NovelToon NovelToon
Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jalur Langit

Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.

Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.

"Jangan menyesal setelah aku pergi."

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Paket berupa ancaman itu membuat Risa panik. Bagaimana tidak? Foto-foto vulgar dirinya itu bisa menjadi bumerang jika dilihat oleh Cakra. Untung saja yang menerima dan membuka paket hanya dirinya saja. Saat ini Cakra sedang ada di kantornya. Risa tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Cakra ikut melihat foto ini.

"Sialan Andre! Dia terus mengancam aku!" dengkus Risa.

Risa memasukkan foto-foto sialan beserta bekas bungkus paketnya itu ke dalam plastik hitam. Tidak ingin mengambil risiko dengan meninggalkan jejaknya, Risa memilih untuk membakarnya di belakang rumah.

Perlahan, api mulai melahapnya hingga menjadi abu. Risa menghembuskan napas lega, meskipun dadanya masih berdegup kencang.

"Untung aja aku bisa menghilangkan jejaknya, huuuffftt."

Risa masih berada di depan tempat pembakaran, menunggu hingga apinya padam. Memastikan semuanya sudah menjadi abu. Baru saja ia membalikkan badannya untuk kembali ke dalam rumah, ponsel di saku celananya berdering.

Sebuah nomor baru tanpa nama yang memanggilnya.

"Siapa?"

Alis Risa saling bertautan. Dia tidak menjawab panggilan dari nomor asing itu hingga nada panggilnya selesai. Namun, nomor itu langsung memanggilnya lagi.

Akhirnya, Risa meneken tombol hijau.

"Halo," ucapnya sesaat setelah panggilan terhubung.

"Halo, Risaaaa," balas sebuah suara riang laki-laki di seberang sana. Dalam sekejap, Risa bisa mengenali siapa orang itu dari suaranya.

"Andre!" pekiknya. Panik, Risa menoleh ke kanan kirinya memastikan tidak ada orang yang mendengar. Semuanya terlihat aman. Para pekerja di rumah ini sedang ada di dalam rumah.

"Andre! Berani-beraninya kamu ngancem aku terus ngirim paket nggak jelas kayak gitu!" sembur Risa dengan bisikan yang tertahan.

Andre adalah salah satu mantan Risa sebelum ia menjalin hubungan dengan Cakra. Hubungan mereka terjalin cukup lama. Bahkan sudah tidak terhitung lagi berapa kali mereka melakukan hubungan se*sual selama berpacaran.

"Berani-beraninya kamu ninggalin aku demi cowok lain!" balas Andre santai.

Risa berdecak, "Aku ada misi yang harus aku lakukan!"

"Aku nggak peduli itu!"

Hening sejenak. Napas Risa memburu. Dadanya naik turun tidak beraturan.

"Dengar ya, aku tau kamu lagi hamil," tandas Andre. Membuat sepasang mata Risa membola sempurna. "Dan aku yakin, anak itu—"

"Stop!" potong Risa. "Mau kamu apa sih? Bisa nggak berhenti gangguin aku? Aku udah jadi istri orang sekarang."

"Nggak bisa," Andre menyahut cepat. "Aku nggak bisa melepas kamu gitu aja setelah kamu ninggalin aku demi cowok lain. Kalau kamu mau aku berhenti gangguin kamu, kamu harus turutin apa aja yang aku mau!"

Ancaman Andre itu membuat Risa mendesah frustasi. Risa pikir setelah dia memenangkan Cakra dan menyingkirkan Disa, dia akan menjalani kehidupan yang sempurna. Sayangnya semua tidak semudah yang Risa bayangkan.

Andre yang licik diam-diam mengambil gambar dan video saat mereka sedang bersama. Hal itu dia jadikan untuk mengancam Risa. Berguna baginya, dan merugikannya bagi Risa.

"Kamu mau apa?" tanya Risa geram.

"Uang. Lima puluh juta. Harus ada dalam waktu satu minggu. Kalau tidak .... "

Risa mendengkus.

"Aku nggak main-main. Suamimu kan kaya. Gak sulit kan dapetin uang segitu?"

Sialan!

Risa mematikan telepon secara sepihak. Memang tidak sulit bagi Cakra untuk mengeluarkan uang lima puluh juta. Tetapi, apa yang harus Risa katakan untuk mendapatkannya tanpa membuat Cakra curiga?

Cakra bukan pria yang pelit. Dia memberi jatah bulanan yang cukup besar untuk Risa. Namun jika Risa ingin meminta uang tambahan, Cakra harus tau jelas untuk apa uang tersebut.

*

"Dis, ibu bisa minta tolong?"

Disa, yang baru saja nongol ke depan setelah selesai memasak sekaligus mengambil gambar untuk bahan kontennya, menjawab, "Minta tolong apa, Buk?"

