NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:120.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Setelah pembicaraan serius yang menyisakan rasa sesak di dadanya, Rahma perlahan menarik diri. Ia memandang Sakti dengan tatapan gamang. "Kak, Rahma izin masuk ke dalam duluan, ya. Rahma mau bicara sama Ibu dan Ayah soal ini," pamitnya lirih.

Sakti mengangguk pelan, jemarinya memijat pelipisnya sendiri. "Ya, silakan. Aku mau ke warung kopi depan dulu sebentar. Kepalaku mendadak pusing sekali," sahut sang komandan, melangkah pergi dengan beban pikiran yang tak kalah berat.

Rahma memandangi punggung tegap itu menjauh sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah kembali ke kamar rawat inap. Setibanya di dalam, suasana kamar sudah jauh lebih tenang karena keluarga Pak Wirahadi rupanya baru saja pamit pulang.

Melihat sang ayah yang tampak memejamkan mata dan tertidur pulas, Rahma mendekati ibunya yang sedang merapikan buah-buahan di meja. Ini adalah kesempatannya untuk menumpahkan penolakan, sebelum ia terpaksa mengatakannya langsung pada sang ayah.

"Bu..." bisik Rahma, menarik ujung baju Bu Rima. "Rahma tidak mau dijodohkan dengan Kak Sakti. Apakah tidak ada cara lain selain perjodohan ini? Rahma tidak apa-apa kok kalau harus berhenti kuliah, Bu. Sungguh. Daripada Rahma harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak... eh... tidak Rahma sukai!"

"Kau bohong, Rahma!"

Deg!

Suara serak namun penuh penekanan itu mengejutkan Rahma. Ia menoleh cepat ke arah tempat tidur ayahnya. Rupanya, Pak Salim sama sekali tidak tidur. Pria paruh baya itu kini membuka matanya dan menatap sang putri sulung dengan tatapan tajam yang menembus sanubari.

"Ayah bisa melihat dari matamu kalau kau tertarik dengan Sakti," ucap Pak Salim, membuat Rahma langsung kelu. Sang ayah menghela napas berat sebelum melanjutkan, "Dan Ayah tidak mau kau berhenti kuliah, Rahma. Kau itu satu-satunya harapan Ayah, Nak. Jangan pernah menghancurkan semua mimpi itu dengan menolak perjodohan ini."

Rahma menggeleng lemah, air matanya mulai menggenang. "Tapi, Ayah..."

"Ayah tidak mau berobat jalan lagi kalau sampai kamu tidak menikah dengan Sakti!" potong Pak Salim tegas, menggunakan sisa kekuatannya untuk memberikan ultimatum.

Deg!

Kata-kata sang ayah telak menghujam pertahanan Rahma. Tubuhnya mendadak kaku dan ia tidak bisa berkutik sedikit pun. Ancaman itu terlalu sakral bagi Rahma yang seorang mahasiswi kedokteran, ia tahu betul seberapa fatal jika ayahnya mogok berobat. Rupanya, harapan kedua orang tuanya terhadap perjodohan ini sudah bulat dan tak bisa ditawar lagi. Menolak Sakti sama saja dengan mempertaruhkan nyawa ayahnya sendiri.

Rahma menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan setetes air mata jatuh ke lantai rumah sakit yang dingin.

'Duh, bagaimana ini? Padahal aku sudah janji dengan Kak Sakti untuk berusaha menolak perjodohan ini. Tapi sepertinya aku benar-benar tidak bisa... Maafkan aku, Kak Sakti!' batin Rahma menjerit lirih, terjebak di antara janji pada pria yang dicintainya dan bakti pada sang ayah yang tengah sekarat.

Sedangkan Bu Rima hanya menatap iba melihat kesedihan putrinya, namum ini adalah jalan satu-satunya untuk masa depannya Rahma, karena sejatinya setiap orang tua selalu ingin melihat putra dan putrinya hidup bahagia dengan masa depan yang menjanjikan.

