Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Diantara Kerumunan
Jarum jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika deru mobil Haris terdengar memasuki pelataran rumah. Pria itu bergegas naik ke lantai atas dengan raut cemas, khawatir Nindya belum bersiap atau sengaja membatalkan janji akibat insiden mengejutkan di toko emas siang tadi.
Namun, begitu pintu kamar terbuka, langkah Haris seketika terhenti. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Nindya berdiri anggun di dekat jendela besar. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru gelap (navy blue) berpotongan minimalis yang membingkai tubuhnya dengan begitu presisi. Rambut ash brown sebahunya ditata bergelombang halus di bagian ujung, sementara riasan wajahnya terlihat begitu flawless dengan sentuhan lipstik merah anggur yang mempertegas kesan percaya diri. Tidak ada perhiasan mencolok yang melekat di tubuhnya—hanya sebuah jam tangan elegan dan gelang tipis—namun aura keanggunan yang terpancar dari dirinya begitu dominan dan sukar diabaikan.
Haris menatap istrinya tanpa berkedip. Dalam benaknya, penyesalan mendalam kembali berhembus tajam. Bagaimana mungkin wanita secantik dan sekelas ini pernah ia abaikan begitu saja demi wanita seperti Siska?
"Kamu... cantik sekali malam ini, Nindya," puji Haris tulus, suaranya terdengar sedikit canggung.
Nindya menyunggingkan senyum tipis—senyuman formal yang tidak sampai ke mata. "Terima kasih, Mas. Arka sudah tidur di kamar dipandu Pengasuh. Kita bisa berangkat sekarang agar tidak terlambat."
"Ah, iya... ayo," jawab Haris sigap, bergegas membukakan pintu untuk Nindya.
Sepanjang perjalanan menuju ballroom hotel berbintang lima tempat acara digelar, suasana di dalam mobil terasa begitu hening. Haris menggenggam kemudi dengan sesekali melirik Nindya melalui kaca spion dalam. Rasa bersalah, takjub, sekaligus cemas terus beradu di dalam dadanya. Ia takut Nindya akan membongkar insiden siang tadi di depan para relasi bisnisnya, namun di sisi lain, ia juga merasa bangga bisa menggandeng wanita seanggun Nindya di hadapan publik.
Sementara itu, Nindya menyandarkan punggungnya dengan tenang, menatap gemerlap lampu kota di balik jendela mobil. Pikirannya melayang pada skenario yang telah ia susun rapi. Nanti malam bukan sekadar pesta makan malam biasa. Ini adalah momen pembuktian bahwa dirinya tak lagi bisa diremehkan. Lebih dari itu, ia tahu Siska yang siang tadi dibuat gigit jari pasti akan hadir di acara kantor ini untuk mencari panggung pertunjukan.
Biarkan mereka bermain dengan apinya sendiri, batin Nindya mantap. Aku hanya perlu menyaksikannya dengan dingin dan merekam setiap kesalahan mereka.
Mobil mewah Haris akhirnya berhenti tepat di depan lobby utama hotel. Petugas valet bergegas membukakan pintu. Haris turun lebih dulu, lalu memutari mobil dan membukakan pintu untuk Nindya dengan sikap yang sangat ksatria—sebuah gestur yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia lakukan lagi.
Nindya menerima uluran tangan Haris dengan sangat anggun, menyelaraskan langkah kakinya di atas karpet merah yang terbentang menuju ballroom. Begitu pintu besar bernuansa emas itu terbuka lebar, denting musik klasik dan riuh tepuk tangan tamu undangan menyambut kedatangan mereka. Panggung permainan malam ini resmi dimulai.
Langkah kaki Nindya dan Haris menyusuri karpet merah ballroom hotel bintang lima itu tak luput dari pandangan ratusan pasang mata. Denting gelas kristal dan alunan musik instrumental lembut mengiringi suasana malam yang megah. Namun, yang paling mencuri perhatian para tamu adalah sosok Nindya.
