Setiap bek senior menganggapnya beban tim. Alex cuma winger kurus dari klub kasta tiga yang gajinya sering telat. Tapi malam itu, sebuah Sistem aktif di kepalanya — dan mengubah anak kampung jadi ancaman nyata bagi bek terbaik dunia.
#SportsSystem #SistemWinger #FromZeroToHero #RonaldoVibes #EvolusiFisik #FiksiOlahraga #NovelSepakBola #SkillTreeSepakBola #WingerLegendaris #ProgressionFantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Buangan
Kabar bahwa Alex "titipan" dari klub kasta tiga menyebar cepat di antara pemain akademi, dan alih-alih menganggapnya sebagai pencapaian, sebagian besar pemain senior justru melihatnya sebagai ancaman kecil yang perlu diinjak sejak dini.
Semua bermula dari sesi latihan taktik pagi itu, ketika pelatih membagi pemain ke dalam kelompok kecil untuk latihan possession. Alex ditempatkan satu kelompok dengan Dimas—winger senior akademi yang sejak hari pertama sudah menatapnya dengan sorot mata dingin.
"Oper aja bola ke dia," kata Dimas ke rekan-rekan sekelompoknya, cukup keras untuk didengar Alex, "biar dia sadar diri gol knuckleball-nya kemarin itu cuma keberuntungan doang."
Tawa mengejek terdengar dari beberapa pemain lain. Alex menahan diri untuk tidak bereaksi, mencoba fokus pada latihan meski dadanya terasa panas oleh amarah yang dia tahan.
Situasi memburuk drastis di jam makan siang. Alex duduk sendirian di meja kantin, seperti yang sudah menjadi kebiasaannya sejak hari pertama—tak ada satu pun pemain lain yang mengajaknya bergabung, seolah dia adalah benda asing yang sengaja dijauhi.
"Eh, si anak kampung," seorang pemain bernama Rio, sahabat dekat Dimas, sengaja lewat di dekat mejanya sambil menyenggol nampan Alex hingga sedikit tumpah. "Kirain pemain dari klub gurem kayak Minang United bakal langsung nangis pas latihan di sini. Ternyata masih betah aja, ya?"
"Mungkin dia pikir gol semalam ajaib itu bakal terus berlanjut," sahut pemain lain yang duduk di meja sebelah, tak berusaha menyembunyikan suaranya. "Padahal di sini banyak yang jauh lebih bagus dari dia."
Alex menunduk, memilih diam sambil terus makan meski nafsu makannya sudah hilang sepenuhnya. Dia teringat kata-kata Yoga sebelum berangkat—*"kamu bakal buktiin lagi dari nol"*—tapi tak ada yang benar-benar mempersiapkannya untuk rasa terasing sedalam ini.
Sore harinya, saat sesi latihan game internal berlangsung, Dimas dan kelompoknya sengaja tidak pernah mengoper bola ke Alex, bahkan ketika dia berada di posisi terbuka sempurna. Setiap kali Alex berteriak minta bola, mereka pura-pura tidak mendengar, memilih mengoper ke pemain lain meski peluangnya jauh lebih buruk.
Pelatih kepala, yang memperhatikan dari pinggir lapangan, akhirnya meniup peluit menghentikan latihan sejenak.
"Dimas! Kenapa nggak pernah oper ke Alex padahal dia kosong terus dari tadi?"
Dimas nyengir, nada suaranya penuh sinisme yang dibalut kesopanan palsu. "Maaf, Pak, kelupaan. Mungkin karena dia terlalu jauh dari kualitas kita di sini."
Beberapa pemain tertawa pelan, cukup untuk membuat wajah Alex memerah menahan malu di depan seluruh timnya. Pelatih menatap tajam ke arah Dimas, tapi tidak berkata apa-apa lebih jauh, hanya meniup peluit tanda latihan dilanjutkan.
