NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang

Galleon raksasa itu merintih. Suara derit kayu tebal yang patah dan gesekan pelat baja yang saling beradu terdengar seperti erangan monster laut yang sedang meregang nyawa. Dreadnaught Sabre, kebanggaan armada terbesar di seluruh lautan East Blue, kini tak lebih dari sekadar rongsokan raksasa yang mengapung pasrah terbawa arus hingga menabrak karang di perairan dangkal Desa Syrup.

​Di pantai selatan, keheningan menyelimuti semua orang. Roronoa Zoro, Sanji, Monkey D. Luffy, Nami, dan Usopp menatap lambung kapal yang terbelah itu dengan perasaan campur aduk. Bahkan sisa-sisa Bajak Laut Kuroneko yang baru saja menyerah kepada Roy Mustang ikut bergetar melihat ukuran kapal tersebut.

​Di atas dahan pohon pinus yang tersembunyi dalam kegelapan hutan, Muzan Kibutsi menarik kerudung jubah hitamnya. Mata hitamnya yang dingin berkilat memantulkan cahaya bulan. Melalui koneksi pasif dengan Byakugan Neji yang masih bersiaga, ia memindai bagian dalam kapal raksasa tersebut.

​"Ratusan detak jantung yang sangat lemah," batin Muzan menganalisis. "Mereka tidak sedang menyusun formasi serangan. Mereka sedang sekarat. Kelaparan dan dehidrasi ekstrem. Grand Line telah mengunyah mereka dan memuntahkan sisa-sisanya kembali ke East Blue."

​Di pantai, Roy Mustang berdiri tegak dengan tangan bersilang di depan dada. Sebagai boneka yang telah dibangkitkan jiwanya melalui Batu Kebangkitan Jiwa (Minor), Mustang kini memiliki otonomi taktis. Ia tidak langsung menyerang. Insting militernya mengkalkulasi ancaman. Mata gelapnya menatap ujung geladak kapal raksasa yang bayangannya menutupi sebagian pantai.

​Kriet... Kriet...

​Sebuah tangga tali yang terbuat dari jaring kasar dilemparkan dari atas geladak kapal, jatuh berdebum ke atas pasir pantai.

​Dari atas sana, sesosok tubuh kurus kering turun dengan susah payah. Pria itu mengenakan jaket yang compang-camping dengan corak ular, kepalanya dibalut bandana yang kotor. Matanya cekung, tulang pipinya menonjol keluar, dan bibirnya pecah-pecah memutih. Begitu kakinya menyentuh pasir, lutut pria itu menyerah. Ia jatuh tersungkur, tangannya mencengkeram pasir dengan putus asa.

​Itu adalah Gin, Komandan Tempur Bajak Laut Krieg.

​"T-Tolong..." suara Gin sangat parau, nyaris seperti embusan angin. Ia mengangkat kepalanya yang berat, menatap kapal restoran Baratie yang bersinar hangat di perairan dangkal, lalu menatap orang-orang di pantai. "Tolong... beri kami makan... Kapten kami... dia akan mati..."

​Zoro menatap Gin dengan ekspresi keras. Insting pendekar pedangnya tidak pernah bohong. Pria kurus di depannya ini, meskipun sedang sekarat, memancarkan aura membunuh seorang petarung yang telah mencabut ratusan nyawa. "Bajak laut Krieg," gumam Zoro. "Armada dengan lima puluh kapal dan lima ribu anak buah. Kenapa monster seperti mereka bisa berakhir dalam kondisi menyedihkan seperti ini?"

​Mustang mendengus pelan, suaranya dipenuhi arogansi yang elegan. "Alam tidak pernah peduli pada jumlah, Zoro. Di lautan yang sesungguhnya, lima ribu semut tidak akan bisa mengalahkan satu badai. Mereka hanyalah korban dari kelemahan mereka sendiri."

​Tanpa mempedulikan ketegangan di antara petarung tersebut, Sanji, sang Koki Kepala, membuang puntung rokoknya ke pasir dan menginjaknya. Wajahnya tertutup oleh poni pirangnya, namun langkahnya sangat tegas. Ia berbalik dan berjalan menuju tangga naik ke Baratie.

​"Tunggu, Koki!" seru Usopp panik. "Kau mau ke mana?! Jangan bilang kau mau memberinya makan?! Dia itu bajak laut jahat! Kalau dia dan kaptennya pulih, mereka akan membunuh kita semua dan menghancurkan desa ini!"

