Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
BAB 31: Percikan Api di Rumah yang Retak
Beberapa hari setelah pengajuan gugatan perceraian yang dilayangkan secara resmi oleh Rena, sepucuk surat bersampul cokelat tebal akhirnya tiba di kediaman Aris. Surat itu dikirimkan langsung oleh jurusita Pengadilan Agama, berisi panggilan resmi untuk menghadiri sidang perdana perceraian mereka.
Aris dan Bu Broto yang berada di ruang tamu benar-benar terkejut saat membaca lembaran kertas berstempel resmi di tangan mereka. Wajah Aris mendadak pucat pasi, sementara jemari Bu Broto gemetar hebat menahan rasa tidak percaya. Selama beberapa hari terakhir ini, di dalam benak mereka yang sombong, mereka sebenarnya mengira Rena hanya menggertak dan main-main saat berteriak ingin cerai di hadapan warga waktu itu. Mereka yakin wanita lemah seperti Rena yang tidak memiliki sandaran keluarga tidak akan berani melangkah sedetik pun ke ranah hukum apalagi dia tidak punya untuk mengurus ini.
Namun kini, lembaran kertas resmi di meja itu menjadi bukti nyata yang menghantam kesombongan mereka. Rena benar-benar sangat serius dengan setiap kata yang diucapkannya waktu itu.
Bu Broto langsung mencengkeram lengan Aris dengan kuat, matanya membelalak dipenuhi rasa tidak percaya.
"Aris! Kamu lihat ini?! Perempuan itu benar-benar mendaftarkan gugatannya!"
"Aku juga tidak menyangka, Bu... Rena seberani ini," bisik Aris dengan suara bergetar, terduduk lemas di sofa.
Bu Broto memajukan tubuhnya, menatap Aris dengan wajah yang amat serius dan penuh penekanan. "Dengar baik-baik, Aris! Kamu tidak boleh membiarkan perceraian ini terjadi! Jangan sampai kalian benar-benar bercerai! Kamu harus mempertahankan pernikahanmu dengan Rena, bagaimana pun caranya!"
Aris menatap ibunya dengan kening berkerut heran. "Tapi Bu... bukankah Ibu sendiri yang dulu selalu menyuruhku menceraikan Rena kalau dia membangkang? Kenapa sekarang Ibu malah menyuruhku mempertahankannya?"
Bu Broto mengembuskan napas kasar, mengibaskan tangannya dengan wajah penuh penyesalan.
"Itu dulu, Aris! Sebelum Ibu tahu bagaimana rasanya tinggal bersama wanita malas seperti si Linda itu! Dengar ya, Ibu ini sudah tua, pinggang Ibu mau patah mengurus rumah tangga setelah kepergian Rena. Ibu jauh lebih memilih memiliki menantu seperti Rena yang penurut, rajin, hemat, dan tidak banyak melawan, meski sedikit menyebalkan daripada harus tinggal dengan Linda yang malas, pembangkang, dan cuma tahu menghabiskan uangmu!"
Bu Broto menarik napas dalam-dalam, lalu memberikan instruksi tegas kepada putranya. "Nanti saat sidang mediasi di Pengadilan Agama, kamu harus bertekuk lutut di depan Rena! Minta maaf, bujuk dia dengan kata-kata manis, katakan kalau kamu sangat menyesal dan berjanji akan berubah. Lakukan apa saja agar dia mau mencabut gugatan itu dan kembali pulang ke rumah ini!"
Aris terdiam. Dia juga merasa bersalah karena sudah mengabaikannya selama ini, begitu juga dengan Dio, anak kandungnya. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk meminta kesempatan kepada Rena dan berjanji akan berubah.
"Aku akan mencoba, bu. Aku akan mencoba mempertahankan pernikahanku dengan Rena. " putus aris pada akhirnya. .
Tanpa mereka sadari sedikit pun, percakapan serius yang berlangsung di ruang tamu itu didengar oleh Linda yang sedang berdiri menguping di balik pintu kamar. Jemari Linda mencengkeram kusen pintu dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara dadanya bergemuruh hebat menahan rasa geram dan sakit hati yang teramat sangat.
