Aku, *Aira Putri*, dipaksa nikah sama *Arka Mahendra* demi bayar utang rumah sakit mamaku.
Dia CEO dingin, tajir, dan paling benci sama wanita matre. Aku? Cuma karyawan biasa yg apes.
Aturannya jelas:
1. Gak boleh saling cinta
2. Gak boleh pegang tangan
3. Cerai setelah 1 tahun
Masalahnya...
Kenapa dia yg paling pertama nolongin pas aku diganggu?
Kenapa dia yg marah pas aku deket sama cowok lain?
Kenapa tatapan dinginnya bikin jantungku anget?
*Arka Mahendra* bersumpah gak akan jatuh cinta.
Tapi takdir bilang: *"Jodoh gak akan kemana"*
Akankah pernikahan kontrak ini berakhir di meja hijau... atau di pelaminan beneran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nabila claraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - MANTAN DATANG
Alarm HP berbunyi jam 6 pagi.
Aku langsung duduk. Perut masih mual. Tapi hari ini hari pertama Arka yang antar jemput.
Sumpah deg-degan. Semalaman aku kebangun 3 kali. Mikirin kata "antar jemput".
Pas turun ke bawah, mobil hitam Arka udah parkir. Bukan supir. Beneran dia yang nyetir. Pakai kemeja putih, jas abu-abu, kacamata hitam. Datar. Dingin. CEO banget.
Bu Yati bisik-bisik ke aku sambil senyum. "Tuh kan bener. Tuan perhatian."
Aku cuma ngangguk. Jantung dag dig dug.
"Masuk," katanya singkat pas aku keluar. Suaranya serak pagi-pagi.
Aku buka pintu penumpang. Wangi mobilnya... wangi parfum Arka + wangi kulit jok baru. Aku duduk kaku. Jaga jarak 1 jengkal dari pintu.
Sepanjang jalan hening. Cuma ada suara AC dan lagu jazz pelan. Arka fokus nyetir. Tangannya di stir. Jam tangan mahal berkilau.
Aku diem, tangan megang tas erat. Perut mual karena gugup, bukan karena hamil.
"Pak... maaf ngerepotin," kataku akhirnya.
"Kerjaan saya," jawabnya datar. Gak nambah, gak ngurang.
Pas lampu merah, dia ngeluarin botol air mineral dari laci. Disodorin ke aku tanpa liat.
"Minum. Muka kamu pucat."
Aku kaget. "Makasih Pak."
Itu pertama kalinya dia ngasih aku minum duluan.
Pas udah mau sampe kantor, 10 menit lagi, tiba-tiba HP Arka bunyi di dashboard. Nama di layar: *"Natasha ❤️"*.
Jantungku langsung anjlok ke perut.
Arka liat sekilas, rahangnya mengeras. Terus tolak. Tapi 3 detik kemudian bunyi lagi. Dan lagi. Dan lagi. Terus-terusan.
Akhirnya dia angkat, tapi pake headset. Suaranya datar dan dingin: "Ada apa?"
Aku gak denger jawabannya. Tapi dari raut wajahnya, jelas itu penting. Bibirnya mengatup.
"Oke. 15 menit. Di lobby." Tutup. Kasar.
Dia menoleh ke aku sekilas. "Kamu masuk duluan. Aku ada tamu penting."
Aku mengangguk. Tapi penasaran itu namanya siapa. Natasha? Kenapa ada ❤️ nya?
---
*15 MENIT KEMUDIAN - LOBBY KANTOR ARKA CORP*
Lobby Arka Corp itu megah banget. Marmer, lampu kristal, resepsionis pake seragam. Aku baru mau scan fingerprint, langkahku berhenti.
Di sofa lobby duduk seorang cewek. Tinggi semampai. Rambut panjang di-wave rapi. Dress merah ketat ngepas badan. Heels 10cm. Makeup flawless. Cantiknya menusuk. Model banget.
Dan dia... memeluk Arka pas Arka baru keluar dari lift.
"Akhirnya ketemu kamu juga, Ark," katanya. Suaranya manja, lengket. "Aku kangen banget. 3 bulan gak ketemu."
Arka menepuk bahunya pelan. Gak nolak, gak nyambut juga. Netral. "Lepas. Ini kantor."
Cewek itu mundur. Tapi tangannya masih nyangkut di lengan jas Arka. Matanya langsung lari ke aku. Menilai dari atas ke bawah. Dari sandal kerja 150rb aku sampai tas selempang.
"Oh... ini Nduk yang Bu Yati ceritain itu?" Senyumnya manis. Tapi matanya tajam kayak silet. "Hai, aku Natasha. Mantan tunangan Arka."
