Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Suara hujan semakin deras membasahi halaman Mansion Laurent.
Lampu darurat masih berkedip merah.
Alarm bahaya belum juga berhenti berbunyi.
Lucas, Alyssa, Adrian, dan beberapa anggota tim elite kini telah mencapai aula utama yang menjadi jalur terakhir menuju lift rahasia menuju bunker.
Seluruh penghuni mansion telah berhasil dievakuasi.
Claire.
Leonardo.
Maria.
Ranty.
Seluruh pelayan wanita.
Koki.
Petugas kebersihan.
Bahkan staf administrasi yang kebetulan masih berada di mansion malam itu.
Semuanya telah berada di ruang perlindungan bawah tanah.
Kini...
Hanya tersisa beberapa anggota tim elite, Adrian, Lucas...
...dan Alyssa.
Suasana sangat tegang.
Adrian terus memantau layar tablet taktis yang terhubung dengan sensor keamanan mansion.
"Tuan."
"Titik barat masih bertahan."
"Tapi pagar timur sudah dijebol."
Lucas tetap tenang.
"Biarkan mereka masuk ke perimeter luar."
"Jangan beri mereka akses ke bangunan utama."
"Siap."
Belum sempat Adrian melanjutkan laporannya...
Tiba-tiba...
KREEEK...
Seluruh pengeras suara mansion mendadak menyala sendiri.
Suara dengung rendah memenuhi setiap ruangan.
Semua orang spontan mengangkat kepala.
Lucas menyipitkan mata.
"Mereka mengambil alih sistem audio."
Beberapa detik kemudian...
Terdengar suara berat seorang pria.
Nada bicaranya santai.
Namun dipenuhi ancaman.
"Selamat malam..."
"...Lucas Laurent."
Koridor langsung sunyi.
Tak seorang pun berbicara.
Suara itu kembali terdengar.
"Aku yakin kau bisa mendengarku."
Lucas tidak menjawab.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
Pria di pengeras suara tertawa kecil.
"Masih setenang biasanya."
"Sudah bertahun-tahun..."
"...kau memang tidak pernah berubah."
Alyssa mulai menggenggam lengan bajunya sendiri.
Suara itu...
Ia mengenalinya.
Lucas berkata pelan.
"Patrick."
Suara di pengeras kembali tertawa.
"Tepat sekali."
"Akhirnya kau menyebut namaku."
Adrian mengepalkan tangan.
"Sial..."
Patrick melanjutkan.
"Aku datang bukan untuk membunuhmu malam ini."
"Aku hanya ingin mengambil sesuatu yang menjadi milikku."
Lucas menjawab singkat.
"Alyssa bukan milik siapa pun."
Patrick terkekeh.
"Lucu sekali."
"Kau bahkan belum tahu siapa sebenarnya gadis itu."
Lucas tetap diam.
Patrick kembali berbicara.
"Lucas."
"Aku akan membuat tawaran."
"Tidak perlu ada perang."
"Tidak perlu ada korban."
"Serahkan Alyssa kepadaku."
"Lalu seluruh orang di mansion ini akan pulang dengan selamat."
Alyssa membeku.
Lucas tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.
Patrick melanjutkan dengan nada yang lebih dingin.
"Kalau kau menolak..."
"...maka jangan salahkan aku."
Tiba-tiba...
Monitor keamanan di dekat Adrian berkedip.
Layar berubah menampilkan denah Mansion Laurent.
Beberapa titik merah mulai bermunculan.
Satu.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Hingga hampir seluruh sisi bangunan dipenuhi tanda merah.
Adrian membelalakkan mata.
"Tuan..."
Lucas melangkah mendekat.
"Apa itu?"
Adrian menelan ludah.
"Ini..."
"...sensor panas."
"Terdeteksi benda asing di banyak titik struktur bangunan."
Patrick kembali berbicara melalui pengeras suara.
"Benar sekali."
"Orang-orangmu cukup pintar."
"Aku memang sudah menyiapkan hadiah."
Suara tawanya menggema.
"Bom."
"Ada di berbagai titik mansion."
"Gudang."
"Ruang bawah tanah."
"Koridor."
"Bahkan beberapa pilar penyangga."
Alyssa langsung menutup mulutnya.
"Tidak..."
Patrick berbicara dengan tenang seolah sedang membahas cuaca.
"Satu tombol."
"Cukup satu sentuhan."
"Dan mansion megah kebanggaan keluarga Laurent..."
"...akan berubah menjadi puing."
Beberapa anggota tim elite saling berpandangan.
Wajah mereka tetap berusaha tenang.
Namun semua memahami ancaman itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
Patrick kembali berkata.
"Lucas."
"Aku tahu kau punya banyak uang."
"Aku tahu pengawalmu hebat."
"Aku tahu kau pernah melalui pelatihan yang luar biasa."
"Tapi..."
"...kau tidak bisa menghentikan ledakan yang terjadi di puluhan titik sekaligus."
Lucas tetap berdiri tanpa bergerak.
