NovelToon NovelToon
After The Rain

After The Rain

Status: tamat
Genre:Romansa / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:46k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Segala kemalangan hidup yang menghampiri Kinara Adorelia membawanya bertemu dengan Sekala Pranadipa, seorang pemuda yang menyimpan banyak luka di balik senyumnya.

Ini bukan sekadar kisah percintaan dua anak manusia, melainkan kisah perjalanan mereka dalam mengarungi badai masing-masing sampai akhirnya tiba dan bersandar di dermaga yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selama Ada Kamu, Semua Akan Baik-baik Saja

"Jadi, ini semua ulahnya Sebastian?" tanya Atha setelah Kinara selesai bercerita.

Sesaat setelah tangisnya reda dan deru napasnya bisa diatur kembali, Kinara mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarganya. Yang lagi-lagi biang keroknya adalah si bajingan Sebastian.

Sedikit banyak Atha sudah tahu tentang laki-laki bernama Sebastian itu karena Kinara sering menceritakan tentang gerak-geriknya yang mencurigakan dan firasat tidak enak yang gadis itu rasakan terhadap Sebastian. Tapi walaupun begitu, Atha tetap tidak menyangka kalau laki-laki itu bisa bertindak sampai sejauh ini. Bahkan sampai membuat ayah Kinara bangkrut. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Andai laki-laki itu ada di sini sekarang, Atha pasti sudah melayangkan tinju ke wajahnya berulang-ulang kali.

Kinara menganggukkan kepala. Es krim rasa strawberry yang ia pegang mulai mencair hingga menetes mengotori tangannya dan Kinara tidak mampu berbuat apa-apa tentang hal itu. Rasanya, tenaganya sudah terkuras habis karena menangis.

Melihat lelehan es krim semakin banyak, Atha tidak tinggal diam. Direbutnya es krim itu dari tangan Kinara kemudian buru-buru ia lap tangan Kinara yang belepotan menggunakan tisu.

"Terus, Papa nggak ada niatan buat laporin hal ini ke polisi?" tanya Atha setelah menyingkirkan es krim yang sudah tidak berbentuk itu dari hadapan mereka berdua. Ia menaikkan pandangan, menatap Kinara lekat-lekat.

Kinara menggeleng lemah. "Bikin laporan ke polisi juga butuh uang, Tha. Sedangkan kami udah nggak punya apa-apa lagi." Miris. Cuma satu kata itu yang terlintas di kepala Kinara saat sedang menceritakan tentang kondisi ekonomi keluarganya yang sekarang kepada Atha.

"Kalau soal uang-"

"Nggak!" Kinara memotong cepat. "Aku nggak mau kamu keluar sepeser pun untuk masalah ini."

"Tapi, Ra, aku cuma mau membantu kamu. Apa itu salah?"

"Sama sekali nggak salah." Kinara mengembuskan napas berat setelahnya. "Niat kamu untuk bantu aku sama sekali nggak salah, Tha. Tapi kamu nggak harus bantu aku dengan uang."

Atha mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menelisik manik kecoklatan Kinara yang kini menatapnya lekat-lekat. Ada banyak sekali perasaan yang bercampur aduk di dalam manik itu. Campuran yang terlalu sulit untuk diurai satu persatu hingga membuat hati Atha terasa ngilu.

"Cukup dengan tetap ada di samping aku kayak sekarang ini udah sangat membantu, Tha. Aku nggak butuh hal lain lagi." Saat mengatakan itu, Kinara sebenarnya juga sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa yang dia butuhkan saat ini hanyalah kehadiran orang-orang yang ia sayangi dan menyayangi dirinya.

Tidak ada lagi bantahan yang keluar dari bibir Atha, dan Kinara bersyukur untuk itu. Padahal hari-hari sebelum ini, Atha adalah laki-laki keras kepala. Hampir semua perdebatan yang mereka lalui pasti berakhir dengan kemenangan Atha karena laki-laki itu tidak pernah suka dibantah. Beruntung hari ini Atha bersedia untuk menurunkan sedikit egonya.

Selama beberapa saat setelah itu, keheningan bergerak lebih jauh daripada sebelumnya. Baik Atha maupun Kinara sama-sama sibuk dengan isi kepala mereka sendiri. Deru napas mereka beradu, menjadi satu-satunya suara yang terdengar oleh telinga mereka berdua.

Sampai akhirnya, Atha bangkit dari duduknya. Ia ingin ada di sini lebih lama lagi. Tapi setelah menilik jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Atha sadar dirinya harus segera pulang.

Sedari dulu, sejak pertama mereka berpacaran, ayah Kinara sudah memberlakukan jam malam untuk mereka. Kapan pun Atha datang berkunjung, pulangnya tidak boleh lebih dari jam sepuluh malam. Begitu juga jika mereka jalan keluar berdua, Atha tidak boleh memulangkan Kinara lewat dari jam malam yang sudah ditentukan atau mereka akan diberikan hukuman tidak boleh bertemu selama satu minggu penuh.

"Udah setengah sepuluh, aku harus pulang." Kata Atha kepada Kinara yang sudah ikut berdiri.

Kinara hanya mengangguk sebagai jawaban. Meskipun masih ada banyak hal yang ingin dia ceritakan kepada Atha, tapi jam malam yang telah Papa tentukan tetap tidak boleh dilanggar. Lagipula, masih ada hari esok. Masih ada waktu untuk mengeluhkan semuanya kepada Atha nanti.

Mereka pun berjalan beriringan menuju halaman di mana motor Atha diparkirkan. Kinara menunggu dengan sabar sampai Atha naik ke atas motornya.