​Sanji menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh sedikit, menatap Usopp dengan satu mata yang tajam.

​"Bagi seorang koki," ucap Sanji dengan nada berat yang tak terbantahkan, "siapapun yang kelaparan di depan matanya adalah pelanggan. Entah dia bajak laut pembunuh, dewa, atau iblis sekalipun. Jika dia kelaparan, aku akan memberinya makan. Itu adalah keadilan di dapurku."

​Mendengar itu, Luffy tersenyum sangat lebar hingga giginya terlihat semua. "Shishishi! Koki ini benar-benar luar biasa! Aku sudah memutuskan, dia akan menjadi koki di kapal bajak lautku!"

​Di atas pohon, Muzan mendengarkan percakapan itu dengan senyum tipis yang kalkulatif.

​"Prinsip yang indah, Sanji. Sangat naif, namun luar biasa kuat," batin Muzan. "Beri mereka makan. Biarkan Don Krieg memulihkan kekuatannya. Jika aku membunuhnya saat dia sedang sekarat karena kelaparan, sistem mungkin akan memotong perolehan XP dan memberikan penalti evaluasi pertempuran. Aku ingin Don Krieg dalam kondisi prima (100% HP) saat aku menghancurkannya, agar hadiah misinya maksimal."

​Muzan mengirimkan perintah mental langsung ke dalam benak Mustang: "Mustang. Biarkan koki itu memberi mereka makan. Tahan seranganmu sampai Don Krieg menunjukkan niat permusuhan secara terbuka. Setelah dia memulihkan kekuatannya, eksekusi dia."

​Di pantai, Mustang yang menerima perintah itu hanya menyeringai kecil. "Dimengerti, Tuanku," bisik Mustang nyaris tak terdengar. Ia lalu merogoh saku militernya dengan santai, mengawasi Sanji yang kembali dari Baratie membawa sebuah panci raksasa berisi nasi goreng makanan laut yang aromanya langsung menusuk hidung siapa saja di pantai tersebut.

​Begitu aroma makanan itu tercium, dari atas dek Dreadnaught Sabre, terdengar ratusan suara erangan.

​Tak lama kemudian, sesosok raksasa melompat turun dari kapal, menghantam pasir pantai hingga menciptakan kawah kecil. Pria itu bertubuh sangat besar dan berotot, mengenakan mantel bulu tebal yang kotor. Namun yang paling mencolok darinya adalah pelat-pelat zirah berwarna emas kusam yang menutupi dada, bahu, dan lengannya.

​Don Krieg, Laksamana Armada East Blue. Nilai Buronan: 17.000.000 Belly.

​Sama seperti Gin, wajah Krieg sangat pucat dan cekung. Ia nyaris tidak bisa berdiri tegak. Matanya yang merah menatap panci raksasa di tangan Sanji dengan tatapan hewan buas.

​"M-Makanan..." geram Krieg, air liur menetes dari sudut bibirnya. Ia jatuh berlutut di depan Sanji. "B-Berikan itu padaku... Aku mohon..."

​Sanji meletakkan panci itu di depan Krieg dan menyerahkan sebuah sendok kayu besar. "Makanlah perlahan, atau perutmu akan robek."

​Krieg tidak peduli. Ia mengabaikan sendok itu, memasukkan kedua tangannya yang kotor ke dalam panci panas, dan meraup nasi goreng itu langsung ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan rakus, menelan makanan tanpa dikunyah halus, tersedak, lalu makan lagi. Gin yang berada di sampingnya ikut makan dengan air mata mengalir deras di pipinya.

​Pemandangan itu begitu tragis. Orang terkuat di East Blue menangis karena sepiring nasi. Nami, Usopp, dan bahkan Zoro terdiam melihatnya. Sisi kemanusiaan mereka tersentuh.

​Muzan, dari atas pohon, menatap indikator vitalitas Don Krieg melalui sistem.

[Vitalitas Target: 10%... 30%... 60%... 95%...]

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ratusan ribu kalori dan energi kembali mengisi otot-otot monster bajak laut tersebut. Regenerasi yang tidak masuk akal khas manusia super di dunia One Piece.

