Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Keheningan di dalam kabin mobil mewah Rolls-Royce itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran tak kasatmata yang mencekam.
Bunyi klik dari sambungan telepon yang terputus sepihak oleh Gloria seolah-olah guntur yang menyambar seluruh ketenangan yang baru saja Scarlett bangun sepanjang perjalanan pulang.
Telapak tangan Scarlett yang menggenggam ponsel pintar miliknya mendadak sedingin es, sementara secercah kilat kepanikan yang teramat pekat melintas cepat di dalam sepasang manik mata indahnya.
Ada yang tidak beres. Sangat tidak beres, batin Scarlett berteriak histeris, sementara otaknya mulai memutar ulang intonasi suara ibu tirinya yang terdengar gemetar dan penuh tekanan di bawah ancaman.
Sebagai seorang gadis yang tumbuh besar di kerasnya lingkungan pinggiran Los Angeles, insting bertahan hidup Scarlett langsung menyala ke tingkat maksimum.
Namun, bersamaan dengan rasa takut yang mencuat, dinding arogansi dan harga diri Scarlett yang setinggi langit ikut berdiri dengan kokohnya.
Logika praktisnya segera mengambil alih kendali emosinya: Jangan pernah melibatkan orang asing, terutama jika orang asing itu adalah seorang klan Knight yang memiliki kasta terlalu tinggi di negeri ini.
Scarlett tahu persis, jika ia menunjukkan sedikit saja kelemahannya atau meminta bantuan pada pria kaya di sampingnya, ia hanya akan menaruh dirinya sendiri dalam posisi berutang budi yang berbahaya—sesuatu yang sangat dihindari olehnya.
Walaupun di dalam lubuk hatinya ia sadar bahwa kekuasaan serta jaringan informasi yang dimiliki seorang Millian Vale-Knight mungkin bisa dengan mudah melacak keberadaan Gloria dan menenangkan seluruh rasa khawatir yang kini membakar dadanya, Scarlett tetap memilih untuk menolak mentah-mentah opsi tersebut.
Dengan sentakan cepat, Scarlett menegakkan posisi duduknya, menarik kembali seluruh perhatiannya dari layar ponsel, lalu memasang topeng wajah sedingin es yang paling angkuh untuk menutupi badai kepanikan di dalam jiwanya. Ia berpaling menatap Raymond yang masih memegang kemudi di barisan depan dengan pandangan menuntut yang mutlak.
"Hentikan mobilnya sekarang juga, Raymond," perintah Scarlett dengan nada suara yang tajam, datar, dan tidak menerima bantahan apa pun.
Raymond melirik melalui spion tengah, keningnya berkerut halus menyaksikan perubahan drastis atmosfer dari nona di kursi belakang.
"Namun, Nona... Tuan Muda Millian meminta saya untuk—"
"Aku bilang hentikan mobilnya sekarang juga! Turunkan aku, Raymond! Aku harus pergi detik ini juga!" bentak Scarlett dengan volume suara yang meninggi, sedemikian keras hingga gema suaranya memotong dinginnya udara AC mobil.
Millian yang sejak tadi memejamkan mata menahan linu di sekujur tubuhnya akibat alergi rumput gila semalam, seketika tersentak bangun.
Sepasang manik mata heterochromia ganjil miliknya terbuka lebar, menatap Scarlett dengan binar kekesalan yang bercampur aduk dengan rasa bingung yang amat sangat. Pria itu menegakkan punggung tegapnya, menatap wajah pucat Scarlett dengan rahang yang mengeras rapat.
"Apa yang kau lakukan, Langford?!" tanya Millian dengan suara baritonnya yang serak dan parau, sarat akan frustrasi karena merasa dicampakkan begitu saja di saat kondisi fisiknya sedang melemah.
"Kau sudah setuju untuk ikut bersamaku ke kediamanku untuk membantuku merawat sisa alergi ini, bukan? Kenapa tiba-tiba kau mengamuk ingin turun di pinggir jalan?!"
Scarlett melemparkan pandangan mata yang sengaja dibuat acuh tak acuh, menatap Millian dengan senyuman sinis yang dipaksakan.
"Tuan Knight. Ibuku baru saja menelepon dan Urusan pribadiku jauh lebih penting daripada menjadi pelayan darurat untuk merawat bintik-bintik merah di kulit manjamu itu. Jadi, biarkan aku turun sekarang."
Scarlett memutar tubuhnya, bersiap menarik tuas pintu mobil Rolls-Royce yang mulai melambat di tepi jalan koridor luar kampus.