Malam itu, kembali ke kamar asramanya yang sepi, Alex duduk di tepi kasur dengan tubuh yang lelah bukan hanya karena latihan fisik, tapi karena beban emosional yang menumpuk sepanjang hari. Dia membuka ponselnya, membaca ulang pesan-pesan lama dari Fajar dan Yoga, mencoba mencari sedikit kehangatan dari kenangan yang terasa begitu jauh sekarang.
```
[NOTIFIKASI SISTEM]
Mental: 57 → 44
Penyebab: Isolasi sosial berkepanjangan, penghinaan verbal berulang
Peringatan: Kondisi Mental mendekati ambang batas kritis kedua kalinya sejak Sistem aktif.
```
Alex menatap layar itu dengan mata memanas, menahan diri agar tidak menangis meski dadanya terasa sesak luar biasa. Untuk pertama kalinya sejak dia mulai perjalanannya bersama sistem ini, dia benar-benar mempertanyakan apakah keputusan meninggalkan Minang United adalah pilihan yang tepat.
*Mungkin aku memang cuma pemain kampung yang kebetulan beruntung,* pikirnya pahit, teringat kembali kata-kata Dimas siang tadi. *Mungkin di sini bukan tempatku.*
Keesokan harinya, penghinaan berlanjut lebih jauh. Seseorang—Alex tak pernah tahu siapa—menaruh sepatu bola miliknya di tempat sampah kamar mandi asrama, dengan catatan kecil yang bertuliskan: *"Pulang aja ke kampung, ini bukan level lo."*
Alex mengambil sepatunya dari tempat sampah dengan tangan gemetar, dadanya bergejolak antara amarah dan keputusasaan yang nyaris tak tertahankan. Dia berdiri di kamar mandi kosong itu cukup lama, menatap sepatu kotor di tangannya, memikirkan apakah semua perjuangannya selama ini benar-benar berarti sesuatu.
Sesi latihan pagi itu, dia bermain dengan performa yang jauh menurun—setiap sentuhan bola terasa kaku, setiap keputusan terasa ragu. Kepercayaan diri yang susah payah dia bangun sejak gol pertamanya di Minang United terasa runtuh perlahan, digerus oleh penghinaan yang datang bertubi-tubi tanpa henti.
Di sudut lapangan, saat jeda latihan, pelatih fisik akademi—satu-satunya staf yang selama ini memperlakukan Alex dengan wajar tanpa prasangka—mendekatinya sambil membawa botol minum.
"Kamu kelihatan beda hari ini," katanya, menyerahkan botol minum sambil menatap Alex dengan tatapan penuh perhatian yang jarang Alex dapatkan sejak tiba di sini. "Ada masalah?"
Alex hanya menggeleng pelan, tak sanggup mengucapkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Tapi matanya yang memerah dan bahunya yang merosot lelah sudah cukup menjelaskan segalanya tanpa perlu kata-kata.
```
[CATATAN SISTEM]
Mental: 44 (Kritis)
Peringatan Serius: Jika kondisi ini berlanjut lebih dari 72 jam, Sistem berisiko mengalami penurunan fungsi signifikan, memengaruhi performa fisik Host secara keseluruhan.
Host disarankan segera mencari dukungan atau mengambil tindakan untuk mengatasi tekanan sosial ini.
```
Malam itu, Alex berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar asrama yang terasa semakin asing setiap harinya. Dia memikirkan ibunya, memikirkan Rina, memikirkan janji yang dia ucapkan sendiri di tengah hujan beberapa minggu lalu.
Untuk pertama kalinya sejak sistem itu hadir dalam hidupnya, Alex merasa benar-benar sendirian, terjebak di antara ambisi besar yang dia kejar dan kenyataan pahit bahwa tidak semua orang akan menyambutnya dengan tangan terbuka di perjalanan menuju mimpi itu.
Dia memejamkan mata, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes pelan membasahi bantal, sementara di kejauhan, tanpa dia sadari, sebuah keputusan penting sedang menunggu untuk diambil esok hari—keputusan yang akan menentukan apakah dia akan tenggelam dalam penghinaan ini, atau bangkit sekali lagi seperti yang selalu dia lakukan sejak awal cerita ini dimulai.