Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangam yang kembali menyeruak
Setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa hari, Farah akhirnya diizinkan pulang. Meski demikian, dokter tetap menegaskan bahwa kondisi kesehatannya harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Farah diminta untuk mulai menerapkan pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi yang baik untuk jantungnya, serta membiasakan diri melakukan olahraga ringan secara rutin. Selain itu, ia juga dilarang memendam terlalu banyak pikiran yang dapat memicu gangguan kesehatan. Segala obat dan vitamin yang telah diresepkan pun wajib diminum secara teratur.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih penting dari semuanya. Farah harus tetap menjalani pemeriksaan lanjutan secara berkala, sebab penyakit yang dideritanya sewaktu-waktu dapat mengancam nyawanya.
Di dalam kamar perawatan, Zulfa dengan hati-hati membantu ibu mertuanya duduk di kursi roda. Selama berada di rumah sakit, ia merawat wanita itu dengan penuh perhatian dan kesabaran. Meski luka di hatinya belum benar-benar sembuh, Zulfa tak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang menantu yang juga berkewajiban merawat ibu mertua yang sedang terbaring sakit. Sekali lagi, ia memilih terlihat kuat dan tegar, menyembunyikan segala perasaan yang bergejolak di dalam dada.
Sementara itu, Arslan tengah sibuk mengurus administrasi di bagian kasir.
Sebagai salah satu donatur terbesar rumah sakit tersebut, sebenarnya Arslan mendapat perlakuan istimewa. Keluarganya berhak menikmati layanan gratis lengkap dengan berbagai fasilitas kelas atas. Namun, Arslan menolak segala keistimewaan itu. Ia memilih membayar seluruh biaya pengobatan dengan uang pribadinya sendiri.
"Selama saya masih mampu, saya akan membayarnya. Lebih baik gratiskan biaya pengobatan bagi mereka yang benar-benar tidak mampu, bukan untuk orang seperti saya. Kalau sistemnya seperti ini, yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan semakin miskin."
Itulah kalimat tegas yang terlontar dari bibir Arslan saat Ibu Risma, selaku pengelola rumah sakit, menemuinya. Ucapannya terdengar lugas, namun sarat makna. Sebab pada kenyataannya, tak sedikit orang berada yang justru menerima berbagai kemudahan, padahal mereka sanggup membayar semuanya tanpa bantuan.
Ibu Risma terdiam beberapa saat. Sorot matanya menatap Arslan dengan campuran kagum dan sungkan. Tidak banyak orang berada yang masih memiliki kepedulian seperti itu. Sebagian besar justru berlomba mencari jalan pintas demi mendapatkan fasilitas lebih, meski mereka sama sekali tidak membutuhkannya.
"Pak Arslan... saya mengerti maksud Anda," ucap Ibu Risma lirih. "Tapi izinkan kami setidaknya memberikan kemudahan sebagai bentuk terima kasih atas semua bantuan yang sudah Anda berikan selama ini."
Arslan menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, namun suaranya tetap tenang.
"Kalau Ibu benar-benar ingin berterima kasih, gunakan bantuan saya untuk memperbaiki ruang rawat inap kelas bawah. Tambahkan alat kesehatan, sediakan obat-obatan, dan bantu pasien yang kesulitan membayar. Itu jauh lebih berarti."
Ucapan itu membuat hati Ibu Risma tersentuh. Ia mengangguk pelan, lalu pamit meninggalkan Arslan dengan rasa hormat yang semakin besar.
Saat Arslan kembali ke kamar rawat, ia mendapati Zulfa tengah merapikan selimut ibunya yang duduk lemah di kursi roda. Sementara seorang pelayan dari rumah ibunya tengah membereskan semua pakaian dan barang-barang milik ibunya. Sang Ayah yan selama beberapa hari terakhir menemani sang istri, juga turut bebenah untuk meninggalkan ruangan itu.
"Ayo pulang," ujar Arslan setelah selesai membayar administrasi rumah sakit.
Zulfa hanya mengangguk. Ia mendorong kursi roda Farah menuju lift, sementara Arslan dan ayahnya berjalan di samping mereka. Sang ibu yang masih tampak lemah tiba-tiba bersuara pelan.
"Mana Fathiya? Kita belum pamit padanya."