​Krieg menghabiskan butir nasi terakhir. Ia menjilat jari-jarinya yang berminyak, menarik napas dalam-dalam, dan perlahan-lahan berdiri.

​Posturnya yang tadinya membungkuk kini menjulang tinggi seperti menara baja. Otot-otot bisepnya kembali menggembung, urat-urat nadinya menonjol. Aura kematian dan arogansi yang selama ini menjadi ciri khasnya kembali meledak, menyapu pantai dengan niat membunuh yang sangat pekat.

​"Gyaha... Gyahahahaha!" Krieg tertawa parau, suaranya bergema berat. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatannya kembali penuh.

​Tanpa peringatan, Krieg mengayunkan lengan raksasanya yang berlapis zirah emas, menghantamkan punggung tangannya tepat ke wajah Sanji yang berdiri di dekatnya.

​Bugh!

​Kecepatannya sangat tidak terduga untuk pria sebesar itu. Sanji terpelanting keras, terseret di atas pasir sejauh beberapa meter hingga menabrak dinding kayu Baratie. Darah segar menyembur dari hidung dan sudut bibir sang koki.

​"Koki bodoh!" Krieg mengusap sisa makanan di dagunya. Matanya menyipit licik. "Kebaikanmu adalah kelemahan terbesarmu. Terima kasih atas makanannya. Sebagai balasannya, aku tidak akan menyiksa kalian terlalu lama."

​Krieg menatap Baratie yang mengapung di belakangnya, lalu menatap desa yang terlihat di atas bukit. "Kapalku hancur lebur di Grand Line. Kami tidak punya tumpangan lagi. Jadi, aku akan mengambil kapal restoran ini sebagai kapal baruku! Dan desa di atas sana... kami akan menjarah seluruh makanan dan hartanya untuk mengembalikan kekuatan pasukanku!"

​Gin, yang baru saja selesai makan, melebarkan matanya. "K-Kapten! Koki itu baru saja menyelamatkan nyawa kita! Tidakkah kita bisa setidaknya melepaskan dia—"

​Brak!

​Krieg menendang Gin hingga komandan kepercayaannya itu terbatuk darah. "Diam kau, Gin! Simpati adalah untuk yang lemah! Di dunia ini, yang terkuat mengambil segalanya!"

​Usopp menarik ketapelnya dengan tangan gemetar. "K-Kau benar-benar iblis! Setelah diberi makan, kau malah mau membunuh kami?!"

​Luffy yang sejak tadi diam, mengepalkan tinjunya hingga terdengar bunyi retakan buku jari. Wajah pemuda karet itu tertutup bayangan topinya. "Sanji memberimu makan karena kau kelaparan. Tapi kau memukulnya? Kau membuatku marah, Manusia Zirah."

​Luffy bersiap untuk melesat maju, menggunakan Gomu Gomu no Pistol-nya. Zoro juga mencabut Wado Ichimonji-nya.

​Namun, sebelum ada dari kru Topi Jerami yang sempat mengambil langkah, sebuah tepuk tangan pelan yang sangat sarkastis bergema di udara malam.

​Prok... Prok... Prok...

​Roy Mustang berjalan maju, melangkah dengan tenang di atas pasir putih, memotong jarak antara kelompok Luffy dan Don Krieg. Senyum arogannya melebar, namun matanya memancarkan hawa dingin yang bisa membekukan darah.

​"Pertunjukan yang sangat klise," ucap Mustang, menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menatap Krieg dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Seekor anjing liar diberi makan oleh tuannya, lalu anjing itu menggigit tangan yang memberinya makan. Sangat menyedihkan."

​Krieg menyipitkan matanya, baru menyadari kehadiran pria berseragam militer itu. Ia melihat sekilas ke arah tumpukan senjata dan kru Kuroneko yang sedang berlutut ketakutan tak jauh dari sana.

​"Kau siapa, keparat?" geram Krieg, membusungkan dadanya yang berlapis emas. "Pakaian militer... kau dari Angkatan Laut? Kebetulan sekali. Aku sedang butuh karung tinju untuk pemanasan."

​Mustang berhenti sekitar sepuluh meter di depan Krieg. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, memperlihatkan sarung tangan kain putihnya yang memiliki sulaman aneh.

​"Aku adalah orang yang akan membakarmu hidup-hidup malam ini, Don Krieg. Tujuh belas juta Belly. Harga yang pantas untuk mengisi perbendaharaan kami."