Keras kepalanya yang mutlak membuat Scarlett mengabaikan bagaimana gurat frustrasi dan luka ego yang teramat dalam kini terukir jelas di wajah tampan Millian.
Namun, sebelum jemari Scarlett sempat menyentuh gagang pintu berlapis krom mahal tersebut, sebuah gerakan secepat kilat meluncur memotong ruang geraknya.
Grep!
Sepasang lengan kekar Millian meluncur dari arah belakang, mencengkeram erat kedua bahu Scarlett, lalu dengan satu sentakan kuat yang dipenuhi oleh sisa-sisa tenaga tenangnya, Millian menarik tubuh mungil Scarlett kembali ke dalam dominasi dekapannya.
Pria itu tidak memberikan celah sedikit pun bagi Scarlett untuk memberontak. Ia melingkarkan kedua tangannya di sekeliling pinggang ramping Scarlett, mengunci figur gadis beasiswa itu dalam sebuah pelukan erat dari arah depan yang teramat protektif di atas jok kulit mewah mobil.
"Ah! Lepaskan aku, Vale-Knight!" pekik Scarlett, wajahnya mendadak memerah sempurna akibat kedekatan fisik yang tiba-tiba ini. Ia mencoba meronta, memukul-mukul lengan kokoh Millian yang terasa sekeras batu di dadanya.
"Hey! Apa yang sedang kau lakukan?! Aku tidak bisa bernapas jika kau menjepit tubuhku sekencang ini!"
"Diam di sini dan duduk bersamaku. Jangan bergerak satu senti pun dari sisiku, Scarlett. Aku sedang sangat serius saat ini," bisik Millian tepat di samping telinga Scarlett.
Nada suaranya tidak lagi terdengar sombong, melainkan dipenuhi oleh intonasi bariton yang dalam, posesif, dan sarat akan penegasan mutlak yang menolak untuk ditinggalkan.
Scarlett mendadak terdiam, menghentikan seluruh gerakan rontaan tubuhnya secara instan.
Rongga dadanya berdenyut dengan ritme yang gila saat merasakan kehangatan napas demam Millian menyapu permukaan kulit lehernya.
Sifat kepemilikan dan kedekatan gila macam apa yang sedang dipamerkan oleh berandal ini? Benar-benar di luar nalar sehat.
"Aku... aku sama sekali tidak pernah bisa mengerti dengan jalan pikiranmu yang aneh, Millian," lirih Scarlett, nada suaranya melunak, dipenuhi oleh rasa heran yang mendalam atas kontradiksi sikap pria di depannya.
"Kau ini sebenarnya kenapa, hm? Semalam... kau dengan begitu lancang dan kurang ajarnya menciumku di atas rumput, menghabiskan pasokan oksigenku, dan sekarang... sekarang kau memaksaku dengan kasar untuk ikut hanya demi mengobatimu?!"
Millian sedikit melonggarkan kuncian lengannya, namun tetap menolak untuk melepaskan tubuh Scarlett dari dekapannya.
Pria itu menundukkan kepalanya, menatap lurus-lurus ke dalam binar mata indah Scarlett dengan seringai tipis yang kembali terukir di bibir tegapnya.
"Ini semua terjadi karena kau juga yang ingin merasakan sensasi berciuman di atas rumput tebal itu, Baby," sahut Millian dengan nada menggoda yang sangat menyebalkan namun terdengar seksi akibat serak suaranya.
"Wah, gila kau, Knight!" semprot Scarlett seketika, matanya melotot tajam tidak terima atas tuduhan sepihak tersebut.
"Jelas-jelas kau yang kehilangan kendali akal sehatmu dan mulai menciumku duluan! Jangan memutarbalikkan fakta ilmiahnya!"
Millian terkekeh rendah, suara tawa seraknya bergetar di dalam dada bidangnya yang menempel pada bahu Scarlett.
"Kalau saja kau tidak menolakku saat di depan api unggun besar tadi malam... kalau saja kau tidak menimpuk dahiku dengan alasan nyamuk hutan saat aku mendekatkan wajahku di depan ratusan mahasiswa... maka aksi kejar-kejaran dan insiden jatuh di atas rumput liar itu tidak akan pernah terjadi seumur hidup kita, Scarlett. Dan jika itu tidak terjadi, aku tidak akan mengalami reaksi alergi menyebalkan dan super gatal seperti ini pagi ini. Jadi, secara tidak langsung, ini adalah tanggung jawabmu."
"Wah, sialan kau. Benar-benar pria egois," dengus Scarlett, meski di dalam hatinya ia tidak bisa menolak getaran hangat yang merayap naik ke dadanya akibat pembelaan diri konyol pria ini.
