"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Dingin
“Kenapa? Aku mencintaimu…Kenapa kamu jadi seperti ini?” Seorang wanita yang memuntahkan darah segar dari mulutnya. Mahkota Phoenix masih menghiasi rambutnya. Namun bukan pakaian sutra yang kini dikenakan, hanya pakaian putih biasa.
Darah segar yang terus mengalir dari mulutnya. Menatap ke arah pria yang dicintainya. Pria yang menggunakan jubah naga.
“Seluruh anggota keluarga Lin sudah dieksekusi. Atas tuduhan melakukan pemberontakan.” Itulah yang diucapkan oleh sang Kaisar penuh senyuman arogan.
“Pemberontakan? Ayah…adik…mereka tidak mungkin—” kalimat dari permaisuri Lin Krisan terhenti.
Suara tawa Kaisar menggema, pria itu menatapnya penuh senyuman. Kemudian mendekat dan berbisik di telinganya.”Benar-benar kotor dan menyedihkan, biar aku katakan satu rahasia padamu. Mereka memang tidak melakukan pemberontakan, aku yang melakukannya. Aku yang meletakkan bukti-bukti palsu di kediaman Lin.”
“Brengsek! Ayahku sudah sepenuh hati untuk mendukungmu…kamu tidak ingat? Bagaimana saat kamu terkepung di medan perang, ketika menjadi pangeran yang tidak diperhitungkan. Ayah dan adikku yang datang untuk menyelamatkanmu!” Suara teriakan darinya, wanita yang kembali memegangi dadanya memuntahkan darah dari mulutnya.
Tubuhnya sudah rusak, mengalami keracunan. Lebih tepatnya diracuni sedikit demi sedikit.
“Dia hanya orang tua yang serakah. Jendral Lin hanya pejabat yang serakah. Jenderal yang memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada aku. Seluruh rakyat di kekaisaran ini memujinya. Sementara aku? Aku adalah seorang Kaisar! Kematian memang pantas untuknya, yang selalu ingin menginjakku…” kalimat penuh senyuman yang diucapkan oleh pria itu.
Pupil mata sang permaisuri bergetar penuh kekecewaan. Perlahan wanita itu tertawa, sebuah tawa yang sumbang dan aneh. Air matanya mengalir.”Jadi ini adalah alasan Kenapa bahkan setelah belasan tahun menikah kamu tidak menyentuhku? Kamu takut akan kekuasaan keluarga Lin. Jika aku melahirkan anak untukmu, maka anak itu kemungkinan besar akan menjadi Kaisar berikutnya. Kamu takut dengan keluarga Lin. Aku mencintaimu…ayahku benar-benar tulus padamu…ha…ha…ha…” wanita yang kembali tertawa sumbang. Benar-benar penuh dengan kekecewaan dan rasa sakit.
Selir agung yang dari tadi berada di samping Kaisar, bergelayut manja, kemudian sedikit bersembunyi. Wanita itu berucap pelan.”Yang mulia Erlin takut…kak Krisan terlihat begitu menyeramkan dan menjijikan. Nanti akan membawa sial bagi anak kita.”
Wanita yang merupakan selir kesayangan Kaisar tersebut tersenyum. Membelai perutnya yang membuncit, sudah 5 anak yang dilahirkan olehnya untuk Kaisar. Dan ini adalah kehamilan keenam baginya.
Sedangkan Krisan tidak melahirkan seorang anak pun. Wanita yang hanya dapat menangis sembari tertawa, menatap ke arah darahnya yang terus mengalir dari mulutnya, menetes ke lantai istana dingin ini.
Bertahun-tahun dirinya mengharapkan cinta Kaisar. Mengharapkan sedikit saja perhatian, seperti yang diberikan oleh pemuda itu saat sebelum menikahinya. Tapi bagaikan satupun tidak didapatkan olehnya.
“Ha…ha…ha…ha…” wanita itu tertawa miris, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Terlihat begitu menyedihkan saat ini, dirinya dulunya adalah Nona muda pertama dari keluarga Lin. Keluarga Jenderal yang paling dihormati. Wanita paling berbakat di ibukota, terpikat oleh salah satu pangeran. Kemudian menikahinya dan menjadikannya Kaisar.
Tapi inilah akhir nasibnya.
“Sebaiknya kamu mati…” Kaisar melirik ke arah dayang, wajahnya menyeringai. Tatapan matanya terlihat begitu dingin, dayang yang mengerti akan isyaratnya memegangi sang permaisuri.
Memaksanya untuk meminum semangkok racun. Dirinya berusaha melawan, tapi hampir tidak memiliki tenaga. Membiarkan cairan itu merusak tubuhnya.
Pada akhirnya dirinya berbaring di lantai yang dingin. Beberapa kali memuntahkan darah lagi. Menatap ke arah Kaisar, yang pergi dengan merangkul pinggang selir kesayangannya.
Seorang wanita yang mati dengan penuh penyesalan. Seharusnya dirinya mendengarkan ayahnya. Seharusnya dirinya menuruti keinginan terakhir ibunya.
Seharusnya dirinya tidak terpikat akan cinta. Wanita yang bergumam dengan sisa tenaga terakhirnya.
Tangannya terangkat, seakan-akan mencoba untuk meraih kaisar yang pergi melalui pintu depan istana dingin.
