NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:610.8k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Azalea keluar dari dapur sambil membawa piring, tetapi langkahnya melambat ketika mendengar percakapan ayah dan anak itu. Ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan dengan jantung berdebar, takut Enzo salah menanggapi.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Enzo menghela napas panjang, lalu meletakkan telapak tangannya di pundak Erza.

“Kamu berani, Kak” ucap pria itu pelan. “Dan benar kamu harus melindungi adikmu.”

Erza mendongak, matanya membulat.

“Tapi,” lanjut Enzo dengan nada lembut, “lain kali kamu bilang ke orang dewasa dulu. Jangan sampai kamu atau adikmu terluka.”

Erza mengangguk mantap. “Iya, Daddy.”

Enzo menarik Erza ke dalam pelukan hangat. Pelukan ayah yang jarang, tapi penuh makna. “Daddy bangga,” katanya lirih.

Azalea menahan napas. Dadanya menghangat, matanya berkaca-kaca melihat pemandangan itu.

Elora bertepuk tangan kecil. “Daddy bangga sama Kak Erza!”

Enzo tersenyum, lalu menoleh ke Azalea yang masih berdiri di dapur. “Kamu bagaimana?”

Azalea mendekat perlahan. “Mereka kaget dan takut,” jawabnya jujur. “Tapi sudah tenang.”

“Mommy hebat,” sela Elora tiba-tiba. “Mommy peluk aku, terus bilang, “Ada Mommy, sekarang Elora sudah aman.”

Enzo menatap Azalea lebih lama dari biasanya.

“Apa yang kamu lakukan sama mereka?” tanyanya pelan.

Azalea tersenyum kecil. “Aku cuma bilang perasaan mereka wajar. Takut itu boleh. Marah itu manusiawi. Tapi kita harus belajar menenangkan diri.”

Enzo terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa sangat dalam. Selama ini, ia terbiasa menyelesaikan masalah dengan ketegasan dan kontrol. Namun, Azalea memilih jalan lain, dia memeluk emosi, bukan menekannya.

“Kamu tahu caranya menghadapi anak-anak,” ucap Enzo lirih, hampir seperti gumaman.

Azalea menggeleng halus. “Aku hanya mendengarkan mereka.”

Mereka saling bertatapan sejenak. Tak ada kata cinta atau pun pengakuan. Namun, di antara mereka, ada rasa saling memahami yang tumbuh semakin kuat.

“Dinner siap!” seru Azalea akhirnya, memecah keheningan.

Mereka duduk bersama di meja makan. Elora masih sesekali mengulang cerita dengan gaya berlebihan, membuat Erza tertawa kecil. Enzo memperhatikan semuanya. Kedua anaknya tawa lepas, suara yang manja, gerak kecil yang dulu sering ia lewatkan.

Malam itu, sebelum makan malam dimulai, Enzo menyadari sesuatu dengan jelas. Ia bukan hanya bangga pada putranya yang berani melindungi adiknya. Ia juga kagum pada istrinya, wanita yang tidak hanya mengurus, tetapi membentuk jiwa buah hatinya yang sering dia abaikan.

Enzo merasa pulang ke rumah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kembali ke sesuatu yang bernama keluarga. Ini yang sempat hilang dalam hidupnya.

***

Langit sore tampak redup ketika Azalea berdiri di depan jendela kamar. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah. Kalender di dinding sudah menunjukkan hitungan hari menuju bulan Ramadan.

Hatinya terasa penuh. Sudah lama sekali ia tidak pulang kampung. Tidak duduk lama di depan makam orang tua. Tidak membacakan doa di pusara kakaknya—Jasmine—yang wajahnya masih sering hadir dalam mimpinya.

Azalea berdiri di ambang pintu ruang kerja Enzo. Pria itu masih duduk di balik meja, memeriksa berkas-berkas dengan raut serius. Ketukan pelan di pintu membuat Enzo menoleh.

“Mas, boleh aku masuk? Aku ingin bicara sebentar,” tanya Azalea lembut.

Enzo meletakkan berkasnya. “Masuk.”

Azalea duduk di kursi di hadapannya. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, tetapi ada kegugupan kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Mas Enzo, sebelum Ramadan, aku ingin pulang kampung,” ucap Azalea perlahan.

Enzo mengangkat alis. “Pulang kampung?”

