NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulut Pedas Sang Pelayan

"Potong tangan mereka dan biarkan mereka kehabisan darah di atas karpet mahal ini. Bos Walikota pasti sangat senang melihat penyusup bodoh ini menggelepar kesakitan sebelum mati."

​Suara pria bertubuh paling besar di kelompok pembunuh bayaran itu menggelegar ke seluruh penjuru ruang kerja. Ia meludah ke atas karpet merah marun dengan santai. Pedang besarnya yang berkarat diangkat tinggi-tinggi, siap diayunkan untuk membelah tubuh Odette yang berdiri menghalangi Geneviève.

​Ketiga anak buahnya tertawa parau. Mereka menyebar, membentuk setengah lingkaran untuk menutup akses jalan keluar menuju pintu ganda yang hancur.

​Di saat krisis seperti ini, siapapun yang memiliki akal sehat pasti akan menjerit ketakutan, berlutut, atau memohon belas kasihan sambil menawarkan koin emas. Namun, Odette sama sekali tidak terbuat dari akal sehat bangsawan yang rapuh. Pelayan kecil itu memutar kunci inggris besinya di telapak tangan, lalu berkacak pinggang dengan ekspresi wajah luar biasa meremehkan.

​"Sebelum Anda mulai memotong tangan siapa pun, bolehkah hamba memberikan sedikit saran profesional untuk Anda sekalian?" tanya Odette dengan nada bicara yang sangat sopan, namun memancarkan aura penghinaan tingkat tinggi.

​Pria besar itu menghentikan langkahnya. Matanya berkedip bingung. "Apa kau bilang, jalang kecil? Saran profesional?"

​Odette mendecakkan lidahnya berkali-kali. Ia menggelengkan kepala dengan raut wajah prihatin yang dibuat-buat. "Anda menyebut diri Anda pembunuh bayaran elit yang disewa oleh Walikota? Coba Anda lihat kemeja linen Anda yang kusut dan bernoda itu. Apakah Anda tidur di kandang babi sebelum datang bekerja malam ini? Bau badan Anda bahkan lebih busuk dari ikan tengik di pelabuhan. Hidung hamba benar-benar tersiksa."

​Ketiga anak buah pria itu saling berpandangan. Otak preman jalanan mereka mengalami kebingungan massal. Mengapa pelayan rendahan ini justru mengevaluasi kebersihan mereka di ambang kematian?

​"Tutup mulutmu!" bentak pria besar itu dengan wajah memerah karena malu. "Aku akan memotong lidahmu lebih dulu!"

​"Dan pedang besar itu," lanjut Odette tanpa memedulikan ancaman sang pemimpin. Pelayan itu menunjuk pedang berkarat tersebut menggunakan kunci inggrisnya. "Astaga, ujung pedang itu bahkan sudah tumpul dan dipenuhi karat berwarna hijau. Jika Anda menebas leher hamba dengan besi rongsokan itu, hamba tidak akan mati seketika. Hamba akan mati perlahan karena infeksi tetanus. Sungguh standar kerja yang sangat memalukan. Apakah Walikota menggaji Anda dengan koin tembaga hingga Anda tidak mampu membeli sepotong sabun termurah dan batu asahan di pasar?"

​Geneviève yang berdiri di belakang Odette harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tersenyum. Taktik andalan pelayannya sedang bekerja dengan sempurna.

​Para bangsawan dan preman jalanan di abad ketujuh belas ini terlalu terbiasa dengan ketakutan yang klise. Ketika mereka dihadapkan pada omelan logis dari seorang pelayan yang tidak memiliki rasa takut, otak mereka akan memproses informasi itu terlalu lambat. Jeda waktu yang diciptakan oleh kebingungan tersebut adalah celah yang sangat mematikan.

​Pria besar itu membuka mulutnya, bersiap meneriakkan makian kasar balasan, namun Geneviève melangkah maju lebih dulu dari balik punggung Odette.

