NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.1k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 - Nisa Membuktikan Diri

Nisa masuk ke ruang Raka sambil memegang map tipis. "Pak, saya dengar nama Kevin disebut lagi."

Raka mengangkat wajah dari laporan keuangan.

Di depan pintu, Nisa berdiri kaku seperti murid yang takut dipanggil kepala sekolah. Map di tangannya dipegang terlalu erat. Jari-jarinya menekan plastik bening sampai sedikit berkerut.

"Masuk," kata Raka.

Nisa melangkah masuk dan menutup pintu pelan. "Maaf kalau saya lancang, Pak. Saya dengar staf operasional bicara. Katanya ada orang Kevin yang tanya-tanya soal Bapak. Saya tidak tahu itu penting atau tidak, tapi..."

"Kamu melakukan hal benar dengan melapor."

Nisa tampak lega, tetapi masih gugup. "Saya takut dikira mencampuri urusan."

"Di perusahaan keamanan, informasi kecil bisa menjadi penting. Yang salah bukan melapor. Yang salah adalah menyebarkan tanpa arah."

Raka menghubungi Yuli dan Adi. Dalam sepuluh menit, laporan kecil Nisa berubah menjadi catatan resmi: siapa yang mendengar, kapan, dari siapa, dan apa isi pembicaraannya. Tidak dramatis. Tidak langsung dianggap bukti besar. Tetapi untuk perusahaan yang sedang diawasi musuh, budaya melapor adalah pagar pertama.

Adi menatap Nisa setelah mencatat semuanya. "Bagus. Lain kali, formatnya begini: waktu, tempat, sumber, isi, saksi. Jangan tambah kesimpulan kalau belum pasti."

Nisa mengangguk cepat. "Iya, Pak."

Raka melihat cara Nisa menerima koreksi. Tidak tersinggung, tidak mencari pujian, tidak takut belajar. Mata Pemimpin pernah menunjukkan potensinya. Hari ini, pilihan kecilnya mulai membuktikan bahwa potensi itu punya tanah untuk tumbuh.

Seminggu kemudian, ujian yang lebih nyata datang.

Salah satu calon klien baru, pemilik pusat kuliner bernama Bu Melati, datang ke kantor dengan wajah marah. Ia sebelumnya tertarik mengambil paket pelatihan keamanan staf perempuan setelah bertemu Raka di acara bisnis. Namun pagi itu ia membawa kabar buruk.

"Saya sudah kirim dokumen, sudah isi formulir, tapi jadwal audit saya tertukar!" katanya di lobi. "Tim kalian datang ke lokasi cabang barat, padahal yang butuh audit cabang timur. Karyawan saya menunggu dua jam!"

Resepsionis panik. Staf admin saling mencari file. Adi sedang rapat di luar. Raka berada di lantai dua menerima telepon calon investor. Situasi kecil seperti ini bisa berubah menjadi masalah reputasi jika ditangani buruk.

Nisa mendengar keributan dari ruang arsip.

Ia keluar dengan buku catatan dan laptop kecil. "Bu, saya Nisa dari administrasi. Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Boleh saya cek nomor formulir Ibu?"

Bu Melati menatapnya dari atas ke bawah. "Kamu baru ya?"

"Iya, Bu. Tapi saya bisa cek data dasar dulu sambil menunggu Pak Adi."

"Saya tidak mau menunggu lagi."

"Baik, Bu. Kalau begitu saya cek sambil Ibu duduk. Saya minta lima menit. Kalau setelah itu belum jelas, saya panggil supervisor langsung."

Nada Nisa tidak keras, tetapi rapi. Ia tidak melawan emosi klien. Ia memberi batas waktu, permintaan jelas, dan jalan keluar. Bu Melati akhirnya duduk dengan napas masih berat.

Nisa membuka database arsip yang ia sendiri rapikan minggu sebelumnya. Ia mencari nama Bu Melati, nomor formulir, alamat cabang, dan lampiran WhatsApp dari tim marketing. Dalam dua menit, ia menemukan sumber masalah: di formulir awal tertulis cabang timur, tetapi pada rekap manual lama ada singkatan "CB-B" yang dibaca staf operasional sebagai cabang barat. Salah input terjadi sebelum sistem arsip baru dibereskan.

