Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Sepanjang sisa perjalanan yang berliku menanjak ke arah area perkemahan, kabin bus nomor empat seolah terbagi menjadi dua dunia yang bertolak belakang.
Di barisan tengah, Delaney duduk dengan pipi yang merona merah, jemarinya mengetik dengan kecepatan tinggi di atas layar ponsel, membalas ucapan selamat dan pertanyaan bertubi-tubi dari grup obrolan pertemanannya di Los Angeles.
Wajahnya memancarkan binar kebahagiaan yang begitu murni, tipe kebahagiaan seorang gadis yang merasa baru saja mendapatkan keajaiban terbesar dalam hidupnya.
Namun, di sampingnya, Scarlett Langford justru tenggelam dalam lautan pemikiran yang kian mendingin.
Pandangan matanya lurus menatap keluar jendela, menyaksikan deretan pohon pinus yang melintas, tetapi otaknya bekerja keras memutar ulang setiap detail kejadian gila yang baru saja berlangsung.
Demi Tuhan, seluruh rumor yang beredar di media sosial dan forum rahasia selama satu tahun ini selalu menggambarkan Millian Vale-Knight sebagai sosok bad boy legendaris yang, meskipun friendly dan dikelilingi kemewahan, memiliki satu sisi yang sangat dihormati: dia adalah tipe pria yang setia pada kekasih rahasianya.
Rumor tentang kesetiaan tingkat tinggi itulah yang dahulu membuat Scarlett rela menelan harga dirinya dan nekat mengklaim nama besar pria itu sebagai tameng kekasih khayalan di sekolah menengahnya.
Scarlett berpikir, pria yang setia pada satu wanita tidak akan pernah muncul di kota kecilnya untuk mengonfirmasi kebenaran, sehingga kebohongannya akan aman selamanya.
Namun, setelah bertemu langsung dengannya di Mansion mewah Bel Air dan melihat perilakunya di aula tadi pagi, realita menampar Scarlett dengan keras.
Pria bermata aneh itu benar-benar sangat sombong, arogan, dan gemar menatap rendah dirinya seolah-olah ia hanyalah sebutir debu yang mengotori sepatu mahalnya.
Lalu, bagaimana dengan pengakuan heboh Delaney tadi?
Bukankah seluruh situasi ini terasa sangat janggal?
Seorang Millian Vale-Knight yang dirumorkan sangat setia selama satu tahun penuh pada kekasih misteriusnya, tiba-tiba saja berdiri di tengah koridor bus dan menyatakan seorang gadis yang baru ditemuinya beberapa jam lalu sebagai kekasihnya secara sepihak?
Otak cerdas Scarlett yang terbiasa menganalisis keadaan dengan logis langsung menarik satu kesimpulan yang masuk akal: Delaney telah dijadikan pion pelarian atau alat provokasi oleh Millian Vale-Knight.
Pria brengsek itu kemungkinan besar sedang terlibat pertengkaran hebat dengan kekasih aslinya—yang mungkin saja merupakan sosok wanita kaya sungguhan, bukan dirinya yang palsu dan penuh kehaluan bersama Brianna di masa lalu.
Scarlett mengepalkan tangannya di atas pangkuan.
Ia tidak ingin Delaney—gadis kaya eksentrik yang polos dan tulus ini—harus mendapatkan rasa sakit hati yang jauh lebih besar daripada rasa bahagianya saat ini.
Delaney musti disadarkan dari ilusi sebelum semuanya terlambat.
Scarlett menoleh, melirik Delaney yang masih sibuk tersenyum di depan layar ponselnya.
"Delaney..." ucap Scarlett lirih, mencoba menyusun kalimat yang tidak akan melukai ego temannya.
Namun, sebelum kata-kata itu sempat keluar seutuhnya, derit rem bus yang berat memotong kalimatnya.
Kendaraan besar itu akhirnya berhenti sempurna di sebuah area tanah lapang yang luas di kelilingi hutan pinus.
Mereka telah sampai di lokasi perkemahan.
Satu per satu mahasiswa baru mulai turun dengan teratur, menggendong tas ransel besar mereka menuju area registrasi lapangan.
Karena posisi duduk mereka yang berada di bagian tengah dan Scarlett sempat merapikan kembali barang-barang logistiknya, Delaney dan Scarlett tampaknya berjalan di barisan paling akhir, menyusuri koridor bus yang mulai kosong.
Dan di sinilah, tepat di ujung pintu keluar bus, sebuah drama yang sesungguhnya dimulai dengan dentuman yang menghancurkan.
Delaney melangkah lebih dulu, bersiap untuk turun melewati anak tangga bus, disusul oleh Scarlett tepat di belakangnya.
Namun, langkah kaki Delaney mendadak terkunci di undakan pertama.
Tubuhnya gemetar hebat ketika mendapati sosok tinggi besar Millian Vale-Knight sudah berdiri tegap di luar, tepat di depan pintu bus.
