"Tanda tangani kontrak itu. Jika kau setuju, aku akan membantu seluruh biaya rumah sakit nenekmu."
Aku meremas ujung rokku dengan geram. Ibuku memang seorang wanita malam, tapi bukan berarti aku akan melakukan hal yang sama! Pekikku dalam hati namun sialnya aku malah menandatangi surat itu.
Persetan! Aku tidak peduli yang penting nenekku, keluargaku satu-satunya yang tersisa, bisa melanjutkan hidup bersamaku.
Dia Arga Alexander, lelaki blasteran yang kaya raya dan populer di kampus tengah 'menolongku'. Sebagai gantinya, aku harus menjadi teman tidurnya selama 2 tahun.
Walau begitu, dia tidak melarangku berhubungan dengan Aditya Wicaksana, kekasihku yang sudah 7 tahun berpacaran denganku.
♡♥︎Lalu, bagaimana hubungan antara Syahdu dan Arga? Akankah hubungan Syahdu berjalan baik dengan Wicak yang sangat dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah Kedua
"Terima kasih, kalian luar biasa!"
Momo mengakhiri perform-nya dan semua orang bertepuk tangan.
"Yah, telat kita. Baru juga nyampe, udah selesai aja." Keluh Naya lalu merangkulku.
"Ayo, kita foto berempat!"
Mereka merapatkan tubuh dan berfoto ria. Rasanya lumayan, punya teman yang ceria seperti Adina, Alika, dan Naya. Apalagi mereka cantik-cantik dan bergaya. Aku terlihat gembel dibanding mereka.
Ponselku berdering, kak Wicak menelepon. Setelah memberitahu posisiku, dia bilang mau menjemput.
"Makan, yuk. Laper.." ucap Alika sambil memegang perutnya.
"Oke, kita makan dimana?" Tanya Adina.
"Ke toko buku aja dulu. Pak Bondo kan, nyuruh kita beli buku." Usulku sebab aku tidak ingin makan, apalagi makanan disini sudah pasti mahal. Harganya bisa 5 kali lipat nasi di warteg.
"Iya, ide bagus. Mumpung disini, yuk."
Ah, untunglah Adina setuju. Kami pun menuju satu toko buku. Kami berpencar, aku meminta Adina untuk membawakan buku pak Bondo juga karena aku ingin mencari buku lain untuk dibaca.
Setelah mendapat satu buku masakan dan novel romansa, aku menemui teman-teman yang berkumpul di salah satu rak.
"Udah?" Tanyaku dan mereka semua menoleh.
Arga, tiba-tiba dia juga disini bersama Ibra.
"Eh, Ras, sini. Ini Ibra teman Smp gue. Katanya mau kenalan sama lo." Ucap Adina.
"Udah kok, tadi. Telat lu." Sahut Ibra.
"Gercep banget lo." Ejek Adina dan aku hanya tersenyum kecil. Kehadiran Arga membuatku tidak nyaman.
"Mau makan bareng, gak?" Tawar Naya pada Arga.
"Boleh, kami juga tadi gak sempat makan karena mau lihat konser Momo." Celetuk Ibra.
Makan bareng?
"Aku kesana dulu, ya. Ada yang mau kucari." Ucapku sambil melarikan diri dari Arga.
Sebenarnya tidak ada lagi yang aku cari disini. Namun aku terus berkeliling sambil membaca-baca sinopsis novel lain, mengulur waktu sampai kak Wicak datang. Setelah kak Wicak memberitahu sudah dekat denganku, akupun keluar menuju kasir.
Aku tak melihat lagi teman-temanku di depan toko buku. Entah dimana mereka. Akupun berdiri menunggu kasir memindai buku-buku yang kubeli tadi.
"Totalnya 289.000." Ucap si kasir.
Aku merogoh dompet ke dalam tas. Namun terdapat saat dari belakang, ada tangan panjang yang melewati atas bahuku. Harum parfum ini sudah beberapa kali tercium, dan aku mengetahui siapa pemiliknya.
"Bayar sekalian."
Arga yang berdiri di belakangku menunduk dan berbisik. "PINnya 930303. Lalu ia pergi.
Aku diam. Arga ini memang gila. Dia membuat aku terus jantungan jika di dekatnya. Caranya bersikap juga tidak pernah bisa ditebak. Aneh. Setiap kali ada di dekatnya, aku merasa takut.
Tapi, sesuatu tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku seperti mengenal sesuatu. Harum yang barusan kuhirup, mirip sekali dengan harum jaket yang mendarat di kepalaku malam itu. Mirip. Apa jangan-jangan...
Aku langsung menoleh ke belakang, mencari Arga. Namun Arga sudah tidak ada disana. Aku tidak salah. Aku yakin, jaket itu aromanya persis seperti Arga.
Tunggu dulu. Aku menegang seketika. Apa waktu malam itu Arga ada di atas gedung rumah sakit? Mungkin itu sebabnya dia tahu masalahku dan menawarkan kontrak itu. Benarkah demikian?
"Mbak!"
Aku tersentak dan langsung menatap si kasir. Nampaknya dia sudah beberapa kali memanggilku. Dia menyerahkan mesin ADC untuk kuketik PINnya.
"Ini bukunya, Mbak. Terima kasih, ya." Ucap si kasir sambil menyerahkan sekantong plastik buku. Ia gabungkan bukuku dan juga buku Arga.
Aku langsung mengambilnya dan hendak melangkah pergi.
"Mbak, kartunya.." si kasir menyerahkan kartu ATM milik Arga. Kulihat dia sudah bergabung dengan yang lain tak jauh dari tempatku berdiri.
Aku mengambilnya dan mendekat dengan teman-teman lainnya.
"Lama banget, Ras. Beli buku apa, sih?" Omel Alika.
Aku menyembunyikan kartu Arga di tasku. Tidak mungkin aku serahkan kartunya disini. Orang-orang ini akan curiga. Nanti saja kukembalikan.
"Buku masak-masak tadi gue liat. Rajin banget, mau jadi istri idaman, ya." Ledek Naya dan aku hanya tersenyum kecut.
Istri idaman. Dulu, mungkin iya. Sekarang jika mendengar kata-kata semacam itu, nyeri di jantungku pasti terasa.
"Ee, aku duluan, ya." Aku pamit setelah melihat Kak Wicak berjalan mendekat ke arahku.
"Lho, kenapa? Belum juga makan. Buru-buru banget, sih?" Kata Adina.
"Oh, siapa tuh?" Mata Alika melihat kak Wicak yang mendekat.
"Aku udah dijemput. Maaf, ya. Lain kali kita pergi bareng. Oke?" Tukasku dan langsung berjalan ke arah kak Wicak yang sudah mendekat. Aku tidak mau kak Wicak tahu si Arga itu.
"Ras, pacarmu?" Tanya Naya dan aku mengangguk.
"Maaf, ya. Aku duluan." Aku melambaikan tangan pada teman-temanku. Lalu kak Wicak langsung menggenggam tanganku.
"Duh, iri banget. Laras kok bisa cepet banget dapat pacar? Mana keren banget lagi pacarnya." Samar-samar aku mendengar ucapan Alika. Akupun tersenyum menatap kak Wicak. Memang benar, pacarku ini keren banget.
"Mereka udah 7 tahun pacaran, tau." Sambung Adina yang sudah kuceritakan duluan soal itu.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" Kak Wicak menatap aneh ke arahku. Sambil berjalan, tangannya dengan erat menggenggam tanganku.
"Enggak, aku seneng aja. Soalnya udah lama gak jalan-jalan sama kakak."
"Kita belum bisa jalan-jalan. Kan, nenek masih di rumah sakit."
"Kata nenek gak apa-apa, kok. Kan, aku harus belajar dan jalan-jalan supaya gak stres berkepanjangan. Soal nenek, nenek harus terus dirawat di rumah sakit, kak. Soalnya kondisinya lemah." Kataku sambil berjalan bersama kak Wicak.
"Kita ngobrol sambil makan, ya."
"Makan dimana? Jangan disini. Mahal pasti."
Baru kubilang begitu, kak Wicak langsung menarik tanganku masuk ke salah satu resto yang terlihat mewah.
"Kak, kenapa kesini?" Bisikku pada kak Wicak.
"Mau makan, kan?" Jawabnya santai dan menggeser kursi, menyuruhku duduk.
"Iya, tapi disini kan, mahal." Bisikku lagi.
"Aku yang bayar." Ucapnya lagi sambil membaca menu.
Memangnya kapan aku bayar sendiri? Selalunya juga kak Wicak. "Tapi kan, kak.."
Lirikan kak Wicak membuatku bungkam. Padahal cuma melihat ke arahku dengan wajah dingin begitu tapi entah kenapa aku langsung tidak berani mengoceh lagi.
Akupun terpaksa memesan makanan yang sama dengannya. Tidak berani melihat yang lain sebab harganya di atas 50ribu perporsi.
"Kamu tenang aja, ya. Jangan merasa terbebani terus. Aku yang mau bawa kamu kesini." Tukasnya dan aku hanya mengangguk saja.
"Kamu tadi dipanggil apa sama mereka? Ras?" Tanya kak Wicak sambil mengelap wajahnya dengan tisu.
Aku cengengesan malu. "Iya. Mereka panggil aku Larasati."
"Kamu malu dipanggil Syahdu?"
"Enggak!" Jawabku cepat. "Aku cuma mau orang-orang gak tau tentang aku. Soalnya kan, nama Syahdu itu jarang banget. Mungkin cuma aku."
"Aku malah suka namamu. Syukurlah kalau cuma kamu yang pakai nama itu." Ucap kak Wicak dengan senyumannya yang jarang ia tunjukkan itu.
"Khusus kakak, panggil aja Syahdu."
"Iyalah. Siapa juga yang mau manggil Larasati. Nama yang terlalu biasa." Ocehnya sambil mengaduk minuman yang baru diantar pramuniaga. Aku tersenyum senang. Bisa dibilang, mungkin hanya dia satu-satunya orang yang akan selalu menjagaku.
Makanan sudah terhidang, kami pun makan sambil mengobrol banyak hal sambil bercanda dan tertawa. Tak lupa aku mengabadikannya dalam ponselku, juga foto berdua dengannya walau dia sedikit mengomel saat kusuruh pindah duduk disebelahku.
"Kak, makasih banyak, ya." Ucapku sambil berjalan menggandeng tangannya.
"Iya. Ulang tahun nanti mau kado apa?" Tanyanya.
"Ulang tahun apaan. Masih lama."
"Kan, bulan depan. Biar aku siapin dari sekarang."
"Gak ah. Setiap hari juga kan, udah enak bisa ketemu terus sama kakak." Jawabku jujur.
"Serius gak kepingin apa-apa?" Tanya kak Wicak lagi.
"Iya, serius."
"Hm, ya sudah. Kalau ada yang diinginkan, bilang aja, ya?"
"Tabung aja deh, kak. Sayang kalau harus beli yang gak penting." Ucapku memberi nasehat.
"Gak penting apanya! Kamu itu sangat penting buatku." Kak Wicak sampai menghentikan langkah. "Kalau masalah tabungan, kamu jangan mikirin itu. Itu urusanku. Yang penting aku bisa melamarmu setelah selesai kuliah ini." Sambungnya lagi dan sukses membuatku bungkam. Hatiku terenyuh sampai air mataku menetes.
Lihatlah, betapa kak Wicak terus memikirkan aku, sedangkan aku sudah membuang kehormatanku dengan sangat buruk menjualnya untuk biaya rumah sakit nenek. Aku benar-benar menjadi perempuan yang tidak pantas untuk kak Wicak.
"Jangan nangis disini. Nanti dikira orang, aku apa-apain kamu." Ucapnya dengan lembut sambil mengusap air mataku.
"Iya, maaf, kak." Aku menunduk sambil menahan air mata yang terus keluar.
"Kamu itu ya, cengeng. Tapi aku sangat suka dengan hatimu yang lembut itu." Kak Wicak mengelus lembut kepalaku. Tanpa dia tahu bahwa aku menangisi kebodohanku.
TRING
Aku merogoh ponsel di kantong rokku dan membaca pesan dari nomor baru.
'Jam 8 malam harus sudah di apartemenku.'
Sudah jelas, itu dari Arga. Perintah kedua sudah ia layangkan.
(Visual Wicak)
**Jangan lupa beri Rating pada Novel ini, ya😉
sukkaaa selalu menarik ceritanya, sampe aku kecanduan baca karya² kamu thor 🥰🥰
sukses selalu thor 💐
masih imut enaknya panggilannya Loui. Nanti kalau dah bujang ganti jadi Arsya 🤭