NovelToon NovelToon
Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.

Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.

"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.

Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Disti mengusap pipinya yang masih terasa perih. Tatapannya dipenuhi amarah dan rasa malu karena menjadi pusat perhatian.

"Kamu ... berani menamparku di depan banyak orang?" desisnya.

Tara tetap berdiri tegak.

"Aku menamparmu karena kamu sudah melewati batas. Kalau memang kamu punya bukti atas semua tuduhanmu, silakan tunjukkan di pengadilan. Jangan asal melempar fitnah!" tegas Tara tanpa getar sedikitpun.

Disti terkekeh sinis. "Kamu pikir aku takut? Tidak!"

Tara menjawab singkat.

"Tapi seharusnya kamu mulai belajar takut pada konsekuensi dari ucapanmu sendiri."

Kalimat itu membuat Disti mengepalkan kedua tangannya. Seumur hidup, belum pernah ada yang berani mempermalukannya seperti ini.

Di sisi lain, Kenzo masih diam mengamati.

Sorot matanya bergantian memandang Tara dan Disti, seolah sedang menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini hilang.

"Satpam!" bentak Disti tiba-tiba.

Dua petugas keamanan yang berjaga di lobi segera menghampiri.

"Usir wanita ini! Dia sudah menyerang saya!"

Kedua satpam saling berpandangan kebingungan. Sebelum mereka sempat mengatakan apa pun, suara berat Kenzo terdengar.

"Tidak perlu!"

Semua orang langsung menoleh. Kenzo melangkah maju hingga berdiri di samping Tara.

"Selama saya berada di sini," katanya tenang namun penuh wibawa, "tidak ada seorang pun yang berhak mengusir Nona Tara."

Disti membelalak. "Tuan Kenzo ... Anda membelanya?"

"Saya hanya tidak suka melihat seseorang menuduh orang lain tanpa bukti." Nada suara Kenzo tetap datar, tetapi cukup membuat kedua satpam mengerti bahwa mereka tidak perlu ikut campur.

Disti menggigit bibirnya.

"Baik." Ia mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita liat aja nanti."

Setelah mengucapkan itu, Disti berbalik dan melangkah pergi dengan langkah cepat. Meski berusaha terlihat tenang, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia menahan rasa malu dan dendam. Begitu Disti menghilang dari lobi, suasana kembali hening.

Kenzo menoleh kepada Tara.

"Apakah dia yang membuatmu menghilang enam tahun lalu, Tata?"

Pertanyaan itu membuat Tara terdiam, matanya perlahan membesar. Ia tidak menyangka Kenzo mampu menebak sejauh itu. Sementara itu, jauh di dalam hati Kenzo, keyakinannya semakin kuat.

Tara memecahkan keheningan lebih dulu, sebelum semuanya terbongkar. Sorot matanya penuh kewaspadaan.

"Bagaimana ... Anda tahu nama itu?"

Kenzo menatapnya tanpa berkedip.

"Nama apa?"

"Tata..." suara Tara terdengar lebih pelan, tetapi jelas.

"Itu nama yang baru saja Anda ucapkan." Ia menggeleng perlahan.

"Itu nama yang tidak diketahui banyak orang."

Kenzo masih diam.

Sementara, Tara berusaha mengendalikan napasnya yang mulai tidak beraturan.

'Mustahil...' batinnya.

Nama Tata bukanlah nama yang pernah ia gunakan di Indonesia. Selama bekerja di Hong Kong, ia selalu menjaga identitas pribadinya serapat mungkin. Bagaimana pria di hadapannya bisa mengetahuinya. Melihat Kenzo tidak menjawab, Tara buru-buru menarik kesimpulannya sendiri.

"Anda salah mengenal orang."

Ekspresinya kembali datar, seolah ingin memutus pembicaraan itu.

"Saya bukan Tata. Saya juga bukan pengacara dari Hong Kong yang sedang ramai dibicarakan itu." Ia mengangkat dagunya sedikit, padahal jelas-jelas biodatanya menunjukkan dia baru kembali dari Hong kong, Tara melupakan itu.

"Nama saya Tara Devika Halim, dan itu identitas saya."

Tatapan Kenzo tidak berubah sedikit pun.

"Boleh saja kamu menyangkal." Suara pria itu tetap tenang.

"Tapi mataku tidak mungkin salah."

Tara berusaha tersenyum tipis, "kalau begitu, Tuan memang sedang keliru. Saya tidak pernah mengenal Anda sebelum hari ini."

"Benarkah?"

Pertanyaan singkat itu membuat Tara kembali membeku. Kenzo melangkah mendekat hingga hanya tersisa satu langkah di antara mereka.

"Dulu, enam tahun yang lalu, kamu juga mengatakan hal yang sama."

Tara mengernyit, "apa maksud Anda?"

Kenzo menghela napas pelan.

"Malam itu kamu terus meminta maaf, kamu memohon agar kami tidak menyerahkan kamu pada pria yang mengejar itu. Dan hari ini kamu menyangkal kalau kita tidak saling bertemu?" Kenzo menatap lekat ke arah Tara.

"Padahal malam itu kit..."

Tara mundur selangkah tanpa sadar, "anda..." bibirnya bergetar. "Siapa sebenarnya Anda?"

Kenzo menatap Tara tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.

"Saya adalah Kenzo Roman De Luca." Suaranya tenang, tetapi setiap katanya terdengar begitu jelas.

