NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun: Harus Tahu Diri

Kelopak mata Ainun perlahan terbuka.

Sentuhan panas yang menyisakan batinnya telah lama menghilang, berganti dengan rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Ia menarik napas pelan.

Perlahan, Ainun menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun dari ranjang, tanpa menoleh sedikitpun. Kakinya melangkah pelan menuju kamarnya yang sempit dan pengap, yang kini menjadi tempatnya menenangkan diri.

Setibanya di dalam kamar.

Ainun menyandarkan tubuh di dinding dingin sebelum akhirnya terduduk di lantai. Kedua lututnya ia peluk erat. Tatapannya kosong menatap lantai.

“Mbak...” Suaranya bergetar. “Mbak Liona kapan pulang?”

Bibirnya bergetar semakin hebat.

“Ainun... nggak sanggup lagi.”

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh tanpa ampun. Bahunya berguncang pelan, sementara isak tangis memenuhi kamar yang sunyi.

Tak ada seorang pun yang datang menghapus air matanya.

Tak ada pelukan.

Tak ada kata-kata yang menenangkan.

Hanya kesunyian yang menemaninya hingga malam semakin larut.

Sedikit demi sedikit, isaknya mereda.

.

Sementara itu, di sebuah ruangan, Sagara duduk bersandar di kursi.

Tatapannya terpaku pada layar monitor yang menampilkan rekaman dari sebuah ruangan sempit.

Di sana, seorang wanita tampak meringkuk di sudut ruangan dengan kedua lutut yang dipeluk erat. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertunduk, tetapi pemandangan itu tak membuat sorot mata Sagara berubah sedikit pun.

Ia mengisap rokok yang terselip di antara jemarinya.

Sesaat kemudian, kepulan asap keluar perlahan dari bibirnya, memenuhi ruangan.

Tanpa mengalihkan pandangan dari monitor, Sagara mematikan puntung rokok ke dalam asbak hingga bara merahnya padam.

Ia bangkit dari kursinya.

Langkahnya membawanya ke meja kerja yang dipenuhi berkas dan beberapa map yang berserakan.

Sagara menarik kursi, lalu kembali duduk.

Kling.

Suara notifikasi membuat pandangannya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja.

Ia meraih benda itu, kemudian membuka pesan yang baru saja masuk.

Nama asistennya muncul di layar.

{Pak Sagara, saya baru saja mendapatkan informasi. Nona Liona, calon istri Anda, saat ini berada di Austria.}

Rahang Sagara mengeras.

Tanpa banyak berpikir, jemarinya segera mengetik balasan.

{Terus pantau keberadaannya.}

Setelah pesan terkirim, ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

Tubuhnya bersandar pada kursi.

Tatapannya kembali tertuju pada layar monitor yang masih menampilkan rekaman dari ruangan sempit itu.

.

.

Fajar perlahan merekah di ufuk timur. Cahaya matahari menyusup melalui celah-celah jendela rumah, mengusir dingin yang sejak semalam menyelimuti setiap sudut ruangan. Suasana masih lengang. Hanya terdengar sesekali kicau burung dan desir angin pagi yang berembus pelan.

Di dalam kamar kecil yang kini ditempatinya, Ainun berdiri di depan cermin.

Jilbab krem telah terpasang rapi membingkai wajahnya. Ia merapikan sedikit bagian depan jilbabnya, lalu mengembuskan napas pelan.

Pandangannya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja. Jemarinya meraih benda itu, kemudian menyalakan layarnya.

“Sudah lewat jam enam.” Bibirnya bergerak lirih. “Aku harus berangkat sebelum bertemu Mas Sagara.”

‘Lebih baik seperti biasa. Berangkat lebih pagi dan pulang lebih sore.’

Perlahan, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Setelah memastikan semua barangnya lengkap, Ainun membuka pintu kamar dan melangkah keluar.

Baru beberapa langkah meninggalkan kamar, sebuah suara menyapanya.

“Mbak Ainun, mau berangkat sekarang?” tanya Bibi Ani sambil membawa mangkuk dari arah dapur.

Langkah Ainun terhenti. Ia menoleh dan mendapati wanita paruh baya itu tersenyum ramah kepadanya.

‘Bibi Ani... beliau asisten rumah tangga di rumah ini. Beliau satu-satunya orang yang selalu menyapaku setiap hari. Selalu bertanya apakah aku sudah makan atau belum saat pulang mengajar.’

Ainun membalas senyum itu tipis.

“Iya, Bi.”

“Nggak sarapan dulu?” Bibi Ani menunjuk ke arah dapur. “Sebentar lagi masakannya matang.”

Ucapan itu membuat pandangan Ainun tanpa sadar bergeser ke arah dapur.

Aroma masakan hangat memenuhi udara, menggelitik perutnya yang sejak semalam belum terisi.

Tanpa sadar ia menelan ludah.

