NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Detik Terakhir

...----------------...

Malam terus bergulir, merangkak lambat menembus keheningan koridor rumah sakit yang mencekam. Tepat sekitar pukul 23.44 malam, setelah melewati masa-masa kritis yang menegangkan di ruang penanganan darurat, kondisi Mama Astrid, Raisya Ningsih, akhirnya dinyatakan perlahan mulai stabil. Beliau pun dipindahkan ke ruang perawatan biasa agar bisa beristirahat dengan lebih tenang.

Di dalam ruangan yang bernuansa putih bersih itu, Mama Astrid hanya bisa terbaring lemah di atas kasur rumah sakit yang kaku. Tubuhnya yang kurus tampak ringkih, dikelilingi oleh bunyi ritmis dari mesin monitor jantung yang berbunyi teratur di sudut ruangan. Berdasarkan diagnosis dokter, beliau mendadak mengalami serangan jantung secara tiba-tiba akibat akumulasi dari rasa lelah yang ekstrem dan beban pikiran yang terlalu berat yang selama ini dipendamnya sendiri.

Sejak pertama kali Mamanya didorong masuk ke ruangan itu, Astrid tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemari sang Mama. Dia duduk di sebuah kursi besi kecil di samping tempat tidur, mendekatkan tubuhnya, seolah takut jika dia lengah sedetik saja, sosok di hadapannya ini akan menghilang.

"Ma... maafin Astrid ya, Ma. Gara-gara Astrid kurang perhatian, Mama jadi kayak gini. Mama cepat sembuh dong..." bisik Astrid parau. Air matanya yang sedari tadi tak kunjung surut kembali mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat dan jatuh mengenai punggung tangan Mamanya yang terpasang jarum infus.

Mendengar suara putrinya, Mama Astrid perlahan membuka kelopak matanya yang sayu. Beliau menatap Astrid dengan tatapan mata yang teramat teduh, sebuah tatapan penuh kasih sayang yang tak pernah pudar oleh rasa sakit. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, beliau membalas genggaman tangan Astrid, meremasnya lembut sembari air mata ikut menetes dari sudut matanya yang mulai berkerut.

"Mama tuh... sebenernya pengen banget bisa ngeliat kamu duduk di kursi pengantin suatu saat nanti, sayang. Duduk berdampingan sama calon suami kamu yang baik, yang tulus sayang sama kamu," ucap Mama Astrid dengan suara yang terputus-putus dan lemah, namun terdengar sangat penuh harap. Beliau tersenyum tipis, mencoba menguatkan putrinya. "Mama pengen kamu punya keluarga yang harmonis, yang lengkap, gak kekurangan kasih sayang... Mama juga pengen banget bisa ngerasain gendong cucu-cucu yang lucu dari kamu. Tapi, yang paling Mama pengen dari semua itu... Mama cuma pengen ngeliat kamu sukses dan hidup bahagia, Astrid sayang."

Dada Astrid rasanya makin sesak mendengar untaian kalimat itu. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, menahan isak tangisnya agar tidak pecah terlalu keras. "Makanya... Mama harus sembuh. Mama harus kuat biar Mama bisa lihat Astrid bahagia nanti. Bahagianya Astrid itu cuma ketika Mama selalu ada di samping Astrid, nemenin Astrid..."

Mama Astrid mengembuskan napasnya yang terasa berat, tatapannya menerawang jauh menatap langit-langit kamar rawat. "Kalo nanti... suatu saat Mama udah gak ada, kamu juga harus tetep cari kebahagiaan kamu sendiri yang lain, Astrid. Jangan terus-terusan bersedih dan meratapi hidup. Kamu anak yang kuat, kamu harus jalan terus ke depan."

Astrid tidak sanggup membalas kalimat itu. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Baginya, membayangkan dunia tanpa Mamanya adalah sebuah ketakutan terbesar yang tidak akan pernah siap dia hadapi.