Sekali lagi nama wanita itu yang pertama kali terlintas di benak Farah, membuat dada Zulfa terasa sesak oleh geram yang ia pendam rapat-rapat. Di tengah segala perhatian dan pengorbanannya selama beberapa hari terakhir, justru nama orang lain yang dicari ibu mertuanya.
"Mungkin dia sedang sibuk mengurus pasien lain. Lebih baik kita pulang saja lebih dulu," ujar Ardi menanggapi ucapan sang istri dengan nada tenang.
Farah menghela napas pelan. Wajahnya tampak menyiratkan kekecewaan, meski ia tak lagi membantah.
Pintu lift terbuka. Zulfa mendorong kursi roda masuk terlebih dahulu, diikuti Arslan dan Ardi. Suasana di dalam lift mendadak hening. Hanya terdengar bunyi dengung mesin yang bergerak turun perlahan.
Zulfa berdiri di belakang kursi roda, menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap. Wajahnya terlihat tenang, namun hatinya kembali bergejolak hebat. Entah sampai kapan ia di anggap tak pernah ada oleh ibu mertuanya itu.
Namun saat pintu lift terbuka, dan mereka hendak menuju keluar ada Fathiya yang ternyata sudah menunggu mereka di lobby. Wanita berambut sebahu yang nampak anggun dengan seragam medisnya bangkit dari sofa dan menghampiri mereka yang baru keluar dari lift.
Farah tersenyum menyambut kedatangan wanita itu. Wajahnya yang sejak tadi tampak lelah kini terlihat jauh lebih cerah.
"Tante pikir kamu sedang sibuk mengurus pasien lain," ujarnya hangat.
Fathiya berjongkok di hadapan kursi roda, lalu menyentuh lembut tangan Farah dengan penuh perhatian. Sikapnya begitu tenang dan menyenangkan. Seolah kehadirannya mampu memberi rasa nyaman bagi siapa pun di sekitarnya.
"Kebetulan saya baru saja selesai bertugas," jawabnya sambil tersenyum. "Jangan lupa pesan saya ya, Tante. Jaga kesehatan, jangan terlalu banyak pikiran, dan rutin minum obat serta vitamin yang sudah saya resepkan."
Farah terkekeh pelan, matanya berbinar penuh rasa suka.
"Iya, pokoknya selama kamu yang merawat Tante, semua perintahmu pasti Tante turuti."
Ucapan itu terdengar seperti candaan, namun cukup membuat dada Zulfa kembali terasa sesak. Ia berdiri diam di belakang kursi roda, memaksakan wajah tenang meski hatinya seakan diremas kuat-kuat.
Betapa mudahnya wanita itu mengambil tempat di hati ibu mertuanya, sementara dirinya yang telah siang malam menjaga justru seolah tak pernah terlihat.
Fathiya tersenyum malu mendengar pujian tersebut.
"Jangan begitu, Tante. Saya hanya menjalankan tugas."
"Kalau semua dokter seperti kamu, pasien pasti cepat sembuh," sahut Farah lagi tanpa ragu.
Ardi yang berdiri di samping mereka hanya tersenyum kecil, seolah senyum itu hanya sebagai formalitas sebab dalam hatinya, ia memikirkan perasaan menantunya yang sering dibuat sakit hati oleh sikap istrinya.
Sementara Arslan hanya memasang wajah datar, meski sesekali matanya beralih ke arah Zulfa yang sejak tadi memilih bungkam.
Ia menyadari perubahan raut wajah sang istri, juga genggaman tangan Zulfa yang semakin erat pada pegangan kursi roda. Menandakan kalau istrinya menyimpan rasa kesal.
"Tante juga harus lebih banyak istirahat di rumah," lanjut Fathiya lembut. "Kalau ada keluhan sedikit saja, segera kabari Fathiya, karna Fathiya masih bertanggung jawab penuh atas pengobatan tante."
Farah mengangguk patuh seperti anak kecil yang sedang dinasihati.
"Iya, Dokter cantik."
Semua orang tersenyum kecil, kecuali Zulfa. Baginya, setiap pujian yang keluar dari mulut Farah terasa seperti duri yang diam-diam menusuk harga dirinya.
Tanpa sadar, Fathiya menoleh ke arah Zulfa dan menatapnya sejenak. Senyumnya tetap ramah, namun ada sesuatu yang sulit diterjemahkan di balik sorot matanya.