Pria itu tidak lagi mengenakan kacamata hitamnya, menampilkan sepasang mata heterochromia-nya yang berkilat dingin di bawah sinar matahari siang.
Di tangan kanannya, ia memegang sebuah megaphone atau toa hitam yang biasa digunakan mentor untuk memberikan instruksi darurat.
Tanpa peringatan apa pun, Millian mengangkat toa tersebut ke depan mulutnya, menekan tombol sakelar hingga suara baritonnya menggema keras, membelah keheningan lapangan dan menyita perhatian ratusan mahasiswa serta mentor yang sedang berkumpul di luar.
"HEYYY, KAU! WANITA YANG KUTEMBAK DI ATAS BUS TADI!" seru Millian melalui pengeras suara, matanya menatap lurus ke arah Delaney yang membeku di pintu bus.
Atmosfer di lapangan luas itu mendadak sunyi senyap seketika.
Ratusan pasang mata langsung berbalik, mengunci pandangan mereka ke arah pintu bus nomor empat.
Seringai kejam dan angkuh terukir sempurna di wajah tampan Millian saat ia melanjutkan kalimatnya dengan kelantangan yang luar biasa:
"Hari ini, di depan semua orang yang ada di sini, aku, Millian Vale-Knight, mengatakan bahwa kita PUTUS DETIK INI JUGA!"
Duarrr!
Kata-kata itu menghantam udara bagaikan sambaran petir di siang bolong yang tidak berawan.
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti seluruh area perkemahan.
"Karena aku tidak bisa mengkhianati kekasihku yang selama setahun ini sengaja kusembunyikan demi privasi, hanya karena dirimu!" lanjut Millian dengan nada suara yang penuh kepuasan, seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah pertempuran besar melawan musuh imajinernya.
Ia menurunkan toanya sedikit, namun suaranya tetap terdengar jelas ke seluruh penjuru.
"Dan kau harus berterima kasih kepadaku, karena aku telah berbaik hati menjadikan kehaluan gila mu untuk menjadi kekasihku menjadi kenyataan... selama tepat lima puluh dua menit!"
Seluruh tubuh Delaney menegang kaku di atas undakan pintu bus.
Wajahnya yang semula memerah bahagia dalam sekejap berubah menjadi seputih kertas.
Rasa malu, terkejut, dan hinaan yang luar biasa datang bertubi-tubi, menghantam harga dirinya hingga hancur berkeping-keping di depan ratusan pasang mata teman-teman satu angkatannya.
Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, dirinya dibuat terbang setinggi langit oleh perkataan pria itu, dan kini berakhir dijatuhkan tanpa ampun dari ketinggian yang mematikan.
Di dalam benak Delaney yang kacau, rasa bingung dan terhina berbaur menjadi satu.
Ia tidak pernah sekali pun melakukan halusinasi atau mengaku-ngaku sebagai kekasih dari seorang Millian Vale-Knight di forum kampus; ia tahu diri bahwa statusnya sebagai anak pengusaha tekstil biasa tidak akan pernah cukup untuk menjangkau klan Vale-Knight.
Namun, tadi di dalam bus, Millian-lah yang langsung mendatangi dan menyatakannya di depan semua orang, dan sekarang... pria itu memperlakukannya seperti seonggok sampah yang tidak berharga di depan publik.
Tidak sanggup menahan beban pandangan penuh cemoohan dan bisik-bisik yang mulai meledak di sekeliling lapangan, Delaney langsung melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, melompat turun dari anak tangga bus.
Ia mengabaikan panggilan Scarlett di belakangnya.
Rasa malu yang teramat sangat juga merayap di hatinya terhadap Scarlett, karena temannya itu sudah sempat mencoba memperingatinya di dalam bus tadi.
Tanpa menoleh lagi, Delaney berlari kencang menerobos kerumunan mahasiswa, meninggalkan area pintu bus dengan air mata yang mulai mengenang di pelupuk matanya.
Sementara itu, Scarlett Langford yang masih berdiri di ambang pintu bus seakan ditiup oleh badai kesadaran yang menampar realitasnya dengan sangat keras.
Demi Tuhan, melihat bagaimana cara kejam Millian mempermalukan Delaney di depan umum dengan tuduhan "kehaluan yang menjadi nyata selama lima puluh dua menit", Scarlett merasa seolah-olah seluruh kalimat hinaan itu sebenarnya ditujukan langsung untuk dirinya sendiri.
Sebab, faktanya... dirinya juga pernah Ada Diposisi Kehaluan itu.
Dirinyalah wanita yang selama satu tahun penuh di sekolah menengahnya telah berbohong, menggunakan nama besar dan latar belakang pria brengsek itu sebagai tameng kekasih fiktif demi melindungi dirinya dari penindasan Belleza.
Detik itu juga, rasa menyesal yang amat dalam sempat merayap di relung hati Scarlett.
Ia merasa bersalah karena kebohongannya di masa lalu sama seperti Delaney hari ini.
Namun... tidak. Scarlett langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, mengusir rasa bersalah itu dari dalam benaknya.
