Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel Kuliner Pasar Oasis
Suara sorak-sorai ribuan pengunjung memecah keheningan malam di Pasar Utama Oasis.
Lampu-lampu sihir berbentuk bola kristal gantung menyala terang benderang, menerangi panggung kayu berukir emas di tengah alun-alun Blok A.
"Selamat datang para warga dan pengelana di Pasar Utama Oasis!" teriak pembawa acara yang merupakan seorang pria paruh baya suku Elf dengan pakaian serbahijau yang elegan.
"Malam ini, kita akan menyaksikan pertandingan yang sangat tidak biasa!" lanjut pembawa acara itu memutar-mutar tongkat sihirnya di udara.
"Duel Kuliner antara Koki Kebanggaan Serikat Oasis melawan Pedagang Kaki Lima Asyik ber-gerobak terbang!" seru pembawa acara menunjuk ke dua sudut panggung.
Di sudut kanan panggung, berdiri Koki Utama Serikat Kuliner Oasis, seorang pria bertubuh kekar dari ras Kurcaci bernama Chef Orik.
Chef Orik mengenakan pakaian koki berlapis benang emas, membawa satu set pisau sihir berkilauan dan tungku panggangan besi hitam raksasa bermerek premium Kerajaan.
Di sudut kiri panggung, Lin Mo berdiri santai memakai celana kain longgar dan kaus polos. Ia cuma ditemani oleh gerobak kayu tua terbangnya dan kipas bambu yang diselipkan di pinggang.
"Lihat itu, masa koki angkringan jalanan mau melawan Koki Orik yang legendaris?" cemooh seorang penonton berkulit hijau suku Orc di barisan depan.
"Iya nih, Koki Orik kan pemenang Festival Daging Bakar Kerajaan tiga tahun berturut-turut!" timpal penonton suku Elf di sebelahnya.
Lilia yang berdiri di samping panggung memegangi tangannya erat-erat, telinga kelincinya terkulai cemas.
"Tuan Lin Mo... semoga Tuan bisa menang. Serikat Oasis terkenal sangat licik kalau urusan persaingan bisnis," bisik Lilia cemas.
Sementara itu, Komandan Vex—petinggi Sekte Bintang Gelap yang kini bertobat menjadi juru potong kayu arang Lin Mo—berdiri di samping Lilia sambil memanggul seikat kayu kering di bahunya.
"Hmph! Nona Kelinci tidak usah khawatir," kata Vex mendengus santai.
"Master Lin Mo itu sanggup mengubah monster batu jadi penurut cuma pakai sate maranggi. Koki pendek berkumis tebal itu bukan tandingannya," tambah Vex penuh keyakinan.
Master Balthazar, Ketua Serikat Kurcaci yang duduk di kursi juri kehormatan, memukul mejanya keras-keras.
"Peraturannya sangat sederhana!" seru Master Balthazar dengan suara gertakan yang nyaring.
"Kalian berdua harus memasak hidangan berbasis daging dengan bahan bebas yang kalian bawa sendiri!" tegas Balthazar.
"Pemenangnya ditentukan oleh nilai dari tiga Juri Kehormatan Pasar Oasis!" tambah Balthazar menyeringai licik.
Tiga juri kehormatan malam itu terdiri dari Master Balthazar sendiri, seorang bangsawan wanita penyamar berkerudung sutra ungu yang anggun, serta Kepala Pengawal Keamanan Kota Oasis yang berwajah dingin.
PING!
[Sistem Angkringan Ilahi: Mengaktifkan Mode Duel Kuliner]
[Misi: Menangkan Duel Kuliner Pasar Oasis & Bungkam Serikat Kurcaci]
[Hadiah: Unlocked Resep 'Sate Taichan Mistik Sambal Petir' & 2.000 Poin Arang]
Lin Mo tersenyum tipis membaca notifikasi di depannya.
"Waktu memasak adalah satu jam dari sekarang! Mulai!" teriak pembawa acara Elf mengayunkan bendera.
Breeesssh!
Chef Orik dari sudut kanan langsung beraksi. Ia mengeluarkan sepotong daging [Dada Burung Phoenix Mistik] yang memancarkan pendaran api merah membara.
"Lihatlah ini! Daging Burung Phoenix Mistik seharga dua ribu koin emas!" seru Chef Orik penuh kebanggaan.
Pisau-pisau sihir milik Orik bergerak cepat bagaikan kilat, memotong daging Phoenix itu menjadi irisan tipis nan sempurna.
