NovelToon NovelToon
My Beloved Bastard

My Beloved Bastard

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Tamat
Popularitas:216.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Freya Kara Alaika

Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.

Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.

Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.

Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.

Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

"What?!" Tita memekik kaget. Saat ini, kami sedang berada di kamarku. Baru beberapa saat lalu aku pulang dari rumah sakit, dan syukurlah, si om-om bastard bergegas pergi. "Jadi, orang yang dijodohin sama lo selama ini ... Pak Glenn?!"

Aku mendengus kasar, lalu mengangguk lesu. Melihatku bereaksi demikian, Tita malah terbahak-bahak, membuatku memutar bola mata jengah.

"Jahat lo! Bahagia di atas penderitaan sahabat sendiri!" tukasku.

"Bukan, bukan," elak Tita di sela-sela tawanya. Setelah mereda, Tita kembali berkata, "Maksud gue, lo beruntung banget! Serius!"

Kedua alisku sontak bertaut. "Beruntung gimana?! Apes mah, iya!"

"Duh, Melati sayang!" Kedua telapak tangan Tita mendarat di bahuku. "Lo itu beruntung. Dari sekian banyak kaum hawa yang mau, bahkan mau banget jadi istri spesialnya Pak Glenn, termasuk sahabat lo ini, lo yang terpilih! See?"

Aku kembali mendengus kasar. Beruntung dari mana? Tita belum tahu saja apa yang sering om-om bastard itu lakukan padaku. Pemaksa. Otoriter. Pengancam. Huh!

"Tuh! Sekarang lo mikirin kebenaran omongan gue, 'kan? Emang bener!" Tatapan tajam kulayangkan pada Tita.

"Sotoy!" pungkasku.

Tita tergelak. "Udahlah, ya, gue pulang dulu." Dia beranjak dari duduknya. "Bye, calon istrinya Pak Glenn." Melihat kerlingan di mata Tita, ingin sekali kucolok bola matanya. Andai tidak mengingat bahwa Tita adalah sahabatku.

***

Hari Sabtu yang suram. Biasanya, sarapan adalah aktivitas yang selalu menjadi favoritku. Namun, kali ini berbeda. Dan semua itu karena ulah om-om bastard di hadapanku. Entah sudah berapa lama dia ada di sini. Yang jelas, saat aku menuju meja makan, dia sudah ada di sana dengan jemari yang menari-nari di atas keyboard si kotak pintar.

"Mana sambalnya, Mbak?" tanyaku pada Mbak Ning yang baru saja lewat.

"Maaf, Non, hari ini tidak boleh ada sambal kata Mas Glenn." Jawaban Mbak Ning membuat kedua bola mataku lantas menajam ke arah om-om bastard di hadapanku. Mendapat tatapan tajam seperti itu, dia malah mengulas senyum.

"Makan. Setelah itu kita belajar," ucapnya santai, dengan pandangan yang tak beralih dari layar laptop.

"Tapi, ini Hari Sabtu, Pak!" protesku.

Pak Glenn lantas beralih menatapku. "Hari Sabtu kamu libur?"

Aku mengangguk.

"Oke," lanjutnya, membuat kedua sudut bibirku mengulum senyum lega. "Kalau gitu, cepat makan, setelah itu ikut saya."

"Kalau saya nggak mau?"

Pak Glenn menatapku lekat-lekat. Entah mengapa, jantungku berdebar kencang, perasaanku mendadak kurang enak. "Saya cium kamu."

Tuh, kan! Dasar tutor om-om bastard sialan! Ancamannya selalu seperti itu!

***

Berada dalam satu mobil dengan seorang Glennio Pangestu bukanlah hal yang mudah. Sepanjang perjalanan, dia terus mengusikku. Seperti saat ini contohnya, Pak Glenn dengan lancang mencabut earphone yang semula menyumbat kedua lubang telingaku, membuat lagu-lagu yang semula mengalun lantas terhenti.

"Bapak apa-apaan, sih?!" seruku. "Balikin earphone saya!"

"Tidak, sebelum kamu memenuhi permintaan saya."

Aku memutar bola mata jengah. Apa lagi kali ini? "Apa?"

