Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cekcok
Di saat Asep sedang sibuk mengurus Gilang yang jatuh pingsan, interogasi yang dilakukan Nino di ruangan lain cukup berjalan lancar. Dadan cukup kooperatif menjawab pertanyaan yang dilontarkan Nino.
“Sudah berapa lama Bapak menikah dengan korban?” tanya Nino.
“Sembilan tahun.”
“Selama pernikahan, apa kalian sering bertengkar?”
“Namanya berumah tangga, pertengkaran pasti ada. Tapi pertengkaran yang terjadi hanya pertengkaran biasa. Setelah itu kita berdamai lagi.”
“Dilihat dari luka-luka yang dialami korban, sepertinya pelaku memiliki dendam pada korban. Apa korban pernah berselisih dengan tetangga, teman atau rekan kerjanya?”
“Nilan tidak punya terlalu banyak teman. Hubungannya dengan para tetangga juga terbilang baik. Saya dan Nilan sudah tinggal lama di rumah yang sekarang.
Rumah yang kami tempati adalah warisan orang tua saya. Dan selama tinggal, kami tidak pernah punya masalah dengan tetangga.”
Wajah Dadan terlihat sendu. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
Pria itu masih belum tahu bagaimana memberitahukan anaknya tentang kepergian ibunya secara mendadak dan dengan cara yang tragis. Apalagi anaknya baru berusia tujuh tahun.
“Bagaimana dengan rekan kerjanya? Apa korban pernah menceritakan soal rekan kerjanya?”
“Nilan jarang membicarakan soal pekerjaannya. Kami memang tidak pernah membawa urusan pekerjaan ke rumah.”
“Apakah ada yang bisa membuktikan alibi Bapak?”
“Rekan kerja saya bisa memberikan kesaksian. Bapak bisa datang ke hotel tempat saya kerja.”
“Baiklah. Untuk sementara cukup. Tapi jika kami membutuhkan kembali keterangan Bapak, saya harap Bapak bersikap kooperatif.”
“Tentu saja.”
Jalannya interogasi sudah selesai. Nino mempersilakan Dadan untuk meninggalkan ruangan. Sebelum keluar dari ruangan, Dadan melihat pada Nino. “Tolong temukan pelaku yang sudah membunuh istri saya.”
“Kami akan melakukan yang terbaik.”
“Terima kasih. Oh ya, kapan saya bisa membawa jenazah istri saya pulang?”
“Setelah autopsi selesai.”
“Baiklah. Terima kasih.”
Kali ini Dadan langsung keluar dari ruangan. Hati, pikiran dan tubuhnya benar-benar lelah hari ini. Setelah pulang nanti, dia harus siap menjawab pertanyaan dari keluarga, tetangga dan terutama anaknya.
Sepeninggal Dadan, Nino masih bertahan di tempatnya. Pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini Asep yang masuk ke dalam. Pria itu menarik kursi di depan Nino kemudian menjatuhkan tubuhnya di sana.
“Kenapa? Asem banget tuh muka.”
“Keheul urang (Kesal gue).”
“Kenapa lagi?”
“Si Gilang pingsan pas lagi diinterogasi.”
“Kok bisa? Lo interogasi sambil ngacungin golok ye?” tanya Nino sambil terkekeh.
“Gara-gara si Ahqam. Sumpah tuh jin ngeselin banget.”
“Emang si Ahqam ngapain.”
“Dia nongol dong di depan Gilang. Udah gitu pake penampakan tanpa kepala terus tuh kepala malah dijinjing sama dia. Langsung histerislah si Gilang terus pingsan.”
“Hahaha!”
Nino tak bisa menahan tawanya. Andai saja dia berada satu ruangan dengan Asep, pasti dia bisa terhibur melihat tingkah absurd Ahqam.
“Jigana si Ahqam rek dibalikeun deui ku urang ka kebon jengkol (Kayaknya si Ahqam mau gue balikin lagi ke kebun jengkol).”
“Jangan weh. Dia kan banyak bantu kita pecahin kasus.”
“Ya tapi tuh jin bikin bengek. Ada aja omongannya yang bikin gedeg kalau gue suruh. Udah gitu pacaran mulu sama Eris.
Tuh jin emang ngelunjak. Urang oge jomblo keneh, manehna geus boga kabogoh (Gue aja masih jomblo, dia udah punya pacar),” gerutu Asep.
“Kalau mau ngomongin, di depan langsung, jangan di belakang!”
Tiba-tiba saja Ahqam sudah berada di antara Nino dan Asep. Wajah jin tersebut tampak masam. Tentu saja karena kesal mendengar ocehan Asep barusan.
Melihat kemunculan Ahqam, Asep langsung membalikkan tubuhnya. Pria itu benar-benar malas melihat khodamnya tersebut.