Dunia rasanya berhenti 5 detik.
Mantan. Tunangan.
Jadi bener. Ada mantan.
Aku memaksakan senyum. Tangan dingin. "A-Aira. Asisten rumah tangga."
Natasha tertawa kecil. "Asisten? Pantesan mukanya pucat. Capek kerja ya? Ya ampun Ark, tega banget nyuruh orang hamil kerja."
Hamil? Dia tau?
Lalu dia mendekat ke aku. Bisik di telingaku. Pelan. Cuma aku yang denger. Bau parfumnya mahal.
"Kamu cuma pelampiasan dia, Sayang. Arka belum move on dari aku. Dia nikahin kamu cuma buat bikin aku cemburu pas aku putus sama dia dulu. Jadi jangan GR ya. Mainan doang."
Deg.
Dada sesak. Napas berat. Kata "mainan" itu nusuk banget.
Arka menatap kami. Alisnya nyatu. "Nat, cukup."
Natasha mundur, merangkul lengan Arka dengan bangga. "Aku kesini mau balikan, Ark. Ayah udah setuju merger perusahaan kita. Kita cocok. Dari keluarga, dari bisnis. Dia siapa?" Sambil nunjuk aku pake dagu. Nadanya merendahkan.
Arka diem 3 detik. Lama. Menatapku. Menatap Natasha. Rautnya gak kebaca.
Lalu dia jawab dengan suara tegas yang menggema di lobby.
"Dia istri saya."
Hening. Semua resepsionis nengok.
Natasha ketawa. Ketawa kenceng. "Istri? Kontrak kan? 6 bulan? Aku tau Ark. Ayah kamu yang cerita."
Arka melepas pelukan Natasha. Wajahnya kembali datar. Dinding es. "Kontrak atau bukan, dia istri saya di mata hukum. Di mata negara. Jadi jaga ucapan kamu."
Lalu dia menoleh ke aku. Matanya lembut 1 detik. "Aira, ikut aku."
Aku ngikut di belakangnya. Rasanya kaki lemes.
---
*DI DALAM RUANGAN KERJA ARKA - LANTAI 40*
Pintu ditutup. Suasana tegang. Ruangan luas, kaca dari lantai ke langit-langit. Pemandangan kota.
Aku masih shock. Kata-kata Natasha keulang terus di kepala: _Kamu cuma pelampiasan. Mainan doang._
"Jangan dengerin dia," kata Arka tiba-tiba. Dia melepas jasnya, gantung di kursi.
Aku kaget. Dia tahu aku kepikiran.
"Dia emang gitu. Suka ngatur dan posesif. Sejak kuliah," lanjut Arka. Buka kancing kemeja 1. "Pernikahan kita emang kontrak. Tapi itu bukan urusan dia. Dan bukan berarti kamu bisa dihina."
Aku mengangguk. Tapi air mata udah di pelupuk. Gak bisa ditahan. "Baik Pak."
Arka menghela napas panjang. Tiba-tiba dia maju 2 langkah. Jempolnya ngusap pelan air mataku yang jatuh.
"Jangan nangis di kantor. Nanti orang mikir aku nyiksa kamu. Atau mikir kamu lemah."
Sentuhannya bikin aku gemetar. Hangat. Kasar tapi hati-hati. Beda sama kata-katanya yang dingin.
"Terus... Bapak beneran cuma buat bikin Ibu Natasha cemburu?" tanyaku pelan. Suaraku bergetar. Pertanyaan bodoh, tapi aku harus tau.
Arka diam. Matanya menatap mataku dalam. Gelap. Gak kebaca.
"Kalau iya, kenapa kamu keliatan sakit? Kenapa tangan kamu gemetar?"
Aku gak bisa jawab.
Dia mundur. Jaraknya balik 1 meter. "Kerja. Ada meeting jam 10. Kamu siapin berkas merger di meja. Jangan ada yang kurang."
Pas aku mau keluar, dia manggil lagi. "Aira."
"Ya Pak?"
"Mulai hari ini kamu gak usah ketemu dia lagi. Aku yang urus. Fokus kerja dan jaga kesehatan kamu. Sama janin kamu."
Pintu ketutup.
Aku bersandar di dinding luar. Napas masih kacau.
CEO dingin belain aku... di depan mantannya. Di depan umum.
---
*JAM 6 SORE - DI MOBIL PULANG*
Sepanjang jalan pulang masih hening. Tapi beda. Gak setegang pagi.
Tiba-tiba Arka buka suara. "Mau makan apa?"
