Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Astral
Hal pertama yang ia rasakan bukanlah cahaya, melainkan angin.
Angin sejuk yang menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang belum pernah ia hirup sepanjang hidupnya yang lama—hidup yang kini terasa seperti mimpi samar dari seseorang lain.
Ia membuka mata perlahan. Langit di atasnya berwarna biru cerah dengan corak keunguan di beberapa sudut, dua bulan kecil tergantung samar meski matahari masih tinggi. Ia berbaring di atas rerumputan tinggi yang menjulang hampir setinggi pinggangnya, di tengah padang luas yang tidak berujung sejauh mata memandang.
Ia bangkit duduk, dan itulah saat pertama kali ia benar-benar menyadari sesuatu yang aneh.
Tangannya bukan tangannya sendiri.
Kulitnya lebih pucat, jari-jarinya lebih ramping namun terlihat kokoh. Ia meraba wajahnya sendiri—tulang pipi yang lebih tegas, rahang yang lebih tajam. Ia berdiri, dan tubuhnya terasa ringan dengan cara yang asing, seolah setiap ototnya sudah terlatih sejak lama untuk gerakan-gerakan yang bahkan belum pernah ia pikirkan. Namun ada yang berbeda—ia meraba lengan kirinya dan hanya menemukan kekosongan di bawah bahu, lengan itu tidak ada. Ia tidak panik. Entah bagaimana, ingatan yang mulai mengalir masuk memberitahunya bahwa ini bukan kesalahan, melainkan bagian dari fisik yang ia terima—fisik Sasuke Uchiha di titik akhir kehidupannya yang lama, setelah melewati perang besar yang merenggut banyak hal darinya, termasuk lengan itu.
Ia juga bisa merasakan sesuatu di balik kelopak mata kirinya—sesuatu yang selalu terjaga, tidak pernah benar-benar "tidur", tersembunyi rapi di balik poni rambutnya yang jatuh menutupi sisi kiri wajahnya. Ketika ia menyentuh area sekitar matanya dengan tangan kanannya yang tersisa, ia tahu tanpa perlu cermin: mata kirinya bukan lagi mata biasa. Rinnegan, pemberian Rikudou Sennin di titik akhir kehidupan lamanya sebagai Sasuke Uchiha. Mata kanannya terasa normal untuk saat ini—namun ia tahu, dari ingatan yang mulai mengalir masuk, bahwa mata itu bisa berubah menjadi Sharingan kapan pun ia mengaktifkannya secara sadar.
Bersamaan dengan itu, ingatan-ingatan mulai mengalir masuk—bukan seperti mimpi, melainkan seperti membuka laci demi laci di dalam kepalanya yang sudah lama tertutup rapat. Ia melihat sekilas pertarungan-pertarungan hebat, teknik-teknik yang mengalir seperti tarian maut, persahabatan yang berubah jadi rivalitas berdarah, dan kehampaan seorang anak yang kehilangan segalanya—termasuk lengannya—di perang yang sama.
Ia terengah, berlutut di rerumputan sambil memegangi kepalanya sendiri. Terlalu banyak, terlalu cepat.
*Ini... ingatan Sasuke Uchiha.*
Perlahan, seiring napasnya kembali teratur, ia menyadari sesuatu yang lebih halus—ingatan-ingatan itu tidak menggantikan dirinya. Mereka justru bersanding, seperti dua sungai yang perlahan bertemu dan bercampur menjadi satu aliran baru. Ia masih ingat kamar sempitnya yang berantakan, layar laptop yang menyala di kegelapan, dan bisikan kecil tentang niat untuk berubah. Tapi kini, di sebelah ingatan itu, ada juga ingatan tentang balas dendam, tentang kekuatan, tentang seseorang yang pernah kehilangan segalanya dan memilih jalan yang dingin demi bertahan.
Dua jiwa, satu tubuh.
Ia berdiri lagi, kali ini lebih mantap, menatap telapak tangannya sendiri dengan pandangan baru.
"Sasuke," gumamnya pelan, mencoba nama itu di lidahnya sendiri untuk pertama kalinya. Bukan karena diperintah, bukan pula karena identitas lamanya sudah hilang sepenuhnya—tapi karena nama itu terasa seperti representasi paling jujur dari siapa dirinya sekarang: gabungan dari dua kehidupan, dua jiwa, yang kini harus berjalan bersama menghadapi dunia yang benar-benar baru.
"Baiklah," ia berkata pada dirinya sendiri, suaranya jauh lebih tenang dari yang ia kira. "Namaku Sasuke, mulai sekarang."
