NovelToon NovelToon
Satu Triliun Untuk Semalam

Satu Triliun Untuk Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zahraal

Bagi Laras, gadis sederhana yang terjebak dalam lilitan utang besar demi menyelamatkan nyawa ayahnya, tawaran itu terdengar seperti mimpi buruk sekaligus satu-satunya jalan keluar. Pemberinya bukan orang sembarangan — Raka Dirgantara, pria terkaya dan paling berkuasa di negeri ini, dingin, penuh rahasia, dan dikenal tak pernah berhubungan lama dengan siapa pun.

“Kau hanya perlu menemaniku sampai matahari terbit. Setelah itu, kau bebas pergi dan uang itu sepenuhnya milikmu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahraal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cerita ditengah malam

Suasana di ruangan itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan saat Laras baru tiba. Di tengah cahaya redup dari lampu dinding dan nyala api perapian yang menari-nari, kehangatan perlahan menyelimuti udara yang tadinya terasa dingin dan kaku. Laras memegang gelas berisi teh hangat itu, merasakan kelembutannya menjalar hingga ke seluruh tubuhnya, sedikit demi sedikit menghilangkan rasa tegang yang menyelimuti dirinya sejak sore tadi.

Ia duduk dengan tenang di kursi empuk yang menghadap langsung ke perapian, sesekali melirik ke arah Raka yang sedang duduk bersila tidak jauh darinya. Pria itu kini terlihat jauh lebih santai, punggungnya bersandar pada sandaran kursi, matanya menatap nyala api seolah sedang teringat sesuatu yang jauh di masa lalu. Wajahnya yang tampan dan tegas kini terlihat lebih lembut, seolah semua beban dan topeng kekuasaan yang ia pakai sehari-hari perlahan terlepas di hadapan gadis asing ini.

“Kau pasti bertanya-tanya, mengapa aku rela mengeluarkan jumlah uang sebesar itu hanya untuk ditemani mengobrol semalam, bukan?” tanya Raka tiba-tiba, memecah keheningan yang terasa nyaman itu. Ia tidak menoleh, tapi suaranya terdengar jelas dan lembut.

Laras mengangkat wajah, mengangguk jujur tanpa ragu. “Memang itu yang ada di pikiran saya sejak awal, Tuan. Bagi orang biasa seperti saya, satu triliun rupiah adalah angka yang sulit dibayangkan. Terlalu besar hanya untuk sebuah percakapan.”

Raka tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa tulus tanpa ada rasa meremehkan. Ia menyesap sedikit minumannya, lalu akhirnya memutar kepalanya menatap Laras. Di balik matanya yang gelap itu, Laras kini bisa melihat kedalaman kesunyian yang selama ini tersembunyi dari pandangan dunia luar.

“Karena bagi orang sepertiku, uang tidak lagi menjadi masalah,” jawab Raka perlahan, suaranya terdengar agak berat. “Aku bisa membeli apa saja yang terjual di pasaran—mobil termahal, rumah paling megah, perhiasan berlian, bahkan nama baik orang-orang yang bersedia menjualnya. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan berapa pun jumlah uang, sekalipun satu triliun atau sepuluh triliun sekalipun.”

“Apa itu?” tanya Laras tanpa sadar, rasa penasarannya tumbuh menggantikan rasa takut yang tersisa.

“Kejujuran dan ketenangan hati,” jawab Raka lirih. Ia menatap api perapian lagi, seolah mulai membuka lembaran masa lalunya yang jarang diceritakan pada siapa pun. “Sejak ayahku meninggal lima tahun lalu, aku harus mengambil alih seluruh tanggung jawab ini. Dunia yang aku masuki bukanlah dunia yang indah. Setiap orang yang mendekatiku punya tujuan tersendiri—ada yang ingin jabatan, ada yang ingin uang, ada yang ingin memanfaatkan kekuasaanku. Tidak ada satu pun yang mau mendengarkanku apa adanya, atau melihatku hanya sebagai Raka, bukan sebagai pemilik kerajaan bisnis ini.”

Laras mendengarkan dengan saksama, matanya melebar sedikit menyadari sisi kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan. Selama ini ia hanya melihat Raka sebagai orang paling beruntung yang memiliki segalanya, namun ternyata di balik kekayaan itu tersandung kesepian yang mendalam.

“Jadi… malam ini kau butuh seseorang yang hanya mau mendengarkan, tanpa menghakimi dan tanpa meminta imbalan lain?” tanya Laras dengan nada lembut.

“Tepat sekali,” jawab Raka mengangguk. “Dan saat aku mendengar ceritamu—gadis yang berjuang mati-matian demi ayahnya, tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta lebih dari yang dibutuhkan—aku tahu kau adalah orang yang aku cari. Kau masih punya hati yang bersih, tidak terkontaminasi oleh keserakahan dan kepura-puraan dunia luar. Aku ingin bicara dengan seseorang yang tidak melihat angka kekayaanku saat menatapku.”

Kalimat itu membuat hati Laras terasa terenyuh. Ia baru menyadari bahwa posisi seseorang yang memiliki segalanya belum tentu lebih beruntung dibandingkan dirinya yang miskin namun masih memiliki ketulusan dan kedamaian hati.

“Tapi tetap saja jumlahnya terlalu besar, Tuan,” ujar Laras pelan. “Satu triliun itu bisa mengubah hidup saya selamanya. Saya merasa tidak pantas menerima sebanyak itu hanya karena duduk dan mendengarkan cerita.”

Raka menoleh menatapnya dalam, ada rasa tegas namun lembut di tatapannya. “Anggap saja sebagai ganti ketenangan yang kau berikan padaku malam ini. Selain itu… ada satu hal lagi yang membuatku ingin memberimu lebih dari sekadar biaya pengobatan.”

Ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan. Laras menunggu dengan sabar, merasakan bahwa Raka baru akan membuka rahasia yang lebih besar lagi.

“Sebelum ayahku meninggal, ia juga jatuh sakit parah, sama seperti ayahmu,” lanjut Raka perlahan, suaranya mulai terasa sedikit bergetar menahan perasaan. “Saat itu aku baru mulai memegang kendali perusahaan, sibuk mengurus ini dan itu, merasa bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya. Aku mengeluarkan biaya sebesar apa pun untuk pengobatan terbaik, tapi aku lupa satu hal terpenting—menemaninya, mendengarkan ceritanya, dan memberinya kehangatan di hari-hari terakhirnya. Aku terlalu sibuk mengejar kesuksesan, sampai akhirnya ia pergi tanpa sempat aku menghabiskan cukup waktu bersamanya.”

Air mata tanpa sadar menggenang di sudut mata Raka. Ia menyeka cepat, seolah tidak terbiasa menunjukkan kelemahan seperti itu di depan orang lain.

“Sejak itu aku menyesal seumur hidup,” lanjutnya. “Aku memiliki segalanya, tapi gagal melakukan hal paling sederhana yang bisa membuat orang yang kucintai merasa bahagia sebelum pergi. Saat melihatmu, berjuang keras demi ayahmu, rela melakukan apa pun asalkan ia sembuh… aku melihat diriku sendiri di masa lalu. Memberimu lebih dari cukup adalah caraku menebus kesalahan yang tidak bisa diperbaiki lagi pada ayahku.”

Laras tertegun, hatinya terasa sesak mendengar pengakuan itu. Ternyata di balik tawaran yang terasa seperti keajaiban itu, tersimpan luka mendalam yang tak kunjung sembuh di hati Raka. Ia tidak merasa lagi bahwa uang itu adalah imbalan semata, tapi justru bentuk penyesalan dan keinginan untuk berbuat baik dari seseorang yang sedang kesepian.

“Jadi… ini bukan hanya untuk malam ini, tapi juga sebagai cara Tuan melepaskan beban hati?” tanya Laras lembut.

“Bisa dibilang begitu,” jawab Raka dengan senyum getir. “Jadi jangan merasa tidak pantas. Anggap saja takdir mempertemukan kita untuk saling melengkapi—kau butuh bantuan, dan aku butuh ketenangan yang hanya bisa kudapatkan dari seseorang yang tulus sepertimu.”

Suasana kembali hening sejenak, namun kali ini tidak lagi terasa canggung. Ada rasa saling memahami yang perlahan tumbuh di antara keduanya, seolah dinding pembatas antara orang kaya dan miskin, antara berkuasa dan biasa saja perlahan runtuh satu per satu.

Laras menyesap tehnya lagi, merasakan rasa hangat itu turun ke kerongkongannya. Ia merasa aman di sini, jauh lebih aman dibandingkan apa yang ia bayangkan saat pertama kali menerima tawaran itu. Raka tidak terlihat seperti orang yang akan menyakiti dirinya; justru ia terlihat seperti pria yang sedang membutuhkan tempat bercerita dan didengarkan.

“Kalau begitu… apa yang ingin Tuan ceritakan malam ini?” tanya Laras akhirnya dengan senyum lembut yang tulus, senyum yang sudah lama tidak terlihat sejak ayahnya jatuh sakit. “Saya siap mendengarkan semuanya, apa pun itu.”

Melihat senyum itu, hati Raka terasa sedikit lebih ringan. Seolah beban yang ia pikul selama bertahun-tahun terangkat sedikit demi sedikit. Ia merasa benar memilih Laras—gadis sederhana yang bisa melihatnya apa adanya, tanpa topeng dan tanpa kepentingan tersembunyi.

“Banyak hal,” jawab Raka dengan nada yang lebih rileks. “Mulai dari masa kecilku, perjuangan membangun kerajaan bisnis ini, sampai ketakutan dan kesepian yang selama ini kusembunyikan dari semua orang. Dan kau pun boleh bertanya apa saja yang ingin kau ketahui, selama tidak melanggar janji kerahasiaan kita.”

“Baiklah,” jawab Laras dengan semangat baru. “Mulai saja, saya siap mendengarkan sampai matahari terbit nanti.”

Sejak saat itu, malam itu berjalan sangat berbeda dari apa yang dibayangkan Laras. Bukan ketakutan, bukan rasa malu, melainkan pertukaran cerita yang tulus. Raka menceritakan masa-masa sulitnya, bagaimana ia harus belajar tegas dan dingin hanya untuk bertahan di dunia bisnis yang kejam. Sebaliknya, Laras juga bercerita tentang hidupnya yang sederhana namun penuh kehangatan, tentang kebersamaan dengan ayahnya yang menjadi sumber kekuatannya.

Semakin lama mereka berbicara, semakin mereka menyadari bahwa meski hidup di dua dunia yang sangat berbeda, mereka memiliki banyak kesamaan dalam hal perasaan—sama-sama pernah jatuh, sama-sama berjuang, dan sama-sama merindukan kehangatan yang tulus.

Namun di balik kehangatan itu, satu hal masih tergantung di udara: kesepakatan ini hanya berlaku sampai matahari terbit. Setelah itu, semuanya selesai, dan mereka harus kembali ke dunia masing-masing. Tidak ada lagi pertemuan, tidak ada lagi hubungan apa pun.

Saat malam semakin larut, dan bintang-bintang di langit mulai meredup bersiap menyambut fajar, pertanyaan itu mulai terlintas di hati keduanya: Akankah mereka sanggup kembali hidup seperti sebelum bertemu, setelah merasakan kehadiran satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!