​"Pelayanku benar sekali, Tuan-tuan. Kalian sangat tidak profesional," ucap Geneviève dengan nada suara yang sedingin es. "Namun, karena kalian sudah repot-repot menyapa kami, izinkan saya memberikan sedikit hadiah perpisahan untuk mengobati kebodohan kalian."

​Tangan kanan Geneviève merogoh cepat ke dalam saku jubah wolnya. Ia menarik keluar sebuah kantong kulit kecil. Kantong itu adalah aset sampel perdagangan rempah yang sengaja ia bawa dari ibu kota untuk mengevaluasi kualitas gudang pelabuhan. Di dalamnya berisi komoditas yang sangat mahal.

​Dengan satu gerakan gesit yang sama sekali tidak elegan namun sangat efektif, Geneviève membuka tali kantong itu dan melemparkan seluruh isinya tepat ke wajah pria besar dan dua anak buahnya yang berdiri paling dekat.

​Segumpal awan serbuk berwarna hitam pekat seketika menyebar di udara, langsung menabrak wajah para pembunuh bayaran tersebut.

​"Bubuk merica hitam murni kualitas premium dari kepulauan selatan. Harganya sangat mahal, sungguh disayangkan harus digunakan untuk membumbui wajah kotor kalian," gumam Geneviève tajam.

​Efeknya terjadi dalam hitungan detik.

​Bubuk merica hitam dengan konsentrasi tinggi itu masuk ke mata, hidung, dan tenggorokan para pembunuh bayaran. Teriakan kesakitan yang luar biasa mengerikan langsung menggema di ruang kerja Walikota. Pria besar itu menjatuhkan pedang berkaratnya ke lantai karpet. Ia mencengkeram wajahnya sendiri sambil terbatuk hebat dan meraung-raung.

​"Aaarrghh. Mataku. Panas. Tolong, mataku terbakar."

​Ketiga anak buahnya mengalami nasib serupa. Mereka saling bertabrakan satu sama lain dalam keadaan buta sementara, tersedak oleh rasa pedas yang membakar saluran pernapasan mereka.

​Satu orang pembunuh bayaran yang berada sedikit di belakang mencoba menerjang maju sambil mengayunkan belati dengan mata tertutup.

​Odette tidak membuang waktu. Pelayan itu mengambil langkah kecil ke samping, menghindari ayunan belati yang buta tersebut. Dengan mengandalkan tenaga dari putaran pinggulnya, Odette mengayunkan kunci inggris besinya sekuat tenaga tepat ke arah tempurung lutut pria itu.

​Terdengar bunyi retakan tulang yang sangat keras. Pria itu menjerit melengking dan langsung ambruk ke lantai, memegangi lututnya yang hancur.

​"Itu adalah bayaran karena Anda berani menginjak karpet mahal ini dengan sepatu kotor," cibir Odette puas. "Nona, jalan sudah bersih. Mari kita pergi dari tempat bau ini sekarang juga."

​"Lari, Odette," perintah Geneviève. Tangan kirinya memeluk erat buku kas kulit merah di balik jubahnya.

​Mereka berdua berlari menerobos kepungan pembunuh bayaran yang sedang berguling-guling kesakitan di lantai. Geneviève dan Odette melesat keluar melalui pintu ganda yang hancur, menuruni tangga spiral batu pualam dengan kecepatan penuh. Tidak ada yang mengejar mereka. Penjaga di depan balai kota tidak menyadari kekacauan yang terjadi di ruang kerja lantai dua yang kedap suara.

​Udara malam yang dingin dan berbau garam laut langsung menyambut mereka begitu mereka mendobrak pintu belakang balai kota. Mereka berlari menyusuri gang sempit yang gelap, menghindari genangan lumpur sebisa mungkin, meski Odette masih terus merutuki sepatunya yang semakin hancur.

