Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Napas Liam Oliver memburu, menciptakan hembusan berat yang memecah keheningan kamar suite eksekutif yang kini terasa seperti medan perang yang membeku.
Ruangan mewah yang beberapa menit lalu dipenuhi dekorasi romantis, kini justru terasa pengap oleh aura permusuhan yang pekat. Tatapan mata Liam yang setajam elang mengunci sosok Mira Hazelya yang masih meringkuk di atas ranjang, berbalut gaun pengantin putih yang kini tampak kusut.
Setitik "Aib" yang ia tangkap di atas seprai sutra dan tanda fisik di tubuh wanita itu seolah menjadi sumbu pendek yang meledakkan seluruh sisa kesabaran Liam. Rasa dikhianati, dijebak, dan direndahkan sebagai seorang pria terhormat bercampur menjadi satu gelombang murka yang tak lagi bendung.
"Lihat aku, Mira Hazelya!" bentak Liam. Suaranya yang bariton dan berat menggelegar, bergetar hebat oleh amarah yang membakar dada.
Karena tidak ada respons selain isak tangis yang tertahan, Liam melangkah lebar menghampiri kasur. Dengan gerakan kasar yang didorong oleh ego pria yang terluka, ia merenggut kedua pergelangan tangan Mira, memaksa wanita itu untuk melepaskan pelukan lututnya dan duduk tegak menghadapnya.
"Aw... sakit..." rintih Mira lirih. Itu adalah suara pertama yang keluar dari bibirnya malam ini, sebuah suara yang terdengar begitu lembut, rapuh, dan serak karena terlalu lama menangis.
Namun, Liam yang sedang dibutakan oleh murka sama sekali tidak memedulikan rintihan itu. Ia justru mempererat cengkeramannya pada pergelangan tangan Mira yang sekecil ranting, menariknya mendekat hingga jarak wajah mereka hanya tersisa segaris telapak tangan.
Dari jarak sedekat ini, Liam bisa melihat dengan jelas bagaimana air mata terus mengalir membasahi pipi porselen Mira yang polos tanpa cadar. Kecantikan wanita itu luar biasa, namun di mata Liam saat ini, kecantikan itu tak lebih dari topeng kelicikan.
"Sakit? Kau bilang ini sakit?!" Liam tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang terdengar begitu menyakitkan dan mengintimidasi. "Lalu bagaimana dengan hidupku yang kau hancurkan malam ini, hah?! Bagaimana dengan harga diriku?!"
Liam mencengkeram lengan Mira semakin kuat, mengguncang tubuh ramping itu dengan frustrasi. "Katakan padaku! Siapa pria jahanam yang sudah menyentuhmu sebelum malam ini?! Siapa pria yang sudah membuatmu menanggung aib ini, sampai kau dan keluargamu harus mencari kambing hitam serendah ini?!"
Mira hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bibir merah mudanya yang bergetar hebat terkunci rapat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang melarangnya untuk membela diri. Ketakutan yang terpancar dari netra bulat Mira begitu nyata, namun di kepala Liam, kebungkaman ini adalah bukti mutlak dari rasa bersalah.
"Kau sengaja, kan? Kau memanfaatkan situasi!" tuduh Liam lagi, suaranya naik satu oktav, menembus dinding kamar yang kedap suara. "Keluargamu tahu kakakku, Devon, tersandung kasus hukum di detik-detik terakhir. Kalian tahu Papa bersedia melakukan apa saja demi menyelamatkan muka keluarga Oliver malam ini. Dan kau... dengan sangat cerdik menawarkan dirimu di balik cadar itu, berpura-pura menjadi wanita suci yang menjaga kehormatan, hanya agar ada pria bodoh dari keluarga ini yang mau mencuci piring kotor yang ditinggalkan pria lain!"
Liam melepaskan cengkeraman tangannya dengan sentakan kasar, membuat tubuh Mira terdorong ke belakang di atas tumpukan kelopak mawar merah. Liam berdiri tegak, memunggungi ranjang sembari menyugar rambut hitamnya yang basah dengan gestur kacau.
Postur tubuhnya yang tinggi besar dan dadanya yang naik turun tak beraturan memancarkan aura cold CEO yang sedang berada di puncak murka, sangat menawan, namun teramat mematikan.
"Aku bukan pria bodoh yang bisa kau kelabui, Mira," ujar Liam, nada suaranya mendadak turun menjadi sangat rendah, berbisik dingin namun tajam seperti sembilu yang menyayat. "Aku tidak peduli seberapa kaya keluargamu, atau seberapa besar pengaruh Papaku di perusahaan ini. Aku tidak akan pernah sudi menjadi ayah dari anak pria lain, atau menjadi suami dari wanita penipu sepertimu."
Liam membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah sepasang mata Mira yang bengkak. Detik itu juga, Liam mengangkat tangan kanannya, mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Mira dengan ketegasan yang mutlak.
"Malam ini juga, di kamar ini, aku jatuhkan talak kepadamu, Mira Hazelya! Kau bukan lagi istriku!"
Kata-kata fatal itu meluncur begitu saja dari bibir Liam, bergema mematikan di dalam kamar pengantin mereka.
Mira tersentak hebat, matanya membelalak tak percaya. Isak tangisnya mendadak terhenti, digantikan oleh syok yang luar biasa. Di dalam hukum yang mereka anut, kata-kata itu adalah akhir dari segalanya, sebuah kalimat yang meruntuhkan status pernikahan mereka yang baru seumur jagung.
"Kenapa? Kau kaget?" Liam tersenyum miring, senyuman sinis yang mematikan dari seorang pewaris dinasti yang kejam. "Kau pikir aku akan bertahan demi menyelamatkan muka keluarga besok pagi? Kau pikir aku peduli dengan rumor yang akan beredar di media massa besok tentang pengantin baru yang langsung bercerai di malam pertama? Persetan dengan semua itu! Aku lebih baik melihat nama Oliver hancur di tangan media daripada harus hidup bersama wanita bebas yang licik seperti dirimu!"
Liam melangkah mundur, mengambil kemeja dan jas kasualnya yang tergeletak di lantai dengan satu sentakan kasar. Ia tidak sudi lagi menghabiskan satu detik pun di dalam ruangan yang sama dengan wanita yang dianggapnya telah menodai harga dirinya.
"Besok pagi, kemasi barang-barangmu dan keluar dari rumah keluarga Oliver sebelum aku sendiri yang menyeretmu keluar," ancam Liam dengan nada suara yang sangat dingin dan datar, tanpa ada sedikit pun sisa kehangatan manusiawi.
Tanpa menunggu jawaban, dan tanpa memedulikan tubuh Mira yang kembali luruh memeluk lututnya di atas ranjang sembari menangis histeris dalam diam, Liam berbalik dengan langkah tegas.
Ia berjalan menuju pintu kamar penthouse, membukanya dengan sentakan keras, dan melangkah keluar menuju kegelapan lorong hotel, meninggalkan sang pengantin yang malang sendirian di dalam neraka yang baru saja ia ciptakan.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?