​Krieg tertawa meremehkan hingga bahunya bergetar. "Membakarku? Dengan apa? Kau tidak membawa senapan, tidak membawa pedang, dan kau pikir seragam rapi itu bisa melukaiku?!"

​Krieg memukul dadanya dengan keras. Suara dentingan logam padat bergema. "Ini adalah Baja Wootz! Logam terkeras di East Blue! Tidak ada peluru, tidak ada pedang, dan tidak ada meriam yang bisa menembusnya! Zirah ini melindungiku dari setiap serangan!"

​Di atas pohon, Muzan menyandarkan tubuhnya, tersenyum tipis. "Oh, Krieg. Kau baru saja menyebutkan kelemahan terbesarmu sendiri."

​Mustang membalas senyuman Krieg dengan seringai yang jauh lebih mematikan. "Baja Wootz, katamu? Pilihan material yang sangat menarik, Kapten. Baja adalah salah satu konduktor termal terbaik di dunia. Ia menahan hantaman fisik dengan sangat baik, ya... tapi ia menghantarkan panas jauh lebih cepat dari yang bisa ditanggung oleh daging manusia."

​Mustang mengangkat tangannya, mensejajarkan ibu jari dan jari tengahnya. Ia tidak mengincar wajah Krieg. Ia tidak berniat meledakkan pria itu hingga hancur berkeping-keping. Itu tidak artistik, dan itu akan merusak jasad yang bernilai jutaan Belly.

​Mustang memusatkan konsentrasi alkimianya. Ia tidak menciptakan api eksternal. Sebaliknya, ia memanipulasi kelembapan dan oksigen yang terperangkap tepat di celah-celah zirah baja Wootz milik Krieg, menciptakan reaksi pembakaran mikroskopis yang menyelimuti seluruh pelat baja itu secara serentak.

​SNAP!

​Satu jentikan jari yang tajam.

​Tidak ada ledakan besar. Tidak ada bola api raksasa yang menyilaukan mata seperti saat ia menghancurkan kru Buggy.

​Hanya ada suara mendesis yang sangat halus, tsssss....

​Dalam sekejap mata, pelat baja berwarna emas kusam di sekujur tubuh Krieg berubah warna. Dari emas kusam, ia berubah menjadi merah gelap, lalu jingga terang, dan akhirnya memancarkan cahaya putih menyilaukan khas besi yang baru saja diangkat dari tungku pembakaran pandai besi pada suhu di atas 1.200 derajat Celcius.

​Krieg mematung selama satu detik, otaknya belum sempat memproses perubahan suhu ekstrem tersebut.

​Sedetik kemudian, realitas menghantam sistem sarafnya.

​"GYYYAAAAAAAAAARRRRRGGGHHHH!!!!!"

​Jeritan penderitaan yang melampaui batas nalar manusia meledak dari tenggorokan Don Krieg. Suaranya begitu keras dan menyayat hati hingga burung-burung malam di hutan beterbangan panik.

​Zirah baja Wootz kebanggaannya—pertahanan mutlaknya—kini berubah menjadi oven panggangan yang melekat langsung di kulitnya. Daging di dada, bahu, dan lengannya mulai melepuh dan mendidih. Aroma daging gosong seketika mengalahkan aroma laut dan makanan di pantai itu.

​Krieg jatuh berguling-guling di atas pasir, meronta-ronta dengan gila, berusaha menarik pelat baja itu lepas dari tubuhnya. Namun, gesper dan tali pengikat zirahnya telah meleleh dan menyatu dengan dagingnya sendiri. Setiap kali ia mencoba menyentuh zirahnya dengan tangan kosong, kulit telapak tangannya hangus terbakar.

​"P-Panasss!! Tolongg!! Lepaskan iniiiii!!" Krieg menjerit histeris, air mata menguap sebelum sempat jatuh ke pipinya. Monster yang ditakuti seluruh East Blue itu kini tak lebih dari seekor babi malang yang dipanggang hidup-hidup.

​Di pantai, Sanji yang baru saja bangkit dengan susah payah, membelalakkan matanya. Luffy terdiam kaku. Zoro menelan ludah dengan keras, bulu kuduknya berdiri.