Taring kepercayaan dirinya kembali mencuat tegak, menggantikan rasa syok dengan keberanian yang membakar dada.
Jika dipikirkan kembali dari sudut pandang lain, dirinya memang harus "berterima kasih" pada reputasi si brengsek mata aneh ini.
Karena semenjak ia memakai nama Millian Vale-Knight sebagai tameng kekasih di sekolah lamanya, ia tidak lagi pernah dipandang rendah atau ditindas oleh siapa pun, termasuk oleh teman-teman Belleza yang paling berkuasa sekalipun.
Nama pria itu telah menjadi pelindung terbaiknya selama setahun penuh.
Melihat Millian yang kini mulai membalikkan badannya dengan langkah angkuh, bersiap mengabaikan situasi dan berjalan menjauh seolah tidak terjadi apa-apa setelah menghancurkan perasaan seorang gadis, amarah Scarlett tidak lagi bisa dibendung.
Ia menolak untuk membiarkan pria sombong itu berjalan pergi dengan ego yang melambung tinggi di atas penderitaan orang lain.
Dengan kesombongan dan intensitas energi yang sama besarnya dengan yang dimiliki oleh Millian, Scarlett melangkah maju ke ujung pembatas pintu bus.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak dengan nada suara yang melengking tinggi, membelah kebisingan lapangan yang mulai riuh oleh gosip.
"MILLIAN VALE-KNIGHT!!!"
Teriakan lantang itu menggema kuat, membuat langkah kaki tegap Millian mendadak terhenti di tengah lapangan.
Pria itu berbalik dengan lambat, mengernyitkan alisnya dalam-dalam dengan raut wajah yang dipenuhi kebingungan sekaligus kejengkelkan saat mendapati sosok mahasiswi yang memanggil nya adalah Si gadis Sialan.
"Ya?" sahut Millian dengan nada ketus, menaikkan sebelah alis ganjilnya.
"Ada masalah apa lagi, Nona Pelayan? Apa botol minummu ingin jatuh lagi?"
Scarlett tidak memedulikan sindiran itu. Ia justru menegakkan punggungnya, menyunggingkan sebuah senyuman misterius yang sangat anggun namun sarat akan provokasi mematikan di depan seluruh pasang mata yang kini beralih menatapnya.
"Aku, Scarlett Langford," ucap Scarlett dengan kelantangan suara yang sangat jernih dan tegas, memastikan setiap kata yang keluar dari bibirnya dapat didengar oleh seluruh mahasiswa dan mentor senior di lapangan tersebut.
"Ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu pagi ini. Karena berkat namamu yang legendaris, dan berkat latar belakang mu yang luar biasa agung itu... aku, Scarlett, telah sukses menjadikan namamu sebagai KEKASIH KHAYALANKU selama satu tahun belakangan di sekolah Lamaku!"
Duar!!!!
Pengakuan blak-blakan yang keluar dari mulut Scarlett menghantam lapangan perkemahan layaknya sebuah bom atom yang meledakkan seluruh dinding kesopanan.
Kerumunan mahasiswa baru, terutama para mahasiswi borjuis yang sedari tadi menonton, langsung tersentak mundur dengan mata melotot sempurna.
Kasak-kusuk dan bisik-bisik miring dalam sekejap meledak hebat layaknya kobaran api yang disiram bensin di setiap sudut lapangan.
Mereka tidak pernah menyangka ada seorang anak beasiswa miskin dari pinggiran kota yang memiliki tingkat kepercayaan diri se-ekstrem dan senekat ini di hari pertama perkemahan.
Namun, Scarlett belum selesai. Ia menaikkan volume suaranya satu oktav lebih tinggi, menatap lurus ke dalam manik mata heterochromia Millian yang kini mulai melebar karena keterkejutan yang teramat sangat.
"Dan kau tahu apa bagian yang paling gila dari seluruh cerita kehaluanku itu, Tuan Mentor yang Terhormat?" Scarlett terkekeh rendah, sebuah tawa mengejek yang sangat elegan.
"Aku bahkan menceritakan secara detail kepada seluruh Siswi di sekolah lamaku... bahwa aku pernah berciuman panas denganmu di bawah menara Bel Air! Jadi, jika kau ingin menghitung durasi kehaluan seseorang... kehaluanku atas namamu sudah berjalan selama tiga ratus enam puluh lima hari, jauh lebih lama dari lima puluh dua menit milik Delaney!"
Mendengar pengakuan gila dan super nekat yang meluncur lurus dari bibir Scarlett di depan ratusan pasang mata bawahannya, Millian Vale-Knight merasakan seluruh darahnya seakan naik ke wajah.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai pangeran Bel Air yang dipuja, Millian merasakan rasa malu dan syok yang teramat sangat hingga membuat rahang tegasnya mengeras sempurna dengan urat-urat leher yang menegang tegang.
Keberanian dan taring rasa percaya diri gadis dari San Marino ini benar-benar berada di luar batas kewajaran manusia biasa.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