Aku kaget. "Eh? Bebas Pak."
"Bubur lagi?"
Aku manggut. "Iya. Ngidam."
Dia pesen gofood di lampu merah. 2 mangkok bubur ayam komplit + es krim.
"Buat besok pagi," katanya.
Aku menatap profilnya. Tegas. Tapi kenapa rasanya... ada celah.
---
*JAM 11 MALAM - RUMAH*
Aku gak bisa tidur. Ngidam lagi. Tapi bukan bubur. Bukan es krim.
Pengin kepastian. Pengin tau Arka mikir apa.
Pas buka pintu, lagi-lagi ada nampan di depan pintu. Bubur ayam. Es krim cokelat. Teh hangat. Roti.
Dan note baru tulisan tangan Arka. Rapi:
_“Jangan dipikirin omongan orang. Kamu bukan pelampiasan. Kamu tanggung jawab aku. Dan... istirahat. -A”_
Tanganku gemetar megang kertas itu. "Tanggung jawab" kata itu bikin dada anget.
Dari balik pintu kecil itu, aku denger suara Arka batuk. Pelan. Terus batuk lagi.
Tanpa mikir panjang, aku nekat. Pegang gagang pintu kecil itu. Pelan.
Klik.
Gak dikunci.
Tangan ku gemetar.
Jantung rasanya mau copot.
Pintu itu terbuka pelan... berderit.
Kamar Arka gelap. Cuma ada lampu meja yang redup. Wanginya sama... wangi parfum woody yang selalu dia pake.
Arka duduk di sofa, tanpa kemeja. Cuma pake kaos dalam hitam dan celana training. Laptop masih nyala di meja. Di tangannya ada gelas air putih yang belum disentuh. Wajahnya agak pucat.
Dia menoleh pas denger suara pintu. Alisnya nyatu.
"Kamu ngapain?" Suaranya serak. Kayak baru bangun atau habis batuk.
Aku langsung panik. Lutut lemes. "S-saya... haus Pak. Mau ambil air. Takut lewat depan... jadi lewat sini."
Alasan paling jelek sedunia.
Arka diam. Menatapku dari atas ke bawah. Bajuku masih daster hamil. Rambut acak-acakan. Mata sembab.
Lalu dia berdiri. Mendekat. Jarak kami cuma 1 langkah. Aku bisa ngerasain panas tubuhnya.
"Gak sopan masuk kamar laki-laki jam segini," bisiknya. Tapi gak marah. Khawatir.
Aku mau mundur. Tapi dia duluan yang nutup pintu kecil itu dari belakangku. Klik.
"Besok bilang ke Bu Yati. Suruh taruh air di kamar kamu," katanya pelan. Tangannya ngambilin gelas air dari meja, terus disodorin ke aku.
Jari kami bersentuhan pas aku nerima gelas itu. Hangat. Kulitnya kasar.
"Minum. Terus tidur."
Aku mengangguk. Keluar dari kamarnya sambil nahan napas. Pipiku panas.
Di dalam hati... kenapa rasanya anget banget ya dada ini. Tanggung jawab katanya.
---
*BERSAMBUNG KE BAB 5 - "KEBOCORAN PINTU"*
---
*CATATAN PENULIS* ✍️
HALOOO READERS KESAYANGAN AKU 🥰
Akhirnya bab 4 selesai juga! Tepuk tangan buat kita semua 👏
*BAHAS BAB 4 YUK:*
*Adegan mobil pagi* \= bukti Arka perhatian detail
*Natasha nongol* \= konflik + bumbu cemburu
*"Dia istri saya"* \= klimaks bab ini. Arka mulai luluh
*Nyelinap ke kamar* \= cliffhanger buat bab 5
*VOTING WAJIB!*
Tim mana kalian?
A. Tim Arka masih cinta Natasha
B. Tim Arka udah suka Aira
C. Tim Arka cuma tanggung jawab
Komen jawaban kalian! Yang paling kreatif aku pin + dapet shoutout!
*JANGAN LUPA:*
Vote ⭐ Komen 💬 Follow 👤 Share 🔗
Target 2K vote di bab ini ya! Kalau tembus, Bab 5 aku up 2 bab langsung + 3000 kata!
Bab 5 rilis *Besok jam 8 malam* judulnya "KEBOCORAN PINTU"
Spoiler: Arka demam tinggi dan Aira yang jagain semalaman...
Makasih udah baca sampe akhir. Kalian luar biasa! Jangan lupa jaga kesehatan ya 🤍
- *Penulis: [Askara Senja]* -
---