NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memberi payung

Hujan siang hari itu turun dengan sangat deras, mengubah langit Kota C menjadi kanvas abu-abu yang suram. Davina baru saja keluar dari toko buku kecil di seberang gerbang PAUD Al-Ghajali. Ia membeli beberapa buku cerita bergambar untuk Zahra. Karena hujan datang tiba-tiba tanpa peringatan, Davina terpaksa berteduh di bawah atap teras toko buku yang sempit, sambil memeluk tas belanjaannya erat-erat untuk melindungi buku-buku tersebut.

Ia mengecek jam tangannya. 12.30 Zahra masih berada di dalam kelas tambahan selama 30 menit lagi. Davina menghela napas, menatap genangan air di depan kakinya. Ia berharap hujan segera reda agar ia bisa segera menyeberang ke sekolah.

Tiba-tiba, sebuah mobil alphard hitam mewah melaju pelan dan berhenti tepat di depan teras tempat Davina berdiri. Kaca jendela sisi penumpang turun perlahan.

Davina mendongak, dan napasnya tercekat.

Di balik kemudi, duduk seorang pria dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya tampan, namun terlihat serius. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Davina.

Itu Adit.

Jantung Davina berdegup kencang, hampir menembus dada. Instingnya berteriak untuk lari, untuk bersembunyi kembali ke dalam toko. Tapi kakinya terasa kaku. Sebelum Davina sempat bergerak, pintu mobil penumpang terbuka.

Adit keluar, membawa payung besar berwarna hitam. Ia tidak langsung menghampiri Davina, melainkan berdiri di samping mobil, seolah memberikan ruang. Namun, tatapannya terkunci pada wanita yang sedang berteduh itu.

"Davina," panggil Adit. Suaranya tenang, bersaing dengan suara hujan yang deras.

Davina menelan ludah, mencoba menstabilkan napasnya. Ia menarik tudung hoodie-nya sedikit lebih rendah, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya yang panik.

"A-Adit..." suaranya serak.

Adit melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan, sekitar dua meter dari Davina. Ia tidak masuk ke area teras yang sempit, agar Davina tidak merasa terjebak.

"Maaf jika aku mengejutkanmu," ucap Adit, suaranya lembut namun tegas. "Aku melihatmu berdiri di sini sendirian. Hujannya sangat deras."

Davina mengerutkan kening, rasa curiga muncul. "Apa... apa yang kamu lakukan di sini?"

Adit menunjuk ke arah gedung sekolah di seberang jalan dengan dagunya. "Ini adalah sekolah milikku, Davina. Yayasan Al-Ghajali. Aku sering datang ke sini untuk memantau operasional, bertemu dengan kepala sekolah, dan memastikan standar pendidikan terjaga. Kebetulan hari ini ada rapat evaluasi fasilitas dengan tim manajemen." di dalamnya Hanya fakta bisnis, agar Davina tidak terlalu curiga bahwa sebenarnya Adit hanya ingin melihatnya.

Davina sedikit menurunkan kewaspadaannya, meski hatinya masih waspada. "Oh... jadi kamu memang benar-benar pemiliknya."

"Iya," jawab Adit singkat. Ia lalu menatap Davina lekat-lekat, matanya menyapu wajah wanita itu yang tampak pucat karena kedinginan. "Kamu basah, Davina. Hoodiemu juga sudah mulai tembus air."

Davina menyadari bahwa bahu kirinya memang sudah basah kuyup karena angin menerbangkan air hujan ke arah teras. Ia menggigil sedikit.

"Aku... aku baik-baik saja," bantah Davina, meski giginya mulai bergemetar. "Aku tunggu hujan reda sebentar lagi."

"Hujan ini diperkirakan akan terus turun hingga malam," ucap Adit, melihat aplikasi cuaca di ponselnya sekilas. "Dan Zahra akan pulang dalam 20 menit. Kamu tidak mungkin menunggu di sini sampai saat itu. Kamu bisa sakit."

Davina terdiam. Adit benar. Dan yang lebih parah, ia tidak punya payung.

Adit kemudian melakukan sesuatu yang membuat Davina terkejut. Ia tidak memaksa Davina masuk ke mobilnya. Sebaliknya, ia mengambil jaket blazer cadangan dari kursi belakang mobilnya—jaket berbahan tebal dan hangat—lalu melemparkannya dengan hati-hati ke arah Davina. Jaket itu mendarat dengan lembut di tangan Davina.