Orik memasukkan daging tersebut ke dalam tungku besi berlapis batu sihir dan menyiramkan saus anggur merah langka.
Aroma manis anggur dan aroma bakaran kelas atas langsung menyebar ke sekeliling panggung, membuat para penonton bertepuk tangan riuh.
"Luar biasa! Saus Anggur Phoenix milik Koki Orik memang tiada tandingannya!" puji Master Balthazar tersenyum puas di meja juri.
Sementara itu, di sudut kiri, Lin Mo justru terlihat tidak terburu-buru.
Ia dengan santai membuka peti Sistem Kulkas Es Mistik di gerobaknya dan mengeluarkan sisa daging [Sapi Kerak Bumi Mistik] serta beberapa tusuk usus naga yang tersisa dari istana.
Namun yang membuat seluruh penonton heran adalah bahan ketiga yang dikeluarkan oleh Lin Mo—sekantong cabai merah kecil segar yang tampak memancarkan percikan listrik halus!
Itu adalah [Cabai Rawit Petir Mistik], bahan baku baru yang dibeli Lin Mo dari Toko Sistem seharga 500 Poin Arang sebelum naik panggung.
"Bocah itu mau buat apa? Cabai petir?!" teriak salah satu penonton bingung.
"Apa dia gila? Cabai Petir itu rasanya sangat pedas hingga sanggup membakar lidah naga! Siapa yang bisa memakan hal seperti itu?!" gumam juri bangsawan berkerudung sutra ungu penasaran.
Lin Mo tidak memedulikan tatapan heran orang-orang.
Ia memotong daging Sapi Kerak Bumi menjadi bentuk dadu tebal, lalu meracik bumbu putih khusus yang terdiri dari bawang putih ilahi, garam kristal laut dalam, dan perasan jeruk nipis mistik.
PING!
[Mempersiapkan Resep Mistik Baru: Sate Taichan Daging Mistik Sambal Petir]
[Karakteristik: Daging Lembut Gurih Asin Tanpa Kecap + Sambal Rawit Petir yang Membakar Jiwa]
Sssttt... Sssttt...
Lin Mo meletakkan puluhan tusukan sate daging putih itu di atas jeruji panggangan otomatisnya.
Begitu [Api Murni Pemanggang Arang] menyambar dari bawah gerobak, daging sapi putih itu memancarkan kilau keemasan yang sangat bersih.
Sari-sari daging meleleh berdesir pelan, mengeluarkan aroma gurih asin yang sangat tajam dan murni tanpa campuran saus manis.
Selanjutnya, Lin Mo mengulek *Cabai Rawit Petir Mistik* bersama minyak wijen ilahi di atas ulekan batu kecil yang ia bawa dari gerobak.
Ulek! Ulek! Ulek!
Setiap kali ulekan batu Lin Mo menumbuk cabai merah tersebut, percikan kilat merah keemasan meledak-ledak di udara!
Aroma pedas yang sangat tajam, segar, dan menyengat mendadak membumbung tinggi menembus aroma saus anggur milik Chef Orik!
"Uhukkk!"
Beberapa penonton di barisan depan mendadak bersin-bersin gembira karena ketajaman aroma pedas dari ulekan Lin Mo.
"Aroma apa ini?! Kenapa hidungku terasa gatal tapi lidahku mendadak kebas menuntut rasa?!" jerit seorang petualang ras Orc memegangi perutnya yang berbunyi nyaring.
Waktu satu jam pun akhirnya habis.
"Waktu selesai! Kedua koki harap menyajikan masakan terbaik mereka ke meja juri!" perintah pembawa acara.
Chef Orik dengan percaya diri melangkah maju membawa nampan perak berisi irisan [Daging Burung Phoenix Saus Anggur].
"Silakan dinikmati para juri yang terhormat. Ini adalah Steak Phoenix Anggur Merah buatan Serikat Oasis!" kata Orik membusungkan dadanya.
Ketiga juri menyicipi irisan daging milik Orik.
"Hmm! Dagingnya sangat lembut, manisnya saus anggur menyatu sempurna dengan gurihnya daging api!" puji Master Balthazar memberikan nilai 95/100.
Kepala Pengawal Kota mengangguk setuju dan memberikan nilai 90/100.
Bangsawan wanita berkerudung sutra ungu menyicipi sedikit lalu tersenyum tipis. "Cukup lezat, tapi teksturnya agak terlalu manis di tenggorokan. Nilai dariku 88/100."
Total nilai Chef Orik adalah 273 poin dari maksimal 300 poin—sebuah nilai yang sangat tinggi di panggung Pasar Oasis!