"Pria yang berada di dalam mobil itu enam tahun yang lalu." Ia berhenti sejenak. "Di malam saat saya dan asisten saya mau pulang, tiba-tiba kamu menyelinap masuk ke dalam mobil kami," Kenzo mengembuskan napas pelan.

"Seharusnya Nona Tara tidak melupakan sosok itu."

Ucapan itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Kedua mata Tara membelalak lebar. Seluruh tubuhnya mendadak membeku. Potongan-potongan ingatan yang selama ini kabur mulai tersusun satu per satu. Pria yang wajahnya tidak pernah ia lihat dengan jelas. Pria itu berdiri tepat di hadapannya.

"Jadi..." bibir Tara bergetar. "Anda..."

Tidak ada lagi kata yang mampu keluar dari mulutnya. Di dalam hatinya hanya ada satu kalimat yang terus bergema.

'Jadi ... dia Daddy dari anak-anakku...' Tara mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya perlahan memucat, dia tahu betul siapa Kenzo Roman De Luca. Bukan hanya seorang pengusaha sukses. Melainkan pria yang memiliki kekuasaan, pengaruh, dan kemampuan untuk mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

'Kalau dia benar-benar tahu Mateo dan Alisya adalah anaknya, dia pasti tidak akan melepaskan kami.'

Pikiran itu membuat napas Tara semakin memburu. Tanpa sadar ia mundur selangkah. Kenzo menangkap perubahan ekspresi itu.

"Kamu takut pada saya?" tanyanya pelan.

Tara menggeleng cepat. "Tidak..." tetapi suaranya justru bergetar.

"Aku hanya..." Ia menelan ludah.

"Tidak pernah menyangka kita akan bertemu lagi."

Kenzo mengamatinya beberapa saat sebelum berkata dengan nada yang sulit ditebak.

"Selama enam tahun, aku mencari wanita yang ada di dalam mobil itu." Tatapannya kemudian berubah lembut saat mengingat Mateo dan Alisya.

"Dan sekarang aku akhirnya menemukannya."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Bagi Tara, kalimat itu bukanlah sebuah kelegaan. Melainkan awal dari kenyataan yang selama enam tahun terakhir berusaha mati-matian ia sembunyikan.

"Anda tau betul apa yang membuat saya rugi. Anda hamil dan melahirkan pewaris De Luca tanpa sepengetahuan kami. Dan membiarkan mereka besar tanpa pengawasan keluarga De Luca," ujar Kenzo dingin dengan tatapan yang datar.

"Anda..."

"Mommy!" teriak Alisya berlari ke arah Tara, bocah perempuan itu memeluk ibunya dengan erat.

"Kita akan kaya! Kakak punya banyak syaham, dia akan membeli kita lumah yang besal dan mobil yang mewah," lanjut Alisya dengan antusias tanpa tahu, jika sosok yang berdiri di antara mereka adalah pria yang selama ini mereka cari-cari.

Dari jauh terlihat Mateo melangkah mendekat, dengan tangan di masukan ke celana seragam paudnya.

"Kami pulang dulu, Tuan Kenzo. Permisi," ucap Tara dan buru-buru menarik tangan Mateo ketika bocah itu sudah hampir dekat.

"Ayo, pulang! Mommy teringat sesuatu yang mendesak," ucap Tara, sembari tak melepaskan tangan Alisya ataupun Mateo.

"Tapi mommy ... Daddy," ucap Alisya yang melihat Kenzo berdiri dengan kening yang berkerut.

1
Enny Suhartini
cerita nya sat set asik
Teh Euis Tea
Kenzo udah suami istri msh aj ketus sm Tara, dari sekarang belajar lemah lembut sm ibunya anak2mu, ntar ga di kasih ehem ehem loh ken 🤭🤭🤭🤭🤭
Lisa Halik
semangat thor..gift menyusul
Lisa Halik
daddy kenzo😍😍😍😍
mimief
wkwkwkkw
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
dewi rofiqoh
Mungkin kenzo mau minta panggilan khusus dari kamu tara🤔🤔
Rudy satria
loh,ko bukannya di bab sebelumnya Tara dah di perkenalkan sebagai istri,tiba² bgt ganti topik😅😅
dewi: 🤣🤣🤣 iya kk
total 4 replies
dyah EkaPratiwi
jangan galak2 sama Tara ya kenzo
dyah EkaPratiwi
jangan galak2 sama Tara ya kenzo
dyah EkaPratiwi
love sekebon Daddy sat set sekali
Esther
Kenzo bkn orang yg suka basa basi....satset langsung diumumkan pernikahannya dan nama istrinya👍👍
+52
dad.. anakmu tidak bisa dikondisikan mulutnya 😭
Mukeseh
hohoho gercep amat bsng 😂
Rokhyati Mamih
sat set apalagi kalau up nya banyak banyak 💪💪💪
neny
keren,,gk mau bertele tele ya zo,,god luck pokok nya mah
Rohmi Yatun
sangat gentleman sekali.. 👍
Ita rahmawati
jeng jeng pada kaget pasti 😂
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Al Fatih
waow.....,, sat set yaa Daddy ken🤭...
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅
Helen@Ellen@Len'z: yess....yess.................,.
total 2 replies
Ema Susanti
mana up lagi
Lisa Halik
🤣🤣jujurnya kenzo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!