‘Aku harus tahu diri. Aku hanya orang asing di rumah ini. Apa pantas aku memakan sebutir nasi?’

Sudah hampir tiga bulan ia tinggal di rumah itu.

Namun, tak sekali pun ia ikut duduk di meja makan bersama sang tuan rumah.

Sarapan dan makan siang selalu dibelinya di luar. Sedangkan saat malam tiba, ia sengaja mencari alasan untuk makan sebelum pulang.

Bukan karena tidak lapar. Melainkan karena ia tahu tempatnya.

Ainun kembali menatap Bibi Ani, lalu menggeleng pelan.

“Nggak usah, Bi. Saya beli di warung saja.”

Bibi Ani tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya.

Ainun menundukkan kepala dengan sopan.

“Ainun berangkat dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Mbak Ainun,” balas Bibi Ani sambil tersenyum hangat.

“Iya, Bi. Terima kasih.”

Ainun membalas senyum itu sekilas, lalu berbalik melangkah meninggalkan dapur.

Tak lama kemudian, suara pintu rumah yang terbuka lalu tertutup perlahan.

. . .

Begitu keluar dari rumah, embusan angin pagi langsung menyapa wajah Ainun.

Ia melangkah pelan menyusuri halaman. Pintu pagar dibukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara.

‘Seharusnya aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, meski aku hanya istri sementara.’

Langkahnya perlahan melambat. ‘Tapi...’

Kelopak matanya terpejam sesaat.

‘Ya sudahlah. Itu bukan urusanku. Mas Sagara sendiri yang melarangku menyentuh semua barang miliknya. Katanya, gak ada seorang pun yang boleh menyentuh apa pun yang menjadi miliknya, kecuali Mbak Liona.’

Tanpa sadar, jemari Ainun mengusap pelan lengan kirinya.

‘Kalau aku melanggarnya... yang kudapat hanya pukulan. Bahkan sampai sekarang lenganku masih sering terasa sakit.’

Ia menghentikan langkahnya sejenak.

Tatapannya terangkat ke langit.

Matahari berwarna jingga mulai muncul di ufuk timur, memancarkan cahaya hangat yang perlahan menerangi jalanan. Udara masih terasa sejuk, sementara lalu lalang kendaraan belum begitu ramai.

Ainun menarik napas dalam-dalam.

“Lihat saja,” gumamnya lirih. “Setelah Mbak Liona kembali, aku akan pergi jauh.”

Senyumnya terukir tipis, tetapi tak pernah sampai ke matanya.

Perlahan, Ainun kembali mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah yang selama tiga bulan terakhir hanya menjadi tempat tinggal, bukan tempat untuk pulang.

.

 Di saat yang sama, suasana di dalam rumah masih diselimuti keheningan pagi.

Sagara menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah tenang. Kemeja putih dan celana bahan hitam yang dikenakannya tampak rapi, seolah tak menyisakan sedikit pun kesan berantakan.

Tak lama, ia tiba di ruang makan.

Di atas meja telah tersaji berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap hangat. Namun, tak ada siapa pun yang duduk di sana selain Bibi Ani yang sedang merapikan piring.

Tatapan Sagara menyapu seluruh ruangan.

Tak menemukan sosok yang dicarinya. Ia melangkah mendekati meja makan.

“Di mana wanita itu?” tanyanya datar.

Bibi Ani segera menoleh.

“Mbak Ainun baru berangkat beberapa menit yang lalu, Pak Sagara,” jawabnya hati-hati.

Sagara terdiam. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal pelan di sisi tubuhnya.

“Berani sekali dia pergi lebih dulu,” ucapnya dingin. “Apa dia nggak punya sopan santun?”

Bibi Ani tampak ragu sebelum akhirnya memberanikan diri menjawab.

“Tapi... bukannya memang setiap hari Mbak Ainun selalu berangkat sepagi ini, Pak?”

Tatapan Sagara perlahan beralih kepadanya.

Sorot matanya membuat Bibi Ani seketika menundukkan kepala.

“Apa saya mengizinkan kamu berbicara?” suara Sagara terdengar rendah, tetapi penuh tekanan.

Wajah Bibi Ani langsung pucat.

“M-maaf, Pak.”

“Lanjutkan pekerjaanmu.”

“B-baik, Pak. Permisi.”

Bibi Ani segera membungkukkan badan tipis, lalu bergegas meninggalkan ruang makan.

Sagara tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya beralih pada deretan makanan yang tersusun rapi di atas meja.

Beberapa saat kemudian, ia menarik kursi, lalu duduk dengan tenang.

Tanpa banyak ekspresi, ia mengambil nasi dan beberapa lauk secukupnya ke dalam piringnya.

'Setidaknya wanita itu masih tahu diri. Dia tidak pernah menyentuh makanan yang ada di rumah ini.'

Tanpa memikirkan hal lain, Sagara mulai menyantap sarapannya dalam keheningan yang kembali menyelimuti ruang makan.

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!