Nisa tidak menyalahkan staf lain di depan klien.

"Bu Melati," katanya, "saya sudah menemukan letak kesalahan administrasi kami. Cabang yang benar adalah cabang timur. Tim kami salah membaca rekap lama. Saya minta maaf. Saya akan hubungi operasional untuk mengalihkan tim terdekat, dan jika Ibu bersedia, kami beri sesi pelatihan tambahan satu jam tanpa biaya."

Bu Melati masih kesal. "Tanpa biaya itu urusan kalian. Tapi waktu saya hilang."

"Benar, Bu. Karena itu saya juga akan buat laporan tertulis supaya jadwal Ibu diprioritaskan ulang hari ini. Saya bisa kirim update tiap tiga puluh menit sampai tim tiba."

Cara Nisa berbicara membuat beberapa staf terdiam. Gadis yang seminggu lalu masih salah format nomor surat kini berdiri di depan klien marah. Ia belum hebat, namun ia tahu langkah berikutnya.

Raka turun saat Nisa sedang menelepon tim operasional.

"Pak Damar, cabang timur Bu Melati. Ya, bukan barat. Mohon alihkan tim dua ke sana. Saya kirim pin lokasi sekarang. Body camera dan checklist tetap sesuai paket. Maaf, ini koreksi administrasi dari kantor."

Setelah menutup telepon, Nisa baru sadar Raka berdiri tidak jauh. Ia hampir panik, tetapi Raka hanya memberi isyarat agar ia lanjut.

Adi tiba sepuluh menit kemudian dan langsung membaca ringkasan yang dibuat Nisa: kronologi, penyebab, tindakan koreksi, kompensasi layanan, dan jadwal update. Ia membaca sekali, lalu menatap Nisa.

"Ini kamu buat?"

"Iya, Pak. Kalau ada salah, saya revisi."

"Ada salah."

Wajah Nisa langsung pucat.

Adi menunjuk satu kolom. "Kamu lupa tulis nama PIC lapangan."

"Maaf, Pak."

"Selain itu bagus."

Nisa mengedip, seperti belum siap menerima kata bagus dari Adi.

Bu Melati akhirnya melunak setelah tim Garuda Shield tiba di cabang yang benar dan sesi pelatihan berjalan lancar. Sore harinya, ia mengirim pesan singkat ke kantor: `Masalah selesai. Mbak Nisa responsif. Tolong pertahankan orang seperti itu.`

Sebelum pesan itu datang, Nisa masih mengirim update sesuai janjinya. Pukul dua siang: tim tiba. Pukul setengah tiga: checklist awal selesai. Pukul tiga: kamera belakang cabang ditemukan mati dan dijadwalkan penggantian vendor. Pukul empat: staf kasir perempuan meminta pelatihan tambahan soal menghadapi pemerasan halus. Semua ia catat tanpa melewatkan waktu.

Pesan itu dibacakan Adi di ruang rapat kecil.

Beberapa staf yang dulu berbisik di pantry kini bertepuk tangan pelan. Nisa menunduk, wajahnya merah. Ia tidak tampak sombong. Justru seperti orang yang baru menyadari bahwa ia bisa berguna di tempat yang dulu terasa terlalu tinggi.

Raka menatapnya. "Mulai besok, kamu ikut training administrasi klien lanjutan."

"Saya boleh, Pak?"

"Kamu sudah mulai membuktikan diri."

Setelah rapat bubar, Nisa memberanikan diri berdiri di depan Raka. Suaranya pelan, tetapi matanya lebih mantap daripada hari pertama.

"Pak Raka, terima kasih. Bukan cuma karena Ayah. Karena Bapak memberi saya kesempatan untuk tidak merasa kecil terus."

Raka menatapnya, lalu menjawab dengan suara rendah, "Jangan gunakan kesempatan itu untuk membuktikan sesuatu padaku. Gunakan untuk membuktikan pada dirimu sendiri."

Nisa tersenyum, dan untuk sesaat ruangan terasa lebih hangat.

Nisa menunduk dengan senyum yang belum hilang. "Kalau begitu, saya akan bekerja sampai saya sendiri percaya saya pantas berada di sini."

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!