"Tentu saja aku harus menolakmu saat di depan api unggun tadi malam, Tuan Bodoh! Ada begitu banyak pasang mata di sana. Para mentor senior, James, Arthur, bahkan dosen pembina semuanya menatap langsung ke arah barisan kita. Aku ini hanya seorang mahasiswi baru yang masuk lewat jalur beasiswa miskin, kenapa otak pintarmu itu tidak bisa mengerti tekanan sosial yang kuhadapi?!"
Scarlett mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri yang kian tidak beraturan di dalam dekapan Millian.
"Lagi pula... kalau sampai kekasih rahasia aslimu di luar sana tahu tentang semua kegilaan di perkemahan ini, bagaimana nasibku nanti? Aku tidak mau dilabrak untuk kedua kalinya di tengah koridor kampus seperti Anna sore kemarin!"
Millian terdiam seribu bahasa mendengar rentetan kalimat proteksi diri yang diluncurkan Scarlett.
Lengannya masih tetap setia melingkar di sekeliling pinggang Scarlett, seolah-olah tubuh mungil gadis itu adalah satu-satunya obat penenang yang bisa meredakan rasa linu dan gatal di sekujur tubuhnya saat ini.
Di sisi lain, Scarlett sendiri dilingkupi oleh rasa bingung yang amat sangat terhadap reaksi tubuhnya sendiri.
Kenapa ia benar-benar tidak meluncurkan tendangan atau pukulan brutal untuk melepaskan diri dari dekapan hangat pria brengsek ini?
Mengapa harga dirinya yang setinggi langit mendadak melunak di bawah kurungan lengan tegap Millian?
Jawaban terjujurnya berada di dalam memori masa lalunya—karena sejak dulu, di dalam daftar kriteria gila 'Tolong sakiti aku' yang pernah ia katakan, sosok pria dengan visual sempurna, karisma dingin, dan sikap posesif yang tidak tertebak seperti seorang Millian Vale-Knight memanglah tipe ideal dan harapan tertingginya sepanjang hidup.
Walaupun dalam kenyataan realitasnya saat ini, karakter asli sang Kadal Gurun ternyata jauh lebih brengsek, menyebalkan, dan manipulatif daripada semua rumor manis yang beredar di luar Los angeles.
Sunyi kembali menguasai kabin sedan Rolls-Royce itu selama beberapa saat, menyisakan tatapan intens di antara sepasang kekasih palsu tersebut di bawah pengawasan diam Raymond di kursi kemudi.
Millian tiba-tiba memajukan wajah tampannya sedikit lebih dekat, menatap binar mata Scarlett yang mulai meredup tenang.
"Langford... bukankah selama perjalanan di atas bus tadi kau terus-menerus mendesakku dan mengatakan bahwa kau sangat ingin bertemu dengan Grandma dan Grandpa-ku?"
Scarlett mengerutkan keningnya samar, sedikit terkejut dengan peralihan topik yang mendadak ini. "Hari ini? Maksudmu kau ingin membawaku ke rumahmu siang ini juga?!"
"Hm, hari ini," jawab Millian dengan anggukan kepala yang pasti, sepasang mata heterochromia-nya memancarkan keseriusan yang mutlak.
"Mau ikut bersamaku menemui sepasang kekasih tua itu sekarang, Baby?"
Scarlett menatap rona merah iritasi yang kian jelas terlihat di sekitar leher dan bawah telinga Millian, dipadukan dengan suhu tubuh pria itu yang terasa kian menghangat akibat demam alergi yang belum diobati.
Rasa kepedulian sosial dan tanggung jawab moralnya sebagai 'kekasih darurat' hari ini akhirnya mengalahkan rasa penasarannya terhadap koleksi parfum dan senjata api legal klan Knight.
"Lain kali saja, Millian," kata Scarlett dengan nada suara yang melembut secara tulus, tangannya perlahan terangkat untuk merapikan kerah kemeja flanel pria itu dengan gerakan yang sangat manis.
"Kau harus fokus berobat dulu siang ini. Aku tidak mau dituduh oleh kakekmu sebagai kekasih tidak bertanggung jawab yang membawa cucu kesayangannya bertamu dalam kondisi pucat dan gatal-gatal seperti monster hutan ini."
Mendengar perhatian tulus yang tersembunyi di balik kalimat ejekan Scarlett, Millian hanya bisa mengulas senyuman tipis yang sangat hangat, perlahan menyandarkan kembali kepalanya di bahu Scarlett seiring dengan mobil Rolls-Royce yang kembali melaju membelah jalanan kota.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