Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Gagal
Sore itu di dalam mal, setelah capek mengitari lantai satu, langkah kaki Laila terpaksa berbelok mengikuti tarikan pria di sebelahnya. Laila sebenarnya malas setengah mati. Kalau bukan karena ancaman halus Ayahnya yang mau menjemputnya di kafe tadi, jangan harap dia mau melangkahkan kaki ke butik perhiasan bernuansa putih gading dan emas ini.
"Ck, padahal tadi lagi seru-serunya bahas lowongan kerja sama Tasya-Keira, malah dijemput si tengil ini," runtuk Laila dalam hati.
"Silakan, Mas Arjuna, Mbak Laila, ini beberapa koleksi cincin pernikahan terbaru kami untuk bulan ini," ujar pramuniaga butik dengan senyum ramah yang luar biasa lebar.
Laila duduk di kursi beludru empuk dengan posisi tegak, melipat tangan rapat-rapat di depan dada. Ia memasang muka paling jutek yang dia punya serta pose defensif andalannya yang biasa disebut kedua sahabatnya sebagai 'mode Tuan Putri Judes'.
"Pilih yang mana aja, Dek. Yang paling mahal juga boleh," celetuk Arjuna santai. Satu tangannya bertumpu di dagu, menatap Laila dengan binar jenaka di matanya yang selalu sukses memancing urat saraf Laila untuk menegang.
Laila mendengus kencang, matanya menyapu nampan beludru itu dengan malas. "Gue enggak peduli harganya ya," ketus Laila
"Gue mau yang simpel aja. Enggak usah yang pakai berlian gede-gede kayak punya ibu-ibu sosialita. Norak tahu enggak," sambung Laila.
"Ah, selera minimalis modern khas kritikus sastra," gumam Arjuna. Ia mengulurkan tangan, mengambil sepasang cincin platina polos tanpa hiasan apa pun, hanya ada satu titik berlian mikro yang nyaris tidak kelihatan di bagian tengahnya. "Bagaimana dengan yang ini? Desainnya tegas, lurus, tanpa basa-basi. Mirip kayak Dek Laila kalo lagi ngegas."
Laila melotot tajam, menatap Arjuna dengan pandangan menusuk. "Arjuna, bisa serius dikit enggak sih? Ini di depan umum, ya. Malu-maluin banget lo."
"Mas sangat serius ini Dek," sahut Arjuna, suaranya mendadak sedikit merendah, meskipun senyum tipisnya masih tertinggal. Ia memutar cincin platina itu di antara ibu jari dan telunjuknya. "Platina itu logam yang kuat. Enggak mudah tergores, enggak mudah pudar warnanya, dan tahan terhadap tekanan ekstrem. Sangat cocok buat... ya, perjalanan kita ke depan."
Laila terdiam sesaat. Kalimat Arjuna terasa memiliki makna ganda di kepalanya yang dipenuhi teori-teori sastra. Kuat? Tahan tekanan? Batin Laila bergolak sinis. Logam ini mungkin memang tidak akan berubah warna, tetapi ia tahu pasti bahwa komitmennya hanya dibatasi oleh kontrak tak tertulis selama satu tahun demi kedamaian orang tuanya.
"Mbak, boleh minta tolong diukur jari calon istri saya?" pinta Arjuna kepada pramuniaga.
"Baik, Mas Arjuna. Mari, Mbak Laila, boleh saya pinjam tangan kanannya?" pramuniaga itu mengeluarkan seikat lingkaran besi pengukur ukuran jari.
Laila mengulurkan tangan kanannya dengan malas. Jemarinya yang lentik dan bersih, jemari yang biasanya sibuk mengetik untaian kalimat fiksi di laptop kini terasa dingin. Pramuniaga itu mencoba memasukkan lingkaran nomor 10, namun agak sempit di bagian sendi tengah.
"Sepertinya harus naik satu nomor, Mbak. Ini agak ketat," ujar pramuniaga itu ramah.