​Dia memasaknya dari dalam zirahnya, batin Zoro, kengerian menyelimuti hatinya. Tidak ada tebasan, tidak ada pukulan. Hanya jentikan jari dan baja terkuat berubah menjadi perangkap maut. Kekuatan macam apa ini?!

​Mustang berjalan mendekat dengan santai, menatap Krieg yang sedang meronta di tanah. "Kau menyebut dirimu yang terkuat karena bersembunyi di balik baja. Tapi baja itu sendirilah yang akan menjadi peti matimu. Ini adalah sains murni."

​Krieg, yang didorong oleh keputusasaan dan rasa sakit yang ekstrem, kehilangan seluruh akal sehatnya. Matanya memutih karena menahan penderitaan. Ia merogoh sabuknya dengan sisa-sisa tenaga, menarik sebuah tabung logam raksasa berbentuk silinder yang tersambung dengan sebuah pelatuk.

​"J-Jika aku mati... KALIAN SEMUA AKAN MATI BERSAMAKUUUU!" raung Krieg, batuk mengeluarkan darah hitam.

​Ia memasang tabung itu ke lubang meriam yang tersisa di lengan bajanya yang meleleh. Itu adalah bom gas beracun mematikan, racun MH5!

​Gin, yang masih berbaring lemah, melebarkan matanya dengan horor. "TIDAK! KAPTEN! JANGAN GUNAKAN ITU DI SINI! KAU AKAN MEMBUNUH SELURUH DESA! KITA TIDAK PUNYA MASKER GAS!"

​Krieg tidak peduli. Ia menekan pelatuknya.

​SYUUUT!

​Sebuah proyektil meriam raksasa melesat ke udara, membumbung tinggi di atas pantai. Proyektil itu didesain untuk meledak di udara, menyebarkan awan gas ungu korosif yang tidak hanya akan membunuh siapa saja yang menghirupnya, tetapi juga akan melelehkan jaringan paru-paru mereka dalam hitungan detik. Angin laut malam yang bertiup ke darat akan membawa awan gas itu lurus ke arah Desa Syrup.

​"Gawat!" teriak Zoro. "Lari! Lari ke arah laut!"

​Nami menjerit, menarik tangan Usopp untuk lari menuju Baratie, sementara Sanji mencoba menggendong Gin. Luffy meregangkan kakinya, bersiap untuk melompat dan mencoba menendang proyektil itu jauh ke laut.

​Di atas dahan pohon, mata Muzan menyipit.

​Bom Gas Beracun MH5, analisis Muzan dengan cepat. Jika Mustang meledakkannya di udara dengan apinya, oksigen yang terbakar akan memicu ledakan termobarik sekunder yang jangkauannya bisa menghancurkan separuh desa dan kapal Baratie. Aku tidak bisa mengambil risiko membunuh tokoh utama sekarang.

​Waktu seolah melambat bagi sang Dalang. Ini adalah momen yang sempurna untuk menunjukkan kepada dunia betapa mengerikannya faksi yang sedang ia bangun.

​"Mustang, mundur," perintah Muzan secara telepati.

​Mustang segera menuruti perintah itu, melangkah santai ke belakang, membiarkan proyektil itu mencapai titik puncaknya di udara.

​Muzan tidak mentransfer batu jiwa lainnya, namun ia menghubungkan sebagian besar kesadarannya ke dua slot boneka yang tersisa di inventaris aktifnya.

​"Giyu. Gaara. Tunjukkan kekuatan kalian."

​Di pantai selatan Desa Syrup, tepat di depan kelompok Luffy yang sedang panik, dua pilar cahaya ungu dan biru meledak secara serentak dari udara kosong.

​Dari pilar pertama, sosok pemuda berambut merah dengan kendi labu raksasa bermanifestasi. Gaara tidak menunggu sedetik pun. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke atas.

​Pasir dalam jumlah yang luar biasa masif—berasal dari kendi labunya dan hasil penghancuran batuan di bawah pantai—melesat ke udara layaknya ombak tsunami daratan. Pasir itu melengkung indah, melesat mengejar proyektil gas beracun MH5 yang baru saja meledak dan melepaskan awan gas ungunya.

​Dalam seperseribu detik sebelum gas itu menyebar ditiup angin, gelombang pasir Gaara membungkus awan gas tersebut dari segala arah, memadatkannya, dan membentuk sebuah bola pasir raksasa yang kedap udara berdiameter dua puluh meter di langit malam. Gas beracun itu terperangkap sempurna di dalam sangkar mineral yang tak bisa ditembus.