Tak lama setelah percakapan emosional yang menguras batin itu, kelelahan yang luar biasa akhirnya mengambil alih kesadaran mereka berdua. Mama Astrid perlahan memejamkan matanya dan tertidur karena pengaruh obat. Di sampingnya, Astrid yang sudah kehabisan energi setelah menangis berjam-jam ikut terlelap di atas kursi lipat dekat kasur. Kepalanya direbahkan pasrah di tepi ranjang, tepat di sebelah tubuh Mamanya, sementara telapak tangan lemah sang Mama tetap diletakkan di atas kepala Astrid, mengusap dan mendekapnya dengan sisa kehangatan yang ada.

...****************...

Keesokan paginya, berkas cahaya matahari menyelinap masuk dari balik celah ventilasi udara, menandai datangnya hari yang baru. Astrid perlahan terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang dia rasakan saat kesadarannya kembali adalah sentuhan tangan Mamanya yang masih melekat erat di atas kepalanya, sama seperti posisi mereka sebelum tertidur semalam.

Namun, saat Astrid mengangkat kepalanya dan perlahan melepaskan tangan Mamanya untuk membetulkan posisi selimut, sebuah sensasi janggal mendadak menyengat indra perabanya. Kulit tangannya mengirimkan sinyal bahaya ke otaknya. Astrid mengernyitkan dahi. Kenapa... tangan Mamanya terasa begitu dingin? Bukan sekadar dingin karena suhu pendingin ruangan, melainkan sebuah rasa dingin yang membeku hingga ke tulang. Terlebih lagi, saat tangan itu diletakkan kembali, jemari Mamanya terkulai dengan sangat lemas dan kaku tanpa bobot.

Perasaan cemas yang teramat sangat langsung menyergap dada Astrid. Dia menatap wajah Mamanya yang tampak memejamkan mata dengan terlalu tenang.

"Ma... Mama? Bangun, Ma... ini udah pagi," ucap Astrid sembari menggoyang-goyangkan bahu Mamanya pelan. Namun, tidak ada respons. Tidak ada helaan napas yang naik-turun di dada Mamanya.

Panik mulai menguasai akal sehatnya. Astrid mengguncang tubuh Mamanya dengan lebih keras, namun sosok wanita paruh baya itu tetap bergeming dalam tidur panjangnya. "Mama!!! Bangun, Ma!!! Jangan bercanda kayak gini, Astrid mohon!!!" teriak Astrid histeris. Air matanya langsung tumpah ruah. Dia berlari ke arah pintu luar dan berteriak sekuat tenaga memanggil bantuan. "DOKTER!!! SUSTER!!! TOLONG MAMA SAYA!!! TOLONG!!!"

Beberapa saat kemudian, tim dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam ruangan. Mereka bergegas melakukan tindakan resusitasi jantung dan pemeriksaan pupil mata dengan senter medik secara intensif. Namun, takdir berkata lain. Garis di layar monitor sudah mendatar total. Dokter mengembuskan napas panjang, menatap Astrid dengan pandangan penuh simpati, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Naas, Mama Astrid sudah tidak tertolong lagi. Beliau telah mengembuskan napas terakhirnya di dalam tidur, tepat di samping putrinya yang terlelap.

Beberapa jam setelah berita duka yang menghancurkan itu, atmosfer berubah menjadi aroma tanah merah yang basah. Di bawah langit yang meredup, Astrid berdiri mematung di sebuah area pemakaman umum. Prosesi pemakaman baru saja selesai. Satu per satu tetangga dan kerabat jauh yang mengantar sudah mulai melangkah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan area pemakaman yang kini berangsur sepi.

Namun, Astrid masih di sana. Dia bersimpuh di atas tanah yang masih basah, tangannya mendekap erat sebuah papan nisan kayu yang bertuliskan nama Mamanya. Tatapan mata kosong, menatap gundukan tanah yang dipenuhi taburan bunga mawar. Di dalam benaknya, rasa tidak percaya masih merajai.

Astrid sama sekali tidak menyangka bahwa Mamanya—wanita hebat yang selama ini selalu tersenyum tulus dan berjuang mati-matian tanpa mengeluh di depannya—ternyata sengaja menyembunyikan penyakit jantung kronisnya rapat-rapat. Semua itu dilakukan beliau hanya demi satu alasan tunggal: agar Astrid tidak terbebani pikiran, agar Astrid bisa fokus kuliah, dan tidak mencemaskan kondisi kesehatannya. Rasa bersalah dan kehilangan yang teramat dalam kini mengunci tubuh Astrid di sebelah makam yang bisu.