Sebelum pramuniaga itu sempat mengambil ukuran berikutnya, tangan hangat Arjuna tiba-tiba bergerak maju. Dengan gerakan yang tegas namun sangat lembut, ia mengambil alih seikat lingkaran besi pengukur tersebut dari pramuniaga. Jemari kasarnya yang biasa memegang kemudi pesawat tempur kini menyentuh ujung jari-jemari Laila dengan hati-hati.
Sentuhan hangat yang tiba-tiba itu mengirimkan sengatan listrik aneh yang membuat Laila refleks menahan napas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia ingin menarik tangannya kembali, namun genggaman Arjuna yang mantap menahannya di tempat.
"Nomor sebelas," gumam Arjuna pelan, memasukkan lingkaran besi bernomor 11 ke jari manis kanan Laila. Pas. Lingkaran itu meluncur dengan sempurna tanpa hambatan, pas melingkar di pangkal jarinya. Arjuna mendongak, menatap mata bulat Laila yang sedang menatapnya dengan campur aduk antara terkejut dan kesal.
"Pas, kan? Enggak kekecilan sampai bikin jari kamu lecet, dan enggak kelonggaran sampai gampang copot pas nanti lagi jalan buru-buru ngehindarin Mas," ujar Arjuna, matanya mengunci pandangan Laila.
Laila buru-buru menarik tangannya dengan sentakan kasar begitu Arjuna melepaskan alat pengukur itu. Ia meremas jemarinya sendiri di bawah meja, mencoba mengusir rasa hangat yang tertinggal di sana. "Ya. Nomor sebelas aja. Biar cepet kelar," sahutnya ketus, memalingkan wajahnya ke arah deretan jam dinding antik di sudut toko untuk menyembunyikan pipinya yang perlahan mulai memanas.
"Jadi buat desainnya mau bagaimana Dek?" tanya Arjuna.
"Terserah lo aja yang penting simpel kayak kata gue tadi," jawab Laila ketus.
Arjuna membolak-balik beberapa desain cincin yang ada di buku, kemudian berbicara mengenai desain custom dengan pramuniaga. Sedangkan Laila hanya sibuk dengan ponselnya.
Begitu urusan memilih desain, administrasi dan pembayaran uang muka selesai, mereka berdua melangkah keluar dari mal. Udara sejuk berbau pewangi ruangan mewah dalam sekejap digantikan oleh embusan angin senja Jakarta yang membawa aroma aspal hangat dan sisa-sisa polusi kendaraan.
Laila berjalan selangkah di depan Arjuna, sengaja mempercepat langkahnya dengan gaya angkuh yang ia buat-buat. Tas jinjingnya ia dekap erat di depan dada seolah benda itu adalah perisai pelindung dari ketengilan calon suaminya.
"Gue langsung pulang sekarang ya," ujar Laila tegas saat mereka sampai di depan mercedes benz hitam milik Arjuna di area parkir luar. "Gue masih punya banyak draf sinopsis cerita yang harus gue kelarin malam ini. Deadline lowongan agensi Singapura yang tadi gue bahas sama Tasya dan Keira itu tinggal tiga hari lagi. Jangan buang-buang waktu gue."
Arjuna membukakan pintu kursi penumpang untuk Laila, menyunggingkan senyum simetrisnya yang menyebalkan. "Sebagai calon suami yang bertanggungjawab Mas punya kewajiban atas rute perjalanan kita sore ini, Tuan Putri. Dan menurut radar lambung Mas, kita berdua butuh bahan bakar sebelum kamu kembali mengurung diri di kamar untuk lanjut menulis."
"Gue enggak lapar!" sahut Laila cepat.
Kruuuk...
Sebuah bunyi protes yang sangat halus namun jelas terdengar dari arah perut Laila tepat setelah kata-kata penolakannya selesai diucapkan. Keheningan sesaat melanda area parkir tersebut.
Arjuna menaikkan satu alisnya, menatap perut Laila lalu beralih ke wajah Laila yang kini sudah berubah warna menjadi merah padam seperti kepiting rebus. "Ups, ada yang gak mau kerja sama tuh sama tuannya. Mulut kamu bilang enggak, tapi perutmu sepertinya lagi berdemo menyuarakan kelaparan Dek."
