Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soo Jin Menghilang
Yu-na tiba-tiba berhenti memungut kayu, lalu menoleh ke sekeliling dengan wajah cemas.
“Hei… kalian lihat Soo-jin tidak? Ke mana dia pergi?” tanyanya panik.
Teman-temannya ikut menoleh ke kiri dan kanan, mencari sosok gadis itu di antara tumpukan kayu dan pohon. Hanya keheningan yang menyambut mereka.
“Kita tadi terlalu sibuk mengumpulkan kayu sampai tidak sadar kalau Soo-jin sudah hilang dari sini,” kata Hye-jin dengan suara bergetar.
“Kita harus mencarinya! Tapi jangan sampai berpisah!” ingat Seo-ah cepat. “Setiap beberapa langkah kita buat tanda di batang pohon, supaya kita sendiri tidak ikut tersesat.”
Da-eun mengerutkan kening, lalu bertanya ragu: “Apakah kita harus lapor ke yang lain dulu?”
Hye-jin berpikir sejenak, lalu mengambil keputusan cepat. “Baiklah! Da-eun dan Yu-na, kalian segera kembali ke perkemahan. Beritahu guru dan teman-teman yang lain kalau Soo-jin hilang. Biar aku dan Seo-ah yang cari jejak di sekitar sini dulu!”
Mereka pun mengangguk cepat, membagi tugas dengan hati-hati di tengah cemas yang mulai menyelimuti hati.
Soo-jin segera berbalik arah, berniat kembali ke tempat di mana mereka tadi mengumpulkan kayu bakar. Belum sempat ia melangkah jauh, tiba-tiba ada benda keras yang menghantam pelipisnya.
“Aduh! Apa ini?” ia memegangi kepalanya yang terasa perih, matanya berair menahan sakit.
Saat menunduk, terlihat sebuah apel hijau dengan bekas gigitan di salah satu sisinya, tergeletak tepat di dekat sepatunya. Soo-jin menunduk mengambil buah itu, dahinya berkerut bingung.
“Apel…?” gumamnya pelan. Ia menatap sekeliling dengan cemas. “Di sini tidak ada pohon apel sama sekali. Apakah ada orang yang sengaja melemparku?”
Ia mengangkat suara, berteriak menembus keheningan: “Siapa di sana? Keluarlah!”
Belum selesai suaranya menghilang, tiba-tiba hembusan angin yang sangat kencang melanda. Daun kering beterbangan menutupi pandangan, dan tubuh Soo-jin terdorong mundur hingga ia jatuh terduduk di tanah yang empuk.
Tangannya menyentuh tepian sesuatu yang cekung. Ia segera berbalik badan dan menoleh ke bawah—matanya membelalak tak percaya.
“Apa ini…? Sepertinya tadi tidak ada lubang di sini,” bisiknya gemetar.
Perlahan ia mencondongkan badan, mencoba melihat ke dalam kegelapan lubang yang baru saja muncul di hadapannya itu.
Soo-jin terbelalak kaget, napasnya tercekat. Di dasar lubang itu terbaring sosok yang persis sama persis dengannya—wajah, potongan rambut, bentuk tubuh, bahkan seragam dan jaket yang dikenakannya saat ini pun tak ada bedanya.
“Ini… ini… aku?” suaranya bergetar hebat, matanya menatap tak percaya. “Apa maksudnya? Kenapa ada dua tubuhku?”
Rasa takut mencengkeram dadanya semakin kuat saat terdengar langkah kaki mendekat. Hye-jin dan Seo-ah akhirnya sampai di sana, napas mereka terengah-engah.
“Kita harus segera cari Soo-jin. Ke mana lagi ya? Ini sudah terlalu jauh dari tempat tadi,” keluh Hye-jin cemas.
Soo-jin merasa lega luar biasa, air mata langsung menetes. Ia melambaikan tangan sekuat tenaga. “Di sini! Aku di sini! Teman-teman!”
Namun kedua temannya tidak menoleh sedikit pun. Mata mereka menatap lurus ke depan, seolah tidak melihat dan tidak mendengar apa-apa.
“Lebih baik kita balik saja dulu. Biar yang lain bantu cari. Kalau begini terus nanti kita ikut tersesat juga,” ajak Seo-ah sambil menarik lengan Hye-jin.
“Kalian tidak lihat aku? Aku ada di sini!” teriak Soo-jin histeris, berlari menghalangi jalan mereka—tapi tubuhnya justru melewati tubuh mereka seperti angin.
