Shandra Hasanah, diusianya yang hampir kepala tiga selalu dikatain perawan tua dan dikatain memiliki wajah yang tidak cantik. Hingga suatu ketika ia dimintai menikah dengan mendiang suami adiknya, Athaya Besmana, karena sang adik yang bernama Alika dikabarkan mengalami kecelakaan dan Athaya sangat terpukul dengan kepergian sang istri.
Tak ingin membuat Athaya terus bersedih, orang tua Athaya justru meminta Shandra menjadi istri dari mendiang suami adiknya. Lalu, apa Shandra menerima permintaan orang tua Athaya?sementara Athaya masih sangat mencintai adiknya, Alika.
Ikuti kisah Shandra _Pemilik Hati Suamiku _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
" Shandra, ada yang nyariin tuh," ucap Nisa, teman seprofesinya.
"Siapa?" Shandra balik tanya.
"Suami almarhumah adik kamu, siapa ya namanya? Aku lupa," ujar Nisa sambil mengingat-ingat nama suami Alika.
"Oh, Atha," ujar Shandra.
"Ah, iya, si Atha. Tumben dia nyari kamu."
Shandra mengedikan bahunya, ia juga tidak tahu kalau Atha akan menemuinya. Kemudian Shandra bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang guru.
Di depan arena bermain, Atha duduk sendiri sambil menatap wajah ceria anak-anak yang tengah bermain. Dari jauh Shandra menatap lelaki itu dan bertanya-tanya, ada apa gerangan datang ke tempat kerjanya.
Tak ingin membuatnya menunggu, Shandra segera menghampiri Atha.
"Atha, ada apa datang ke sini?" tanya Shandra.
"Aku mau membicarakan soal perjodohan kita," ucap Atha yang kemudian berdiri dari duduknya. "Kamu ada waktu kan?"
Shandra kemudian melihat jam ditangannya, lalu kembali menatap Atha. "Tapi waktuku tidak banyak, karena sebentar lagi aku lanjut ngajar."
"Gitu ya. Mm ... kalau gitu aku tungguin kamu aja deh. Boleh kan?"
"Terserah, tapi emang kamu gak apa-apa nungguin? Bukannya sekarang masih waktunya jam kerja," tukas Shandra yang merasa heran karena Atha ada di sini di jam kerja.
"Aku izin sehari," jawab Atha.
Shandra manggut-manggut mengerti. Kemudian Shandra kembali melirik jam ditangannya, jam istirahat sudah selesai. Shandra berteriak kepada seluruh muridnya yang tengah bermain.
"Anak-anak, cepat masuk. Istirahatnya sudah selesai!"
"Iya, Miss," jawab beberapa muridnya.
Semua murid yang tengah bermain segera berlari masuk ke dalam kelas. Shandra pun segera ikut masuk ke dalam kelas dan melanjutkan lagi mengajarnya hingga selesai.
***
"Kamu lagi dekat sama dia?" tukas Nisa, yang sejak tadi sangat penasaran dengan kedatangan Atha yang tiba-tiba.
"Gak," sahut Shandra cuek.
"Tapi kok dia masih ada di sini," ucap Nisa lagi sambil melirik Atha yang tengah duduk di luar. Pintu kelas sengaja dibiarkan terbuka sebab sebentar lagi waktunya pulang sekolah.
"Kepo," bisik Shandra.
Nisa pun mendorong pelan tubuh Shandra karena gemas. Gemas karena di bilang kepo, walau kenyataan jiwa keponya memang meronta-ronta.
Nisa tahu betul kalau selama ini Shandra tengah menanti lelaki yang sudah lama disukainya. Lelaki yang selama ini Shandra sukai dalam diam, tapi kini setelah lama memendam rasa itu, akhirnya rasa sukanya terbalaskan.
Nisa ikut senang ketika lelaki yang disukai Shandra akan melamarnya jika dia kembali ke sini. Jadi ketika Atha datang ke sini, jelas Nisa merasa heran bin penasaran. Apalagi Atha adalah suami dari adiknya Shandra dan selama ini baik Atha maupun Shandra tidak sedekat yang ia tahu.
"Jangan bohong. Aku butuh penjelasan dari kamu." Nisa kembali mendesak Shandra. "Ada hubungan apa kamu sama tuh laki."
"Gak ada hubungan apa-apa dan gak ada penjelasan yang harus aku jelaskan," sahut Shandra yang tetap cuek dengan jiwa keponya Nisa.
"Beneran? Ingat ya sama Mas Abim. Jangan kamu duakan Mas Abim sama lelaki lain."
"Hmm ...," sahut Shandra dengan gumaman.
Sementara Atha masih setia menunggu Shandra selesai mengajar. Ia sengaja datang menemui Shandra karena sang mama terus mendesaknya untuk mau menerima Shandra menjadi istrinya. Maka dari itu, ia ingin membicarakan perihal perjodohan yang diinginkan mamanya.
Melihat anak-anak berhamburan keluar dari kelas, Atha bangun dari duduknya dan berdiri menunggu di dekat pintu kelas.
"Ingat Mas Abim," ujar Nisa lagi, sebelum Shandra melengos pergi menemui Atha.