Laila memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki organ tubuhnya sendiri yang tidak memiliki solidaritas sedikit pun untuk menjaga harga dirinya. "Arjuna! Lo bener-bener nyebelin banget, tahu enggak sih?!"
Arjuna menepuk kap mobilnya. "Ayo naik. Mas tahu tempat yang pas untuk meredakan demo di perutmu itu Dek."
Laila lagi dan lagi hanya bisa mengikuti perkataan pria itu, ia masuk ke dalam mobil. "Kali ini, biar gue yang nentuin tempat makan. Ntar lo bawa gue ke tempat aneh-aneh lagi," ketusnya.
Kemarahan Laila sudah mencapai level tinggi. Duduk di kursi penumpang mobil mewah Arjuna, dia hanya bisa melipat tangan di dada dengan bibir mengerucut penuh kekesalan, menatap jalanan ibu kota yang mulai merayap padat.
Beberapa jam yang lalu, Laila sedang berada di sebuah kafe nyaman, tenggelam dalam tumpukan berkas dan layar laptop bersama dua sahabatnya, Tasya dan Keira. Mereka bukan sedang bergosip kosong, melainkan tengah serius membedah prospek lowongan kerja terbaru yang sangat krusial bagi masa depan karier mereka, justru harus terhenti karena kedatangan Arjuna.
Laila bersumpah tidak akan membiarkan Arjuna lolos begitu saja. Ego pria itu harus dipangkas, dan tempat terbaik untuk melakukannya adalah melalui dompetnya. Rencana balas dendam ini sudah tersusun rapi di kepala Laila sejak mereka masih berada di dalam butik perhiasan di lantai dua mal tadi.
"Jadi kita mau makan di mana Dek?" tanya Arjuna.
"Ntar lo bakal tau kok, terus aja jalan."
Laila mengarahkan Arjuna ke sebuah restoran fine dining prancis bergaya art deco yang bertengger di lantai teratas sebuah pencakar langit di kawasan SCBD. Restoran itu terkenal bukan cuma karena pemandangannya, tapi karena harga menu makanannya yang fantastis.
Laila sengaja memilih tempat ini dengan satu tujuan membuat dompet Kapten Arjuna menjerit histeris. Biar pria tengil itu tahu, biaya pemeliharaan seorang Laila itu setara dengan biaya perawatan mesin jet tempur.
Begitu pintu lift terbuka di lantai 56, aroma wewangian mahal dan denting harpa langsung menyambut mereka. Suasana restoran itu luar biasa intimidatif. Pencahayaannya temaram, meja-mejanya dilapisi kain linen putih bersih, dan para pelayannya berpakaian setelan jas hitam yang sangat rapi.
Laila melirik Arjuna lewat sudut matanya. Cowok itu masih memakai kemeja flanel kotak-kotak dan celana jins hitam. Mampus lo, Arjuna. Pasti lo ngerasa salah kostum dan minder, batin Laila bersorak girang.
Namun, ekspektasi Laila langsung runtuh. Arjuna melangkah masuk dengan santai, punggungnya tetap tegap, dan langkah kakinya konstan, memancarkan aura perwira yang biasa masuk ke ruang pengarahan pangkalan udara. Jangankan minder, dia bahkan melempar senyum tipis yang sopan kepada hostess restoran yang menyambut mereka.
"Duduk di dekat jendela aja, Mbak. Biar calon istri saya bisa dapet aesthetic view buat bahan tulisannya," ujar Arjuna lancar.
Begitu mereka duduk, seorang pelayan dengan sarung tangan putih datang membawa dua buku menu beludru hitam berukuran besar. Laila langsung membuka menunya dan sengaja mencari deretan makanan yang harganya paling tidak masuk akal.
"Saya mau Caviar d'Aquitaine buat pembuka, terus Wagyu A5 Rossini buat menu utama, sama Trinitario Chocolate Soufflé buat pencuci mulut," ucap Laila lancar, tanpa jeda, dengan pelafalan bahasa Prancis yang sengaja dibuat sesempurna mungkin.