"Minggu depan kita tunangan, kan? Saya mau kamu stop panggil saya 'pak'."

"Oke," sahutku cepat seraya mengulurkan telapak tangan, meminta benda milikku yang sempat disita.

Pak Glenn tampak tersenyum bangga. "Bagus."

Diam-diam, bibirku menyinggung senyum licik. Huh! Tidak tahu saja, ide gila apa yang tengah menari-nari di dalam otakku.

***

Pak Glenn mengajakku ke kantornya: GM Group. Pantas saja dia memintaku berpakaian formal. Pasrah. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Memangnya apa lagi?

Telapak tangan kekarnya menggenggam erat telapak tanganku. Lalu, kami berjalan beriringan menuju pintu masuk. Semua mata lantas menghujamku, membuatku merasa kikuk. Aku hanya bisa diam saat Pak Glenn memperkenalkan siapa diriku pada para bawahannya, serta menghela napas berkali-kali saat merasakan tatapan menilai melucuti tubuhku. Anggukan singkat serta seulas senyum kerap kali kuberikan. Aku dapat merasakan Pak Glenn merengkuh pinggangku yang terbalut dress merah marun selutut. Hanya perasaanku saja, atau memang Pak Glenn merengkuh pinggangku dengan posesif?

Setelah puas memamerkan calon istrinya, Pak Glenn membawaku memasuki ruangnya---ruang CEO. Aku heran, mengapa Pak Glenn masih mengajar saat dirinya pasti disibukkan dengan jabatan CEO?

"Kamu bisa tunggu sebentar? Ada sedikit kerjaan yang harus saya selesaikan," katanya. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

Kulangkahkan kaki menuju sofa panjang yang berhadapan dengan dinding kaca di sudut ruangan. Terbiasa tidur siang, membuat kantuk perlahan merayapi kelopak mataku.

***

Aku terbelalak kaget begitu membuka mata.

"Ngantuk banget, ya?" tanya Pak Glenn dengan nada rendah yang membuat bulu kudukku meremang.

Begitu menyadari apa yang tengah terjadi, sontak kuubah posisi yang semula berbaring menjadi duduk tegak. Aku kembali dibuat tercengang begitu melihat pemandangan langit yang tampak dipenuhi gemerlap bintang. Berapa lama aku tertidur?

"Bapak kenapa nggak bangunin saya?" tanyaku sesaat setelah menatap Pak Glenn yang tengah senyum-senyum sendiri. Setelah itu, aku melihat senyumnya surut, berubah menjadi ekspresi datar. Ups! Aku lupa merubah panggilanku. Oleh karenanya, aku segera mengulang pertanyaanku. "Om kenapa nggak bangunin saya?"

Pak Glenn melotot. Ada yang salah? Dia kira aku akan memanggilnya apa? Kak? Mas? Dih! Ogah!

"Kamu panggil saya apa?"

"Om," jawabku santai. Melihat rahangnya mengeras, aku bertanya, "Mending Om, atau Pak?"

Tiba-tiba, wajahnya mendekat, membuat napasku tercekat. "Panggil saya 'mas'."

Aku memalingkan muka. "Nggak."

"Melati ...."

"Fine!" sahutku cepat. "Saya akan lakukan itu setelah menikah."

Kening Pak Glenn berkerut, menandakan dirinya tengah berpikir. "Oke." Pak Glenn beranjak dari posisi duduknya, lalu meraih pergelangan tanganku. "Kamu belum makan dari tadi siang. Sekarang, ikut saya."

Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Kami berjalan beriringan melewati para karyawan yang masih tampak ramai. Lagi-lagi Pak Glenn melingkarkan satu lengannya di pinggangku, sementara satu tangan lagi menggenggam telapak tanganku. Dia pikir aku bocah yang tiba-tiba hilang begitu dilepaskan? Dasar!

Langkahku terhenti begitu melihat plakat bersimbol toilet di depan sana. Pandanganku beralih pada Pak Glenn, satu alisnya menukik, pertanda tengah menanyakan alasan langkahku terhenti secara non-verbal. "Saya mau ke toilet," ucapku yang dijawab anggukan olehnya.