“Iya,” Azalea mengangguk. “Aku ingin ziarah ke makam Ayah, Ibu, dan Kak Jasmine.”

Nama itu meluncur pelan, namun cukup membuat Enzo terdiam sesaat. Azalea melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar, “Aku juga ingin mengajak Erza dan Elora. Supaya mereka tahu siapa ibu kandung mereka. Supaya mereka mengenal asal-usulnya.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Enzo menyandarkan punggungnya ke kursi. Dadanya terasa penuh. Ada keinginan kuat untuk ikut melihat makam Jasmine, berdiri di hadapan kenangan yang selama ini ia simpan sendiri. Namun bayangan jadwal kerja yang menumpuk segera menyergap.

“Aku ingin ikut,” katanya jujur. “Tapi pekerjaanku sedang tidak bisa ditinggal.”

“Aku mengerti,” potong Azalea lembut. “Aku tidak memaksa Mas untuk ikut.”

Keheningan menggantung di antara mereka. Enzo memejamkan mata sesaat, menimbang. “Baiklah. Aku minta sopir mengantar kalian. Aku ingin memastikan kalian aman dalam perjalanan.”

Azalea tersenyum tipis, meski ada kecewa yang tak sepenuhnya tersembunyi. “Terima kasih, Mas.”

Azalea memberi tahu Erza dan Elora tentang kepergian ke kampung halamannya. Kedua anak kecil itu sangat gembira karena akan mendatangi tempat yang sering diceritakan selama ini oleh sang ibu.

“Ayo, kita siapkan barang kalian yang akan dibawa," ajak Azalea. Erza dan Elora bersemangat untuk membantu.

Namun, suasana berubah tegang ketika Mami Elsa mengetahui rencana tersebut.

“Tidak!” suara Mami Elsa meninggi. “Azalea, kamu tidak boleh membawa Erza dan Elora ke kampung!”

Azalea terkejut, tapi berusaha tenang. “Nyonya, itu kampung halaman saya. Saya hanya ingin berziarah dan memperkenalkan mereka—”

“Tidak ada acara begituan!” Mami Elsa memotong dengan nada tinggi. “Kampung itu kumuh, perjalanannya jauh dan melelahkan. Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Apa kamu mau bertanggung jawab! Anak-anak masih kecil!”

“Nyonya,” Azalea menahan napas, “mereka anak-anak yang kuat. Saya akan menjaga mereka sebaik mungkin.”

“Menjaga?” Mami Elsa berdiri. “Kamu pikir aku tega membiarkan cucu-cucuku jauh dari rumah?”

Debat semakin panas. Nada Mami Elsa keras, sementara Azalea berusaha bertahan dengan suara yang mulai bergetar.

“Aku ibu mereka sekarang, Nyonya,” ucap Azalea akhirnya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku tidak berniat membawa mereka pergi selamanya. Hanya sebentar. Aku ingin mereka tahu, kalau punya keluarga yang juga layak diziarahi.”

Keheningan mendadak pecah oleh suara kecil. “Oma ....” Erza maju, menggenggam tangan Azalea. “Kami mau ikut Mommy ke sana.”

Elora mengangguk cepat. “Kami nggak mau jauh-jauh dari Mommy Azalea.”

Hati Azalea mencelos. Ia menunduk, memeluk keduanya. “Mommy tidak akan lama,” bisiknya.

Mami Elsa terdiam, wajahnya mengeras. Dia benci melihat kedua cucunya dekat dengan wanita yang dianggap kampungan.

Saat itulah Enzo melangkah maju. “Mi,” katanya tegas namun lembut. Semua mata tertuju padanya. “Mami tenang saja. Mereka akan baik-baik saja, karena aku juga akan ikut.”

Mami Elsa menoleh cepat. “Enzo?”

“Aku ikut Azalea dan anak-anak ke kampung,” ulang Enzo mantap. “Aku akan menjaga mereka. Dengan begitu, Mami tidak perlu khawatir.”

Azalea menatap Enzo, kaget. “Mas Enzo, tapi pekerjaanmu—”

“Aku akan atur,” jawab Enzo tanpa ragu. “Keluarga juga tanggung jawabku.”

Mami Elsa menghela napas panjang, mukanya semakin kusut. “Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu kepada kedua cucuku!"

Enzo mengangguk. “Aku janji jaga mereka, Mi.”