"Anterin pesanan dong ke rumahnya Bu Wulan," pinta ibunya.

"Kenapa diantar? Biasanya juga pada dateng ke sini yang mau beli," keluh Disa. Melihat cuaca yang sedang terik-teriknya, rasanya enggan untuk keluar rumah walaupun ke tetangga. Apalagi rumah Bu Wulan lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki.

"Nggak apa-apa, sama tetangga juga. Tolong ya, Dis, anterin. Ibu kan sibuk ini lagi banyak pembeli."

Di depan warung ibunya memang sedang ada beberapa orang yang sedang menunggu pesanan mereka dibuat. Ada yang ingin makan di tempat ada juga yang ingin dibawa pulang.

Disa mengeluh panjang. "Huuuuhhh, yaudah deh. Mana pesanannya?"

"Itu sudah ibu bungkusin." Rahmi menunjuk bungkus plastik di sudut meja yang berisi dua styrofoam.

Disa mengambil sweater dan payung kecil di dalam rumah. Ia ingin menggunakan motor biar cepat, tetapi rasanya terlalu berlebihan jika hanya pergi ke tetangga tapi menggunakan motor. Maka itu, Disa memilih jalan kaki.

"Pergi dulu, Bu," pamit Disa.

"Iya, hati-hati," Rahmi menoleh, menatap Disa yang sudah mulai jalan. "Ya ampun ... Keluar bentar doang pake sweater sama payung segala. Dasar kemayu banget Dis, Dis." Ia tersenyum geli.

Rumah Bu Wulan yang dituju tidak terlalu jauh. Tetapi jika harus ke sana sambil jalan kaki di tengah terik matahari seperti ini, rasanya cukup melelahkan. Bikin keringatan sebadan-badan.

Sampai di rumah tingkat dua lantai itu, Disa memencet bel. Tak lama, gerbang besi itu menggeser terbuka. Si pemilik rumah itu sendiri yang membukanya.

"Disa?"

Disa mengulas senyum ramah. "Tante Wulan. Ini Disa mau nganter pesanan."

"Ya ampun, Dis ... Masuk dulu sini. Kasihan banget panas-panas begini."

Wanita cantik separuh baya itu menarik tangan Disa hingga melewati gerbang. Dia mempersilakan Disa duduk di kursi terasnya yang adem dan sejuk sebab dekat dengan tanaman yang tertanam rapi dan subur di halaman rumahnya.

"Maa ya, Tante ngrepotin kamu."

"Ah, enggak kok, Tan, nggak ngrepotin sama sekali," balas Disa. Padahal dalam hati dia membenarkan jika tindakan Wulan ini memang merepotkan. Seharusnya di siang-siang begini, Disa sedang nonton film sambil rebahan di kamarnya.

"Eh iya, ini pesannya, Tan. Kata ibu itu lima puluh ribu."

"Sebentar ya, Tante ambilkan uang sekaligus minuman buat kamu."

Wulan membawa masuk pesanannya tanpa menunggu jawaban dari Disa. Disa tidak ingin disuguhi minuman. Dia ingin langsung pulang supaya tidak diajak ngobrol lama-lama. Banyaknya orang yang mempertanyakan kandasnya hubungan Disa dan Cakra membuat Disa enggan bersosialisasi dengan tetangganya.

Mereka sangat kepo!

Lima menit kemudian, Wulan kembali muncul. Kali ini tidak sendirian. Wanita itu menggandeng serta anak lelakinya yang masih bujang sambil marah-marah, sedikit.

Rayyan.

"Apa sih, Ma?"

"Nih, gara-gara kamu nggak mau beli sendiri ke warungnya Bu Rahmi, sekarang jadi Disa kan yang harus panas-panasan nganter ke sini!" omel Wulan setelah meletakkan segelas es sirup di hadapan Disa.

Disa loading sesaat. Ini ada apa? Karena sangat kehausan, Disa langsung meminum minuman yang disuguhkan.

"La terus kenapa? Rumah Disa sama kita juga nggak terlalu jauh kok," bela Rayyan.

"Kasian dong Disanya."

"Mama nggak kasian sama aku? Kalau aku yang keluar panas-panasan, mama nggak kasihan?"

"Rayyan! Kamu kan cowok, ya beda dong!"

"Bedanya apa sih?"

"Kamu mah nggak ngerti!" Wulan lalu menoleh ke arah Disa. Wajahnya yang semula merengut, langsung tersenyum sumringah. "Maaf ya Disa. Harusnya Rayyan yang beli sendiri ke warung, tapi dia malah minta delivery order katanya."

Disa tersenyum. "Nggak apa-apa kok, Tante."

Wulan mengulurkan uang lima puluh ribuan. "Ini uangnya ya, Dis."

"Makasih ya, Tante. Kalau gitu, Disa pamit pulang. Makasih Tante minumannya, maaf langsung ke ludes."