​"Apa?!" Nami berhenti berlari, menatap takjub ke langit.

​Namun, bola pasir raksasa yang menampung gas korosif itu sangat berat. Ia mulai meluncur jatuh dengan cepat dari langit, mengarah langsung ke Baratie dan kelompok Luffy di bawahnya. Jika bola raksasa itu menghantam bumi, tekanan fisiknya akan memecahkan segel pasir dan melepaskan gas di titik nol.

​Di saat itulah, dari pilar cahaya kedua, sesosok pendekar pedang berhaori dua warna melompat tinggi ke udara, melesat menyongsong bola pasir yang jatuh tersebut.

​Giyu Tomioka, sang Hashira Air, menghunus pedang Nichirin-nya di udara.

​Udara malam mendadak terasa sedingin es. Suara deru air terjun gaib bergema di telinga semua orang.

​Muzan, yang mengendalikan Giyu, mengambil napas dalam-dalam, memfokuskan energi ke otot lengan boneka tersebut. Ia tidak akan memotong bola pasir itu. Ia akan mengubah lintasannya.

​"Pernapasan Air, Bentuk Keenam: Pusaran Air (Whirlpool) - Modifikasi Aliran."

​Giyu memutar tubuhnya di udara, mengayunkan pedangnya menciptakan pusaran air raksasa ilusioner yang menyelimuti bilahnya. Ujung tebasan air itu menghantam sisi bawah bola pasir raksasa yang jatuh.

​Alih-alih membelahnya, gelombang air yang sangat kuat dan tebal dari teknik Giyu menangkap bola pasir seberat puluhan ton tersebut, bertindak bagaikan bantalan air raksasa. Memanfaatkan momentum putaran Whirlpool, Giyu membelokkan arah jatuhnya bola pasir itu secara horizontal dengan kekuatan penuh.

​SYAAATTT!!! WUUUSSSHH!

​Bola pasir raksasa berisi gas beracun itu terlempar jauh ke arah laut lepas dengan kecepatan gila, terbang melintasi Baratie dan Dreadnaught Sabre, sebelum akhirnya jatuh membentur permukaan lautan dalam yang berjarak ratusan meter dari pantai.

​BOOOM!

​Bola pasir itu tenggelam, melepaskan gas beracunnya di dasar laut yang gelap, menciptakan gelembung-gelembung ungu di perairan yang aman tanpa membahayakan satu manusia pun.

​Giyu mendarat dengan anggun di atas pasir pantai, air sisa tekniknya memercik pelan membasahi ujung sepatunya. Ia perlahan menyarungkan kembali pedangnya dengan bunyi klik yang renyah.

​Di sebelah kanannya, berdiri Gaara dengan tangan disilangkan di dada, pasirnya mengalir kembali masuk ke dalam kendi labunya.

​Di sebelah kirinya, Roy Mustang berdiri dengan senyum arogan, menyesuaikan sarung tangan putihnya.

​Tiga sosok monster berdiri berjejer, membelakangi lautan, menjadi perisai yang baru saja menyelamatkan sebuah desa dari kehancuran total.

​Pantai Desa Syrup tenggelam dalam kesunyian yang membekukan jiwa. Luffy, Zoro, Sanji, Usopp, Nami, Gin, dan bahkan sisa-sisa bajak laut yang berlutut tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Nalar mereka telah dihancurkan malam ini.

​Tiga orang. Satu mengendalikan api dari udara kosong. Satu mengendalikan pasir tanpa menyentuhnya. Satu menebas udara dan menciptakan air untuk menolak hukum fisika.

​"M-Monster..." bisik Sanji, rokok di mulutnya akhirnya jatuh ke pasir.

​Zoro menatap ketiga orang itu bergantian. Tangannya bergetar, namun bukan karena takut, melainkan karena getaran antusiasme seorang pendekar yang melihat puncak gunung yang belum terjangkau. Siapa mereka ini sebenarnya? Mereka berada di liga yang sama sekali berbeda dari bajak laut manapun di lautan ini.

​Di atas tanah, Don Krieg yang tubuhnya hangus terbakar telah sepenuhnya pingsan, tak mampu menyaksikan kegagalannya sendiri.

