Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Aroma kain kanvas baru, kulit sintetis, dan semprotan pengharum ruangan berbahan pinus menyambut Scarlett dan Brianna begitu mereka mendorong pintu kaca sebuah toko perlengkapan luar ruangan di pinggiran kota.
Toko itu tidak terlalu besar, namun rak-raknya padat berisi deretan jaket gunung, sepatu bot anti selip, ransel lipat, hingga perlengkapan mode outdoor yang tengah populer di kalangan remaja.
Pendar lampu neon putih di atas kepala memantulkan bayangan dua gadis yang membawa atmosfer kontras di antara deretan maneken tangguh berbalut pakaian musim dingin.
Hari ini adalah salah satu dari segelintir hari krusial yang tersisa bagi kebersamaan mereka.
Beberapa hari lagi, gerbang kelulusan dari sekolah menengah di San Marino akan resmi ditutup.
Malam ini, sekolah sebenarnya mengadakan pesta dansa kelulusan yang meriah di aula utama, lengkap dengan gaun-gaun mewah sewaan dan dekorasi balon yang berkilau.
Namun, baik Scarlett maupun Brianna, sepakat untuk tidak hadir.
Bagi mereka, membuang-buang uang demi malam yang penuh dengan kepalsuan sosial dan obrolan kosong kaum remaja adalah hal yang terlalu membosankan, atau lebih tepatnya, sebuah kemewahan yang tidak bisa mereka jangkau secara finansial.
Mereka memilih melewatkannya tanpa penyesalan sedikit pun.
Libur panjang musim panas akan segera dimulai bagi remaja-remaja lain, namun tidak bagi Scarlett Langford.
Langkah hidupnya harus berjalan beberapa ketukan lebih cepat.
Kampus barunya, Universitas Los Angeles Pusat, memiliki program perkenalan khusus bagi para penerima beasiswa akademik dan mahasiswa baru yang terpilih.
Acara pengenalan medan dan outdoor education tersebut mengharuskan Scarlett untuk tinggal di asrama mahasiswa lebih cepat dari perkiraan jadwal perkuliahan reguler mereka.
Ia harus berkemas, menyiapkan fisik, dan mental untuk menghadapi lingkungan baru yang sepenuhnya asing.
“Kau harus benar-benar hati-hati di sana nanti, Lett,” kata Brianna, memecah kesunyian sembari tangannya sibuk memilah beberapa potong kemeja flanel tebal dari rak gantungan.
Matanya menatap Scarlett dengan binar kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.
“Aku dengar dari beberapa ulasan di internet, asrama mahasiswa di pusat kota itu sangat ketat. Belum lagi kegiatan luar ruangannya. Mereka bilang, fisikmu akan diperas habis-habisan di bawah pengawasan para mentor senior.”
Scarlett yang sedang menimang sebuah botol minum aluminium berwarna hitam pekat di tangannya hanya tersenyum tipis.
Wajah menawannya tampak tenang, seolah badai apa pun yang menantinya di depan tidak akan mampu menggoyahkan pijakan kakinya.
“Tentu saja, Bri. Aku tidak akan menyia-nyiakan diriku untuk celaka atau membuat Ibu khawatir di rumah,” sahut Scarlett lugas, meletakkan botol minum itu ke dalam keranjang belanjaan mereka.
“Kau tahu sendiri bagaimana aku menjaga diriku selama ini. Aku tidak akan membiarkan satu pun rintangan atau orang asing menginjak harga diriku, apalagi membuatku pulang dengan luka.”
Brianna mendengus geli, meski matanya masih menyiratkan rasa berat untuk berpisah.
“Wah, kau ini benar-benar ya! Tingkat kepercayaan dirimu itu terkadang membuatku ngeri, tapi sekaligus membuatku tenang karena aku tahu kau bukan gadis rapuh yang mudah ditindas.”
Mereka melangkah perlahan menuju sudut rak yang memajang deretan jaket penahan angin.
Di tempat inilah, kenyataan tentang perpisahan yang sesungguhnya mulai terasa nyata menekan dada mereka masing-masing.
“Jadi... ini benar-benar terjadi, ya?” gumam Brianna, jemarinya mengelus permukaan kasar sebuah jaket tahan air.
“Kau akan tinggal di asrama kampus itu selama berbulan-bulan. Berdasarkan lembar panduan yang kau tunjukkan kemarin, mahasiswa baru hanya diizinkan pulang sekali sebulan ke rumah. San Marino akan terasa sangat sepi tanpa ada dirimu yang sibuk memikirkan cara membalas omongan Belleza.”