Sesampai di toilet, aku segera memasuki salah satu bilik. Aktivitas di toilet harus segera kulakukan, atau om-om bastard itu akan nekad memasuki toilet wanita. Baru saja aku akan membuka pintu untuk keluar dari bilik, sebuah suara menyita gendang telingaku. Mengisyaratkan pada tubuhku untuk berhenti bergerak.

"Itu tadi beneran calonnya Pak Glenn? Gila! Masih bocah!"

"Denger-denger, sih, umurnya masih belasan gitu. Mau-maunya Pak Glenn sama bocah ingusan. Mending sama kita-kita."

Aku mendengkus keras. Dasar tante-tante, beraninya di belakang! Setelah menata ekspresi, aku keluar dengan gerakan santai. Mereka lantas terbelalak kaget. Sementara aku mengulas senyum percaya diri di hadapan dua tante-tante itu, enggan membuang waktu untuk hal yang tidak penting.

***

Senyumku merekah. Tahu mengapa? Sebab Pak Glenn menyetujui permintaanku untuk makan malam di warung bakso. Entah kapan terakhir kali aku makan daging berkuah itu, yang jelas, lidahku sangat menginginkannya malam ini. Dua mangkuk bakso lengkap es teh manis sudah ada di hadapanku. Kualihkann pandangan pada Pak Glenn yang entah sedang mengambil apa di dalam mobilnya. Senyumku kian melebar. Langsung saja kutuangkan banyak sambil ke dalam mangkuk milikku.

"Stop!" Suara Pak Glenn yang menginstrupsi membuatku agak terlonjak kaget. Aku mendongak untuk menatapnya yang kini duduk di depanku. "Sendok ke berapa itu?"

"Dua." Tidak mungkin aku berkata jujur. Mengapa? Karena ada enam sendok sambal yang sudah kutuangkan. Melihat tidak ada kecurigaan pada om-om bastard itu, aku tersenyum lega. Baru saja aku akan menikmati bakso ekstra pedas yang begitu menggugah selera, seseorang menyentak tanganku, hingga sendok di genggamanku kembali ke mangkuk. Belum cukup sampai di sana, bakso yang sebelumnya akan kumakan pun dialihkan.

"Kenapa?" tanyaku pada Pak Glenn yang entah sejak kapan berdiri di sebelahku.

"Kamu pikir, saya tidak tahu berapa sendok sambal yang sudah kamu tuangkan?" Hah?! Jadi, dia ...? "Nih." Pak Glenn meletakkan semangkuk bakso yang baru di hadapanku. Baru saja akan protes, kalimat Pak Glenn selanjutnya membuaku lantas mendengkus kasar seraya memutar bola mata jengah.

"Nurut, atau saya cium kamu di sini."

*

*

*

*

*

Follow Instagram: @fi.reya_act @freya_karalaika

1
Jaenah Susanti
mdh²n Mawar yg jadi pendonor nya..
Syamsimar Burhan
Assalamualaikum,...
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
💋🅲🅷🆈💋
jadi senyum2 sendiri😊😊😊
💋🅲🅷🆈💋: semangat othor💪
total 2 replies
💋🅲🅷🆈💋
visualnya uwwu banget😍😍😍
💋🅲🅷🆈💋
sempat degdegan🙄🙄🙄
Yanti Yulianti
cigogoy
Yanti Yulianti
bubigo
Akifah Naila
lanjuttttt
Susi Lanita
lanjut..
Susi Lanita
antara O'on dan berhati tulus sepertinya beda tipis, kan ada keamanan bandara, atau dilaporkan ke informasi, gmn klu dituduh penculikan anak adeh.. melati melati..
Shanum Azkadina
lanjut donk seru loe
Susi Lanita
pipi melati yg disayat, tdk berbekas kah?
ngilu bayang kan nya..
Woro Aji W
pas bgt visualnya tor
Rahmi Miraie
bolehlah
Way-naviza
lanjut... 👍
pecinta time travel
boleh s2 nya
Alifia C.T: Ditunggu ya. :b
total 1 replies
Rahmi Miraie
happy ending dong ?
pecinta time travel
isssh author masa sad ending
Hissiz
Thor jngan dibikin sad ending😭 Up thor semangat💪
Alickha Senja
nex thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!