"Pakai ini," perintah Adit pelan. "Aku punya jaket lain di mobil. Ini hanya pinjaman. Kembalikan nanti jika kamu mau, atau tinggalkan di resepsionis sekolah."

Davina memegang jaket itu. Masih hangat dari tubuh Adit. Wangi khas parfum Adit campuran kayu dan citrus,tercium samar. Aroma yang pernah sangat akrab bagi Davina tujuh tahun lalu. Aroma yang kini membangkitkan memori yang ingin ia kubur.

"Aku... aku nggak perlu," tolak Davina lemah, meski tubuhnya sangat membutuhkan kehangatan itu.

"Davina," suara Adit menjadi lebih serius. "Jangan keras kepala. Demi Zahra. Jika kamu sakit, siapa yang akan menjemputnya? Siapa yang akan merawatnya?"

Kata-kata itu mengenai sasaran. Davina teringat pada Zahra. Ia tidak boleh sakit. Ia harus kuat untuk putrinya.

Dengan tangan gemetar, Davina akhirnya mengenakan jaket blazer Adit. Jaket itu terlalu besar untuk tubuhnya, membuatnya terlihat kecil dan rapuh. Namun, kehangatannya menyebar cepat ke seluruh tubuhnya, mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang.

Adit tersenyum tipis, senyum yang sangat halus dan tidak memaksa. "Terima kasih," bisiknya, seolah berterima kasih karena Davina telah menerima bantuannya.

Mereka berdiri dalam hening sejenak. Hanya suara hujan yang mengisi kehampaan di antara mereka.

Davina menatap Adit dari balik rambutnya yang basah. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, ia melihat Adit bukan sebagai monster yang menghancurkannya, tapi sebagai manusia yang tampaknya... berubah. Lebih dewasa. Lebih tenang.

Detak jantung Davina mulai melambat, namun diganti dengan perasaan aneh di dadanya.

Deg-degan. Bukan karena takut, tapi karena kedekatan fisik yang tiba-tiba. Karena aroma yang familiar. Karena kebaikan kecil yang tidak ia duga.

Adit juga merasakan hal serupa. Saat melihat Davina mengenakan jaketnya, ada rasa kepemilikan lama yang bangkit, namun ia menekannya kuat-kuat. Ia tidak ingin menakuti Davina. Ia ingin membangun kepercayaan, langkah demi langkah.

Tiba-tiba, Adit bertanya dengan nada santai, seolah hanya basa-basi biasa. Pertanyaan yang sebenarnya adalah jebakan halus untuk mengetahui status pernikahan Davina saat ini.

"Ngomong-ngomong, Davina..." Adit memulai, matanya tetap tertuju pada wajah Davina, mengamati setiap inci wajah davina. "Ngomong- ngomong suamimu kemana ? Dia tidak antar-jemput kamu hari ini? Atau dia sedang sibuk?"

Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong bagi Davina.

Darahnya membeku.

Dia belum tahu, pikir Davina cepat. Adit belum tahu kalau aku sudah bercerai.

Jika Adit tahu mereka sudah bercerai, sikapnya mungkin akan berubah. Mungkin ia akan lebih agresif. Atau mungkin ia akan merasa berhak untuk masuk kembali ke hidupnya. Davina tidak siap untuk konfrontasi itu. Ia butuh waktu. Ia butuh alasan untuk menjaga jarak tanpa memicu kecurigaan Adit bahwa ia sekarang "tersedia".

Jadi, Davina berbohong.

"Dia... dia sedang kerja di luar kota," jawab Davina datar, menghindari kontak mata Adit. "Proyeknya lama, jadi dia belum pulang-pulang. Makanya aku yang antar-jemput Zahra sendiri untuk sementara dia menetap di Kota A."

Bohong. Rio sudah pergi sejak bulan lalu dan tidak ada tanda-tanda akan kembali untuk tinggal bersama mereka lagi. Perceraian mereka belum terjadi.Namun Davina memutuskan untuk berpisah dan menetap di kota A.

Adit mendengarkan jawaban itu dengan seksama. Matanya menyipit sedikit, seolah menganalisis kebenaran kata-kata Davina. Ada jeda hening yang canggung.