"Kamu juga pasti sangat lelah karna sudah menjaga Tante selama ini, jangan lupa untuk menjaga kesehatan juga," ucapnya halus.
Ucapan itu membuat semua mata seketika beralih kepada Zulfa. Ia sedikit terkejut, lalu memaksakan senyum tipis.
"Ini sudah kewajiban saya sebagai menantu," jawabnya singkat. Namun sarat validasi.
Di dalam hatinya, Zulfa justru semakin gelisah. Ia tak tahu apakah ucapan itu tulus... atau hanya sekadar basa-basi yang dibungkus kelembutan.
***
Selama beberapa hari terakhir, Arslan dan Zulfa memutuskan untuk tinggal sementara di kediaman keluarga Ardiwilaga. Arslan hanya ingin memastikan bahwa kondisi ibunya benar-benar membaik setelah pulang dari rumah sakit. Pada awalnya, ia sempat khawatir Zulfa tidak berkenan diajak menetap sementara di rumah itu, mengingat selama ini sikap Farah kerap melukai perasaan istrinya. Namun di luar dugaan, Zulfa justru menyambut niat tersebut dengan lapang hati.
Meski ibu mertuanya sering membuat hatinya tersayat, Zulfa tak pernah ingin menjadi penghalang bagi Arslan untuk berbakti kepada orang tuanya. Baginya, seberat apa pun luka yang ia rasakan, seorang anak tetap memiliki kewajiban membalas kasih sayang ibunya. Sebab letak surga suaminya tetap ada pada ibunya. Itu yang selama ini Zulfa pahami.
Sudah tiga hari ini Zulfa merawat Farah dengan penuh kesabaran. Tentu saja ia tidak melakukannya seorang diri. Arslan telah menyewa seorang perawat pribadi dari rumah sakit tempat Farah dirawat, agar ibunya mendapatkan pendampingan medis yang lebih maksimal. Dengan begitu, Zulfa bisa terbantu dalam mengurus segala kebutuhan sang ibu mertua.
Tepat hari itu adalah jadwal Farah untuk menjalani kontrol lanjutan. Namun karena tubuhnya masih tampak lemah dan mudah lelah, ia menolak pergi ke rumah sakit. Farah memilih agar dokter yang memeriksanya datang langsung ke rumah. Mendengar permintaan itu, perawat pribadi tersebut segera menghubungi dokter yang selama ini menangani kondisi Farah.
Siapa lagi kalau bukan Fathiya.
Saat itu Fathiya kebetulan sedang libur bertugas. Meski demikian, begitu menerima kabar tersebut, ia segera bersiap menuju kediaman keluarga Ardiwilaga yang berdiri megah di kawasan elite ibu kota.
Namun ia tidak datang sendirian. Yevi, sang tante, memaksa ikut bersamanya. Wanita paruh baya itu mengaku ingin menjenguk Farah dan ingin melihat langsung keadaannya. Tetapi di balik alasan itu, tersimpan tujuan lain yang jauh lebih penting.
Yevi ingin memastikan rencana besar yang telah lama mereka susun—apakah akan terus dilanjutkan, atau justru harus dihentikan di tengah jalan.
Di sepanjang perjalanan, mobil yang mereka tumpangi melaju mulus menembus jalanan kota. Fathiya fokus menatap ke depan, sementara Yevi sesekali melirik keponakannya dengan senyum penuh arti.
"Kamu gugup?" tanya Yevi tiba-tiba.
Fathiya menghela napas pelan. "Aku datang untuk memeriksa pasien, Tante. Tidak lebih."
Yevi terkekeh kecil. "Kalau hanya pasien biasa, tak mungkin kamu langsung bergegas datang di hari libur."
Fathiya terdiam. Jemarinya menggenggam tas di pangkuan lebih erat.
Nama Arslan memang tak disebutkan, tetapi keduanya sama-sama tahu siapa yang sedang dibicarakan.
Tak lama kemudian, mobil memasuki gerbang besar kediaman Ardiwilaga. Bangunan megah dengan halaman luas itu berdiri anggun di hadapan mereka. Seorang pelayan segera membukakan pintu mobil dengan hormat.
Fathiya menatap rumah itu sejenak. Ada banyak kenangan yang tiba-tiba menyeruak di benaknya.
Sementara di dalam rumah, Zulfa sama sekali belum tahu bahwa kedatangan tamu hari itu akan menjadi awal dari badai baru dalam rumah tangganya.