Hujan salju yang turun, dirinya perlahan berucap. Saat dingin merasuk ke dalam kulitnya.”Jika ada kehidupan kedua aku tidak ingin cintamu. Aku akan lebih memilih merebut tahta…”
Perlahan sinar mata itu memudar. Mengantarnya ke dalam kematian, tangannya masih terulur ke arah pintu keluar.
Tempat seseorang pada akhirnya masuk, menerobos ke dalam istana dingin. Seorang pria, yang kemudian mendekati dan memeluknya. Lebih tepatnya memeluk jasadnya, seseorang pria yang menangis untuknya.”Yang mulia permaisuri…yang mulia...”
***
Namun ada yang aneh, ketika dirinya berpikir kematian telah menjemputnya. Ketika dirinya berpikir akan melihat kedua orang tuanya dan kakaknya di akhirat.
Dirinya terbangun, menatap ke arah sekitarnya. Seharusnya ini adalah musim dingin. Tapi kenapa udara terasa hangat? Lalu kenapa dirinya tidak mati?
“Yang mulia, sudah aku bilang, lebih baik mengadukan ini kepada ayah anda. Bagaimana bisa yang mulia Kaisar begitu tidak adil. Seharusnya tanggal 15 tepat pada saat pertengahan bulan, menghabiskan malam dengan anda.” Shi Riri (dayang kepercayaan permaisuri) berada di sampingnya, tengah menggosokkan tinta untuknya.
Matanya melirik ke arah sekitar. Ini bukan istana dingin, ini adalah istana Phoenix. Istana yang ditempati oleh permaisuri, sang permaisuri menatap ke arah jemari tangannya sendiri.
Bukankah Shi Riri seharusnya sudah meninggal karena dihukum mati oleh kaisar?
Pelayannya yang paling setia, Kenapa masih hidup? Apakah ini akhirat?
“Kaisar bahkan memiliki lebih banyak anak lagi dari selir lainnya. Seperti seekor kelinci jantan yang terus kawin.” Komat kami pelayan itu mengomel.
Kalimat ini, tempat ini…dirinya segera bangkit dari tempatnya duduk.”Riri, ini tanggal berapa?”
“Musim semi, tahun ke 564. Kenapa?” Tanya sang pelayan tidak mengerti.
“Aku kembali ke 15 tahun lalu…” pada akhirnya sang permaisuri tersenyum, perlahan tertawa. Tawa yang begitu kencang menatap ke arah cermin kuningan yang ada di hadapannya. Wajahnya terlihat jauh lebih muda, tubuhnya juga terasa jauh lebih sehat.
“Jadi apa yang mulia akan mengadukan ini kepada jenderal?” Tanya sang pelayan kepada majikannya.
Permaisuri Lin Krisan tersenyum, di kehidupan lalu dirinya mengadukan ini kepada ayahnya. Pada akhirnya Kaisar memang menghabiskan malam dengannya. Bersedia menghabiskan malam, tapi malah menyuruhnya tidur di lantai yang dingin. Sedangkan Kaisar pada akhirnya tidur di atas tempat tidur yang hangat. Semua hanya formalitas agar tidak mengundang kemarahan dari jenderal Lin.
“Tidak…” wanita itu meraih kuasnya. Tangannya bergerak begitu lihai, menuliskan sebuah surat untuk ayahnya.
“Yang mulia, apa yang Anda tulis? Jika tidak membuat tentang keluhan mengenai kaisar yang melanggar aturan, untuk menghabiskan malam dengan anda, maka---” Sang pelayan terlihat penasaran.
“Aku hanya menulis keluh kesahku sebagai permaisuri. Sekaligus sebagai Putri tunggal kediaman Jendral.” Wanita yang menggoreskan kuasnya di atas kertas.
Sang pelayan yang penasaran perlahan mengintip. Wanita yang tiba-tiba saja membulatkan matanya.
“Yang mulai akan menghentikan bantuan bencana atas nama Kaisar? Tapi bukankah Kaisar akan murka pada yang mulia…” langkah demi langkah yang tidak dimengerti oleh sang pelayan. Seharusnya permaisuri menarik perhatian Kaisar hingga bersedia menghabiskan malam dengannya.
“Uang adalah uang keluargaku. Bukan uangnya, Lalu kenapa aku harus keluar uang atas nama Kaisar. Lebih baik nikmati bukan? Aku juga harus membeli beberapa kain sutera, permata dan batu giok baru.” Sang permaisuri tersenyum, bahkan tertawa.
Dirinya dulu begitu bodoh menggunakan harta keluarga Lin untuk kepentingan suaminya.
Tapi kali ini tidak lagi. Wajah sang permaisuri terlihat begitu cerah.”Antar surat ini, dan sampaikan kepada ayahku. Ada banyak pengungsi di luar kota, lebih baik bagikan bubur atas nama keluarga Lin. Ingat! Harus atas nama keluarga Lin, bukan atas nama Kaisar lagi.”
Kecantikan, uang, kekuasaan, bahkan relasi di bidang politik. Dirinya memiliki semuanya, menginjak Kaisar sialan itu bukan hal yang sulit bagi keluarga Lin.
"Aku akan menarik pelan-pelan dukungan politikku. Jika tidak bisa melahirkan darah naga. Maka aku tinggal mengadopsinya..." Permaisuri yang menyeringai, mulai menggunakan satu persatu perhiasan miliknya.
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