Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: JANTUNG BERDEBAR TANPA ALASAN
Kirana masih berbaring menatap langit langit kamar kos, pikirannya belum juga bisa lepas dari bayangan hujan kemarin sore, cara Alden berjalan berdampingan dengannya di bawah satu payung, cara suaranya yang lebih santai dari biasanya ketika mereka mengobrol singkat di tengah derasnya hujan.
"Kenapa sih aku jadi mikirin ini mulu," gumamnya sambil menutup wajah dengan bantal, mencoba mengusir bayangan itu meski sia sia.
Ponselnya bergetar di atas meja belajar. Pesan dari Tesa muncul di layar.
"Kir, sarapan bareng yuk di kantin deket gerbang. Aku laper banget."
Kirana bangkit, mengganti baju secepatnya, lalu berjalan menuju kantin yang dimaksud Tesa. Udara pagi masih terasa sejuk sisa hujan semalam, genangan air masih terlihat di beberapa titik trotoar kampus.
"Kir, kamu kenapa sih dari kemarin sore senyum senyum sendiri?" tanya Tesa begitu mereka duduk berhadapan, semangkuk bubur ayam sudah terhidang di depan masing masing.
"Nggak kok, biasa aja," Kirana buru buru menyangkal, meski dia sendiri tahu dia sedang berbohong.
"Bohong. Dari kemarin sore, tiap aku chat kamu, balesnya lama, terus pas dibales isinya nyambung nggak nyambung," Tesa menyipitkan mata, curiga. "Ada apa sebenernya?"
Kirana menghela napas, akhirnya menyerah untuk menyembunyikan. "Kemarin, pas hujan deras, aku ketemu Pak Alden di gerbang parkiran. Dia nggak bawa payung, terus aku tawarin numpang payung punyaku."
"HAH?" Tesa hampir memekik, membuat beberapa orang di kantin menoleh. "Kalian jalan bareng di bawah satu payung?"
"Iya, tapi cuma sampe mobilnya doang,"
Kirana menjelaskan cepat, sedikit panik dengan reaksi Tesa yang berlebihan. "Terus dia nawarin anter aku pulang, tapi aku tolak. Terus dia malah nemenin aku jalan kaki sampe jalan besar."
Tesa menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar penuh keheranan campur excited. "Kir, ini udah kayak adegan di novel romance beneran."
"Tes, please, jangan lebay," Kirana mendorong lengan Tesa main main, meski pipinya mulai terasa hangat mengingat kejadian itu.
"Tapi serius, Kir, ini nggak biasa. Dosen segalak dia, rela ikut basah cuma buat nemenin mahasiswanya sampe tempat aman?" Tesa menggeleng, tidak habis pikir.
"Itu bukan hal yang bakal dia lakuin ke sembarang orang."
Kirana terdiam, mengaduk buburnya pelan tanpa benar benar memakannya. "Aku juga nggak ngerti kenapa jantung aku berdebar terus tiap inget kejadian itu, Tes. Padahal cuma jalan bareng doang, nggak ada yang spesial."
"Kir, itu namanya kamu udah beneran jatuh," Tesa menepuk tangan Kirana, tersenyum penuh pengertian. "Nggak usah dipungkiri lagi."
Beberapa jam berselang, ketika Kirana masuk kelas Manajemen Strategis, dia mendapati dirinya lebih gugup dari biasanya, menunggu kedatangan Alden dengan perasaan campur aduk antara antisipasi dan kecemasan.
Alden masuk tepat waktu seperti biasa, membawa map dan langsung memulai materi tanpa banyak basa basi. Tapi ketika matanya sekilas bertemu dengan mata Kirana, ada sesuatu yang berbeda, semacam pengakuan diam diam atas apa yang terjadi kemarin sore, meski tidak ada satu kata pun yang terucap tentang itu.
Kirana merasakan jantungnya berdebar kencang hanya karena tatapan sekilas itu, sesuatu yang terasa berlebihan mengingat itu hanya kontak mata biasa yang berlangsung tidak lebih dari satu detik.
"Kenapa sih jantung aku segini kenceng cuma gara gara natap sekilas," gumamnya dalam hati, mencoba fokus pada materi yang sedang dijelaskan, meski usahanya terasa sia sia.
Sepanjang kelas, Kirana mendapati dirinya lebih sensitif terhadap setiap gerakan Alden, cara dia berjalan di antara barisan bangku, cara suaranya naik turun ketika menjelaskan poin penting, bahkan cara dia menggulung lengan kemejanya yang sedikit longgar setelah beberapa jam mengajar.