Scarlett menghentikan gerakannya sejenak, tatapannya melembut menatap profil samping sahabatnya.
“San Marino memang hanya batu loncatan, Bri. Aku harus mengambil kesempatan ini demi mengubah nasibku dan Ibu. Tapi satu bulan sekali tidak akan terasa lama, aku pasti akan menyempatkan diri untuk menghubungimu setiap kali mendapat akses telepon atau internet di asrama.”
Brianna menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Scarlett dengan senyuman yang dipaksakan agar terlihat tegar.
“Dan aku pun tidak akan berdiam diri di sini, Lett. Mulai minggu depan, aku juga akan mulai bekerja di sebuah perusahaan logistik di luar kota. Ayahku bilang, cabangnya di bagian utara membutuhkan tenaga administrasi tambahan. Jadi, kita berdua sama-sama akan memulai hidup baru di luar lingkaran kecil San Marino ini.”
Mendengar penuturan Brianna, Scarlett merasakan kehangatan sekaligus kesedihan yang asing menyusup ke relung hatinya.
Mereka berdua, dua gadis dari sudut kota yang tidak pernah dianggap oleh dunia, kini bersiap mengepak mimpi mereka masing-masing ke dalam koper kehidupan yang berbeda arah.
Alur takdir yang selama ini mengikat mereka dalam suka dan duka di sekolah menengah, kini bersiap merentang jarak yang tidak dekat.
“Bekerja di luar kota... itu awal yang bagus untukmu, Bri,” ucap Scarlett tulus, melangkah maju dan menepuk kedua lengan sahabatnya dengan mantap.
“Kita tidak punya warisan kekayaan atau nama besar keluarga yang bisa kita pamerkan seperti anak-anak borjuis itu. Yang kita miliki hanya kaki yang kuat untuk terus melangkah. Jadi, berjanjilah padaku untuk tidak membiarkan siapa pun di luar kota sana merendahkan pekerjaanmu.”
“Tentu saja, Bos!” seloroh Brianna, mencoba memecah keharuan yang mulai menebal di antara mereka dengan sebuah tawa renyah.
“Aku belajar dari guru terbaik di sekolah ini—sang pacar misterius Millian Vale-Knight! Aku akan memakai topeng keangkuhanmu jika ada orang yang berani macam-macam denganku di tempat kerja nanti.”
Scarlett terbahak mendengarnya, rasa gelisah yang sempat menggelayuti hatinya sejak pagi perlahan menguap, digantikan oleh ikatan emosional yang kian mengokoh.
Di balik etalase toko perlengkapan outdoor itu, alur cerita hidup mereka bergerak menyambung dengan pasti, bersiap mengantar Scarlett menuju gerbang asrama Universitas Los Angeles Pusat—tempat di mana kebohongan masa lalunya dan realitas yang sesungguhnya telah bersiap untuk saling bertubrukan.
...ΩΩΩ...
Sementara itu, beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan ke lokasi perkemahan, atmosfer di salah satu pusat kebugaran eksklusif di kawasan pusat kota Los Angeles terasa begitu maskulin.
Bunyi dentingan besi dari mesin angkat beban berkali-kali memecah keheningan ruangan yang dilapisi kaca besar setinggi langit-langit itu.
Millian Vale-Knight sedang berbaring di atas bench press, mendorong beban seberat ratusan pon ke udara dengan ritme yang stabil dan terkontrol.
Keringat membasahi kaus singlet hitamnya, mempertegas lekuk otot lengan dan dadanya yang kokoh akibat latihan fisik yang disiplin sejak menginjak remaja.
Sepasang mata ganjilnya, biru di kiri dan cokelat keemasan di kanan, menatap lurus ke arah langit-langit dengan pandangan yang sedingin es.
James, yang baru saja menyelesaikan sesinya di mesin treadmill, berjalan mendekat sambil menyampirkan selembar handuk putih di lehernya.
Ia mengambil sebotol air mineral dingin, meneguknya sedikit, lalu menduduki kursi rotan yang berada tak jauh dari posisi Millian.
"Kudengar dari panitia pusat, asrama tempat kita menginap nanti adalah bangunan tua yang semi-militer," buka James, memancing obrolan sambil memperhatikan sahabatnya yang baru saja meletakkan tiang besi beban kembali ke tempat penyangganya dengan bunyi klek yang nyaring.
Millian bangkit dari posisi berbaringnya, duduk di tepi bench sambil mengambil handuk untuk menyeka keringat di pelipisnya.