...****************...

Di belahan kota yang berbeda, di waktu yang bersamaan, atmosfer yang tercipta justru seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik. Hari ini adalah hari terpahit dan paling hancur bagi kehidupan seorang Astrid, namun di sisi lain, hari ini adalah hari yang tenang dan penuh dengan kelimpahan bagi seorang Arka Albian.

Akibat sisa-sisa kelelahan dan pengaruh alkohol dari pesta perayaan ulang tahun megah semalam, aku baru terbangun dari tidur nyenyak ku tepat pukul sebelas siang. Aku meregangkan otot otot tubuhku di atas kasur, lalu mendudukkan diri sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling lantai kamar. Di sana, sudah bertumpuk puluhan kantong belanja bermerek internasional dan kotak-kotak kado berukuran besar yang dikirimkan oleh teman teman ku semalam.

Sembari mengumpulkan kesadaran, aku mulai membuka satu per satu hadiah tersebut. Banyak sekali barang bagus dan mewah yang kudapatkan; mulai dari pakaian desainer, sepatu edisi terbatas, hingga gawai keluaran terbaru. Sania, kekasihku yang semalam selalu menempel denganku, memberikan sebuah kotak beludru hitam berisi sebuah jam tangan mewah bermerek Swiss berharga jutaan rupiah.

Walaupun teman-teman sirkelku memberikan barisan barang mewah yang harganya selangit, aku sama sekali tidak merasakan percikan kebahagiaan atau rasa takjub di dalam hatinya. Bagiku, barang-barang dengan nominal fantastis seperti itu sudah menjadi hal yang sangat biasa, hambar, dan terlalu sering kulihat di dalam kehidupanku sehari-hari sebagai anak Albian.

Namun, pemandangan berbeda terlihat saat aku meraih tiga buah kado yang diletakkan agak terpisah di sudut meja, yang dikirimkan oleh saudara-saudaraku sendiri. Alih-alih memberikan hadiah mewah bermerek luar negeri untuk pamer gengsi, kakak perempuan pertamaku, Kak Zalya, memberikan sebuah lampu tidur sederhana berbentuk bulan sakit kaca yang estetik, dibungkus dengan kertas kado bermotif bintang yang menggemaskan. Di atasnya, tertempel selembar catatan kecil dengan tulisan tangan Kak Zalya yang rapi.

"Pake nih lampu tidur dari gue, biar lu Ingat sama kamar lu dan gak main pulang malem terus. Gue milih lampu bentuk bulan ini karena menurut gue imut aja buat kamar lo. Kalo lo gak suka, balikin lagi aja ke kamar gue, hehehe."

Aku terkekeh pelan membaca pesan itu, merasakan kehangatan yang tulus dari perhatian Kak Zalya yang dikemas dalam candaan.

Selanjutnya, aku beralih membuka hadiah dari kakak sulungku, Kak Andra. Hadiahnya dibungkus dengan sangat rapi menggunakan kertas kado cokelat polos yang terkesan formal tanpa ada pita hiasan sedikit pun. Begitu lapisan kertasnya kubuka, alis mataku langsung bertaut tajam. Di dalam kotak itu hanya terdapat sebuah buku tebal bertema psikologi kognitif dengan judul yang tercetak jelas: "Cara Berpikir dengan Otak"

Tidak ada surat, tidak ada ucapan selamat, dan tidak ada pesan apa pun di dalamnya. Hanya sebuah buku. Aku mendengus pelan sembari melemparkan buku itu ke atas kasur. Sialan. Hadiah dari Kak Andra ini sudah pasti adalah sebuah siindiran keras untuk ku dan tamparan tidak langsung yang sengaja dia berikan untuk mengejek ku.

Hadiah ketiga berasal dari adik bungsuku, Ellisya. Begitu membuka bungkusnya yang penuh warna, aku tertegun sejenak. Ellisya memberikan sebuah lukisan kanvas hasil karyanya sendiri. Di dalam lukisan itu, terdapat gambar diriku yang sedang gagah mengenakan baju zirah besi kerajaan, lengkap dengan pedang di pinggang, selayaknya seorang ksatria pelindung dari zaman abad pertengahan. Di sudut kanvas, tertempel selembar surat kecil dengan tulisan tangan anak remaja yang penuh warna.

"Kak Arka, ini hadiah spesial dari aku, adikmu yang paling imut dan baik hati! Ellisya melukis ini secara diem-diem di dalam kamar loh, butuh waktu sampai 3 hari penuh buat selesaiin lukisan ksatria ini khusus buat Kakak. Happy Birthday, Kak Arka!"

Aku tersenyum lebar, menatap lukisan itu dengan pandangan yang melembut. Sementara itu, hadiah dari Ayah dan Ibu diletakkan di luar rumah, sebuah motor sport model terbaru dengan spesifikasi balap kelas atas yang terparkir gagah di garasi depan, yang harganya tentu saja bukan main mahalnya.

Namun, jika harus jujur dari lubuk hatiku yang terdalam, dari semua total hadiah yang kuterima hari ini, aku justru jauh lebih menyukai dan menghargai hadiah-hadiah sederhana yang diberikan oleh kakak perempuan dan adikku, daripada hadiah motor sport super mahal yang diberikan oleh Ayah dan Ibu. Bagiku yang sejak kecil selalu dikelilingi oleh materi, sebuah hadiah yang sederhana, memiliki fungsi nyata, dan dibuat dengan ketulusan tenaga seperti milik Ellisya dan Kak Zalya adalah hal yang sangat langka dan berharga di dalam keluarga Albian.

Saat aku sedang memilah kado kado itu, aku mendadak menyadari satu hal. Dari seluruh anggota keluargaku, hanya Kak Hendra lah satu-satunya orang yang sama sekali belum memberikan kado atau ucapan apa pun untukku sejak pagi tadi. Berdasarkan kebiasaannya, sepertinya kakak ketigaku itu memang sedang merencanakan sesuatu yang berbeda.

Tak berselang lama setelah aku selesai membereskan seluruh tumpukan kertas kado di lantai, suara langkah kaki yang tegap terdengar mendekat ke arah kamarku. Pintu kamar didorong terbuka tanpa ketukan, dan sosok Kak Hendra melangkah masuk dengan santai, masih mengenakan jaket hoodie gelap pasca-kuliahnya. Dia berjalan mendekat, lalu langsung mendudukkan dirinya di atas sofa tunggal tepat di depan tempat tidurku.

Kak Hendra menatapku dengan pandangan mata yang datar, tajam, dan penuh teka-teki, sebuah tatapan yang langsung membuat atmosfer di dalam kamarku yang tadinya santai berubah menjadi sedikit tegang dan serius.

Dia bersandar pada sandaran sofa, melipat kedua tangannya di depan dada sebelum akhirnya membuka suara dengan nada bariton yang tenang namun menuntut perhatian penuh.

"Arka... gue belum ngasih hadiah ulang tahun ke lo dari kemarin?" ucap Kak Hendra memulai pembicaraan, memecah keheningan.

Aku hanya mengangguk pelan, menatapnya dengan kening yang sedikit berkerut, menunggu kelanjutan kalimatnya.

Kak Hendra menegakkan posisi duduknya, mencondongkan tubuhnya ke depan ke arahku, membuat jarak di antara kami makin dekat. "Tapi... sebelum gue kasih hadiah itu ke lo, sekarang gue mau nanya satu hal dulu sama lu. Hari ini, lo mau gue kasih hadiah berupa barang fisik yang mahal... atau lo lebih milih buat gue kasih sebuah Fakta penting?"

Mendengar pilihan yang tidak biasa itu dilontarkan oleh seorang Kak Hendra, instingku langsung mendadak bekerja dengan tajam. Aku bisa merasakan dari nada bicaranya yang penuh penekanan bahwa informasi yang dia maksud bukanlah informasi sembarangan, melainkan sesuatu yang teramat krusial, rahasia, dan mungkin akan mengubah banyak hal di hidupku.

Aku membalas tatapan matanya dengan tidak kalah tajam, mengunci pandanganku pada sepasang manik mata Kak Hendra tanpa ada keraguan sedikit pun. Dengan suara yang tegas dan singkat, aku langsung menjawab pilihanku.

"kasih tau gue... apa yang selama ini gak gue tau."

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!