*

*

Akhirnya Sakti memilih untuk kembali ke Kodam III/Siliwangi demi mendinginkan kepalanya setelah sebelumnya berpamitan kepada keluarganya yang saat ini menginap beberapa hari di salah satu hotel mewah di Bandung.

Di dalam barak perwira yang sepi, ia merebahkan tubuhnya yang tegap di atas kasur. Kedua tangannya diletakkan di bawah kepala, matanya menatap kosong ke langit-langit plafon.

Pikirannya mendadak melayang, ditarik paksa oleh memori kelam masa lalu. Di tempat tidur ini, bayangan sosok wanita yang sangat dicintainya kembali hadir, wanita yang dengan tega mengkhianati ketulusannya, meninggalkannya begitu saja demi bersanding dengan pria lain yang jauh lebih mapan saat Sakti masih merintis karier militernya.

'Kenapa... Kenapa kau tega mengkhianati ku setelah semua yang kita lewati?' ucap Sakti dalam hati. Rahangnya mengeras, kedua lengannya mencengkeram kuat sprei kasur hingga otot-otot tangannya menyembul. Rasa perih dan kecewa itu kembali membakar dadanya.

"Aaarrgghhh, sial!" teriak Sakti frustrasi, meluapkan kemarahan yang tertahan.

"Si...Siap! Izin, Komandan!"

Dua orang prajurit bawahannya yang baru saja hendak melangkah masuk langsung terlonjak kaget. Mereka berdiri kaku di ambang pintu, tampak gemetar mendengar teriakan nyaring yang terdengar begitu menakutkan dari sang Komandan yang terkenal galak itu.

Sakti menoleh tajam, membuat kedua prajurit itu buru-buru menegakkan posisi hormat mereka.

"Ada apa?" tanya Sakti ketus.

"I...Izin, Komandan... Saya diperintahkan oleh Kolonel Yusuf agar Komandan segera menghadap ke ruangan beliau sekarang," ucap salah seorang prajurit dengan suara bergetar.

Sakti mendesah kasar. Ia memijat pangkal hidungnya sejenak sebelum akhirnya bergegas bangkit dari tempat tidur.

"Ya. Kembali ke tugas kalian."

Sakti merapikan seragam lorengnya yang sedikit kusut, lalu melangkah cepat membelah koridor markas menuju ruangan Kolonel Yusuf. Setibanya di depan pintu yang kokoh itu, Sakti mengetuknya tiga kali.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk!" terdengar suara berwibawa dari dalam.

Sakti membuka pintu dan langsung memberikan hormat militer yang sempurna. Di balik meja kerja besar, Kolonel Yusuf sudah menunggunya dengan senyum renyah.

"Siap, selamat sore, Kolonel!" sapa Sakti tegap.

"Sore, Sakti. Santai saja, silakan duduk!" perintah sang Kolonel ramah.

Sakti pun menurunkan hormatnya dan duduk di kursi yang telah disediakan. Di awal pertemuan, mereka sempat mengobrol sejenak seputar evaluasi pasca tugas Sakti selama empat tahun di Lebanon. Namun, raut wajah Kolonel Yusuf perlahan berubah menjadi lebih serius, membuat suasana di ruangan itu ikut menegang.

"Sakti, obrolan santainya kita sudahi dulu," ujar Kolonel Yusuf sambil menopang dagunya. "Sekarang, ada hal penting yang mau saya sampaikan. Segera siapkan berkas-berkas mu untuk pengajuan pernikahan dinas."

Deg!

Sakti tertegun, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.

"Izin, Kolonel... Maksudnya bagaimana?"

Kolonel Yusuf terkekeh pelan melihat reaksi bawahannya. "Ayahmu, Wirahadi, tadi siang sudah menelepon saya. Dia meminta saya memproses izin pernikahanmu dengan putri sahabatnya, Rahma. Berkas pengajuannya harus segera masuk minggu ini agar jadwal sidang nikah kantor bisa diatur secepatnya."