Ia mendengus pelan, rahangnya yang tegas tampak mengencang seketika begitu ingatan tentang acara mentorship itu kembali mengusik ketenangannya.
"Aku masih tidak habis pikir kenapa kau menjerumuskanku ke dalam acara konyol ini, James," sahut Millian, nada suaranya berat dan sarat akan kejengkelan yang belum sepenuhnya pudar.
"Tiga hari mendekam di asrama bersama ratusan anak baru yang manja dan penuh drama? Itu terdengar seperti neraka jahanam bagiku."
James justru tertawa renyah, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan menusuk dari sang pangeran Bel Air.
"Ayolah, Yang. Anggap saja ini bagian dari eksperimen sosial. Kau terlalu lama mengurung diri di dalam lingkaran elite yang membosankan. Sekali-kali, kau perlu melihat bagaimana anak-anak dari daerah pinggiran atau penerima beasiswa berjuang di kampus kita. Siapa tahu... kau bisa menemukan hiburan yang menantang di sana."
Mendengar kata 'pinggiran' dan 'beasiswa', ingatan Millian secara otomatis terlempar kembali pada malam pertikaian di gerbang belakang mansion Bel Air milik Arthur temannya.
Bayangan seorang gadis pelayan semampai yang dengan begitu lancang melemparkan potongan kue tar mini ke arah mobil sport kesayangannya mendadak melintas dengan sangat jelas di pelupuk matanya.
Kemarahan yang sempat mereda kini kembali bergolak halus di dalam dadanya.
"Aku tidak butuh hiburan dari anak-anak pinggiran, James," ucap Millian dingin, berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju rak penyimpanan botol minumnya.
"Yang ku.butuhkan saat ini adalah menemukan pelayan gila malam itu. Aku bersumpah, jika aku sampai melihat wajahnya lagi di kota ini, aku akan membuat dia membayar setiap sen dari kerusakan cat mobilku."
James menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat kedendaman sahabatnya yang luar biasa tinggi jika menyangkut urusan harga diri dan koleksi otomotifnya.
"Kau masih memikirkan pelayan itu? Demi Tuhan, Yang, itu sudah berlalu beberapa hari yang lalu. Mobilmu bahkan sudah masuk bengkel perawatan terbaik di Beverly Hills dan kembali mengilat seperti baru dalam waktu dua puluh empat jam. Kenapa kau masih sekasar ini?"
"Ini bukan hanya soal mobil, James," potong Millian cepat, menatap James dengan kilat mata heterochromia-nya yang tajam dan Menakutkan.
"Ini soal batas toleransi. Sepanjang hidupku, tidak ada satu orang pun—bahkan ayahku sekalipun—yang pernah memperlakukanku serendah itu di depan umum. Dia memanggilku Millian palsu dengan senyum meremehkan yang sangat memuakkan. Dia menantang otoritas namaku tanpa tahu siapa yang sedang dia hadapi."
James menghela napas panjang, memahami betul bahwa ego seorang Vale-Knight memang tidak dirancang untuk menerima kekalahan atau penghinaan dalam bentuk apa pun.
"Ya, ya, aku tahu. Tapi lupakan saja sejenak soal pelayan tanpa nama itu. Dia hanya masa lalu di pesta malam itu. Sekarang, fokuslah pada persiapan asrama kita. Panitia meminta para mentor senior untuk datang dua jam lebih awal dari jadwal kedatangan bus mahasiswa baru untuk melakukan inspeksi logistik kamar."
Millian meneguk air minumnya hingga tandas, lalu melemparkan botol kosong itu ke dalam wadah daur ulang dengan akurasi yang sempurna.
Semburat keangkuhan kembali menyelimuti wajah tampannya yang dingin.
"Dua jam lebih awal? Baiklah. Aku akan memastikan seluruh aturan asrama diterapkan dengan sangat ketat tanpa pengecualian," ujar Millian dengan senyuman sinis yang mulai terukir di sudut bibirnya.
"Jika ada anak baru yang berani bertingkah manja atau melanggar jam malam di bawah pengawasanku, aku tidak akan segan-segan mendepak mereka keluar dari kompleks asrama hari itu juga."
James tersenyum puas melihat energi dominan sahabatnya telah kembali, meski ia tahu sifat bad boy dan Otoriter Millian kemungkinan besar akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi para mahasiswa baru nanti.
"Nah, begitu baru namanya Millian Knight yang kukenal. Bersiaplah, brother. Gerbang asrama Universitas segera dibuka, dan pertunjukan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai."
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