"Kir," bisik Tesa yang duduk di sebelahnya,
"kamu keliatan tegang banget dari tadi."
"Nggak tau kenapa, Tes, jantung aku dari tadi berdebar mulu," Kirana berbisik balik, meremas ujung buku catatannya.
"Mungkin karena kamu terlalu mikirin kejadian kemarin," Tesa menduga, tersenyum kecil.
Kirana tidak menjawab, hanya menghela napas pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa tidak mau kooperatif.
Menjelang akhir kelas, Alden memberikan tugas kecil untuk dikerjakan secara individu, sebuah studi kasus singkat yang harus diselesaikan dalam waktu dua puluh menit terakhir kelas. Kirana mencoba fokus mengerjakan, tapi konsentrasinya terus terpecah setiap kali Alden berjalan mendekat ke arah barisan tempat dia duduk.
Ketika Alden berhenti di dekat mejanya untuk mengecek progress pengerjaan, Kirana merasakan jantungnya kembali berdebar kencang, keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya meski suhu ruangan sebenarnya cukup sejuk karena pendingin ruangan.
"Sudah sejauh mana?" tanya Alden, suaranya terdengar biasa saja, tanpa nada khusus yang berbeda dari biasanya dia bertanya ke mahasiswa lain.
"Ini, Pak, baru setengah," jawab Kirana, menunjukkan hasil kerjanya yang memang masih belum selesai.
Alden membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas, jarak di antara mereka kembali menyempit seperti beberapa kali sebelumnya. Kirana bisa mencium samar aroma khas Alden, campuran kayu cendana dan sabun segar yang selalu berhasil mengganggu konsentrasinya.
"Analisis kamu udah bagus arahnya," komentar Alden, menunjuk salah satu bagian di kertas kerja Kirana. "Coba lanjutin dengan kesimpulan yang lebih tegas di bagian akhir."
"Baik, Pak," jawab Kirana, mencoba menulis lanjutan meski tangannya sedikit gemetar karena jarak mereka yang masih dekat.
Alden berdiri kembali tegak, tapi sebelum benar benar berpindah ke meja lain, dia berhenti sejenak, menatap Kirana dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kamu baik baik aja? Keliatan agak pucat."
"Saya nggak apa apa kok, Pak," Kirana buru buru menjawab, mencoba tersenyum meski jantungnya masih berdebar tidak karuan.
"Cuma kurang tidur aja semalam."
"Jangan dipaksain kalau capek," kata Alden, nadanya melunak sedikit. "Istirahat yang cukup penting juga."
"Siap, Pak, makasih perhatiannya," jawab Kirana, menahan senyum yang tiba tiba muncul mendengar kalimat itu.
Alden mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya mengecek mahasiswa lain, meninggalkan Kirana yang masih berusaha menstabilkan detak jantungnya sendiri.
Begitu kelas selesai dan mahasiswa mulai keluar ruangan, Tesa langsung menghampiri Kirana dengan wajah penasaran. "Kir, tadi Pak Alden nanya kamu baik baik aja. Itu perhatian banget lho."
"Ya kali dia nanya gitu ke semua orang, Tes, bukan cuma aku," Kirana mencoba merendahkan momen itu, meski dalam hati dia sendiri tahu Alden tidak biasa menanyakan kondisi mahasiswa lain sedetail itu.
"Kir, dia nggak pernah nanya kayak gitu ke orang lain. Aku duduk di kelas yang sama, aku tau," Tesa menegaskan, menyenggol lengan Kirana. "Udah deh, ngaku aja kalau kamu makin susah nyangkal perasaan ini."
Kirana menghela napas panjang, tidak lagi punya energi untuk membantah lebih jauh. "Aku juga bingung, Tes. Rasanya makin hari makin susah buat pura pura biasa aja tiap ketemu dia."
"Terus kamu mau ngapain?" tanya Tesa, nada suaranya lebih serius kali ini.
"Nggak tau," Kirana menggeleng pelan, menatap kosong ke arah koridor yang mulai ramai oleh mahasiswa lain. "Yang aku tau, jantung aku udah nggak bisa dibohongin lagi. Setiap kali deket dia, rasanya beda banget dari biasanya. Padahal harusnya nggak ada alasan buat jantung aku berdebar sekenceng ini."
Mereka berjalan keluar gedung bersama, langkah Kirana terasa lebih ringan meski pikirannya masih penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Di balik semua kebingungan itu, ada satu hal yang mulai terasa jelas, perasaannya terhadap Alden bukan lagi sekadar kekaguman biasa, dan semakin dia mencoba menyangkalnya, semakin nyata perasaan itu terasa setiap harinya.