Begitu juga dengan Ahqam, jin tersebut juga membalikkan tubuhnya. Posisi mereka sekarang saling membelakangi.
“Kalian berdua kapan akurnya sih?” celetuk Nino.
“Bilangin ke si Ahqam, harus baik-baik sama gue.”
“Males banget,” sahut Ahqam.
“Maneh hayang ku urang dibalikeun ke kebon jengkol?” ancam Asep.
“Memangnya kamu bisa memecahkan kasus tanpa bantuanku?” Ahqam balik menantang.
Nino menggaruk kepalanya yang tak gatal. Situasi seperti ini memang sudah sering dia hadapi. Jika kondisinya sudah seperti ini, mau tidak mau dia memanggil bala bantuan. “Eris!”
Dalam waktu singkat Eris sudah muncul di hadapan Nino. Wajah Ahqam yang awalnya masam langsung berubah. Jin tersebut melemparkan senyum manisnya pada Eris. Sontak Asep langsung menunjukkan ekspresi seperti orang ingin muntah.
Ahqam sama sekali tidak menggubris ekspresi Asep barusan. Matanya terus memandangi hantu cantik yang sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya.
“Mulai bucinnya,” ledek Asep.
“Yang jomblo bawaannya sirik. Makanya cepat cari pacar,” Ahqam malah balas meledek.
Mata Asep langsung membulat. Ingin rasanya dia melontarkan sumpah serapah pada khodamnya itu. Namun percuma saja, sekarang Ahqam semakin pintar membalas ucapannya. Justru Asep yang akan semakin dibuat naik darah nantinya.
“Sudah … sudah … sekarang bukan waktunya ribut. Fokus sama kasus yang kita tangani sekarang,” lerai Nino. “Ahqam, mana arwahnya Nilan? Bawa ke sini.”
“Wani piro?” tanya Ahqam.
“Wah beneran nyari ribut nih jin,” kesal Asep.
“Gue hitung sampai tiga. Kalau Lo nggak pergi juga, jangan harap Lo bisa pacaran sama Eris. Satu … dua … ti—“
Ahqam langsung menghilang sebelum Nino melengkapi hitungannya. Dan sedetik kemudian dia sudah kembali dengan membawa arwah Nilan bersamanya.
Nino melemparkan senyum jumawanya pada Asep. Sementara sahabatnya itu hanya mendengus kesal.
Nilan tampak ketakutan melihat Nino, Asep dan Eris. Terutama pada jin yang sudah membawanya ke sini. Dia berusaha melepaskan diri, tetapi Ahqam menahannya dengan kuat.
“A-Apa mau kalian?” tanya Nilan takut-takut.
“Tenanglah. Kami adalah polisi yang bertugas mengungkap kematianmu. Ada beberapa hal yang harus kami tanyakan padamu,” ujar Nino.
Mendengar ucapan Nino, perasaan Nilan mulai tenang. Wanita itu tidak lagi berusaha lepas dari pegangan Ahqam.
“Apa yang kamu ingat di malam pembunuhan itu?”
“Malam itu aku pulang kerja cukup larut karena harus lembur. Sebelum pulang, aku belanja dulu di minimarket. Saat hendak pulang, tidak ada ojek yang mangkal di tempat biasa.
Aku terpaksa berjalan kaki pulang ke rumah. Saat melewati kebun jagung, laki-laki itu muncul. Dia menyeretku ke kebun jagung lalu memukuliku sampai aku mati.”
Nilan menangis setelah menceritakan kejadian yang menimpanya. Wanita itu masih belum rela meninggalkan anak dan suaminya. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan di dunia. Namun pembunuh itu sudah merenggut segalanya.
“Apa yang kamu ingat dari pembunuh itu?”
“Tidak ada. Dia memakai topeng Rahwana, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya.”
“Selain wajahnya, mungkin ada hal lain yang bisa kamu ingat. Misalnya suaranya atau cara berjalannya?”
Nilan hanya menggelengkan kepala. Karena panik, dia tidak sempat memperhatikan pria yang tiba-tiba datang dan menyiksanya sampai meninggal.
“Bagaimana kalau aku melihat langsung kejadian yang menimpamu malam itu.”
“A-Apa? Bagaimana caranya?” tanya Nilan bingung.
“Sentuh keningku,” titah Nino.
Ragu-ragu Nilan mengulurkan tangannya. Jari telunjuknya ditempelkan ke kening Nino.
Seketika cahaya terang memenuhi pandangan Nino. Sedetik kemudian cahaya terang itu berganti dengan kegelapan. Saat ini Nino sudah berada di kebun jagung, tempat pembunuhan Nilan terjadi.
***
Ahqam ngelunjak😂
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/