"Aku pamit, ya?" kata Atha sembari mengusak pelan rambut Kinara. Ia sudah duduk di atas motor, siap melajukan kuda besi itu setelah mendapatkan anggukan kepala dari kekasihnya tercinta.

"Jangan ngebut." Kinara memperingatkan. Masalahnya, dia paham sekali pada tabiat Atha yang senang mengebut di jalanan tanpa peduli pada keselamatannya sendiri.

"Iya, bawel." Atha mencubit hidung mancung Kinara, membuat sang empunya memberengut sembari mengusap-usap hidungnya yang memerah.

"Hidung aku udah mancung, nggak perlu kamu tarik-tarik lagi!" protes Kinara. Tetapi Atha malah terkekeh menanggapinya.

"Ya udah, aku jalan sekarang. Salam buat Mama sama Papa." Kata Atha sembari mengenakan helm.

"Iya." Kinara mundur satu langkah, seiring dengan Atha yang juga memundurkan motornya.

Motor di stater. Suaranya yang nyaring berhasil menarik perhatian para tetangga yang serempak melongokkan kepala dari jendela rumah mereka masing-masing.

Kinara tahu dirinya sedang jadi bahan tontonan sekarang, tetapi ia tidak terlalu peduli. Kehadiran orang-orang asing di sekitarnya selalu akan menjadi buram saat ia sedang bersama dengan Atha. Mungkin ini yang orang-orang maksud bahwa jatuh cinta itu bisa membuat seseorang merasa seperti dunia adalah milik berdua.

"Bye!" Atha melambaikan tangan untuk yang terakhir kali sebelum motor betulan melaju.

Kinara menunggu sampai motor dan pengemudinya benar-benar menghilang dari jangkauan pandangnya.

Sampai beberapa menit kemudian, barulah Kinara beranjak dari sana. Ia berjalan kembali menuju rumah.

Sambil menenteng camilan dan es krim yang tadi Atha bawa, Kinara masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.

Kinara melangkah menuju dapur untuk meletakkan sisa es krim dan camilan yang tadi Atha bawa ke kulkas. Lalu setelah selesai menatanya sedemikan rupa agar menghemat tempat, Kinara memutar tubuhnya. Ia berjalan menuju kamar. Berhenti sejenak di depan pintu berwarna cokelat itu sambil menarik dan membuang napas beberapa kali.

Lalu, Kinara memutar kenop dan pintu di hadapannya pun terbuka. Kinara langsung masuk ke dalam kamar. Tujuan pertamanya adalah kasur. Ia langsung melompat naik ke atas kasur. Membanting dirinya sendiri ke atas sana hanya untuk dibuat meringis karena kasur miliknya yang sekarang ternyata tidak seempuk miliknya yang dulu.

"Sakit..." keluhnya sembari mengusap bahunya yang terasa sakit.

Niatnya untuk rebahan seketika hilang dan Kinara mulai mendudukkan dirinya. Ia bersandar di headboard berbahan kayu yang kualitasnya tentu tidak sebaik miliknya yang dulu.

Kinara mendongakkan kepala, menatapi langit-langit kamarnya yang kini berwarna putih polos. Tidak ada lagi hamparan langit luas berhiaskan bintang-bintang seperti dulu. Padahal, memandangi hamparan langit luas di langit-langit kamarnya adalah cara paling ampuh untuk meredakan kecemasan yang mendera.

Tapi, apa boleh buat? Keadaannya sudah berubah dan dia tidak bisa lagi mengandalkan cara itu mulai sekarang. Jadi, dia harus terbiasa.

"Tuhan... Nara kuat, kan?" bisiknya kepada diri sendiri.

Bersambung

1
Astri
kapan ktemu sm tokoh prianya
Astri
mungkin kamu nerima apa adanya, tp orang tuamu belum tentu mau nerima nara lagi dalam kondisi yg sekarang,
Astri
tetangga seribu bibir
galih90
👍👍👍
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Lily
suka karakter kinara, banyak pelajaran juga yg bisa di ambil dr cerita ini. semangat trs untuk authornya dlm berkarya
iin
keren 👍👍👍👍
Rini Antika
Semangat terus dalam berkarya 💪💪
Arianeee
knpa kinara di panggilnya bee?
nowitsrain: soalnya cerewet, ngomong mulu kek lebah bunyinya ngungg ngungg ngungg
total 1 replies
Arianeee
uda mulai tertarik nih nara
nowitsrain: iya hihi
total 1 replies
🌻Ruby Kejora
Karyanya bagus
Sukses bwt karyanya kk
Zenun
sweet😍😍
nowitsrain: Hehehe
total 1 replies
Zenun
hiya..hiya..hiya😄
Zenun
widih mantap dah
setiap manusia hidup didunia ini memiliki badai masing-masing, dimana kita tidak akan pernah tau seberapa dahsyat badai orang lain, karena kita tidak berada di posisi nya.... KATA KATA YANG SERING KITA LUPAKAN SAAT KITA MENERIMA SEBUAH UJIAN DALAM HIDUP KITA. terimakasih kak atas tulisan ini karna sejati nya bersyukur itu tak perlu menunggu saat kita bahagia 🥰🥰🥰🥰
nowitsrain: Terima kasih, ya, sudah mau baca :) ... sehat selalu!
total 1 replies
Zenun
semangat sekala, semangat Kin, semangat juga untuk kakak
nowitsrain: terima kasih :)
total 1 replies
@Biru791
kapan aja ini up nya thour
nowitsrain: up setiap hari ya
total 1 replies
Zenun
ehehehe
Zenun
udah gak pake pacaran lagi
Zenun: bagus sih begitu
total 2 replies
Zenun
kibar?
nowitsrain: udah mau tamat masa ada pemain baru wkwk
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!