​Di atas pohon, Muzan menyandarkan kepalanya ke dahan, bernapas perlahan untuk mendinginkan otaknya. Melakukan manuver gabungan presisi tinggi dengan tiga boneka menguras sebagian stamina mentalnya, namun hasilnya sangat sepadan. Penampilan teatrikalnya sempurna.

​Ia baru saja memerintahkan Mustang untuk mengambil tubuh Krieg dan menyimpannya ke dalam Inventory sistem ketika sebuah sensasi yang sangat salah menyergap udara.

​Bukan hanya Muzan. Ketiga bonekanya di bawah—Mustang, Giyu, dan Gaara—secara naluriah menoleh ke arah laut lepas.

​Zoro juga merasakan hal yang sama. Keringat dingin yang luar biasa pekat membanjiri seluruh tubuh pendekar pedang Topi Jerami itu. Ia memutar kepalanya dengan kaku.

​Langit di ufuk lautan, yang tadinya cerah benderang oleh cahaya bulan purnama, mendadak berubah menjadi gelap gulita. Awan-awan tebal tersapu ke samping, bukan oleh angin alam, melainkan oleh tekanan hawa pedang yang begitu masif, begitu tajam, hingga seolah-olah berniat membelah dunia itu sendiri.

​Air laut di sekitar lambung Dreadnaught Sabre yang karam tiba-tiba terbelah, membentuk riak gelombang ke kedua sisi.

​Dari balik kegelapan laut, sebuah perahu kecil meluncur tanpa suara mendekati pantai. Perahu itu berbentuk seperti peti mati, diterangi oleh lilin-lilin hijau yang menyala redup dengan aura mistis.

​Di atas perahu kecil yang menyerupai takhta itu, duduk sesosok pria dengan kaki disilangkan. Ia mengenakan topi lebar berbulu elegan, mantel panjang berwarna gelap, dan sebuah kalung salib kecil di dadanya. Di punggungnya, tersarung sebuah pedang salib raksasa berwarna hitam legam—Yoru, pedang terkuat di dunia.

​Namun, yang paling mengerikan dari pria itu adalah matanya. Mata kuning tajam bercorak lingkaran ganda yang memancarkan aura seorang pemangsa puncak. Mata yang bisa menembus jiwa lawan dan melihat kelemahan terkecil sekalipun.

​Dracule Mihawk, Sang Taka no Me (Mata Elang), akhirnya tiba.

​Suasana di pantai berubah dari kekaguman terhadap tiga pahlawan menjadi teror absolut. Bahkan ombak pun seolah takut untuk bersuara.

​Zoro mencengkeram gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih, matanya melotot menatap pria di atas perahu kecil itu. "Itu dia... Pria yang selama ini kucari..."

​Namun, pandangan tajam Mihawk tidak tertuju pada Zoro. Mata elang kuning keemasan itu meluncur melewati kelompok bajak laut Topi Jerami, mengabaikan mereka sepenuhnya, dan terkunci langsung pada barisan tiga orang yang baru saja mempertontonkan keajaiban pertahanan: Mustang, Giyu, dan Gaara.

​Mihawk perlahan berdiri di atas perahu peti matinya. Hembusan angin dingin menerbangkan mantelnya. Tangan kanannya dengan tenang meraba gagang pedang hitam raksasa di punggungnya.

​"Menarik," suara Mihawk terdengar datar, namun volumenya membelah udara malam dan mencapai setiap telinga di pantai dengan jernih. "Aku mengejar mangsa yang membosankan dari Grand Line hanya untuk menghabiskan waktu luang. Tapi sepertinya... aku menemukan beberapa pendekar misterius yang bisa mengusir rasa bosanku malam ini."

​Di atas dahan pohon pinus yang rimbun, jantung Muzan Kibutsi seolah berhenti berdetak sedetik.

​Peringatan sistem yang ia abaikan sebelumnya di lautan kini menjadi kenyataan yang menakutkan. Mihawk tidak datang hanya untuk menebas Krieg. Ia melihat manuver Giyu dan Gaara dari kejauhan, dan insting pendekar pedang terkuat di dunia itu telah tergugah.

​Sang elang telah mengunci mangsanya. Dan kali ini, dalang tanpa nama harus mempertaruhkan nyawa boneka-bonekanya di atas panggung yang tidak bisa ia hindari.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!