Haikal, anak SMA yang tak sengaja mabuk dan tidur dengan Valeri. Sampai Valeri hamil. Dia ke rumah Haikal tapi Johnny, bapaknya tak mau masa depan anaknya itu hancur. jadi dia yang bertanggung jawab dan menikah dengan Valeri.
Bagaimana kisahnya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 8
Kebetulan Valeri juga sangat suka bolu lumer. Dia mengambilnya dengan senang. Valeri membawanya dan makan di ruang makan. Valeri sedang asik-asik makan, menikmati makanannya Haikal datang.
Brak!
Dia menggebrak meja makan. Johnny ke kamar Haikal. Dia meminta Haikal untuk tidak berulah besok di acara dia. Dia juga meminta haikal untuk tidak mengusik Valeri. Haikal bilang iya.
Dia turun, ke bawahnya. Tadinya mau mengambil air minum saja. Tapi Haikal tak sengaja melihat Valeri makan bolu lumer miliknya. Dia tak masalah kalau bibi yang makan. Tapi ini wanita yang merebut posisi mamanya.
“KENAPA KAMU MAKAN BOLU SAYA!”
Valeri terkejut. Dia hanya bisa menunduk. Dia masih tak bisa menatap Haikal setelah malam itu. Bibi dari dapur mendengar itu. Bibi menghampiri keduanya.
“Jangan pernah makan makanan milik saya. Saya lebih Sudi membuang makanan ini dari pada dimakan oleh kamu, wanita murahan. Kamu pasti hanya mengincar harta papa saya kan? Kamu menjebak papa saya.”
Haikal mengambil kotak bolunya. Masih cukup banyak, Valeri juga baru makan sedikit. Dia melemparnya begitu saja ke lantai. Valeri terkejut karena ini.
“Den, maaf. Tapi kan kata Aden, den haikal sudah tak mau makan bolunya. Jadi bibi yang memberikannya kepada non Valeri, kasihan non Valeri lapar gak ada makanan den. Bibi yang salah bukan non Valeri.” Bibi mencoba menjelaskan kepada Haikal. Bibi berdiri di samping Valeri. Valeri memeluk erat bibi. Dia menangis di pelukan bibi.
“kalau bibi yang makan, aku gak masalah bi. Tapi aku gak Sudi kalau dia yang makan.” Haikal mau berbalik pergi, papanya sudah berdiri di belakang dia.
“haikal, Cuma bolu, bisa beli lagi. Perlu banget kamu banting dan kasar sama mama kamu?”
“Bukan mama aku. Mama aku Cuma satu. Itu juga bolu kesukaan mama. Jangan makan bolu kesukaan mama aku.”
Haikal menyenggol pundak sang papa. Dia pergi ke dapur, mengambil satu botol air dingin dan gelas lalu kembali naik ke lantai dua. Johnny mendekati Valeri dan mencoba menenangkannya.
“bi, tolong dibereskan ya.” Kata Johnny kepada bibi. Bibi pun mengangguk mengerti. Bibi melakukan pekerjaan dia.
“kamu lapar? Mau makan diluar, di depan sedikit banyak yang jualan makanan kok.” Johnny mendekap Valeri. Menenangkannya. “di depan ada juga yang jual bolu gitu, mau itu lagi? Sepertinya tadi kamu sangat menikmati.”
Valeri mengangguk. Jujur, dia itu juga sangat suka bolu seperti itu. Johnny menyiapkan mobil, dia akan keluar. Mereka naik mobil bersama. Haikal hanya melihat keduanya dari jendela kamarnya.
“papa secepat itu dan semudah itu sih melupakan mama. Bahkan dia sudah hamil anak papa. Apa hubungan mereka sudah cukup lama?”
“Baru berani dibawa pulang karena wanita itu hamil. Sit!”
Haikal kesal sendiri. Dia membanting gelas yang dia pegang. Ada beberapa pembantu di sana. Bibi yang mengorganisirnya, Haikal menelpon telepon dibawah.
“mbak, bereskan kamar saya. Jangan bibi ya, pecahan kaca soalnya.” Kata Haikal di telepon. Setelah itu dia langsung mematikan teleponnya.
Haikal pergi ke kamar mandi. Dia memutar musik dengan sangat keras di kamarnya dan mandi. Haikal menangis di kamar mandi.
“ma, haikal kangen. Kenapa sih mama harus pergi ninggalin haikal. Kalau mama mau pergi harusnya mama itu gak usah lahirin haikal ke dunia ini ma.”
Di luar haikal yang nakal, sebenarnya haikal hanya anak kecil yang rapuh. Tapi dia tak pernah memperlihatkan itu kepada papanya.