Azalea menahan tangis haru. Ia menatap Enzo dengan mata penuh terima kasih. Erza dan Elora bersorak kecil, memeluk kaki Enzo dan Azalea bersamaan.

1
Dini Anggraini
Enzo Azalea sekarang hamil besar semoga kamu cepat angkat tlv istrimu sebelum semua terlambat seperti jasmine saat itu pendarahan di temukan Erza keesokan harinya saat jasmine sudah meninggal. Karena hamil muda saja gak boleh stress berlebihan bisa keguguran apalagi hamil tua bisa bahaya, jangan mentang2 kamu menyesal telantarkan jasmine kamu juga abaikan tlv Azalea juga. 🙏🙏😍😍😍
Ruwi Yah
jangan sampai kamu kehilangan untuk kedua kalinya enzo kebetulan posisi keduanya sama2 sedang hamil besar
Ariany Sudjana
Enzo penyesalan selalu datang terlambat, dan semoga dengan kamu mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama, dengan mengabaikan Azalea seharian penuh 😄
dewi wijayanti
❤️❤️❤️❤️
Arwondo Arni
berziarah ke makam Jasmin biar hatinya lapang dan Jasmin maafin,mungkin kl kamu cerita Lea kamu akan didiemin Lea Krn mengabaikan kakaknya yg hamil besar
Arwondo Arni
semoga Kel mama Elsa atau Kel kecil Enzo terhindar dr niat jahat karmila
dewi wijayanti
lea❤️❤️❤️
ken darsihk
Pengalaman terdahulu adalah guru terbaik dan untuk itu , belajar lah dari pengalaman itu jangan sampai penyesalan itu hadir lagi
Angkat telpon nya Azalea, Enzo
Esther
Tragis nasibmu Jasmine.
Dan kebenaran baru terungkap saat ini, membuat Enzo hidup dalam penyesalan.
Apa reaksi Azalea kalau tahu kakaknya meninggal, karena kecerobohan Enzo
sunaryati jarum
Lanjuut
ken darsihk
Nah ini dia yng menjadi penyesalan Enzo selama ini , dia tidak mempercayai Jasmine dan itu penyesalan Enzo yng terus menghantui hidup nya
Sugiharti Rusli
semoga apa yang terjadi pada mendiang Jasmine dulu jadi pelajaran yah bagi Enzo, dan beruntung saat sekarang Azalea tertimpa gosip video editan, Enzo bergerak cepat dan cari tahu kebenarannya terlebih dulu dan memang sang istri hanya jadi korban pihak yang tidak bertanggung jawab
Sugiharti Rusli
pengorbanan Jasmine ga sia", meski nyawa nya sendiri jadi taruhannya demi sang putri
vania larasati
lanjut
Sugiharti Rusli
yah pada akhirnya penyesalan datang belakangan bagi Enzo, sebetulnya dia masih beruntung tidak kehilangan Elora juga saat itu,,,
Sugiharti Rusli
dia lebih percaya gambar tak bergerak dibandingkan istrinya sendiri saat itu,,,
Sugiharti Rusli
semua berasal dari praduga sih yah, dan kemarahan menutup pintu hati Enzo saat itu,,,
Susma Wati
untuk kali ini enzo tidak terjebak akan permainan karmila, enzo mendapatkan kebenaran akan apa yang terjadi pada jasmine adalah permainan karmila dan dia teramat menyesal, tapi dengan apa yang menimpa azelea yang di fitnah terkuak sudah kejahatan karmila yang tidak dapat di maafkan oleh enzo dan mama elsa, tapi bagaimana dengan azelea jika tahu kakaknya meninggal karena fitnah karmila dan ketidak percaya an enzo terhadap jasmine yang membuat dia bersedih dan meninggal?
Ita rahmawati
huh dasar Enzo 😏
gimana kalo azalea tau ceritanya,,tp gpp sih azalea kan bijaksana pasti gpp sambil tersenyum menyejukkan 😂
SasSya
💔💔💔💔💔💔😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
sakit hati rasanya
remuk redam
Jasmine 🫂🫂🫂🫂
entahlah!!!
Enzo pantas menyesali semua
tapi ingat!!!
jangan berlarut2 meratapi masa lalu!!!!!
jangan mengulang!
kasih kabar istri di rumah!!!
Azalea khawatir itu
ah!!!!
entahlah!!!!
zo Enzo!!!
tragis sekali nasib Jasmine 🫂🫂🫂🫂😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!