"Hahaha! Dengan nilai sebesar ini, mana mungkin pedagang kaki lima itu bisa mengejar!" tawa Master Balthazar penuh kemenangan.
Kini giliran Lin Mo.
Ia melangkah maju membawa dua piring pualam sederhana berisi belasan tusuk [Sate Taichan Daging Mistik] dengan siraman minyak cabai petir merah terang di atasnya, lengkap dengan perasan jeruk nipis segar di sampingnya.
"Ini Sate Taichan Mistik Sambal Petir buatan Angkringan Dewa Mo. Silakan dicoba selagi panas," kata Lin Mo ramah menyodorkan piringnya.
Chef Orik tertawa mengejek. "Daging pucat tanpa saus dipadu cabai ulek kotor begitu? Ini bukan masakan kelas atas! Ini sampah jalanan!"
Master Balthazar mengerutkan hidungnya jijik. "Masakan macam apa ini? Dagingnya bahkan tidak berwarna cokelat kecokelatan!"
Namun, bangsawan wanita berkerudung sutra ungu di tengah meja juri justru mengambil satu tusuk sate taichan milik Lin Mo.
Ia memeras sedikit jeruk nipis di atasnya, lalu memasukkan potongan daging taichan bersalut sambal petir merah itu ke dalam mulut indahnya.
Nyuttt! Krikkk!
Kerenyahan permukaan daging bercampur gurih asinnya bumbu putih meledak seketika di lidah sang bangsawan wanita.
Namun, kejutan sebenarnya datang satu detik kemudian saat [Sambal Petir Mistik]mulai menyentuh saraf rasa di mulutnya!
Bzzzzzzt!
Sensasi pedas luar biasa yang segar, asam, gurih, dan pedas membakar bagaikan tersengat kilat energi murni meledak hebat menembus seluruh jiwa dan aliran mana bangsawan wanita tersebut!
"Uwooooogh!"
Bangsawan wanita berkerudung sutra ungu itu mendadak berdiri secara refleks dari kursi jurinya!
Kerudung sutra ungu yang menutupi wajahnya terlepas akibat dorongan gelombang energi panas yang memancar dari dalam tubuhnya!
Wajah bahagianya yang sangat cantik dengan sepasang telinga elf perak berkilauan terpampang jelas di hadapan seluruh penonton pasar!
Dialah Putri Ratu Elf dari Kerajaan Hutan Abadi Putri Aethelgardia yang sedang menyamar!
"P-Pedas sekali! Gurih sekali! Ini rasa masakan paling jenius yang pernah kukandung di dalam mulutku!" jerit Putri Aethelgardia dengan mata berbinar-binar bahagia dan air mata kelezatan menetes di pipi mulusnya.
Tanpa memedulikan keanggunan kerajaannya, Sang Putri Elf itu menyambar seluruh piring sate taichan Lin Mo dan melahap lima tusuk sekaligus dalam sekali makan!
Nyam! Nyam! Nyam!
"Luar biasa! Dagingnya asin gurih segar, dan sambalnya... sambalnya membuat seluruh sihir es di tubuhku meledak hangat bahagia!" jerit Putri Elf itu dengan wajah memerah merona penuh kenikmatan.
Kepala Pengawal Kota yang heran melihat reaksi Sang Putri ikut menyambar satu tusuk sate taichan dan melahapnya.
Bzzzt!
"S-Surga dunia! Ini pedasnya gila tapi bikin ketagihan setengah mati!" teriak Kepala Pengawal Kota memukul-mukul meja juri histeris.
"Buatkan aku lima puluh tusuk lagi sekarang juga!" jerit Kepala Pengawal Kota lupa diri.
Master Balthazar yang panik melihat dua juri lainnya kesetanan langsung menyambar tusukan sate terakhir dengan tangan gemetaran.
"I-Ini tidak mungkin... Hanya daging putih dan cabai kotor..." gumam Balthazar memasukkan sate itu ke mulutnya.
Bummm!
Sensasi pedas gurih taichan Lin Mo meremukkan seluruh harga diri dan pertahanan mental Master Kurcaci Balthazar secara instan!
Janggut emas Balthazar berdiri tegak dipenuhi percikan kilat keemasan.
"Enak sekali... Aku yang sudah hidup tiga ratus tahun belum pernah merasakan kelezatan yang sesempurna ini..." bisik Balthazar berlutut di atas meja juri dengan mata melotot bahagia.
