TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL`* *`BAB 5: JERAT SANG PEMEGANG KENDALI`*
*`TOXIC AND CONTROL`*
*`BAB 5: JERAT SANG PEMEGANG KENDALI`*
Ketukan bass musik dari luar ruangan VIP 107 terasa berdentum seirama dengan detak jantung Kinara Jose yang berpacu gila-gilaan.
Ancaman halus Rian Pradifta tentang kehancuran Aston Club benar-benar mengunci pergerakannya. Kehilangan pekerjaan ini berarti memutus napas ibunya yang sedang terbaring lemah di ruang perawatan intensif.
Kinara menelan ludah yang terasa kesat. Di balik riasan wajahnya yang tebal, dia mati-matian menekan rasa hina yang mulai merayapi dadanya.
Melihat Kinara yang akhirnya tidak berkutik, Rangga terkekeh puas. Dengan senyum lebar, cowok itu menepuk-nepuk ruang kosong di atas sofa kulit di sebelahnya.
"Nah, begitu dong, Nona Nara. Sini, duduk di sampingku. Kita minum santai saja."
Kinara menarik napas dalam-dalam. Dia melangkah maju dengan ragu. Tepat saat dia hendak mendudukkan dirinya di samping Rangga—
Sret!
Sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Kinara dengan sangat kuat. Sebelum Kinara sempat memekik kaget, tubuhnya ditarik paksa.
Bruk!
Dunia Kinara serasa berputar saat tubuh rampingnya mendarat telak di atas pangkuan kokoh `Rian Pradifta`.
Aroma tembakau mahal bercampur parfum maskulin langsung mengepung indra penciuman Kinara. Telapak tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Rian, sementara tangan satunya buru-buru menarik ujung rok beludru hitamnya. Wajahnya memanas, campur aduk antara terkejut dan murka.
Rangga, Rama, dan kedua wanita penghibur melongo tak percaya.
"Keluar," ucap Rian, suaranya sangat tenang namun mutlak.
"Eh? Rian, tapi kan—" Rangga mencoba memprotes.
"Gue bilang keluar. Semuanya," potong Rian tajam. Kilat di matanya membuat siapa saja tahu bahwa mendebat Rian malam ini adalah tiket menuju masalah besar.
Dalam hitungan detik, ruangan VIP itu berganti sunyi. Pintu kayu tebal ditutup rapat, meninggalkan Rian berdua saja bersama pelayan cantik itu.
Kinara bergerak gelisah, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun, lengan kekar Rian justru melingkar erat di pinggang ramping Kinara, mengunci pergerakannya hingga tubuh mereka semakin merapat.
Rian mencondongkan tubuhnya ke depan, bersiap menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Kinara.
Refleks, tangan Kinara bergerak naik. Dia mendorong kepala cowok itu ke belakang dengan sekuat tenaga.
"Tolong hentikan selagi saya masih bersikap sopan," ucap Kinara tajam dengan napas memburu.
Bukannya marah, Rian justru terkekeh rendah. Suara kekehannya terdengar sangat seksi namun mengerikan.
Tangan Rian meraih pergelangan tangan Kinara. Alih-alih melepaskannya, Rian membawa punggung tangan Kinara ke depan bibirnya, lalu mengecupnya dengan lembut namun penuh penekanan.
Cup.
Sentuhan itu membuat Kinara tersengat. Dengan gerakan kilat, Kinara menarik cepat tangannya dan menyembunyikannya di balik punggung.
Rian menyandarkan punggungnya kembali ke sofa. Sudut bibirnya terangkat, mengukir senyum miring penuh kemenangan.
"Jadi... namamu Nara?" bisik Rian rendah. "Nama yang cantik."
Kinara melemparkan tatapan tajam yang seolah siap menguliti cowok di depannya.
Ibu jari Rian bergerak lancang, mengusap pelan bibir ranum Kinara.
Rian melirik ke arah kartu hitam legam di atas meja. "Kartu hitam itu boleh untukmu... asal kamu mau menemani aku sepanjang malam ini."
Darah Kinara mendidih. Rasanya dia ingin menampar Rian sekali lagi. Tapi tidak bisa. Pekerjaannya taruhannya.
Maka saat ibu jari Rian masih mengusap bibirnya, Kinara tiba-tiba membuka mulut dan—
Lep!
Kinara menggigit ibu jari Rian dengan sangat keras. Melimpahkan seluruh rasa kesal dan dendamnya ke dalam gigitan itu.
Kinara mengira Rian akan berteriak. Namun Rian sama sekali tidak bergerak. Dia justru menatap Kinara dengan tatapan semakin intens, seolah gigitan itu tidak lebih dari kecupan.
Setelah beberapa detik, Rian menarik jarinya keluar dengan santai. Dia menatap bekas gigitan yang memerah, lalu menatap wajah Kinara yang terengah.
Rian terkekeh rendah.
"Galak banget," bisiknya, memajukan wajah hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
"Kamu... mirip banget sama anak anjing yang suka menggigit sembarangan."
Kinara mengepalkan kedua tangannya. Pria di depannya ini benar-benar gila, toxic, dan sakit jiwa.
Perlawanan Kinara bukannya membuat Rian mundur, melainkan justru mempercepat `jerat kontrol` yang sedang Rian pasang.
---
*`
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk