Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Terakhir Digital
Kegelapan yang menyelimuti joglo utama lereng Merbabu bukanlah kegelapan biasa. Kabut gunung yang menyelinap masuk lewat celah-celah ventilasi kayu jati berpadu dengan kepulan asap tipis beraroma melati busuk dari bunga Kantil Sungsang. Namun, di tengah pekatnya malam, sepasang mata hijau zamrud milik Arkananta menyala dengan pendar yang mengerikan. Aura predatornya menguar kuat, menekan udara hingga terasa berat untuk dihirup.
"Tangkap mereka! Jangan biarkan sekretaris itu meloloskan diri dengan laptopnya!" jerit Sekar Selo Atmojo dari kegelapan. Suara anggunnya kini pecah, dipenuhi kepanikan yang tak lagi bisa disembunyikan.
BUK! BRAAAK!
Suara benturan fisik terdengar riuh. Salah satu pria berbaju hitam mencoba merangsek maju ke posisi meja makan, namun di dalam kegelapan absolut itu, Arkananta bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia biasa. Refleks felid yang tajam membuatnya mampu melihat hawa panas tubuh lawan. Dengan satu ayunan lengan yang kokoh, Arkan mencengkeram kerah jaket taktis pria pertama, lalu membantingnya ke atas meja kayu log hingga piring-piring porselen hancur berkeping-keping.
"Delta Satu masuk! Amankan ruangan!" suara Bara bergema di luar, disusul dengan runtuhnya pintu samping joglo akibat dobrakkan Tim Delta.
Cahaya lampu senter taktis berwarna putih kebiruan mulai membelah kegelapan, bergoyang-goyang liar mengikuti pergerakan personel yang dengan cepat melumpuhkan dua penjaga Sekar lainnya.
Di sudut meja, Kinanti tidak tinggal diam. Jarinya masih menari dengan kecepatan eksponensial di atas papan ketik laptopnya yang menjadi satu-satunya sumber cahaya redup di area tersebut. Tanda lingkaran konsentris di pergelangan tangan kanannya memancarkan panas yang membakar, menyalurkan energi Serat Jayaning Mahardika langsung ke dalam sistem jaringan yang sedang ia bantai secara digital.
"Proses pengalihan aset digital Faksi Selo mencapai delapan puluh persen, Pak Arkan!" seru Kinanti di tengah kegaduhan. "Saya sedang memutus akses peladen mereka ke bank bayangan di Singapura!"
Pria berbaju hitam yang memegang tablet utama—yang tampaknya merupakan kepala IT faksi Selo—berusaha merangkak mundur menuju pintu belakang, mencoba menyelamatkan hard disk eksternal yang berisi salinan silsilah kuno.
"Mau ke mana, Mas?"
Suara dingin Kinanti terdengar tepat di belakang pria itu. Sebelum si peretas sempat berbalik, Kinanti sudah mengayunkan laptop militer tebalnya dengan presisi yang mengejutkan, menghantam tepat ke pelipis pria tersebut.
DUK!
Pria itu langsung tersungkur mencium lantai marmer hijau tua, tidak sadarkan diri dengan tablet yang terlepas dari genggamannya.
Arkan yang baru saja menjatuhkan lawan terakhirnya menoleh, menatap Kinanti dengan sebelah alis terangkat. "Tindakan fisik yang cukup... efisien untuk seorang Direktur Operasional, Nona Amalia."
"Saya belajar dari insiden Cikarang, Pak," sahut Kinanti sambil meniup debu di sudut laptopnya yang tidak lecet sedikit pun. "Negosiasi korporat kadang membutuhkan sedikit... bobot tambahan."
KLIK!
Sistem pencahayaan darurat yang diaktifkan oleh Tim Delta akhirnya menyala, menerangi joglo utama yang kini berantakan seperti medan perang hancur. Tiga anak buah Sekar tergeletak tak berdaya di lantai, sementara Bara berdiri di dekat pintu dengan senjata yang masih siaga.
Sekar Selo Atmojo mundur hingga punggungnya menempel pada tiang penyangga joglo yang besar. Tusuk konde peraknya sudah miring, dan rambut sanggulnya yang rapi kini acak-acakan. Matanya menatap Arkan dan Kinanti dengan kombinasi rasa tidak percaya dan ketakutan yang mendalam.
"Ini belum selesai, Arkananta..." desis Sekar, suaranya bergetar menahan amarah. "Sumpah 1845 tidak bisa dihapus hanya dengan mencuri data perbankan kami! Darah Selo adalah jangkar jiwamu! Jika kami hancur, kutukanmu akan menjadi liar!"
Arkan melangkah mendekati Sekar, langkah kakinya terdengar begitu konstan dan mengintimidasi di atas lantai marmer yang basah oleh tumpahan teh. Ia berhenti tepat satu meter di depan wanita itu, menunduk dengan tatapan mata yang sedingin es.