Seluruh penonton di alun-alun Pasar Oasis mendadak senyap bagaikan kuburan melihat ketiga juri yang biasanya sangat kaku dan galak kini berlutut memuja piring kosong sate taichan milik Lin Mo.
Pembawa acara Elf menelan ludahnya secara kasar lalu berteriak dengan suara bergetar gembira.
"N-Nilai dari Juri Kehormatan..."
"Putri Aethelgardia: 100/100!"
"Kepala Pengawal Kota: 100/100!"
"Master Balthazar: 100/100!"
"NILAI SEMPURNA 300 POIN! PEMENANG DUEL KULINER MALAM INI ADALAH MASTER LIN MO DARI ANGKRINGAN DEWA MO!" teriak pembawa acara menggelegar!
Gemuruh sorak-sorai ribuan penonton meledak memenuhi langit Kota Perbatasan Oasis!
"Angkringan Dewa Mo! Angkringan Dewa Mo!" teriak para petualang dan warga dari berbagai ras bersatu bersorak gembira.
Chef Orik terduduk lemas di samping tungku panggangan mewahnya, pisaunya jatuh ke tanah. "Aku... aku kalah dari penjual sate kaki lima..." gumamnya tidak percaya.
Lin Mo tersenyum puas sambil memutar kipas bambunya lincah di udara.
PING!
[DUEL KULINER SELESAI! VIKTORI MUTLAK!]
[Menerima Hadiah Misi:]
[Resep Baru Terbuka: Sate Taichan Mistik Sambal Petir]
[Poin Arang +2.000]
[Hak Milik Permanen Panggung Utama Blok A Pasar Oasis]
[Total Poin Arang Saat Ini: 5.450 Poin]
Master Balthazar yang masih mengusap Lelehan air mata pedas di wajahnya merayap turun dari meja juri dan menghampiri Lin Mo.
"Master Lin Mo... ampunkan kesombongan hamba..." bisik Balthazar menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Lin Mo.
"Panggung utama Blok A ini sepenuhnya milik Anda sekarang! Serikat Oasis tidak akan pernah mengganggu Anda lagi!" tegas Balthazar menyerahkan kunci emas panggung utama.
Lin Mo mengibaskan kipas bambunya santai.
"Sudahlah Paman Kurcaci, tidak apa-apa. Buka usaha itu memang butuh sedikit saingan supaya ramai," kata Lin Mo terkekeh ramah.
"Tapi ingat ya, panggung ini sekarang resmi jadi Cabang Utama Angkringan Dewa Mo Kota Oasis!" tambah Lin Mo mengedipkan sebelah matanya.
Putri Elf Aethelgardia melangkah mendekati gerobak Lin Mo sambil mengusap bibir cantiknya yang masih agak kemerahan akibat sambal petir.
"Master Lin Mo..." sapa Sang Putri Elf dengan suara yang sangat lembut dan manis.
"Masakan Anda tidak hanya lezat, tapi juga sanggup membersihkan racun pembeku es yang bersarang di Inti Sihirku selama lima tahun," puji Sang Putri membungkuk hormat.
"Atas nama Kerajaan Hutan Abadi, saya mengundang Anda secara pribadi untuk menjadi Tamu Agung di Istana Elf minggu depan," tawar Sang Putri Elf tersenyum menawan.
Lin Mo menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum lebar.
"Wah, diundang ke Istana Elf ya? Boleh juga tuh, di sana pasti banyak bahan tanaman dan rempah langka yang belum pernah saya lihat!" sahut Lin Mo antusias.
Lilia sang gadis kelinci dan Vex juru potong kayu arang langsung berdiri di samping gerobak Lin Mo dengan wajah penuh kebanggaan.
"Master Lin Mo memang yang terbaik di seluruh benua!" seru Lilia gembira, telinga kelincinya melompat-lompat gembira.
Malam itu, Panggung Utama Blok A Pasar Oasis resmi berubah menjadi Cabang Angkringan Dewa Mo Pertama di perbatasan kota.
Asap keemasan beraroma sate maranggi, sate taichan, dan sate naga membumbung tinggi ke langit malam Oasis, menarik ratusan pembeli dari berbagai ras yang berbaris rapi mengantre hingga keluar gerbang pasar.
Lin Mo berdiri di balik panggangan otomatisnya dengan kipas bambu di tangan, tersenyum puas melihat usaha angkringan kaki limanya yang kini mulai mendominasi dunia asing.
"Sate taichan pedasnya kakaaak! Satu tusuk lima koin emas saja, murah meriah bikin nagih!" teriak Lin Mo penuh semangat melayani para pelanggannya.