Mereka pun berbalik dan perlahan menghilang di balik pepohonan, meninggalkan Soo-jin sendirian.
Saat ia hendak mengejar, tiba-tiba kabut hitam pekat menyelimuti sekelilingnya seketika. Segala cahaya lenyap, kegelapan total menutupi pandangan.
“Ahhh! Apa ini? Aku tidak bisa melihat apa pun!” Soo-jin jatuh berlutut, berteriak sekuat tenaga memecah keheningan. “Toloong…! Tolong! Apakah ada yang mendengar aku?!”
Suaranya hanya memantul samar, lalu ditelan kembali oleh kabut yang semakin tebal.
Saat Da-eun dan Yu-na berlari tergesa-gesa kembali ke perkemahan, wajah mereka pucat pasi dan napas tak beraturan. Mereka langsung menghampiri guru pembimbing serta Min-woo dan Seung-hyun yang sedang menyiapkan kayu api.
“Pak! Kak Min-woo! Kak Seung-hyun!” seru Da-eun gemetar. “Soo-jin… Soo-jin hilang! Dia tidak ada di tempat kita cari kayu!”
Min-woo dan Seung-hyun serentak berdiri kaget. Wajah Min-woo langsung berubah tegang.
“Hilang bagaimana? Kalian tidak berpisah kan?” tanya Seung-hyun cepat.
“Kami tadi terlalu sibuk mengumpulkan kayu, tiba-tiba saja dia sudah tidak ada di samping kami. Hye-jin dan Seo-ah masih mencarinya di pinggir hutan,” jelas Yu-na sambil menahan tangis.
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Min-woo langsung menyambar jaket dan senter. “Kami akan mencarinya. Kalian tetap di sini dan jangan ada yang masuk ke dalam hutan sendirian!”
Ia melangkah cepat menuju arah hutan, matanya sudah menatap tajam ke arah pepohonan gelap. Seung-hyun mengikutinya rapat, wajahnya pun tak kalah serius—mereka berdua tahu, Soo-jin tidak akan pergi tanpa alasan, dan ada sesuatu di hutan ini yang memancingnya menjauh.
Tidak lama berjalan masuk ke pinggiran hutan, mereka berdua berpapasan dengan Hye-jin dan Seo-ah yang berjalan tergesa-gesa kembali dengan wajah lesu dan cemas.
“Kalian tidak menemukannya? Di mana Soo-jin?” tanya Min-woo langsung, nada suaranya penuh kekhawatiran.
“Tidak… kami tidak melihat tanda-tanda keberadaannya sama sekali,” jawab Hye-jin dengan suara bergetar. “Kami cari sampai agak jauh, tapi jejaknya seolah lenyap ditelan bumi.”
Belum sempat Min-woo berkata lagi, telinganya menangkap suara samar yang memecah keheningan. Seung-hyun pun langsung menoleh, matanya membelalak.
“Itu… itu suara Soo-jin!” serunya yakin.
Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas—teriakan minta tolong yang ketakutan dari arah yang lebih dalam. Tanpa buang waktu, Min-woo dan Seung-hyun langsung berlari sekuat tenaga menembus semak belukar, mengikuti arah suara itu, meninggalkan Hye-jin dan Seo-ah yang terpaku di belakang.
Sesampainya di sumber suara itu, Min-woo dan Seung-hyun menyorotkan senter ke segala arah—namun di sana hanya ada pepohonan dan semak belukar, tidak ada sosok Soo-jin sedikit pun.
“Ke mana dia? Tadi suaranya jelas sekali dari sini,” gumam Seung-hyun bingung sambil meneliti tanah.
Soo-jin berdiri tepat di hadapan mereka, melambaikan tangan sekuat tenaga dan berusaha berteriak. Namun bibirnya bergerak tanpa suara—seketika itu juga tenggorokannya terasa kering, seolah ada yang menyedot seluruh kemampuannya untuk bersuara. Tidak ada satu pun kata yang keluar.
Air mata menetes deras di pipinya. Ia memukul pelan dada Min-woo, tapi tangannya hanya menembus tubuh pemuda itu tanpa rasa.
“Apakah… apakah aku sudah mati?” bisiknya lirih tanpa suara. Ia menoleh gemetar ke arah lubang di belakangnya, menatap sosok tubuh yang persis mirip dengannya yang masih terbaring diam di sana.