Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08
"Aku tunggu, ingat Rusita aku tidak suka penghianatan," kata tuan Ex yang yang kemudian memberikan sesuatu ke tangan mama Rusita.
"Baik," mama Rusita melihat benda yang di berikan tuan Ex yang ternyata adalah sebuah kertas bertuliskan kamar nomer 021.
Mama Rusita tersenyum kembali dan kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut setelah memastikan tuan Ex telah pergi.
Sementara itu di sisi lain.
"Ayo lah Sofia kali ini saja kau jangan membuat mama dan aku malu hanya karena kau tidak berani minum seteguk anggur pun," sedari tadi Tara terus menerus berusaha membujuk Sofia untuk meneguk anggur yang dia berikan.
"Tidak Tara, aku tidak bisa, aku tidak pernah minum, aku tidak mau," kata Sofia kepada Tara.
"Ayo lah Sofia, mama sebentar lagi tiba, lagipula hanya seteguk saja, aku tidak ingin mama marah dengan mu ayo lah," kata Tara lagi-lagi membujuk Sofia.
Lama-lama hal ini membuat Sofia muak dan akhirnya menyerah.
"Baik lah, hanya seteguk saja," kata nya yang kemudian mengambil gelas yang di berikan Tara lalu meminum seteguk anggur yang di berikan Tara tersebut.
Rasanya sungguh tidak enak, membuat tengorokan Sofia terasa tidak nyaman dan sedikit panas, namun Sofia menahan nya.
Jam kini sudah menujukkan pukul sebelas malam, pesta nya mulai semakin ramai, orang-orang menikmati pesta tersebut dengan sangat gembira.
"Aduh, kepala ku sangat pusing, Tara bagaimana kalau kita pulang sekarang, di mana mama?" tanya Sofia dalam keadaan setengah sadar.
Tubuhnya mulai tidak nyaman setelah meneguk anggur tadi, namun ia masih bisa mengontrol dirinya untuk tetap berdiri meskipun dalam keadaan sempoyongan.
Tak lama kemudian mama Rusita datang dan memegang pundak Sofia dari belakang.
"Bagaimana? Kau sudah melakukan nya?" tangan Rusita kepada Tara.
"Sudah ma, dia sudah berada dalam pengaruh alkohol," kata Tara sambil tersenyum.
"Bagus, sekarang kau tunggu mama di mobil, cepat," kata Rusita kepada Tara.
Tara pun mengangguk dan kemudian bergegas keluar dari gedung lalu menunggu sang mama di mobil.
"Ma, kita pulang ya?" kata Sofia yang kesadaran nya mulai tak sepenuhnya lagi.
"Kita akan Istirahat di sini dulu, mama sudah menyiapkan kamar untuk mu," mata Rusita yang kemudian memapah Sofia melalui keramaian dan berjalan pergi ke lantai atas gedung tersebut.
Sementara itu Sofia hanya bisa menahan pusing di kepala nya, tubuh nya juga merasa panas dan rasanya ingin segera melakukan sesuatu.
"Sebentar lagi, sedikit lagi," kata Rusita yang saat ini bergegas membawa Sofia ke kamar tempat di mana tuan Ex sudah menunggu.
Sementara itu di sisi lain.
"Sangat membosankan, acara ini benar-benar membuang-buang waktu ku," kata Zavier yang kini berada di lantai tiga gedung tersebut tepat nya di kamar 026, ia berdiri di balkon kamar nya untuk menenangkan pikiran nya dari hiruk pikuk gedung tersebut.
Gedung besar yang ternyata adalah sebuah hotel bintang lima ini ternyata milik kelaurga Zavier, jelas tertulis kalau nama gedung tersebut adalah Atharyan hotel.
Bukan nya datang untuk menghadiri pesta, Zavier malah memilih untuk bersantai di salah satu kamar di hotel tersebut.
"Kakek benar-benar baik, kenapa dia merelakan hotel ini untuk di sewa tua bangka Ex itu, apa kakek tidak tau kalau laki-laki tua itu sangat licik?" batin Zavier lagi-lagi ia mengisap rokok nya.