Wulan melihat gelas Disa yang ternyata sudah habis. Hanya tinggal tersisa potongan es batunya saja. Seketika, tawanya dan Disa pecah.

"Haus, Dis?"

"Hehehehehe," Disa malah cengengesan.

"Pulangnya jangan jalan kaki, Dis, biar Rayyan aja yang nganterin."

"Eh, gak usah Tante," tolak Disa menggeleng-geleng.

"Nggak apa-apa. Kasihan kamu masa jalan kaki sih, mana lagi hamil lagi." Wulan menatap Rayyan penuh permohonan, "Anterin Disa mau kan, Ray?"

Rayyan tak langsung menjawab. Dia sempat menatap Disa selama seperkian detik.

"Aku bukannya nggak mau, Ma. Tapi ... Takut menimbulkan fitnah. Gimana nanti kalau ada yang liat aku boncengan sama istri orang, lagi hamil pula."

Disa dan Wulan otomatis saling bertatapan.

Disa menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, "Disa pulang sendiri aja, Tante. Permisi."

"Eh Disa sebentar," cegah Wulan. "Ada titipan buat ibu kamu, tunggu ya."

Wulan menarik ujung kaos Rayyan supaya mengikutinya masuk ke dalam rumah.

"Ambil kunci motornya!" titahnya. "Kamu nggak tau ya kalau Disa abis cerai? Dia bukan istri orang lagi. Mama tau Disa lagi hamil juga Vina yang cerita."

...****************...

1
sunaryati jarum
Emak nggak rela walau nanti Risa diceraikan Cakra,Disa akan kembali pada Cakra.Jangan mau Disa.Jika kau mau berarti hanya ban serep
Anonim: tenang Mak, sudah talak 3 kok.. gak bisa rujuk sebelum disa nikah sama orang lain dan dukhul /Jima' (berhubungan Badan kalau gak ngerti)
total 2 replies
Ma Em
Wah bakalan seru nih kebohongan Risa pasti akan terungkap .
Piyah
siap2 aja risa, ketahuan
lanjut g pake lama
Ma Em
Sudahlah Disa terima saja Rayyan sebagai pengganti mantanmu yg tukang selingkuh , buka hatimu Disa untuk menerima cintanya Rayyan .
Piyah
lanjut
Ma Em
Alhamdulillah Disa selamat karena bertemu dgn Rayyan , karena Rayyan teman Andre jadi Andre tdk jadi mencelakai Disa , semoga saja Disa dan si kembar yg dikandung Disa selamat sampai waktunya Disa melahirkan si kembar .
Anonim
Banyakin referensi thriller atau gak contoh overlord
Piyah
,lanjutkan ga pake lama
pokonya jngn sampe disa celaka
Jalur Langit
punten ya teman-teman yang nungguin kelanjutan babanya. udah update dari semalam sebenernya, tapi kena review sampai sekarang jadi belum bisa terbit. maaf ya semuanya, doakan semoga bab 20 bisa segera lolos review
Anonim
TAKBIR
Anonim
RISA & CAKRA LAKNATULLAH...
AYO TAKBIR
Oma Gavin
semoga ketahuan cakra saat risa chek in dan ketemu andre biar melek itu mata cakra
Ma Em
Thor jgn sampai Disa dicelakai oleh Andre atas suruhan Risa , semoga semua yg akan Risa lakukan pada Disa semua berbalik kepada Risa sendiri dan tolong selamatkan Disa .
Piyah
jngn ampe disa, keguguran
biarin kebalik ke risa
Piyah
lanjut
Ma Em
Cakra ngapain tanya Disa dapat kalung darimana yg jelas bkn dari kamulah Cakra , sdh jgn urusin Disa lagi urus saja si Risa gundikmu itu dan kamu pasti akan menyesal setelah tau anak yg dikandung Risa bkn anak mu .
Ma Em
Semoga Disa baik baik saja dan selamat dari rencana Risa yg akan mencelakai Disa , dan sebaliknya biarkan Risa yg celaka agar ketahuan bahwa anak yg dikandung Risa bkn anak Cakra .
Jalur Langit: lhooooo, di mana ada narasi yang memperlihatkan disa masih mengharapkan Cakra? wong disa sendiri malah minta talak tiga biar mereka ga bisa balik kok ya
total 2 replies
Piyah
jangann ampe si disaa di bikin keguguran
risa aja tuh ya dibikin keguguran
biar g ba punya anak
Ma Em
Akhirnya Cakra sdh tau bahwa Disa sekarang lagi hamil darah dagingnya Cakra , selamat menyesal saja kamu Cakra apalagi setelah Cakra tau bahwa anak yg dikandung Risa bkn darah daging nya tapi anak dari lelaki lain .
Piyah
,lanjulanjutkan ga pake lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!