit kemudian, aroma berbagai hidangan hangat mulai memenuhi ruang makan. Bi Min bersama para pelayan sibuk menata meja panjang yang sudah dipenuhi bubur ayam, lontong sayur, telur rebus, roti panggang, buah-buahan segar, hingga segelas susu dan teh hangat untuk setiap anggota keluarga.

Richard dan Raina yang tadi berlari kini sudah duduk manis seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, keduanya sesekali masih melirik ke arah Raymond yang duduk dengan tenang di ujung meja. Tatapan mereka seperti dua wartawan yang sedang mengamati narasumber utama.

Raymond menyadari itu, tanpa mengangkat kepala dari piringnya, ia berkata datar,

"Kalau kalian terus lihat ke sini, makanan kalian nggak bakal habis sendiri." Raina langsung pura-pura fokus mengupas telur rebus.

"Hehe... nggak kok, Kak."

Richard bahkan langsung menyuapkan sepotong roti ke mulutnya.

"Iya, Kak. Aku lagi lapar." Raymond hanya menggeleng pelan.

Tak lama kemudian, Bu Sulastri memasuki ruang makan.

"Lastri sini duduk," sapa Diana ramah sambil menarikkan kursi di sebelahnya.

"Terima kasih, Di"

"Angela bagaimana?" tanya Edward. Bu Sulastri tersenyum tipis.

"Masih istirahat, tadi rasa sakitnya lumayan hebat." Diana mengangguk penuh pengertian.

"Kalau begitu nanti biar dia bangun agak siang saja."

"Iya, Di."

Percakapan itu membuat Raymond yang sedang menyendok bubur berhenti sesaat. Meski tidak ikut berbicara, ia jelas mendengarkan. Diana yang duduk tepat di hadapannya menangkap gerakan kecil itu.

Senyumnya langsung mengembang.

"Raymond."

"Hm?"

"Nanti setelah sarapan, tolong anterin Angela ke dokter, ya?" Raymond mengangkat wajah.

Belum sempat Raymond menjawab, Angela yang baru saja turun tangga terdengar berseru pelan,

"Nggak usah, Tante."

Semua kepala spontan menoleh. Angela berjalan perlahan sambil memegang perutnya. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tetapi kondisinya terlihat jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

"Nduk!" Bu Sulastri buru-buru berdiri. "Kenapa bangun? Bukannya Ibu suruh istirahat?"

Angela tersenyum kecil.

"Udah mendingan, Bu. Air jahenya manjur."

Ucapan itu membuat beberapa pasang mata langsung beralih ke Raymond. Pria itu tetap menyantap sarapannya seolah tidak mendengar apa-apa. Richard menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak tertawa. Raina sampai menundukkan kepala, pura-pura sibuk mengaduk teh. Diana berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya tetap normal.

"Syukurlah kalau sudah mendingan," katanya sambil mengangguk. Angela menarik kursi kosong.

"Maaf ya, semuanya. Angela bangunnya kesiangan."

"Nggak apa-apa," jawab Edward ramah. "Kesehatanmu lebih penting."

"Terima kasih, Om."

Saat Angela hendak mengambil mangkuk bubur yang letaknya agak jauh, sebuah tangan lebih dulu menggesernya ke depan Angela.

"Cukup?" Suara Raymond terdengar tenang.

Angela mendongak, sedikit terkejut.

"Iya... makasih." Raymond kembali duduk tanpa mengatakan apa-apa. Namun, pemandangan sederhana itu sudah cukup membuat Richard menahan napas.

Ia melirik Raina, lalu menggerakkan bibir tanpa suara.

Lihat... lihat...

Raina langsung mengangguk kecil.

Aku lihat!

Richard tak tahan lagi. Ia menyenggol pelan kaki kakaknya di bawah meja.

"Sakit!" bisik Raina sambil melotot.

"Ssst... mereka mulai lagi."

"Apa yang mulai?"

"Itu..." Richard menggerakkan dagunya ke arah Raymond dan Angela. Raina menatap ke sana.

Benar saja. Raymond diam-diam menuangkan segelas air hangat, lalu menggesernya ke dekat Angela.

"Nih." Angela tersenyum hangat.

"Makasih." Raymond hanya mengangguk singkat. Melihat itu, Richard refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Ya Allah..." bisiknya lirih.

Diana yang mendengar gumaman putranya segera menendang pelan kaki Richard di bawah meja.

"Aduh..."

"Jangan ganggu mereka," bisik Diana sambil menyipitkan mata. Richard mengangguk cepat.

"Iya, Ma." Meski begitu, senyum usil di wajahnya sama sekali tidak hilang.

Di dalam hati, ia yakin satu hal.

Kalau sikap Raymond terus seperti ini, bukan hanya dirinya dan Raina yang menyadarinya.

Cepat atau lambat, Angela pun pasti akan menyadari bahwa perhatian Raymond kepadanya bukan lagi perhatian biasa.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!