Sementara itu ...
"Masuk," kata Rusita yang kemudian mendorong Sofia ke dalam kamar tersebut.
"Ma, aku mau pulang," kata Sofia hendak menghampiri pintu dan keluar dari kamar itu.
"Pulang? Mimpi saja kau sana!" segera saja Rusita menutup pintu kamar tersebut dan kemudian berjalan pergi meningalkan tempat itu.
"Ma! Ma buka ma!" kata Sofia dengan kepala yang semakin lama semakin pusing.
Namun tiba-tiba seseorang memegang pundak nya dari belakang. Hal ini membuat Sofia refleks dan kaget lalu menatap laki-laki tersebut dalam remang-remang lampu.
"Akhirnya kau datang juga sayang, aku sudah lama menunggu mu, aku membayar mahal untuk mendapatkan mu," kata nya sambil memegang kedua pundak Sofia.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Sofia mengenali suara tersebut dan mencoba mendorong orang yang hendak mengusiknya itu.
"Sofia,ini Paman Ex, kau tidak perlu takut aku akan melayani ku dengan lembut, mama mu sudah menyerahkan dirimu kepada ku, dan aku membayar mu sebanyak lima miliar, bayangkan betapa berharganya nya dirimu," kata kaki itu yang kemudian menarik Sofia dan mendorong nya ke ranjang.
Seketika Sofia yang mendengar itu jadi kaget dan khawatir, tak menyangka kalau ternyata sang mama menjual dirinya dengan tuan Ex meksipun kepala nya pusing dan tidak punya cukup tenaga untuk melawan namun ia bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang di ucapkan laki-laki tua mesum itu.
"Tidak, jangan, tolong lepaskan aku, aku mau pergi," kata Sofia berusaha menghindari tuan Ex yang hendak memulai aksi bejat nya.
"Kau tidak akan bisa kemana-mana, aku punya banyak anak buah di sini, kau juga sudah menjadi milikku karena bayaran yang aku berikan kepada mama mu," kata orang tua itu yang kemudian mengungkung Sofia di bawah nya.
Sofia terus memberontak, sampai akhir ia berhasil menendang dengan kuat selengkangan orang tua itu, membuat buah pisang si tua bangka itu kesakitan dan seketika laki-laki itu jatuh dari ranjang sambil memegang pisang nya yang terasa pecah karena tendangan maut dari Sofia.
Mendapatkan kesempatan bagus untuk kabur, Sofia segera mengambil langkah menuju pintu, namun usaha nya membuka pintu yang terkunci cukup membuang-buang waktu.
Ia kembali melihat ke sekeliling kamar sambil menggelengkan kepalanya karena pandangan nya yang semakin buram, tanpa sengaja ia melihat vas bunga yang lumayan besar berada di sudut ranjang.
Sofia berlari sempoyongan dan mengambil cas tersebut, dia mengangkat nya dan memecahkan vas tersebut tepat di gagang pintu, keberuntungan memihak Sofia, kunci pintu rusak dan akhirnya terbuka, ia pun memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari kamar tersebut.
"Sial, sakit sekali, mau kemana kau hey! Tunggu aku!" Tuan Ex masih mengerang kesakitan, di dalam kegelapan dia juga tidak bisa mencari di mana ponsel nya untuk meminta anak buahnya mencari dan menangkap kembali Sofia.
Sementara itu karena sangat takut Sofia yang sudah acak-acakan mencari tempat untuk bersembunyi dari tuan Ex karena dia tau kalau ia tidak akan bisa keluar dari hotel dalam keadaan nya yang sedang berada di dalam pengaruh obat yang di berikan Tara di dalam minuman tadi.
Beberapa pintu di kamar hotel tidak bisa di buka oleh Sofia, sementara suara orang tua itu sudah terdengar mengejar nya, ia benar-benar putus asa saat ini namun dirinya masih terus berharap kalau akan ada keajaiban dari tuhan untuk membantu nya.
Bersambung ....