Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL21
KAMU?!
Pagi pertama tanpa Hannah ternyata jauh lebih berantakan daripada yang dibayangkan Romi.
Romi bangun dengan tergesa pagi itu. Entah karena semalaman ia bertelepon dengan Hannah hingga lewat tengah malam atau karena pagi ini tak ada lagi orang yang membangunkannya.
“Sial!”
Romi mengumpat ketika melihat jam di dinding kamarnya. Ia baru saja selesai mandi. Entah bisa disebut benar-benar bersih atau tidak karena setelah bersabun, ia hanya sempat mengguyur tubuhnya tiga kali sebelum buru-buru keluar.
Romi membuka pintu ruangan yang terdapat beberapa lemari di sana. Semalam Hannah sudah mengatakan jika ia sudah mempersiapkan pakaian kerja suaminya untuk beberapa hari, namun selebihnya ia meminta sang suami menyiapkan sendiri, seperti kaos dan pakaian dalam, serta dasi dan tak ketinggalan yang sering terlupakan yakni kaos kaki.
Romi memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Hannah tak kalah cepat saat ia mandi tadi. Syukurlah, Hannah sudah menyiapkan semuanya. Pakaiannya bahkan sudah disetrika sehingga Romi tinggal memakainya. Namun saat memakai dasi, entah mengapa selalu saja salah. Entah itu kepanjangan, kependekan atau kurang rapi.
Sepanjang memakai pakaiannya entah sudah berapa kali Romi menggerutu kesal.
“Mana belum buat sarapan lagi.”
Ponselnya berdering. Nama Hannah muncul di layar. Seolah istrinya itu tahu kalau pagi ini Romi sedang kelimpungan.
Romi mengangkat panggilan itu namun ia meloudspeaker agar ia bisa melakukan kegiatannya yang lain.
“Ya, Sayang,” jawab Romi dari seberang telepon.
“Halo… Mas, kamu sudah bangun belum?”
“Sudah, tapi aku telat, Na. Mas juga belum sarapan.”
“Ya ampun, Mas, kok bisa?”
“Ya mau bagaimana lagi, aku bangunnya telat sih.”
“Loh kok bisa?”
“Duh bisa tidak kamu jangan banyak tanya begitu? Mas lagi kerepotan ini.”
“Iya maaf, tapi kamu sudah mandi ‘kan? Ini sudah jam tujuh loh.”
“Mas sudah mandi juga berpakaian, tapi Mas masih nggak bisa pasang dasi rapi kayak kamu, kayaknya Mas nggak pakai dasi deh hari ini.” Frustrasi Romi.
Biasanya istrinya itulah yang bantu memakaikannya dasi setiap hari, bahkan saat ia dinas luar pun Hannah selalu membuat simpul dasi jadi saat Romi memakainya pria itu tinggal menariknya ke atas, namun karena kemarin Hannah buru-buru alhasil ia lupa membuatkan beberapa simpul dasi untuk suaminya.
“Maafin aku ya, Mas?” kata Hannah penuh penyesalan.
“Nggak apa-apa. Jangan dipikirin. Harusnya Mas juga mulai belajar cara mengikat dasi dengan benar. Biar setiap kamu dinas lapangan, kejadian seperti ini nggak terulang lagi.”
Hannah hanya terdiam. Rasa bersalah itu masih ada, tetapi setidaknya ucapan suaminya sedikit menenangkan hatinya.
Nada penyesalan Hannah justru membuat Romi ikut merasa bersalah. Padahal bukan Hannah yang terlambat bangun pagi ini.
“It’s okay. Kalau begitu Mas tutup teleponnya dulu ya, Mas sudah mau berangkat.”
“Jadi… Mas nggak sarapan dulu? Ada makanan di dalam kulkas, tinggal kamu hangatkan di microwave,” ujar Hannah mengingatkan sang suami.
“Nggak sempat, Na, Mas sarapannya di kantin kantor saja. Sudah ya, Mas tutup sekarang.”
“Mas—”
Belum sempat Hannah menyelesaikan ucapannya, panggilan itu sudah lebih dulu diputus oleh Romi.
Hannah menghembuskan napas panjang lalu mengetikkan beberapa kalimat di sana lalu menekan tombol enter.
My Wife ❤️ : Hati-hati, Mas. I miss you. Maafin aku ya😘
Di seberang sana, Hannah hanya bisa menatap layar ponselnya dengan perasaan bersalah.
Di luar sana Romi tengah menunggu ojek yang sedari tadi ia pesan namun tak kunjung datang.
“Aish! Bisa-bisa aku sampai kantor jam sembilanan ini,” gerutu Romi. Menggeleng kepala sewaktu melihat waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. “Mana hp lowbat lagi.” Lengkap sudah derita pria itu pagi ini.
Bip! Bip! Bip!
Di tengah kebingungannya menunggu ojek, sebuah sedan silver berhenti tepat di hadapannya. Bukankah tadi ia memesan ojek motor? Kenapa yang datang justru mobil?
Romi kemudian menghampiri mobil itu lalu mengetuk kaca mobil.
Tuk! Tuk! Tuk!
Kaca mobil itu perlahan kemudian terbuka.
Romi sontak membeku ketika melihat siapa yang duduk di balik kemudi
“Kamu?!”
“Hai, Mas?” sapa seseorang dari dalam mobil.
“Kamu! Ngapain kamu disini?” Ada nada tidak suka dalam pertanyaan itu.
“Kamu masih saja ketus, Mas. Aku memangnya bikin salah apa sama kamu?”
“Harusnya kamu tahu jelas maksudku apa Jelita?”
Ya, pemilik mobil berwarna silver itu adalah Jelita, teman seperjuangannya ketika mendapat vonis dokter.
“Oh.. yang pembicaraan kita di telepon waktu itu?”
Romi bergeming.
“Memangnya sekarang aku ganggu kamu? Lagipula ini sudah masuk jam kerja Mas, jadi aku nggak salah ‘kan nyapa kamu?” Jelita lalu melihat arloji di pergelangan tangannya.
“Kamu baru mau berangkat kerja?”
Mendengar pertanyaan Jelita membuat kesadarannya kembali. Oh astaga betapa banyak waktu yang dia buang untuk berdebat seperti ini.
“Silahkan pergi dari sini. Aku nggak mau ada orang yang melihat kita.” Usir Romi. Walau terdengar tidak sopan, namun Romi tidak ingin ada omongan liar yang tersebar di sekitar rumahnya, terlebih saat ini sang istri sedang tidak ada di rumah.
“Mobil kamu mana?” Jelita melirik ke arah dalam rumah pria itu, namun tidak ada mobil pria itu disana. “Mobil kamu kemana? Bengkel ya?” tanya wanita itu lagi.
“Bukan urusan kamu!” Ketus Romi.
“Galak banget, Mas.” Jelita mencebik kesal melihat keketusan pria itu.
“Silahkan pergi, Jelita.” Kembali Romi mengusir wanita itu.
“Kamu nggak mau nebeng sama aku?” Tawarnya lagi.
“Nggak!”
Tidak berpikir dua kali Romi saat mengatakan ‘tidak’ pada ajakan wanita itu.
“Serius? Kamu emang nggak takut telat ikut rapat?”
Kening Romi mengernyit mendengar kata ‘rapat’.
Romi diam, bukan karena takut telat seperti yang dikatakan Jelita, melainkan sedang mencari ingatan kata ‘rapat’ di dalam chat grup.
“Kamu pasti belum baca, ‘kan?” tebak Jelita dengan tepat.
Romi dengan cepat mengecek ponselnya dan sialnya ponselnya mati. Hari ini benar-benar terasa seperti hari sial baginya. Ponselnya ternyata sudah benar-benar mati kehabisan daya. Pantas saja tidak ada notifikasi masuk sejak tadi, padahal ia sempat memberitahu temannya yang lain jika ia akan sedikit terlambat tiba di kantor, namun tidak ada respons sama sekali. Ternyata bukan tidak ada yang merespons chatnya, melainkan ponselnya sudah mati total.
“Ayo, Mas, ikut sama aku saja!”
Jelita kembali mencoba peruntungannya, namun tak digubris pria itu. Jelita menghembuskan napas panjang. Benar-benar susah banget buat pria itu goyah.
“Ya sudah kalau begitu aku jalan duluan ya?”
“Silahkan.” Jawab Romi seperti di awal. Singkat dan padat.
“Tapi Mas, jangan sampai telat loh, kita rapatnya kali ini bukan di kantor Mas. Tapi di luar dan yang akan ikut rapat bukan cuma tim kita berdua saja tapi juga bos aku yang dari Surabaya. Dia terbang langsung semalam hanya untuk menghadiri rapat pagi ini.”
Romi mulai gamang. Ia kemudian menatap wanita itu dalam-dalam. Mungkin saja semua itu hanya akal-akalan Jelita. Namun sayangnya, semua yang dikatakan wanita itu memang benar setelah Jelita memperlihatkan barisan pesan di grup kerja melalui ponselnya.
“Masih nolak?”
Romi mengepalkan rahangnya.
Ia benar-benar tidak ingin berada dalam satu mobil dengan wanita itu. Namun jika apa yang dikatakan Jelita benar, maka keterlambatannya justru bisa merugikan pekerjaan banyak orang.
Sial.
Hari ini benar-benar sedang mengujinya.
Romi akhirnya mengaku kalah. Dengan banyak pertimbangan, ia memilih menerima tawaran itu.
“Aku yang nyetir,” ucapnya begitu sudah berada di sisi kemudi.
“Nggak masalah.”
Tentu saja Jelita tidak keberatan. Bahkan diam-diam ia merasa senang karena pria itu akhirnya berada di mobil yang sama dengannya.
“Kamu memang seperti ini ya kalau lagi nyetir?”
Sudah hampir lima belas menit mereka berkendara. Namun selama itu pula Romi tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau bicara. Dengerin aja aku yang ngomong.”
Romi tetap bergeming. Tatapannya lurus mengarah ke jalan di depan.
"Kamu tahu, Mas... semenjak kamu memutuskan semuanya tahun lalu, hidupku benar-benar hancur. Bukan cuma kehilangan sosok teman cerita, tapi juga menjadi awal hancurnya pernikahanku."
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