Ia melirik Arjuna penuh tantangan. "Dan minumnya, saya mau es cappuccino polos. Di dalam gelas kaca, enggak pakai sedotan, enggak pakai foam, enggak pakai bubuk cokelat."
Pelayan itu sempat mengerjap mendengar pesanan kopi yang sangat spesifik dan agak 'merusak pakem' kafe Prancis tersebut, namun tetap mencatatnya dengan sopan. "Baik, Mbak. Untuk Mas-nya?"
Arjuna bahkan hampir tidak melihat buku menunya. "Samain aja kayak pilihan calon istri saya, Mas. Kopinya juga samain."
Laila hampir tersedak ludahnya sendiri. Namun, ia tetap harus terlihat tenang di depan Arjuna. Laila menatap tajam Arjuna dengan mata bulatnya. "Lo yakin mau pesen menu yang sama kayak gue? Apa gak menjerit entar dompet lo?" sindir Laila.
Arjuna justru terkekeh pelan. Ia melepas kacamata hitam yang sedari tadi tergantung di kerahnya, lalu menaruhnya di atas meja.
"Dek Laila yang cantik dengerin Mas ya," Arjuna menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Laila dengan senyum tengil yang mendadak melunak.
"Uang dinas dan tunjangan terbang yang Mas kumpulkan selama ini memang buat dipakai. Dan menurut Mas, enggak ada tempat yang terlalu mahal kalau tujuannya buat menyenangkan perempuan yang sebentar lagi bakal punya nama belakang yang sama kayak nama Mas."
Laila langsung bungkam. Kalimat Arjuna telanjur menyengat hatinya, membuat mode juteknya mendadak eror untuk kesekian kalinya hari itu. Ia membuang muka ke arah jendela, menatap kelap-kelip lampu jalanan Jakarta dari ketinggian lantai 56 untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang makin menjadi-jadi.
Sialan, batin Laila merutuk. Kenapa pertahanan cowok ini tebal banget sih? Kenapa dia enggak pelit atau perhitungan kayak stereotip cowok yang gue baca di novel-novel?
Tak lama kemudian, makanan mereka datang. Potongan daging Wagyu A5 yang super lembut itu disajikan dengan sangat estetik. Laila memotong dagingnya dengan kasar, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan gaya judesnya.
"Gimana? Enak?" tanya Arjuna, memperhatikan Laila yang mengunyah dengan khusyuk.
"Biasa aja. Dagingnya terlalu empuk, gue lebih suka yang agak menantang," dusta Laila, padahal dalam hati dia harus mengakui kalau makanan ini adalah makanan terenak yang pernah menyentuh lidahnya bulan ini.
Arjuna hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli melihat tingkat gengsi Laila yang setinggi langit. Ia meminum es cappuccino polosnya yang disajikan sesuai instruksi minimalis Laila. "Tapi kopi ini boleh juga konsepnya. Tanpa busa, tanpa sedotan."
Satu jam berlalu, dan momen yang paling ditunggu Laila akhirnya tiba. Pelayan datang membawa sebuah wadah kulit kecil berisi struk tagihan. Laila sengaja mencondongkan badannya sedikit, mengintip total harga yang tertera di sana.
Rp. 10.850.000,-
Laila menahan napasnya. Angka itu benar-benar gila untuk sekali makan malam. Ia menatap Arjuna, bersiap melihat ekspresi syok, atau minimal kerutan di dahi sang kapten.
Arjuna meraih wadah kulit itu, melirik angkanya selama setengah detik, lalu dengan gerakan super santai mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna hitam dari dompetnya. Ia menyelipkan kartu itu di dalam wadah dan menyerahkannya kembali kepada pelayan tanpa kedipan mata sedikit pun.
Di dalam lift yang bergerak turun, Laila meremas tali tasnya dengan wajah kesal, karena sudah gagal melancarkan pembalasan dendamnya.
...Bersambung... ...