Mendengar penjelasan itu, pasokan oksigen di sekitar Sakti seolah menipis. Padahal di taman rumah sakit tadi, ia sudah mengatakan hal yang sejujurnya kepada Rahma bahwa ia tidak menginginkan pernikahan ini, dan Rahma sudah berjanji akan menolaknya. Sang Komandan seketika merasa dikhianati dan dibohongi oleh gadis itu.

Sakti mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di bawah meja, menyembunyikan getaran amarah yang membakar dadanya.

'Sialan! Kenapa bocah ingusan itu tidak segera menolak perjodohan ini seperti janjinya? Malah kabar menyebalkan ini sudah sampai ke telinga Kolonel Yusuf!' umpat Sakti dalam hati dengan sangat geram. 'Papah... kau benar-benar sudah keterlaluan. Aku belum mau menikah, apalagi dengan anak kecil seperti dia!'

Bersambung...

1
Uba Muhammad Al-varo
semua masalah yang terjadi diantara Rahma, Sakti,Dinda dan Yuda semua nya sudah selesai
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, sudah terungkap dalang kasus Dinda 😄🙏
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Ilfa Yarni
syukurlah masalah ya udah bisa diatasi aku degil degan jg lho bacanya apakah mereka berhasil atau ga
depoll_poll aje 😉😉😉
jd penasaran ini,,
kira2 siapa kah ya orang nya..
lanjutkan donk Thor
Ariany Sudjana
padahal tunggu sampai si pelacur murahan itu menyebut nama petinggi, baru ditangkap Yuda, jadi lebih seru ceritanya. kalau begini, bisa berkelit si pelacur murahan itu
depoll_poll aje 😉😉😉
good job kalian..
is the best deh friend yg ini.. hihihihihi
terus gali terus biar terbongkar
depoll_poll aje 😉😉😉
parah s ini sumpah..
yg kemaren ketemu sama s dinda s yuda apa bukan si?
aku lupa othorrr.. heheheh
ttp tenang dlm menjalankan misi ini ya sakti..
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih menjadi misteri kak, aku tidak menyebutkan siapa pria yang telah bertemu dengan Dinda, kita tunggu di Bab berikutnya ya 😉
total 1 replies
depoll_poll aje 😉😉😉
Alhamdulillah
Untungnya Rahma sudah tidak salah paham kembali..
semangat n semoga rencana kalian berhasil n ttp hati-hati n waspada
Ilfa Yarni
wah akhirnya jketemulah prajurit yg sekongkol dgn dinda
Teh Yen
wah beneran Yuda ini mah yg kerja smaa sama c wanita ular Dinda itu yah
Teh Yen
nah loh terlalu kentara yah ketawanya c Yuda jd bikin sakti curiga
Teh Yen
xixiiii mayor andnan udh dapet lampu hijau tuh dari prof asha asyik gas yah mayor tp nanti kl urusna sakti udh selesai bisa kan nunggu sebentar aj gt hehe
Teh Yen
nah kan benar ada saksinya itu mayor Adnan yah ,, lain klau kalua ada Msalah tanyain suamimu dulu jangan langsung percaya yah rahma
Teh Yen
siapa itu jangan bilang itu c dinda ,,, aduh Rahma harusnya kamu cek dulu kebenaran foto itu jangan terbawa emosi main pergi begitu saja hadeuh
Teh Yen
jangan percaya sama foto itu rahma setidaknya tanyakan dulu pada sakti kebenarannya yah
Teh Yen
aduuh mulutmu sakti tolong kondisikan pak komandan kalau sampe rmh rahma masih marah sudah d pastikan engg ada jatah malam ini wkwkwkk
Teh Yen
kamu harus percaya suamimu rahma jangan biarkan siapapun memisahkan kalian sekalipun itu mantan nya suamimu
Teh Yen
jawab dong sakti jangan diam.saja seperti mengiyakan kata kata Dinda apalg Rahma dari jauh sedang memperhatikan
Ariany Sudjana
wah Yuda cari masalah ini, dan siap-siap dipecat 😄
Teh Euis Tea
nah loh senang bener si Yuda atasannya menderita, dia kan yg ketemuan sm si Dinda di caffe yg ingin balas dendam sm keluarga kapten Sakti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!