Shandra menyahutinya dengan gumaman, lalu Shandra segera keluar dan menghampiri Atha.
"Mau bicara di mana?" tanya Shandra. Tidak mungkin kan membicarakan soal perjodohan itu di sekolah. Sementara di sini ada Nisa yang berulangkali mengingatkan tentang Abim.
"Gimana kalau sambil makan siang."
Shandra mengangguk setuju, kemudian Atha dan Shandra pun meninggalkan tempat kerjanya Shandra.
Disinilah sekarang, di sebuah rumah makan yang cukup terkenal di kota ini.
"Oke, sekarang kamu mau bicara apa?" tanya Shandra.
Atha menghela napas terlebih dahulu, lalu ia kembali menatap Shandra.
"Apa kamu terima kita dijodohkan?"
"Jujur. Sebenarnya aku gak mau dijodohkan dan aku udah sering kecewa dengan yang namanya perjodohan," ucap Shandra apa adanya.
Atha terdiam sejenak. Ia juga tidak mau dijodohkan, tapi mamanya terus saja mendesaknya.
Melihat Shandra yang sama tidak mau dijodohkan, Atha pun akhirnya sudah yakin dengan apa yang akan ia putuskan.
Menolak perjodohan ini dan meminta mamanya untuk berhenti menjodohkan dirinya dengan Shandra. Ia akan coba bicara pelan-pelan dan memberi pengertian.
"Oke, jika nanti Mama tetap mendesak, kamu harus tegas bilang sama Mama kalau kamu gak mau dijodohkan."
Shandra mengangguk setuju.
Biarlah ia dikatakan pembangkang, daripada hidupnya tak bahagia jika harus menikah dengan orang yang tidak kita cinta. Lagi pula ada hati nun jauh di sana yang harus ia jaga.
Atha yang akan membuka suaranya lagi harus terhenti ketika suara dering ponselnya bunyi.
Atha langsung melihat siapa orang yang menelponnya dan rupanya papanya yang nelpon. Atha pun langsung mengangkat telpon tersebut.
"Hal--," ucapan Atha terpotong begitu saja dengan suara papanya yang terdengar sangat panik.
"Atha, mama di bawa ke rumah sakit. Cepat kamu datang ke sana."
"Apa? Iya, Pa, aku langsung ke sana," sahut Atha tidak kalah paniknya.
"Ada apa?" tanya Shandra.
"Mama masuk rumah sakit lagi," ujar Atha begitu mencemaskan keadaan mamanya. "Aku harus segera ke sana."
"Aku ikut," ucap Shandra yang sama ikut mencemaskan keadaan Bu Cici.
Gegas Atha dan Shandra segera meluncur ke rumah sakit.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah sampai di rumah sakit dan segera melangkah cepat masuk ke dalam rumah sakit.
"Pa, mana Mama?" tanya Atha ketika ia sudah berada di ruang UGD. "Terus Mama gimana keadaannya? Kenapa Mama bisa masuk rumah sakit lagi?" cerca Atha kepada papanya.
"Satu-satu nanyanya," jawab Pak Ishaq. "Dadanya tiba-tiba sakit dan sesak, terus kepalanya juga sangat sakit. Gak kuat nahan sakitnya. Makanya Papa cepat bawa mamamu ke rumah sakit. Takut sampai kenapa-napa," sambung Pak Ishaq sambil pandangannya tak lepas dari tirai yang tertutup warna hijau. Dibalik tirai tersebut ada sang istri yang tengah di periksa oleh dokter.
Atha kemudian menghembus napas berat dengan rasa yang begitu cemas mengkhawatirkan keadaan mamanya.
Tidak berselang lama, dokter pun keluar dan menemui mereka bertiga.
"Keluarga pasien?"
"Iya, Dok. Gimana keadaan Mama saya?" tanya Atha.
"Keadaannya sudah lebih membaik karena pasien cepat-cepat di bawa kesini. Saya cuma mau bilang tolong jangan buat pasien stres dan memikirkan hal-hal yang bisa memicu kondisinya drop," terang Dokter.
"Iya, Dok," sahut Atha lagi.
"Kalau gitu saya permisi dulu," ujar Dokter.
Atha dan Pak Ishaq mengangguk sambil berkata, "terima kasih, Dok."
Atha, Pak Ishaq dan Shandra segera menemui Bu Cici. Hati Atha begitu sakit melihat mamanya terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang. Hatinya kembali dilema dengan keputusan yang sudah ia putuskan soal perjodohan ini.
"Atha, Shandra," panggil Bu Cici dengan suara yang sangat lesu dan lemah. Tatapannya begitu sayu memandangi keduanya.
"Iya, Ma ...."
"Iya, Tante ...."
"Kalian mau kan menikah," ucap Bu Cici dengan tatapan memohon. "Mama ingin sekali kalian menikah. Mumpung Mama masih diberi napas," sambungnya lagi. Kali ini dengan diiringi tetesan air mata.
aihhh jangan lah sampai kaya drama Indosiar ya Thor
aiahhh ,,semoga otak nya terbuka si atta bukanya gelap mata ingin memiliki nya kembali terus kamu di tinggal
kan
akhirnya kebongkar juga...
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya
ayo???
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya