NovelToon NovelToon
Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Permen

Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.

Tapi takdir berkata lain.

Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.

Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Belas

Begitu fajar menyingsing, Qingxing diam-diam bangun dari tempat tidur. Dengan mantel tua di tubuhnya, ia membuka pintu belakang Halaman Timur dan pergi memeriksa tembok belakang sesuai perintah Lin Xiao.

Ia sebenarnya tidak terlalu berharap menemukan apa pun. Ia bahkan merasa mungkin majikannya hanya salah lihat karena mengantuk.

Namun, ketika tiba di dekat tembok, ia langsung membeku.

Ada satu batu bata yang longgar.

Bukan longgar karena usia, melainkan jelas pernah dicabut dan dipasang kembali dengan sengaja.

Tanah di sekitarnya tampak baru tergali, dan di sela-sela batu bata terselip sepotong kertas minyak yang terlipat.

Jantung Qingxing langsung berdebar kencang.

Ia menoleh ke arah Halaman Timur untuk memastikan tak ada yang melihat, lalu berjongkok dan perlahan menarik batu bata itu.

Di bawahnya tersembunyi sebuah surat.

Amplopnya terbuat dari kertas biasa, tanpa nama pengirim maupun cap apa pun. Ketika disentuh, isinya hanya selembar kertas tipis.

Qingxing menelan ludah, memasang kembali batu bata itu, menyembunyikan surat di dadanya, lalu berlari kembali ke halaman.

Lin Xiao sedang menyisir rambut ketika melihat Qingxing masuk dengan wajah pucat. Ia meletakkan sisirnya.

"Kau menemukannya?"

Qingxing mengeluarkan surat itu dengan tangan gemetar.

"Nyonya... benar-benar ada sesuatu yang disembunyikan di bawah tembok..."

Lin Xiao menerima surat itu, membuka segelnya, lalu mengeluarkan secarik kertas dari dalam.

Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan rapi, seolah berasal dari tangan seorang terpelajar:

"Obat Nyonya Tua bermasalah. Orang yang mengganti obat bukan berasal dari ruang obat."

Tidak ada nama.

Tidak ada tanggal.

Tidak ada tanda tangan.

Lin Xiao menatap tulisan itu selama beberapa saat, lalu melipatnya dan menyelipkannya ke lengan bajunya.

"Qingxing."

"Aku di sini..."

"Pagi ini, banyak orang yang melihatmu?"

Qingxing menggeleng.

"Aku keluar lewat pintu belakang, tidak melewati halaman depan. Sepanjang jalan tidak bertemu siapa pun."

"Bagus." kata Lin Xiao. "Masalah ini jangan sampai diketahui orang ketiga selain kita."

Qingxing mengangguk kuat-kuat. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya kini jauh lebih tegas.

Lin Xiao duduk di depan meja rias dan menatap dirinya di cermin.

Ia tidak mengenali tulisan tangan dalam surat itu, dan ia juga tidak tahu siapa pengirimnya.

Namun, ada satu hal yang dapat dipastikannya.

Orang itu tahu bahwa obat Nyonya Tua bermasalah.

Orang itu tahu bahwa pelaku penggantian obat bukanlah tabib di ruang obat.

Dan orang itu tidak ingin identitasnya terbongkar.

Seseorang sedang bersembunyi dalam bayang-bayang.

Dan orang itu menginginkan kemenangan Lin Xiao.

Ia kembali mengeluarkan surat tersebut dan mengamatinya di bawah cahaya.

Kertasnya biasa saja, tanpa cap air maupun tanda rahasia. Tulisan tangannya rapi, tetapi beberapa guratan akhirnya tampak tergesa-gesa, seolah ditulis dalam keadaan terburu-buru.

Setelah menyimpannya kembali, Lin Xiao berdiri.

"Qingxing, pagi ini jangan pergi mengambil makanan dari dapur."

Qingxing terkejut.

"Hah? Kalau begitu kita makan apa?"

"Makan sisa kemarin." jawab Lin Xiao. "Setelah lewat tengah hari baru kita pikirkan lagi."

Meski tidak mengerti alasannya, Qingxing tetap mengangguk dan pergi ke dapur kecil.

Lin Xiao berdiri sendirian di depan jendela, memandangi pohon begonia di halaman.

Surat itu hanya memberitahunya dua hal.

Pertama, obat Nyonya Tua memang bermasalah.

Kedua, pelakunya bukan berasal dari ruang obat.

Jika kedua fakta itu digabungkan, ruang lingkupnya langsung menyempit.

Pelaku berada di dalam kediaman Marquis.

Di sisi Nyonya Tua.

Atau justru di dalam Halaman Timur.

Tiba-tiba, Lin Xiao teringat seseorang.

Nenek Liu, wanita tua yang mengantarkan obat pagi itu.

Nenek Liu adalah pelayan pendamping Nyonya Tua sejak masa pernikahannya dan telah tinggal di kediaman Marquis selama empat puluh tahun. Ia mengenal setiap sudut rumah dan setiap orang di dalamnya.

Ia bisa mengakses obat-obatan Nyonya Tua.

Ia juga bisa mengakses makanan dan minuman Halaman Timur.

Jika ingin melakukan sesuatu pada obat kedua orang itu, ia punya banyak kesempatan.

Tetapi...

Mengapa Nenek Liu melakukan hal seperti itu?

Seseorang yang telah mengabdi selama empat puluh tahun, apa yang sebenarnya ia inginkan?

Lin Xiao berdiri di depan jendela cukup lama sebelum akhirnya kembali ke meja dan menulis satu kalimat:

"Siapa saja anggota keluarga Nenek Liu?"

Setelah melipat kertas itu dan meletakkannya di atas meja, ia berganti pakaian, memanggil Qingxing, lalu menuju halaman utama.

Hari itu bukan hari untuk memberi salam pagi. Biasanya Nyonya Tua tidak menerima tamu.

Namun, Lin Xiao memiliki alasan.

Kemarin, Nyonya Tua mengatakan bahwa kue osmanthus terlalu manis. Hari ini, ia bisa membawa versi yang lebih ringan dan sekalian mengobrol beberapa patah kata.

Qingxing membawa sepiring kue osmanthus baru sambil berjalan di belakang Lin Xiao. Jantungnya masih berdegup kencang, tetapi setidaknya wajahnya terlihat tenang.

Pelayan wanita di gerbang halaman utama tampak terkejut saat melihat mereka.

"Nyonya? Hari ini bukan hari memberi salam."

"Aku tahu." Lin Xiao tersenyum. "Kemarin Nyonya Tua bilang kuenya terlalu manis, jadi aku membuat yang lebih ringan. Tolong sampaikan, kalau Nyonya Tua sedang sibuk, aku akan langsung pulang setelah meninggalkannya."

Pelayan itu ragu-ragu, tetapi tetap masuk untuk melapor.

Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan ekspresi aneh.

"Nyonya Tua mempersilakan Anda masuk."

Lin Xiao dan Qingxing pun memasuki ruang utama.

Nyonya Tua sedang membaca sepucuk surat. Begitu melihat Lin Xiao, beliau melipat surat itu dan meletakkannya di atas meja.

"Membawakan kue lagi?"

"Kue kemarin terlalu manis. Aku khawatir tenggorokan Nyonya Tua terasa tidak nyaman, jadi kali ini aku mengurangi setengah sendok gula." Lin Xiao meletakkan piring di meja. "Silakan dicoba."

Nyonya Tua melirik kue itu, mengambil sepotong, lalu menggigitnya.

"Lebih baik daripada kemarin."

"Kalau begitu aku lega."

Nyonya Tua meletakkan kembali kuenya, menyeka tangan, lalu menatap Lin Xiao.

"Kau datang hari ini bukan hanya untuk mengantarkan kue, bukan?"

Lin Xiao tidak menyangkal.

"Aku memang ingin menanyakan sesuatu kepada Nyonya Tua."

"Katakan."

"Kemarin aku melihat buku catatan Halaman Timur dan menemukan pengeluaran lima tael untuk memperbaiki tembok belakang setengah tahun lalu. Namun, setelah kulihat sendiri, tidak ada bekas perbaikan di sana. Aku hanya ingin bertanya, apakah catatan itu salah, atau memang tembok itu pernah diperbaiki tetapi aku tidak menyadarinya?"

Jari-jari Nyonya Tua mengetuk meja pelan.

"Catatan setengah tahun lalu?"

"Benar. Musim gugur tahun lalu."

Nyonya Tua terdiam beberapa saat sebelum menjawab,

"Tembok itu memang pernah diperbaiki. Sebelum kau menikah ke sini, ada pintu kecil yang mengarah ke luar di sana. Setelah ditutup, bata-bata baru dipasang. Musim gugur tahun lalu, bata-bata itu mulai longgar karena usia, jadi diperkuat kembali."

Lin Xiao mengangguk.

"Jadi begitu. Aku sempat mengira bagian pembukuan salah mencatat."

"Bagian pembukuan tidak mungkin salah." kata Nyonya Tua. "Setiap pengeluaran Halaman Timur selalu kulihat sendiri."

Lin Xiao menundukkan kepala.

"Aku mengerti."

Setelah mengobrol sebentar lagi, ia pun berpamitan.

Saat keluar dari halaman utama, matahari sudah bersinar terik.

Dalam perjalanan pulang, ia melihat Nenek Liu keluar dari ruang cuci sambil membawa baskom pakaian. Wanita tua itu berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah yang tenang, sama sekali tidak berbeda dari pelayan tua biasa.

Tatapan Lin Xiao berhenti sejenak pada dirinya, lalu berpaling.

Setelah kembali ke Halaman Timur dan menutup pintu, Qingxing akhirnya tidak bisa menahan diri.

"Nyonya... kenapa tadi bertanya soal tembok itu?"

Lin Xiao duduk di dekat jendela tanpa langsung menjawab.

Pikirannya masih memutar kata-kata Nyonya Tua.

"Tembok itu memang pernah diperbaiki."

Diperkuat pada musim gugur tahun lalu.

Namun semalam, seseorang menyembunyikan surat di bawah batu bata tembok itu.

Orang yang memperbaiki tembok tersebut pasti tahu batu bata mana yang longgar, mana yang bisa dicabut, dan mana yang cukup tersembunyi untuk dijadikan tempat penyimpanan rahasia.

Apakah orang itu Nenek Liu?

Namun, perlahan Lin Xiao menyadari hal lain.

Surat itu mungkin bukan baru disembunyikan semalam.

Batu bata tersebut sudah longgar sejak setengah tahun lalu.

Artinya, surat itu bisa saja telah berada di sana sejak lama. Orang yang datang semalam mungkin hanya ingin memastikan surat itu masih ada, atau mungkin menambahkan sesuatu.

Dan orang yang mengirim surat itu kemungkinan besar mengetahui rahasia tembok tersebut.

Karena...

Mungkin dialah salah satu orang yang ikut memperbaiki tembok itu dahulu.

Atau mungkin ia menyaksikan proses perbaikannya dengan mata kepala sendiri.

Lin Xiao mengembuskan napas panjang dan memejamkan mata.

Air di kediaman Marquis ternyata jauh lebih dalam daripada yang ia duga.

Ketika membuka mata, ia kembali menatap tembok belakang Halaman Timur.

Di bawah sinar matahari, tembok itu tampak biasa saja.

Tidak ada yang istimewa.

Namun, Lin Xiao tahu.

Tembok itu bisa berbicara.

Hanya saja, ia belum selesai menceritakan seluruh rahasianya.

1
Trie Broto
critanya penuh teka-teki...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!