"Jangkar itu sudah berpindah, Ibu Sekar," suara bariton Arkan menggema dengan kepastian yang absolut. Ia menoleh ke arah Kinanti yang berjalan mendekat di sampingnya. "Sumpah kuno leluhur kita telah berevolusi. Dia tidak lagi mencari pengikat yang didasari oleh rasa iri dan keserakahan. Dia telah memilih pelindungnya sendiri."
Kinanti berdiri di samping Arkan, mengangkat tangan kanannya. Di bawah cahaya lampu darurat, tanda lingkaran konsentris keemasan di pergelangan tangannya menyala dengan benderang, memancarkan kehangatan murni yang seketika menetralkan sisa-sisa bau busuk bunga Kantil Sungsang di dalam ruangan.
Melihat tanda itu menyala dengan kekuatan penuh tanpa ada tanda-tanda penolakan dari tubuh Kinanti, Sekar lemas. Tubuhnya merosot ke lantai, menyadari bahwa klaim mistis yang dipertahankan keluarganya selama ratusan tahun kini telah runtuh sepenuhnya di tangan seorang gadis sekretaris dari Jakarta.
"Bara," panggil Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari Sekar. "Amankan wanita ini dan seluruh dokumen di resor ini. Serahkan mereka ke divisi hukum internal untuk diproses bersama Pak Hariman di Jakarta. Pastikan tidak ada satu lembar pun berkas silsilah yang tersisa di lereng gunung ini."
"Siap, Pak CEO," jawab Bara tegas, segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk menggiring Sekar dan anak buahnya keluar.
Malam semakin larut ketika badai digital itu akhirnya mereda. Kompleks resor Faksi Selo kini sepenuhnya berada di bawah kendali Mahardika Security.
Kinanti duduk di anak tangga teras joglo, memandangi kabut gunung yang perlahan mulai terangkat, menampilkan langit malam Merbabu yang bertabur bintang dengan sangat indahnya. Laptopnya sudah ditutup, dan rasa lelah yang luar biasa akhirnya mulai menggelayuti pundaknya.
Sebuah kaleng kopi hangat mendadak ditempelkan ke pipi kirinya, membuat Kinanti sedikit tersentak.
Ia mendongak dan menemukan Arkananta berdiri di sampingnya, memegang dua kaleng kopi yang tampaknya diambil dari mesin penjual otomatis di area lobi resor. Arkan melepaskan jaket outdoor-nya yang kotor, menyisakan kemeja hitamnya yang lengannya digulung hingga siku.
"Minum ini. Kamu sudah bekerja terlalu keras malam ini, Penjaga Takdir," ujar Arkan, lalu ikut duduk di anak tangga di sebelah Kinanti—sebuah pemandangan yang akan membuat seluruh staf Mahardika Tower pingsan jika melihat bos mereka yang higienis mau duduk di lantai semen terbuka.
Kinanti menerima kaleng kopi itu dengan senyuman tulus. "Terima kasih, Pak Arkan. Tapi... apakah ini benar-benar sudah selesai? Maksud saya, faksi utama musuh Bapak sudah ditumbangkan semua dalam satu minggu."
Arkan menyesap kopinya, menatap hamparan bintang di langit. "Untuk level faksi keluarga besar yang mencoba merebut takhta lewat jalur kutukan... ya, ini adalah skakmat untuk mereka. Kita sudah mengunci Baskoro, Hariman, dan kini Sekar Selo."
Arkan menoleh, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Kinanti. Kehangatan di matanya kini tidak lagi disembunyikan oleh topeng korporat yang kaku. "Tapi perjalanan kita di Mahardika Group masih sangat panjang, Kinanti. Sumpah kuno ini memang sudah terjaga dan stabil berkat dirimu, tapi dunia bisnis di luar sana tidak akan pernah berhenti melahirkan badai baru."
Kinanti membalas tatapan itu, merasakan debaran familiar yang kini terasa jauh lebih tenang dan menyenangkan di dadanya. "Kalau begitu, sebagai Direktur Operasional dan Penjaga Takdir Bapak, saya rasa saya harus mulai memperbarui kontrak kerja saya dengan klausul tunjangan bahaya yang lebih besar."
Arkan terkekeh lepas, suara tawa baritonnya memecah kesunyian malam lereng Merbabu. Ia mengulurkan tangan kanannya, menggenggam jemari Kinanti dengan erat di bawah kesaksian ribuan bintang.
"Tunjanganmu adalah seluruh komitmen saya untuk memastikan tidak ada satu pun badai di dunia ini yang bisa menyentuhmu lagi, Kinanti," ucap Arkan dengan ketulusan yang mutlak.
Di atas gunung yang dingin itu, sebuah babak kelam dari sejarah Mahardika telah resmi ditutup dengan kemenangan mutlak. Namun bagi Arkananta dan Kinanti, ini hanyalah garis awal dari sebuah kisah panjang yang baru saja dimulai—kisah di mana sang Singa dan sang Penjaga tidak lagi berlari dari takdir, melainkan berjalan bersama memimpin imperium mereka di bawah langit yang cerah.