​Di ujung jalan utama yang sepi, sebuah kereta kuda sewaan tanpa lambang bangsawan tampak terparkir di bawah bayangan pohon besar. Sang kusir yang mereka sewa dengan harga tinggi sedang tertidur lelap sambil mendengkur di kursi kemudi.

​Odette memanjat naik ke tempat kusir dan memukul topi pria tua itu menggunakan gagang lenteranya.

​"Bangun, dasar pemalas," desis Odette garang. "Jalankan kereta ini sekarang juga menuju Hutan Vaudémont, atau hamba akan menggunakan kunci inggris ini untuk mencabut semua gigi depan Anda."

​Kusir tua itu terlonjak kaget. Melihat wajah menakutkan Odette, ia tidak berani membantah. Ia segera meraih tali kekang dan melecut punggung kuda penariknya.

​Kereta kuda kayu itu melesat maju dengan sentakan kasar, meninggalkan jalanan pelabuhan pesisir timur yang kumuh menuju jalur keluar kota.

​Di dalam kabin kereta yang berguncang hebat, Geneviève menjatuhkan dirinya ke bantalan kursi dengan napas terengah-engah. Tudung jubahnya terbuka, memperlihatkan rambut gelapnya yang sedikit berantakan. Jantungnya masih berdegup kencang karena sisa adrenalin pelarian tadi.

​Ia mengeluarkan buku kulit merah itu dari balik jubahnya. Jemarinya meraba sampul kulit yang dingin tersebut di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kecil kabin.

​"Kita berhasil, Odette," ucap Geneviève sambil tersenyum lebar. Sebuah senyum kemenangan yang sangat memuaskan. "Kita mendapatkan nyawa finansial mereka."

​Odette yang baru saja masuk ke dalam kabin dari pintu depan setelah memastikan kusir memacu kudanya dengan maksimal, langsung merosot ke lantai kereta. Pelayan itu mengusap sepatunya yang kini sepenuhnya tertutup lumpur hitam pekat.

​"Hamba turut bahagia untuk kesuksesan Anda, Nona," keluh Odette sambil cemberut menatap kakinya. "Tetapi jujur saja, hati hamba merasa sangat terluka malam ini. Anda melempar setengah kantong bubuk merica premium ke wajah preman rendahan itu. Harga merica sebanyak itu setara dengan tiga porsi makan malam daging sapi panggang di restoran ibu kota. Anda baru saja membuang uang dengan sangat tidak elegan."

​Geneviève tertawa pelan. Logika materialistis pelayannya ini benar-benar tidak pernah gagal menghiburnya.

​"Jangan pelit, Odette. Mengorbankan tiga porsi daging panggang untuk membawa pulang bukti korupsi bernilai jutaan koin emas adalah tingkat pengembalian investasi yang sangat luar biasa," jawab Geneviève santai. Ia menyimpan kembali buku itu ke dalam jubahnya. "Sekarang, kita hanya perlu kembali ke ibu kota dengan selamat. Setelah dokumen ini berada di tanganku, Marquis de Chanteclair akan berlutut mencium kakiku agar aku tidak menyerahkannya kepada dewan penyidik."

​Sementara kereta kuda Geneviève melaju kencang meninggalkan pelabuhan, kekacauan besar baru saja dimulai di Balai Kota Pesisir Montmirail.

​Sang Walikota, seorang pria bertubuh pendek dan sangat gemuk, baru saja kembali dari kedai minuman mewah di pusat kota. Wajahnya merah padam karena pengaruh anggur berkualitas tinggi. Ia berjalan terhuyung-huyung menaiki tangga spiral pualam, diiringi oleh dua pengawal pribadinya.

​Namun, senyum mabuk di wajah Walikota itu langsung menguap tanpa sisa begitu ia mencapai lantai dua.

