"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamitan Yang Berat
Gerbang kampus yang padat sore itu dilewati Yuna dengan perasaan campur aduk. Di dalam tas ranselnya, selain buku kuliah, kini tersimpan sebuah kunci rumah baru—kunci rumah Labib. Sesuai kesepakatan mereka di ruang dosen tadi, sore ini ia harus mulai mencicil memindahkan barang-barangnya.
Perjalanan pulang ke rumah dengan angkutan kota terasa lebih lambat dari biasanya. Pikirannya melayang pada ibunya. Sejak kepergian sang ayah sembilan hari yang lalu, rumah mereka terasa begitu sepi. Namun, ada satu hal yang membuat dada Yuna sedikit lebih lapang dan tenang untuk melangkah pergi: keberadaan adik laki-lakinya.
Begitu sampai di depan rumah minimalis bercat putih pudar milik keluarganya, Yuna menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu.
"Assalamu'alaikum," ucap Yuna melangkah masuk.
"Wa'alaikumussalam. Eh, Mbak Yuna udah pulang," sebuah suara basah khas remaja menyahut.
Seorang anak laki-laki bertubuh jangkung yang masih mengenakan seragam putih-biru keluar dari arah dapur sambil memegang segelas air. Itu Andra (15 tahun), adik laki-laki Yuna yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP. Meskipun usianya masih remaja, kehilangan figur ayah secara mendadak tampaknya memaksa Andra tumbuh dewasa lebih cepat dalam semalam.
"Ibu di mana, Ndra?" tanya Yuna sambil meletakkan tasnya di kursi ruang tamu.
"Di kamar, Mbak. Tadi habis minum obat terus tiduran. Tapi udah mendingan kok, tadi udah mau makan bubur sedikit," jawab Andra tenang. Ia menatap kakaknya dengan pandangan yang jauh lebih dewasa dari usianya. "Mbak Yuna... jadi pindah sore ini?"
Yuna mengangguk pelan, menyentuh bahu adiknya. Ada rasa bersalah yang menyelusup di hatinya karena harus meninggalkan rumah di masa-masa sulit seperti ini. Namun, wasiat almarhum ayahnya dan pernikahan rahasia ini adalah jalur yang harus ia tempuh.
"Maafin Mbak ya, Ndra. Mbak malah harus pergi ke rumah Mas Labib sekarang. Kamu... nggak apa-apa kan kalau Mbak tinggal?" tanya Yuna lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
Andra tersenyum tipis, lalu menepuk punggung tangan kakaknya dengan mantap. "Mbak Yuna nggak usah kepikiran. Kan ini maunya Almarhum Papa. Mas Labib juga orang baik, Papa percaya banget sama dia. Soal Ibu, Mbak tenang aja. Andra yang bakal jagain Ibu di sini. Andra kan udah gede, udah mau SMA. Mbak fokus aja sama kuliah dan... rumah tangga baru Mbak."
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut adiknya, beban berat yang sejak tadi menggelayuti pundak Yuna seketika luruh. Kehadiran Andra yang bertanggung jawab adalah berkah terbesar bagi Yuna saat ini. Setidaknya, ia tahu ibunya tidak akan sendirian.
"Makasih ya, Ndra. Kamu emang adik terbaik," ucap Yuna, menahan haru agar tidak menangis.
Yuna melangkah ke kamar ibunya dengan perlahan. Di dalam, sang ibu sedang bersandar di kepala ranjang, wajahnya masih pucat namun guratan senyum tulus langsung terukir menyambut putri tunggalnya.
"Yuna... sudah siap-siap, Nak?" tanya Ibu lembut.
Ibu adalah satu dari sedikit orang yang tahu tentang pernikahan ini, karena beliau juga hadir sebagai saksi tadi malam. Ibu tahu betul komitmen Labib untuk menjaga Yuna, dan beliau mengikhlaskan putrinya diboyong oleh suaminya.
"Sudah, Bu. Yuna cuma bawa satu koper baju dulu dan beberapa buku kuliah penting. Sisanya biar tetap di sini," kata Yuna sambil duduk di tepi ranjang, memeluk ibunya erat-erat.
"Nurut ya sama suamimu. Nak Labib itu memang kelihatan tegas dan kaku, tapi dia laki-laki yang bertanggung jawab. Ibu tenang melepas kamu sama dia," bisik Ibu sambil mengusap rambut Yuna. "Jangan khawatirkan Ibu di sini. Ada Andra yang nemenin."
"Iya, Bu. Yuna bakal sering-sering pulang ke sini kalau Mas Labib nggak ada jadwal padat," janji Yuna.
Setelah berpamitan dengan pelukan hangat dan beberapa tetes air mata yang tak bisa dibendung, Yuna akhirnya keluar ke teras rumah membawa sebuah koper berukuran sedang. Andra mengantarnya sampai ke depan pagar.
"Ndra, kalau ada apa-apa sama Ibu, langsung telepon Mbak ya. Nggak usah sungkan," pesan Yuna sekali lagi sebelum naik ke taksi online yang sudah ia pesan.
"Siap, Mbak. Santai aja, Andra handle semua di sini. Salam buat Mas Labib... eh, Kakak Ipar," goda Andra dengan kedipan mata, mencoba mencairkan suasana sedih.
Yuna terkekeh pelan, melambaikan tangan dari dalam mobil saat taksi mulai bergerak menjauh. Rasa tenangnya karena Andra menjaga Ibu menjadi modal kekuatan bagi Yuna. Namun, begitu mobil berbelok ke arah kompleks perumahan tempat Labib tinggal, rasa tenang itu perlahan berganti menjadi debaran jantung yang menggila.
Sore menjelang malam ini, ia bukan lagi sekadar mahasiswi yang pulang ke rumah. Ia sedang menuju ke rumah seorang dosen galak berumur 31 tahun, tempat di mana statusnya berubah total menjadi seorang istri.