Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Di Keheningan Malam
Ratusan kilometer dari hiruk-pikuk ibu kota dan bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, Naomy akhirnya menemukan kembali ketenangan jiwanya. Udara dingin khas lereng Gunung Lawu yang menusuk tulang setiap pagi perlahan-lahan membilas sisa-sisa sesak di dadanya.
Dua minggu memang waktu yang singkat, namun bagi Naomy, itu sudah cukup untuk membuatnya belajar mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Ia tidak lagi menangis saat malam tiba. Ia mulai menerima kenyataan bahwa hubungannya dengan Raka mungkin memang hanya selembar halaman pendek dalam buku kehidupannya—sebuah bab yang indah namun harus selesai dengan cepat.
Keberuntungan seolah memang sedang berpihak pada langkah barunya. Pihak SMK Karya Persada ternyata menyediakan fasilitas rumah dinas sederhana khusus untuk para guru yang berasal dari luar daerah. Letaknya masih berada di dalam kompleks area sekolah, hanya terpisah oleh taman belakang yang ditumbuhi pohon-pohon pinus kecil.
Fasilitas ini membuat Naomy sangat bersyukur. Ia tidak perlu lagi repot-repot memikirkan biaya sewa atau mencari kos-kosan ke sana kemari di tempat baru yang belum ia kenal sama sekali.
Kringgg!
Bel panjang tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berbunyi nyaring, memecah keheningan siang menjelang sore itu. Suara riuh sorak-sorai para siswa yang berhamburan keluar kelas terdengar sayup-sayup sampai ke ruang guru.
Naomy merapikan buku-buku sketsa, pensil, dan beberapa lembar tugas menggambar murid-muridnya ke dalam tas jinjingnya. Setelah berpamitan dengan beberapa rekan guru yang masih tertinggal, ia melangkah keluar dari gedung sekolah.
Langkah kaki Naomy terasa ringan saat menyusuri jalan setapak berbatu menuju rumah huniannya. Angin sore berembus pelan, memainkan beberapa anak rambutnya yang terlepas dari ikatan.
Hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki, Naomy sudah sampai di depan sebuah rumah kecil bernuansa kayu yang asri. Halamannya yang bersih dihiasi beberapa pot bunga krisan yang mekar dengan indah.
Cklek.
Naomy membuka pintu rumah huniannya, lalu melangkah masuk ke dalam. Suasana hangat dan sunyi langsung menyambutnya. Ia meletakkan tas jinjingnya di atas meja makan kecil, lalu menghela napas panjang—kali ini bukan napas sesak penuh beban, melainkan helaan napas lega karena akhirnya ia memiliki tempat yang aman untuk pulang dan merajut kembali impiannya yang sempat patah.
Rumah hunian sederhana itu kini terasa sangat familier bagi Naomy. Dengan sentuhan kreativitasnya, ia menyulap tata letak ruangan tersebut hingga sangat mirip dengan kamar kosnya yang dulu di kota. Mulai dari posisi meja belajar, gantungan kunci di dekat pintu, hingga tata letak kasur yang menghadap langsung ke jendela kecil—semuanya dibuat persis demi menciptakan rasa nyaman yang sempat hilang.
Setelah menyelesaikan urusan bersih-bersih dan mandi, Naomy mengenakan kaus longgar serta celana training santai. Jarum jam baru menunjukkan pukul empat sore ketika ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Energi fisiknya benar-benar terkuras habis setelah seharian mengajar anak-anak SMK yang aktif. Tanpa sadar, embusan angin pegunungan yang sejuk lewat celah jendela membuatnya terlelap dalam tidur yang begitu nyenyak.
Malam pun tiba dengan cepat, membawa keheningan dan kabut tipis khas lereng gunung.
Ketika Naomy terbangun, jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kamarnya terasa sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dari arah kebun pinus di belakang. Mengingat satu kebiasaan buruknya yang tidak bisa tidur jika ada sampah yang tersisa di dalam ruangan, Naomy bangkit berdiri sambil menenteng kantong plastik berisi sampah dapur.
Ia membuka pintu depan. Suasana di luar sudah sangat gelap dan sepi. Rumah-rumah dinas guru yang lain tampak gelap gulita, menandakan para penghuninya sudah lama mengembara di alam mimpi. Udara malam yang sangat dingin langsung menusuk permukaan kulitnya saat ia berjalan beberapa langkah ke depan untuk membuang kantong plastik itu ke bak sampah luar.
Setelah selesai, Naomy buru-buru menggosok kedua lengannya yang kedinginan dan berbalik untuk segera masuk kembali ke dalam kehangatan rumahnya.
Namun, belum sempat kakinya melangkah melewati daun pintu, sebuah pergerakan cepat terjadi di kegelapan.
Sret!
Sebuah tangan kekar dan hangat mendadak menarik lembut namun tegas pergelangan tangan Naomy. Sebelum sempat gadis itu berteriak karena terkejut, tubuh mungilnya langsung ditarik ke dalam sebuah dekapan yang sangat erat. Aroma parfum maskulin bercampur wangi mint yang sangat familier seketika memenuhi indra penciumannya.
"Dapat," bisik sebuah suara bariton yang serak dan sarat akan kerinduan yang mendalam tepat di pucuk kepalanya.
Itu Raka.
Pria itu benar-benar ada di sini, nyata dan sedang memeluknya dengan begitu posesif seolah tidak ingin membiarkan Naomy lolos lagi. Raka rupanya sudah berdiri berjam-jam di bawah bayang-bayang pohon pinus tak jauh dari hunian itu. Ia sengaja menahan diri dan menunggu hingga malam larut agar tidak menimbulkan kegaduhan atau gosip di antara para guru lain.
Satu hal yang paling Raka syukuri saat ini adalah ingatan tajamnya: ia tahu betul bahwa Naomy tidak akan pernah bisa tidur nyenyak sebelum membuang sampah ke luar rumah. Dan tebakannya malam ini terbukti sepenuhnya benar.