​Pintu ruang kerjanya yang mahal hancur berantakan. Di atas karpet merahnya yang berharga puluhan koin emas, empat orang pembunuh bayaran bayarannya sedang mengerang kesakitan. Mereka menggosok mata mereka yang merah bengkak dan mengeluarkan air mata terus-menerus. Ruangan itu dipenuhi aroma pedas yang menyengat hidung.

​"Apa yang terjadi di sini, dasar babi-babi bodoh?" jerit Walikota dengan suara melengking. Rasa mabuknya hilang sepenuhnya digantikan oleh kepanikan.

​Pria besar pemimpin pembunuh bayaran itu berusaha berdiri sambil berpegangan pada meja. Matanya masih belum bisa terbuka penuh. "Ada dua penyusup wanita, Bos. Mereka berpakaian gembel. Mereka melempar bubuk iblis ke mata kami dan melarikan diri."

​Mendengar kata penyusup, tubuh Walikota langsung membeku. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya.

​Ia berlari menerobos para pembunuh bayaran itu menuju bagian belakang ruang kerjanya. Jantungnya berdetak liar hingga nyaris meledak saat matanya menangkap pemandangan lukisan wajahnya yang berayun terbuka. Pintu brankas perak yang seharusnya menjadi tempat teraman di pelabuhan ini telah terbuka lebar.

​Sang Walikota menjatuhkan dirinya ke lantai dengan lutut bergetar hebat. Ia merogoh ke dalam brankas gelap itu. Tangannya mengais-ngais liar di antara kantong koin emas, mencari buku tebal bersampul merah.

​Buku itu tidak ada.

​"Tidak, tidak, tidak mungkin," isak Walikota panik. Wajahnya memucat seketika seperti mayat. Ia menarik napas tersengal-sengal.

​Buku merah itu adalah catatan asli semua aliran dana curian dari pelabuhan. Di dalamnya tertulis dengan sangat jelas nama Marquis de Chanteclair dan nominal koin emas yang telah mereka gelapkan dari keluarga Duke Montmirail. Jika buku itu sampai jatuh ke tangan yang salah dan diekspos ke publik, Marquis tidak akan segan-segan membunuhnya beserta seluruh keluarga kecilnya untuk menutupi jejak.

​Ini adalah akhir dari hidupnya.

​"Bos, apa yang harus kami lakukan?" tanya pengawal pribadi Walikota yang kebingungan melihat majikannya menangis di depan brankas kosong.

​Sang Walikota bangkit berdiri. Rasa takut yang amat sangat memicu naluri bertahan hidupnya yang paling buas. Matanya berkilat penuh keputusasaan dan kekejaman.

​"Dua wanita berbaju gembel," desis Walikota dengan suara bergetar. "Tidak ada wanita gembel yang bisa membuka brankas kombinasi utara tanpa kunci. Mereka pasti mata-mata dari ibu kota. Mereka baru saja lari, mereka belum jauh."

​Walikota berbalik dan mencengkeram kerah baju pengawal pribadinya dengan kuat.

​"Buka sangkar di rubanah balai kota. Kirim Pasukan Anjing Hitam sekarang juga," perintah Walikota dengan nada histeris yang melengking tinggi. "Kejar mereka. Mereka pasti melewati jalur darat menuju ibu kota. Cegat kereta kuda mereka di perbatasan Hutan Vaudémont. Bunuh wanita-wanita itu. Potong tubuh mereka menjadi kepingan kecil dan buang ke jurang. Jangan tinggalkan jejak apapun. Dan bawa kembali buku merah itu kepadaku malam ini juga."

​Pengawal itu mengangguk cepat dan berlari turun menuju ruang bawah tanah, tempat di mana kelompok pembunuh paling sadis di wilayah pesisir itu disembunyikan.

​Malam yang gelap di Kekaisaran Valerand baru saja berubah menjadi arena perburuan yang mematikan. Dan Geneviève, tanpa menyadarinya, sedang melaju lurus menuju rahang kematian di tengah hutan belantara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!