***
Johnny mengantar Valeri keluar. Sampai di jalan banyak sekali yang jual makanan. Johnny berhenti di toko roti. Dia turun lebih dulu dan menggandeng Valeri turun dari mobil.
Sedikit hujan tadi, jadi jalan sedikit basah. “hati-hati,” kata Johnny kepada Valeri.
“Iya tuan.” Valeri menggenggam tangan Johnny dengan erat. Dia berjalan dengan sangat hati-hati.
Mereka sampai di dalam tokohnya, Valeri dan Johnny duduk di sana dan memesan satu bolu lumer disana. Pelayan datang dan memberikan menu kepada Johnny.
“Mau makannya apa?” Johnny balik bertanya dan memberikan menunya kepada Valeri.
“bolu lumer coklat, keju, susu, dengan oreo.” Kata Valeri kepada pelayan itu.
“baik kak. Tunggu sebentar ya.” Kata pelayan itu kepada Valeri.
“Dua boleh ya tuan, untuk mengganti milik anak tuan?” tanya Valeri kepada Johnny. Johnny mengangguk.
“Dua ya mbak, yang ukuran jumbo.” Kata Valeri meralat pesanan dia.
“baik. Mohon tunggu sebentar ya kak.” Kata pelayan itu.
Valeri mengangguk. Pelayan itu pun pergi dari sana. Johnny hanya memesan kopi dan roti untuk cemilannya.
“mau makan ini dulu?” Johnny membagi kuenya dengan Valeri. “dari pada kelaparan dan lama menunggu.”
Valeri pun mengambilnya dan memakannya secara perlahan. Dia tak mau kenyang lebih dulu sebelum makan bolunya. Tak lama pesanan Valeri datang.
“ini kak silakan. Selamat menikmati.” Pelayan itu menata bolunya di depan Valeri. Satu Valeri minta dibawa pulang nanti. Jadi hanya satu yang datang. Dengan air dingin.
“makasih mbak.” Kata Valeri kepada pelayan itu. Valeri langsung mengambil satu sendok dan memakannya.
Johnny juga ingat mendiang istrinya juga suka makan-makanan yang sama. Bagaimana kebetulan seperti ini. Valeri asik makan, sampai dia tak sadar kalau mulutnya belepotan.
“Ada coklat di bibir kamu. Makannya pelan-pelan saja. Saya gak masalah kok kalau lama.”
“Iya tuan. Tuan mau? Tuan kan gak makan karena saya?”
Valeri dengan beraninya menyodorkan satu sendok kue untuk Johnny. Johnny tersenyum, dia pun menaruh ponselnya dan membuka mulutnya. Johnny mau menerima suapan Valeri.
“sini, giliran saya suapi kamu.” Johnny mengambil sendoknya dari tangan Valeri dan menyuapinya. Walau Valeri canggung, tapi dia merasa senang.
Valeri makan perlahan. Johnny melihat Valeri makan sambil main ponsel. Hampir setengah jam lebih mereka disana. Setelahnya mereka pulang.
“Ambil milik haikal juga tuan.” Valeri mengingatkan Johnny. Johnny mengangguk.
Dia mengangkat tangan dan memanggil pelayan. Johnny meminta satu bolunya yang untuk dibawa pulang. Setelah itu Johnny membayar dan mereka pulang.
Di tengah jalan Valeri melihat ada toko boneka. Entah kenapa Valeri ingin sekali.
“tuan, boleh berhenti di sana. Pengen beli boneka.” Valeri menarik baju Johnny, Johnny melirik ke tempat yang Valeri tunjuk.
“boneka? Mau beli boneka?” tanya Johnny takjub dengan permintaan wanita dewasa di samping dia ini.
“iya, boleh. Ada uangnya?” tanya Valeri kepada Johnny.
Johnny tertawa. Ya kali dia tidak punya uang hanya untuk boneka. Membeli tokonya juga bisa. Johnny mengangguk. Mereka pun berhenti di depan tokonya. Keduanya masuk ke dalam toko.
“mau beli boneka yang apa?” tanya Johnny kepada Valeri. Keduanya sudah masuk ke dalam toko.
“Tunggu sebentar tuan, saya mau lihat-lihat dulu.” Kata Valeri kepada Johnny.
“Ok, gak apa-apa.” Johnny pun mengangguk. Dia ikut keliling mengikuti kemana pun Valeri pergi.
Valeri mengambil yang ukuran sedang, yang bisa dia peluk dan dia bawa kemana-mana. “Ini tuan, sudah yuk bayar dan pulang.”
“gak mau yang besar?” Johnny melihat ke arah lain. Dia menunjuk boneka yang besar.