---
Sebuah dorongan aneh muncul di benaknya—seperti insting yang bukan miliknya sendiri, namun kini menyatu dengan pemikirannya. Ia tahu, entah bagaimana, bahwa ia bisa memeriksa dirinya sendiri. Pengetahuan itu muncul begitu saja, seolah sudah lama ada di sana, menunggu untuk disadari—sebuah nama pun ikut terlintas bersamanya: *Sha Nagba Imuru*, meskipun ia sendiri tidak yakin dari mana atau siapa nama itu sebenarnya berasal.
"Open Status," ucapnya, setengah ragu.
Selembar layar transparan langsung muncul di hadapannya, melayang di udara seperti kaca tipis yang menampilkan tulisan bercahaya lembut.
```
[Nama: Sasuke]
[Level: 1/100 (00%)]
[HP: 3.750/3.750]
[MP: ∞]
[Chakra: ∞]
[AGI: ???] [STR: ???]
[INT: ???]
[DFN: ???] [VIT: ???]
[Skill: Sharingan (Siaga), Rinnegan (Aktif), Ninjutsu Api-Petir, Gate of Babylon, Ultra Instinct, Susanoo, ...]
```
Ia menatap angka-angka itu lama sekali. Level satu, tapi dengan HP yang sudah jauh melampaui manusia biasa, meski tetap terasa seperti angka yang nyata—bukan sesuatu yang mustahil untuk disentuh habis jika ia lengah. Chakra dan mananya menunjukkan simbol tak terhingga, persis seperti yang dijanjikan Dewa Agung. Beberapa kolom masih bertanda tanya, seolah kekuatan fisiknya belum sepenuhnya "terukur" oleh sistem apa pun yang menciptakan layar ini.
Yang menarik perhatiannya adalah perbedaan status di antara kedua kekuatan matanya. Rinnegan di mata kirinya tertulis "Aktif"—dan benar saja, ketika ia mencoba menyibak poni yang menutupinya, ia bisa merasakan mata itu sudah menyala sejak awal, tanpa perlu ia bangunkan. Sementara itu, Sharingan di mata kanannya tertulis "Siaga"—ia mencoba memejamkan mata kanannya sejenak, memusatkan sedikit chakra ke sana, dan ketika ia membukanya kembali, dunia di sekelilingnya terlihat sedikit berbeda, seolah setiap pergerakan angin dan helai rerumputan bisa ia baca lebih dalam dari sebelumnya. Dua kekuatan, dua cara kerja berbeda—satu selalu menyala tanpa lelah, satu lagi menunggu untuk dipanggil.
Ia menghela napas panjang, antara geli dan pasrah, begitu ingatan itu menyadarkannya pada satu hal sederhana yang luput dari pikirannya saat berhadapan dengan Dewa Agung tadi—dalam euforia memilih empat kekuatan besar, ia lupa satu permintaan kecil yang sebenarnya krusial: meminta agar tubuh ini disembuhkan tanpa cacat.
"Tidak sempurna juga tidak apa-apa," gumamnya sambil menatap bahu kirinya yang kosong, mengangkat sedikit sudut bibirnya—ekspresi yang aneh baginya sendiri, tapi entah kenapa terasa alami di wajah ini. "Toh, aku sudah lebih dari cukup kuat tanpa itu."
Ia menutup layar itu dengan gerakan tangan sederhana, dan layar itu menghilang seolah tidak pernah ada., ia berdiri di tengah dunia terbuka yang luas—bukan empat dinding kamar yang selama ini menjadi seluruh semestanya, melainkan padang rumput tanpa batas dengan langit ganda dan udara yang terasa hidup.
Ada rasa takut, tentu saja. Dunia ini asing, penuh dengan hal-hal yang tidak ia pahami. Tapi ada juga sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih lama tidak ia rasakan.
Rasa penasaran.
Ia mulai melangkah, menembus rerumputan tinggi menuju arah yang tampak seperti jalan setapak samar di kejauhan, membawa serta dua kehidupan yang kini menyatu dalam satu tubuh—kehampaan yang dulu menjadi seluruh dunianya, dan kekuatan yang kini menjadi tanggung jawab barunya.
Dunia bernama Astral terbentang di hadapannya, seratus kali lebih luas dari dunia yang pernah ia kenal, penuh dengan sepuluh benua yang belum pernah ia injak, dan satu misi yang menunggunya di suatu tempat yang jauh, tersembunyi di antara ribuan kerajaan yang bahkan belum ia ketahui namanya.
Perjalanannya baru saja dimulai.
---
*Bersambung ke Bab 4: Langkah Pertama*