NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:483
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08. Belajar Menerima

​“Terima kasih banyak. Kata-kata Om Dokter tadi benar-benar masuk ke hati saya dan membuka pikiran saya,” ucap Alden tulus, dengan senyum yang perlahan kembali terbit di wajahnya setelah keheningan yang panjang.

​Dokter Handoko tersenyum tipis.

"Bagus kalau kamu bisa menerimanya dengan kepala dingin seperti ini."

Ia lalu menepuk pelan lengan Alden sebagai bentuk dukungan.

"Saya harap kamu tetap mempertahankan sikap itu, ya. Perjalanan ke depan memang tidak akan mudah. Akan ada hari-hari yang berat, mungkin juga hari-hari ketika kamu merasa lelah menghadapi semuanya. Tapi jangan menyerah sebelum waktunya, Alden. Selama masih ada hari yang bisa dijalani, jalani sebaik mungkin."

​Alden terdiam.

Untuk sesaat, ia hanya menatap tangan dokter yang baru saja menarik kembali tepukannya. Lalu perlahan ia mengangguk.

​"Saya akan berusaha, Om."

Dan kali ini, jawaban itu bukan sekadar ucapan untuk menenangkan orang lain. Ia sungguh-sungguh bermaksud melakukannya.

​"Saya akan membantu semampu saya. Dan orang tuamu..." Dokter Handoko tersenyum tipis, "mereka pasti akan tetap ada di sampingmu. Mereka tidak akan ke mana-mana."

​Alden hanya mengangguk pelan.

Dokter Handoko kemudian kembali ke sikap profesionalnya.

​"Untuk sementara, fokus kita satu per satu dulu," ujarnya sambil membuka beberapa berkas di atas meja.

"Besok pagi pukul sepuluh kita mulai rangkaian pemeriksaan di rumah sakit pusat. Saya ingin melihat kondisi terkinimu secara menyeluruh sebelum menentukan langkah terapi berikutnya."

​Jemarinya menunjuk beberapa catatan hasil pemeriksaan yang dibawa Alden dari Perth.

"Kita akan melakukan pemeriksaan darah lengkap dan pemindaian ulang sebagai pembanding dengan hasil yang sudah ada. Dari situ kita bisa menilai perkembangan penyakitmu dan menentukan penanganan yang paling tepat."

​Alden mendengarkan dengan saksama.

Setelah itu, Dokter Handoko menjelaskan beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, mulai dari pola makan, aktivitas yang sebaiknya dibatasi, hingga gejala-gejala tertentu yang harus segera dilaporkan apabila muncul.

​Percakapan mereka berlangsung beberapa menit lagi sebelum akhirnya mendekati akhir.

Dokter Handoko menutup map di hadapannya lalu berdiri dari kursi.

"Kalau ada keluhan yang memburuk sebelum jadwal besok, jangan menunggu. Langsung hubungi saya atau datang ke rumah sakit. Sampai jumpa besok, Alden."

​"Sampai jumpa, Dok."

​Setelah berpamitan, dokter itu melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Alden yang masih duduk diam dengan berbagai pikiran yang berputar di kepalanya.

Pak Armanto mengantarnya hingga ke depan pagar rumah, masih sempat berbincang singkat sebelum mobil dokter itu perlahan meninggalkan area rumah.

​Di dalam rumah, suasana yang sebelumnya tegang perlahan mulai mencair.

Kata-kata dokter tadi seperti membuka sedikit ruang lega di antara mereka, menghadirkan harapan yang lama tak berani mereka ucapkan.

Ranti tiba-tiba melangkah mendekat, lalu memeluk Alden erat. Pelukan itu penuh rasa sayang, cemas, dan doa yang tidak terucap.

​“Kamu dengar kan kata Om Dokter tadi? Kamu pasti bisa bertahan lebih lama dari itu... Kamu anak yang kuat. Kamu pasti bisa melewati ini,” bisik Ranti di sela isak yang berusaha ia tahan.

​Alden tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengangkat tangannya perlahan, lalu membalas pelukan itu dengan hati-hati, seolah takut jika gerakan yang terlalu kuat justru akan membuat Ranti semakin hancur.

Tangannya mengusap pelan punggung wanita itu.

​“Bu...” suaranya lirih. “Jangan menangis.”

​Ranti justru semakin mengeratkan pelukannya.

Beberapa saat berlalu tanpa kata-kata. Hanya keheningan yang dipenuhi perasaan yang sama-sama sulit mereka ungkapkan.

​Alden mengembuskan napas pelan.

“Alden akan berusaha, Bu. Alden akan menjalani semua pengobatannya dengan baik. Selama masih ada kesempatan, Alden akan terus berjuang.”

​Suara Ranti kembali pecah mendengar itu. Ia mengangguk berkali-kali tanpa mampu menjawab.

Sementara Pak Armanto yang sejak tadi diam hanya memejamkan mata sesaat, menahan gejolak di dadanya sendiri.

​“Alden nggak akan menyerah begitu saja,” lanjut pemuda itu pelan.

“Bukan karena Alden takut. Tapi karena Alden masih ingin punya lebih banyak waktu bersama Papa dan Ibu.”

​Pak Armanto menatap putranya dengan sorot mata yang sedikit lebih tenang.

Beban itu masih ada, rasa takut itu juga belum pergi. Namun setidaknya, hari ini mereka tahu satu hal bahwa Alden belum menyerah.

Dan selama Alden masih mau berjuang, mereka akan berdiri di sampingnya sampai akhir.

​Hari itu perlahan berganti menjadi hari yang lebih bermakna.

Meski tantangan di depan mata masih terasa berat, setidaknya mereka tidak lagi berjalan dalam ketidaktahuan dan ketakutan semata.

Kini mereka memiliki rencana, memiliki arahan, dan yang paling penting, memiliki satu sama lain untuk saling menguatkan.

---

​Sore itu, Alden duduk sendirian di teras belakang rumah, memandangi taman hijau yang tertata rapi di bawah cahaya matahari yang mulai meredup.

Angin berembus pelan, menyentuh wajahnya dengan lembut. Ia menatap langit yang perlahan berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga keunguan yang tenang dan indah.

​Sejak mendengar nasihat Dokter Handoko, Alden tidak lagi dipenuhi rasa takut atau putus asa yang melumpuhkan.

Ada ketenangan baru yang perlahan mengisi ruang di dadanya. Ia sadar, kepulangannya ke tanah air bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari babak baru yang harus ia jalani dengan kepala tegak.

​Waktu yang tersisa bukan lagi sekadar hitungan hari atau bulan, melainkan tentang bagaimana setiap detik bisa ia isi dengan sesuatu yang berarti dan tak sia-sia.

​Alden menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis ke arah langit yang mulai diselimuti warna senja.

"Baiklah," gumamnya pelan.

"Kalau ini memang tantangannya, aku akan menjalaninya. Sepuluh bulan, atau mungkin lebih... Berapa pun waktunya, aku ingin mengisinya dengan hal-hal yang berarti. Aku ingin menjadikannya waktu terbaik yang bisa kumiliki."

​Malam pun tiba, membawa keheningan yang menenangkan.

Di dalam rumah yang hangat itu, Alden mulai menyadari bahwa rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan tempat di mana hatinya berlabuh dan sumber kekuatan terbesarnya untuk bertahan menghadapi apa pun yang akan datang esok hari.

Langkahnya kembali ke tanah air telah ia lalui dengan baik, meski disertai air mata dan rasa haru.

Kini, ia bersiap melangkah lebih jauh, menyongsong hari-hari yang akan datang dengan penuh keberanian.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!