"Oh," ucap Adit akhirnya, suaranya datar. "Pantas saja kamu terlihat lelah. Mengurus anak dan pekerjaan sendirian pasti berat, apalagi jika suami jarang di rumah, jadi kalian LDR ya ."

Nada suara Adit terdengar simpatik, namun ada nada lain di baliknya. Nada yang sulit dibaca. Apakah ia percaya? Atau apakah ia sedang menguji Davina?

Davina hanya mengangguk kaku, merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan ini. Ia ingin segera mengakhiri percakapan.

"Zahra pasti senang melihat bukunya nanti," ucap Adit tiba-tiba, mengubah topik menjadi hal yang netral. "Dia anak yang cerdas. Bu Sari sering memujinya."

Davina menghela napas lega karena topik berganti. "Iya... dia suka sekali membaca."

"Itu bagus," jawab Adit. "Literasi sejak dini sangat penting."

Percakapan itu dangkal, aman, dan profesional. Tapi di balik kata-kata biasa itu, ada arus bawah emosi yang kuat. Keduanya sadar bahwa mereka sedang menari di atas es tipis. Satu langkah salah, dan semuanya bisa hancur.

Tiba-tiba, bel sekolah berbunyi dari kejauhan, meski tertutup suara hujan. Tanda bahwa murid al ghajali sudah pulang.

"Aku harus menjemput Zahra," ucap Davina, melepaskan jaket Adit dengan enggan. Ia mengembalikannya. "Terima kasih... untuk jaketnya."

Adit menerima jaket itu, jari-jarinya sengaja bersentuhan singkat dengan tangan Davina. Sentuhan listrik itu membuat keduanya tersentak.

"Sama-sama," jawab Adit. "Hati-hati di jalan, Davina.Adit memberikan payung miliknya kepada davina. Jangan lupa pakai payung jika hujan belum reda. Dan... sampaikan salamku untuk suamimu. Semoga pekerjaannya lancar."

Kalimat terakhir itu terdengar seperti sindiran halus, atau mungkin sekadar kesopanan yang dingin. Davina tidak menjawab, hanya mengangguk kaku.

Davina kemudian berlari kecil menyeberang jalan menuju gerbang sekolah, menerobos hujan yang mulai agak reda dengan memakai payung pemberian Adit. Ia tidak menoleh ke belakang.

Adit berdiri di sana, memegang jaketnya yang masih menyimpan sisa kehangatan tubuh Davina. Ia menatap punggung wanita itu hingga menghilang di balik gerbang sekolah.

Wajah Adit menjadi serius. Senyum tipisnya hilang.

"Suami sedang kerja di luar kota..." gumam Adit pelan. Lanjut adit " benar - benar pembohong yang handal "

Matanya menatap tajam ke arah gerbang sekolah. Insting  yang tajam mencium ketidakwajaran. Davina terlihat terlalu mandiri, terlalu lelah, dan terlalu sering sendirian untuk seorang wanita yang memiliki suami yang mendukung. Selain itu, Dimas (teman kuliahnya) pernah menyebutkan sekilas tentang masalah pernikahan Davina, meskipun detailnya belum jelas.

Adit belum sepenuhnya percaya. Tapi ia juga belum ingin menekan Davina terlalu keras. Jika Davina berbohong, berarti ada alasan. Dan Adit bertekad untuk mencari tahu alasan itu.

Jika kamu berbohong, Vina... pikir Adit, berarti kamu masih menutupi sesuatu. Dan aku akan menemukan kebenarannya. Perlahan-lahan.

Adit kembali ke mobilnya, menyalakan mesin, dan berkendara perlahan meninggalkan area tersebut. Ia tidak mengikuti Davina. Ia memberinya ruang. Karena Adit tahu, untuk mendapatkan kembali hati Davina, atau setidaknya, untuk memahami kehidupan Davina saat ini,ia harus memang sabar.

Dan di dalam gerbang sekolah, Davina berdiri menahan napas, dadanya masih berdegup kencang. Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantung yang tidak normal.

Aku berbohong padanya, pikir Davina cemas. Semoga dia percaya. Semoga dia tidak mencari tahu lebih dalam.

Tapi Davina tahu, Adit bukan pria yang mudah dibohongi. Topeng kebohongan itu mungkin hanya akan bertahan sebentar. Dan ketika topeng itu jatuh, Davina tidak tahu apa yang akan terjadi.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
ica
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!