Linda mengepalkan tangannya di balik pintu, matanya menyipit tajam menatap bayangan ibu mertuanya dari balik celah kayu. Dia merasa sangat muak dan terhina dengan kelakuan memuakkan keluarga Broto ini. Dulu, sebelum Rena pergi, Linda dipuja-puja setinggi langit oleh Bu Broto dan Aris. Dia selalu dibanding-bandingkan dengan Rena karena penampilannya yang jauh lebih cantik, modis, dan terurus, serta dianggap memiliki nilai lebih karena bisa menghasilkan uang sendiri dari salonnya.
Namun kini, baru saja satu minggu Rena pergi dan keadaan rumah sedikit kacau, keluarga bermuka dua ini sudah berniat menyingkirkannya begitu saja demi menarik kembali sang 'pembantu gratisan'.
"Kurang ajar sekali tua bangka itu!" bisik Linda dengan gigi tergetuk rapat. "Dulu aku dimanja-manja, sekarang saat ada masalah, aku mau dibuang dan disingkirkan begitu saja? Cerdas sekali otak mereka!"
Linda tahu dia tidak bisa tinggal diam membiarkan skenario Bu Broto berjalan mulus. Jika Aris sampai benar-benar berhasil membujuk Rena dan wanita itu kembali ke rumah ini, posisi Linda sebagai istri siri tentu akan terancam terdepak ke luar. Harga dirinya tidak akan pernah sudi diinjak-injak oleh keluarga miskin moral seperti mereka.
"Kamu pikir kamu bisa membuangku begitu saja, ibu mertua? Jangan harap!" batin Linda dengan senyuman yang teramat dingin dan penuh tipu daya.
Di dalam kepalanya yang cerdik, Linda mulai menyusun sebuah rencana jahat. Linda memutuskan bahwa dia akan segera melakukan sesuatu yang nekat dan mematikan untuk membungkam mulut ibu mertuanya itu, agar wanita tua itu tidak akan pernah memiliki keberanian lagi untuk menghasut Aris atau mencoba membawa Rena kembali ke dalam rumah ini.
Di rumah kosnya Rena yang baru datang kerja dipanggil Ibu kos agar datang ke rumahnya.
"Ada apa, bu?" tanya Rena saat sudah berhadapan dengan Ibu kosnya.
"Ini mbak Rena, tadi ada orang yang datang kesini dan nyari mbak Rena. Katanya mau ngantar ini." Bu Amina memberikan amplop coklat kepada Rena.
Rena menerimanya dan membaca tulian di bagian luar amplop tersebut lalu menatap ibu kosnya. Pasti wanita itu sudah membaca dan mengira apa yang terjadi padanya.
"Terima kasih, bu. kalau begitu saya kembali dulu " ucap Rena dan segera berbalik menuju sepedanya.
"Semangat ya, mbak Rena. "
Rena tersenyum mendengar kalimat penyemangat dari ibu kosnya. Mungkin dia sudah mendengar kisahnya dan keluarganya. Tapi dia sudah tidak ambil pusing lagi, toh memang kejadian malam itu sudah menyebar luas.
Sampai di rumah kosnya Rena segera membuka surat dari pengadilan agama itu. Ternyata dia juga mendapatkan surat panggilan sidang. Dia tersenyum lega karena tidak perlu menunggu waktu lama agar perceraiannya ini dilakukan. Dan Rena yakin dia akan menang, dia tidak akan memberikan kesempatan apapun kepada Aris.
"Dio, ibu boleh bertanya sesuatu? " Rena menatap anaknya yang sedang meletakkan baju seragamnya ke dalam bak.
"Mau tanya apa, bu? "
Rena mendudukkan Dio disampingnya dan menatap wajah polos anaknya dengan seksama.
"Kalau ibu sama ayah berpisah, apakah kamu nggak apa-apa? " tanya Rena ragu.
"Nggak apa-apa. " jawab Dio cepat tanpa berfikir.
"Benarkah? kenapa? "
"Karena selama ini ibu selalu menangis, dan ayah juga nggak pernah sayang Dio. Jadi, Dio nggak apa-apa kalau nggak punya ayah. "
aku pikir sampai Rena menikah lagi