Dengan gaun navy blue yang membalut tubuhnya secara sempurna serta aura keanggunan yang tenang, Nindya menyihir siapa pun yang melihatnya. Beberapa kolega bisnis Haris—para direktur dan pengusaha senior—terperangah. Mereka yang selama ini mengira istri Haris adalah sosok pemalu yang terabaikan di rumah, kini tak henti-hentinya melayangkan pujian.
"Luar biasa, Pak Haris! Istri Anda sungguh sangat anggun dan berkelas," puji Pak Seno, salah satu komisaris utama perusahaan, sembari menjabat tangan Haris. "Pantas saja jarang dibawa ke acara publik, ternyata disimpan sebagai permata indah!"
Haris mengumbar senyum bangga, mengusap tengkuknya dengan rasa jemawa yang membumbung tinggi. "Terima kasih banyak, Pak Seno. Nindya memang selalu sibuk menjaga rumah tangga kami."
Nindya hanya mengumbar senyum tipis yang begitu ramah dan formal, membalas sapaan para relasi dengan gestur seorang wanita terpelajar.
Di tengah keriuhan pujian tersebut, pandangan mata Nindya yang tajam menyapu sekeliling ruangan bernuansa emas itu. Hingga akhirnya, matanya beradu pandang dengan sepasang mata hangat di sudut VIP area.
Noval.
Pria itu berdiri tegap mengenakan tuksedo hitam berpotongan tajam, memancarkan aura seorang CEO muda yang disegani. Tatapan Noval mendadak terkunci pada Nindya. Ada binar takjub yang tak mampu ia sembunyikan saat melihat betapa cantiknya Nindya malam ini. Dengan langkah pasti dan senyum hangat di bibirnya, Noval berjalan menghampiri tempat Haris dan Nindya berdiri.
Namun, sebelum Noval mencapai mereka, ponsel di saku jas Haris bergetar hebat. Haris melirik layar ponselnya dan seketika wajahnya pucat pasi—nama Siska terpampang jelas di sana.
"Nindya, maaf... aku harus menerima telepon penting dari kolega sebentar," pamit Haris gugup, bergegas menjauh beberapa meter menuju area luar ballroom yang lebih tenang.
Haris menggeser tombol hijau dengan tangan gemetar. "Siska! Ada apa? Kenapa telepon jam segini?"
"Mas Haris jahat!" jerit suara Siska dari balik telepon, penuh emosi dan kekesalan yang tertahan. "Kenapa Mas malah bawa wanita itu ke gala dinner?! Katanya Mas cuma menganggap dia formalitas! Kenapa sekarang Mas gandeng dia di depan semua bos-bos kamu?!"
"Siska, pelankan suaramu!" bisik Haris panik, matanya liar memantau situasi sekitar. "Ini acara resmi kantor! Direksi minta aku bawa istri sah. Jangan buat keributan sekarang!"
"Aku nggak peduli, Mas!" seru Siska tak mau kalah, amarahnya akibat diusir dari toko emas tadi siang makin membakar dadanya. "Aku sekarang ada di lobby hotel ini! Kalau Mas nggak keluar menemui aku sekarang juga, aku yang bakal masuk ke ballroom dan bikin kekacauan di depan semua relasi kamu!"
Bip. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Siska.
Haris mematung, dadanya bergemuruh hebat diserang rasa takut luar biasa. Kebohongan dan reputasinya kini berada di ujung tanduk.
Sementara itu, di dalam ballroom, Noval telah berdiri tepat di hadapan Nindya. Senyum hangatnya mengikis hawa dingin di sekitar mereka.
"Selamat malam, Nindya," sapa Noval lembut, suaranya pelan hanya untuk didengar oleh Nindya. "Kamu... benar-benar luar biasa malam ini."
Nindya menyunggingkan senyum tulus pertama dalam malam itu. "Terima kasih" ucap Nindya