Patrick kembali tertawa.
"Kalau Alyssa tidak menjadi milikku..."
"...maka tidak seorang pun akan keluar hidup-hidup dari mansion itu."
Keheningan menyelimuti aula.
Alyssa merasa kedua kakinya melemas.
Ia menoleh kepada Lucas.
Tatapan pria itu masih setajam sebelumnya.
Seolah ancaman tadi tidak menggoyahkan sedikit pun.
Namun Alyssa justru semakin panik.
"Lucas..."
"Lucas dengar aku"
"Lucas"
Lucas tidak menjawab.
Adrian mulai memberi instruksi kepada tim melalui radio.
"Unit teknis."
"Cari sumber gangguan."
"Tim penjinak segera siaga."
Jawaban dari radio terdengar.
"Siap."
Patrick kembali menyela.
"Jangan buang waktumu."
"Kalau orang-orangmu mulai mencari bom..."
"...aku akan langsung menekan tombolnya."
Aula kembali sunyi.
Alyssa menatap Lucas dengan mata berkaca-kaca.
"Lucas..."
"Kau dengar?"
Lucas mengangguk pelan.
"Aku dengar."
Alyssa menggigit bibirnya.
"Semua orang..."
"...akan mati."
Lucas akhirnya menoleh kepadanya.
"Tidak."
Alyssa menggeleng kuat.
"Dia serius."
"Aku tahu."
"Aku tidak boleh membiarkan semua orang di sini menjadi korban karena aku."
Lucas menatapnya tanpa berkedip.
"Alyssa."
"Tolong dengarkan aku."
Namun Alyssa justru mundur selangkah.
Air matanya mulai mengalir.
"Claire..."
"Leonardo..."
"Maria..."
"Ranty..."
"Semua pelayan..."
"Mereka tidak bersalah."
Lucas melangkah mendekat.
"Alyssa."
Alyssa kembali menggeleng.
"Kalau aku menyerahkan diri..."
"...mungkin mereka semua bisa selamat."
Lucas menjawab tegas.
"Tidak."
"Itu bukan jaminan."
"Tapi kalau aku tetap di sini..."
"Patrick bilang dia akan meledakkan mansion."
Lucas mengangkat kedua tangannya lalu memegang bahu Alyssa dengan mantap.
"Dengarkan aku."
"Patrick menggunakan rasa takutmu."
"Itulah yang dia inginkan."
Alyssa menangis semakin keras.
"Aku tidak peduli denganku."
"Aku hanya tidak ingin semua orang mati."
"Tolong..."
"Serahkan saja aku."
Lucas menggeleng pelan namun tegas.
"Tidak."
"Lucas..."
"Aku mohon."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi."
"Kenapa?"
Suara Alyssa pecah.
"Kenapa kau tetap mempertahankanku?"
"Aku bukan keluargamu."
"Aku bukan siapa-siapamu."
Lucas terdiam sesaat.
Lalu menjawab dengan suara yang tenang.
"Karena aku sudah berjanji akan melindungimu."
"Sebuah janji tidak berhenti hanya karena ancaman menjadi lebih besar."
Alyssa terisak.
"Tapi..."
Lucas memotong pelan.
"Kalau hari ini aku menyerahkanmu demi menyelamatkan diriku sendiri..."
"...maka aku tidak pantas memimpin siapa pun."
Adrian yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka mendengar setiap kata itu.
Ia mengepalkan tangannya semakin erat.
Selama bertahun-tahun bekerja bersama Lucas...
Ia sudah tahu seperti apa prinsip pria itu.
Sekali membuat keputusan...
Ia tidak akan mengkhianati orang yang berada dalam perlindungannya.
Di sisi lain, melalui pengeras suara, Patrick kembali tertawa.
"Waktumu terus berjalan, Lucas."
"Putuskan."
"Serahkan Alyssa..."
"...atau bersiap kehilangan semuanya."
Suara itu terputus.
Alarm kembali meraung.
Koridor kembali dipenuhi keheningan yang mencekam.
Alyssa memejamkan mata.
Di dalam hatinya...
Sebuah keputusan mulai terbentuk.
Keputusan yang bahkan belum diketahui Lucas.
Dan ketika Lucas berbalik untuk memberikan instruksi berikutnya kepada tim elite...
Tatapan Alyssa perlahan berubah.
Bukan lagi dipenuhi kepanikan.
Melainkan tekad yang membuat siapa pun yang mengenalnya akan merasa khawatir.
Karena untuk pertama kalinya malam itu...
Ia mulai berpikir bahwa menyelamatkan semua orang mungkin hanya membutuhkan satu pengorbanan—dirinya sendiri.
"Baiklah Alyssa jika ini adalah kemauanmu"
"Maka jangan pernah sesali sedikit saja keputusanmu hari ini"
Seketika adrian menatap pada Lucas, dia tidak menyangka boss nya akan menyerah begitu saja.
Ini terlihat bukan Lucas yang dia kenal.
"Lucas..."